Pandangan Pertama

1042 Words
Aku mengalihkan pandangan mencari sosok bersuara berat itu, dia berdiri tepat di depan meja. Sesaat aku terpaku menatapnya, rasanya seperti mimpi bisa melihat tipe cowokku di desa ini. Dia berpenampilan sungguh sederhana, dengan jeans belel dan kaus biru dongker dilapisi kemeja jeans yang kancing terbuka. Kemudian dipadu dengan sandal jepit. Rambutnya? Aku tidak tahu nama potongan apa. Rambutnya ikal dan kuduga tidak pernah menyentuh pomade. Cabang tipis menghias wajahnya, serta kulitnya yang membuatku. Ah, sudahlah lebih tepatnya cowok ini berantakan, urakan. Namun, masih enak dipandang. "Mbak, Agus enggak bilang ya, mapnya ditaruh di mana." "Hah." Aku terperanjat. Di mana mapnya tadi. Aduh, salahku juga sih, tidak lihat-lihat waktu Agus meletakannya. "Nama mapnya apa? warnanya?" tanyaku sambil berdiri. Aku mendekati meja di hadapannya, membaca map yang paling atas, namun tak ada yang berkaitan dengan penyuluhan KB. "Coba di telepon dulu Agusnya. Jadi kita enggak sibuk nyari." "Eh, jangan," protesku cepat. "Biar kucari dulu. Kamu motivator KB yang sama Kak Maya itu, ya?" sambungku berbasa-basi untuk mengalihkan perhatiannya menghubungi Agus. Duh, pertanyaan konyol macam apa ini, jelas-jelas dia memang temanan sama Maya. Aku yang kemana saja selama ini? Biarkan saja bertanya asal, dari pada Agus yang datang. Karena mimpi buruk kalau Agus ke sini, dia pasti meledekku di depan cowok ini. Jangankan statusku yang jomlo, aku suka jengkol dan pete saja jadi ejekannya Agus. Eh, tadi siapa ya, namanya. Bibi? Dibi? Obi? Pokoknya ada Bi, Bi-nya kalau tidak salah dengar. "Oh, ini Kak." Cowok itu tersenyum sambil memperlihatkan map berwarna kuning yang dipegangnya. Aku balas tersenyum dalam hitungan detik pandangan kami beradu. Dalam tatapan itu ingin sekali aku melontarkan kata 'Ya Allah, senyumnya manis banget' "Saya duluan, Kak." Cowok itu memasukkan mapnya ke tas. "Oh, iya. Besok penyuluhannya di Posyandu Melati, ya?" "Iya, kayak biasanya lah Kak," jawabnya singkat. Hah? iya juga sih, kenapa aku nanya lagi. Dasar payah, aku merutuki diri dalam hati. Sepertinya aku mulai salah tingkah. "Ayo, Kak." "Oh, iya." Aku mempersilakannya pergi, namun, Mataku tak bisa dicegah ingin terus melihatnya, dengan maju beberapa langkah aku masih melihat punggung laki-laki itu meninggalkan ruangan ini. Tak sampai di situ saja rasa penasaran yang begitu mencuat membuat langkahku mendekati jendela kaca, kusibak gorden berwarna putih itu untuk melihatnya di parkiran. Cukup lama aku memperhatikannya hingga motor Ninja hitam dengan suara yang semula meninggi perlahan menjauh, seiring hilangnya laki-laki itu dari pandanganku. Namun, hatiku merasa ada yang janggal, seakan ada sebuah pertanyaan yang belum terjawab. Entahlah. Aku masih mematung di balik jendela dengan rasa penasaran memenuhi otakku. Siapa dia? Sudah berumur dua puluh empat tahun, baru kali ini aku merasa sesuatu yang tak biasa. Aku pun tak berani kalau menyebutnya ini cinta pada pandangan pertama. Aih, tiba-tiba aku merasa geli sendiri karena mendadak menjadi sang pujangga cinta akut. Dan tanpa aku sadari senyumku mengembang lebar saat ingat wajah manis itu, sayangnya aku tak mendengar jelas namanya. "Assalamualaikum. Permisi," ucap Agus setelah berada di depan pintu ruangannya. "Bu, istri saya mau melahirkan, Bu." "Sudah pecah ketubannya, Bu. Cepat tolong istri saya, Bu." "Ibu, bidankan?" "Oh, maaf saya lupa Ibu penjaga karcis." Agus terkekeh sambil mengambil sesuatu di lemari. Sedangkan aku hanya senyum-senyum manyun melihat ulah Agus. "Udah diambil Abi, kan' mapnya." Agus bertanya tanpa melihat mimik mukaku yang berubah senang mendengar nama itu. "Siapa tadi namanya?" tanyaku bersemangat biar lebih jelas. "Abi. Besok jadwalnya." "Aku ikut ya, Gus," rengekku. Dalam hati aku bersorak riang, itu artinya besok aku ketemu Abi lagi. "Heem. Bilang sama Kak Mita." Yes! Besok bakalan ketemu Abi lagi. Hay, Abi aku mau kok, jadi umi-nya. Aih *** Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi, pengunjung puskesmas mulai berdatangan. Harusnya Agus sudah sampai dan mengisi absensi kehadiran. Namun, sampai jam besar berbentuk oval menunjukkan angka sembilan Agus belum juga menampakkan batang hidungnya. "Nomor enam," panggilku sambil melihat ke pintu utama. Hatiku benar-benar jadi resah, kalau Agus tidak datang aku tidak bisa ikut penyuluhan. Alamat bakalan gagal ketemu Abi. Padahal aku sudah menunggu momen penyuluhan ini dari kemarin, rasanya tidak sabar mendengarkan suara berat milik Abi. "Sudah pernah berobat sebelumnya, Bu?" "Tadi kan sudah dijawab, Bu. Anak saya mau cabut gigi saja, Bu. Bisa kan?" "Oh, iya, ya, maaf ya, Bu. Nanti kita tanya dokternya ya, Bu. Ibu kita isi ini dulu biar dapat kartunya. Aduh! Aku benar-benar jadi tidak fokus karena tanpa disadari, aku mengulangi pertanyaan yang sama sampai empat kali pada pasien di hadapanku ini. "Ayok," ajak Agus. Tiba-tiba Agus muncul berdiri di sampingku, sambil membenarkan posisi tasnya di punggung. Entah kapan dia masuk. Aku menyelesaikan tugasku kemudian bergegas memasukkan botol minum ke tas, dan Helen sudah berdiri di belakangku mengambil posisi untuk menjaga karcis. Setelah berpamit aku dan Agus meluncur ke lokasi. Di halaman yang tak begitu luas, motor empat tak Agus melaju pelan. Lalu berhenti tepat di sebelah motor Ninja hitam yang dikendarai Abi. "Sudah pada kumpul," kata Agus sembari melepaskan helmnya. "Iyalah, kamunya telat datang. Enggak enak kan orang sudah pada kumpul." "Ih, bawel besok enggak diajak in lagi. Biar jaga in meja karcis saja." "Ish, gitulah kejam sama aku." "Lain kali berangkat sendiri lah." "Enggak, ah, aku kan setia kawan." "Ish, enggak percayakan. Aku bawa sesuatu, nih," ucapku sambil menyodorkan tempat makanan plastik berisi singkong Thailand. "Boleh juga cara ngerayunya." "Ish, siapa yang ngerayu. Biar bensinku irit tau." Aku segera melengos melangkah ke sebelah kanan, duduk di samping Kak Maya. Beruntungnya acara baru saja dimulai karena masih menunggu tim Kader. Saat kata sambutan berlangsung dari salah satu motivator KB, aku diam-diam memperhatikan Abi. Hari ini, tampilannya sedikit lebih oke jauh dari kata urakan. Walaupun bukan sepatu pantofel yang dipakai Abi. Namun, celana berbahan semi woll berwarna hitam serta paduan kemeja lengan panjang yang digulung sampai ke siku membuatnya sedikit lebih rapi. Sesekali Abi tersenyum, saat seseorang mengajaknya mengobrol. Aku yang terpesona mulai merasakan desiran dalam d**a. Belum lagi setiap mataku beradu dengan tatapannya, hatiku mulai riuh tak karuan. Kira-kira Abi ada f*******:-nya tidak ya? Kan lumayan buat cari info. Kalau Abi sudah punya pacar pasti kelihatan dari postingannya, fotonya mungkin, atau pacarnya men-tagg aktivitasnya. Duuuh. Ya Tuhan. Aku kenapa, ya? Pikiranku jauh sekali. Abi juga kenapa pagi ini kelihatan cakep sekali dengan gaya rambut belahan yang rapi bikin mataku susah untuk berpaling. Bikin aku tidak fokus saja! Eh, tetapi aku senang karena kerjaku hari ini hanya memperhatikan Abi! Aih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD