Semenjak percakapan antara Febri, Kartika dan Silvy di rumah Anto. Febri jadi lebih intens berkomunikasi dengan Dinda. Ia memberikan perhatian lebih supaya Dinda mengerti bahwa Febri tertarik padanya.
“Din, kayanya si Febri demen sama lo deh” Anto memulai percakapan
“Masa sih? Emang sih belakangan ini dia jadi sering chat gue” kata Dinda sedikit sangsi dengan perkataan shabatnya, Anto.
“Lo mah kalau gue kasih tau suka gak percayaan. Palingan juga bentar lagi dia ngajakin lo jalan” ucap Anto yakin.
“Udah. Semalem dia nawarin mau dijemput apa enggak pulang kerja. Sekalian searah katanya” kataku.
“Tuh kan! Kalau lo mau deket sama dia ngobrol-ngobrol sama si Ricky ya. Takutnya dia agak gimana-gimana. Ya lo tau kan dia masih kesel sama Febri. Padahal mah kejadiannya udah dari kapan tau. Tuh cewek juga udah married kali” kata Anto sambil diiringi tawa.
Siang harinya..
“Kakak.. ada yang nyari” kata Fauzan sambil mengetuk pintu kamarku.
“Siapa?” Tanyaku saat pintu kamarku terbuka.
“Tau. Laki. Baru liat. Gebetan baru ya?” Tanya Fauzan hendak meledekku.
“Suruh tunggu dulu. Sebentar lagi kakak turun” kataku sambil melihat ke jendela kira-kira siapa yang bertamu ke rumahku sore ini. Tapi saat aku melihat mobilnya yang terparkir di depan rumah, sepertinya aku tidak mengenali si empunya mobil tersebut.
Siapa ya.. batinku bertanya-tanya.
“Febri?” Kataku agak kaget.
“Hai.. Sorry gak ngabarin dulu. Tadi gue abis ke rumah temen deket-deket sini. Jadi sekalian mampir” akunya. Padahal sebenarnya dia memang niat ke rumah Dinda. Soal rumah temannya, dia hanya mengarang biar enggak terlalu keliatan kalau dia lagi berusaha mendapatkan perhatian Dinda.
“Oh gitu.. mau minum apa? Biar gue buatin” kataku.
“Air putih aja” jawab Febri.
“Bentar ya” kataku seraya berjalan masuk ke rumah.
“Makasih ya. Eh, lo ada acara gak abis ini?” Tanya Febri setelah Aku kembali
“Gak ada sih. Kenapa emang?” Tanyaku.
“Gak kenapa-kenapa. Mau ngajakin lo keluar. Mau gak?” Tanya Febri lagi.
“Mau kemana emang?” Tanyaku sebelum menjawab pertanyaannya.
“Kemana aja terserah lo. Makan atau nonton gitu. Atau lo lagi ada mau kemana atau lagi mau makan apa kek” usul Febri. Berharap Dinda mau menerima ajakannya.
“Kemana ya.. kemaren gue abis nonton. Tapi sebenernya ada tempat yang mau gue datengin. Tempat makan tapi agak jauh. Di PIK. Gak apa-apa gitu?” Tanyaku agak sedikit ragu.
“Ya udah ayok. Buru siap-siap. Mumpung masih siang. Biar gak kemaleman juga pulangnya” ucap Febri cepat.
Tidak kusangka Febri langsung setuju dengan ide ku. Padahal jarak dari rumah ku ke PIK cukup agak jauh.
“Beneran nih?” Tanyaku untuk meyakinkan.
“Iya. Cepet siap-siap” jawab Febri meyakinkan.
“Bentar ya” kataku sambil berlalu.
Untung gue udah mandi. Jadi gak lama siap-siapnya. Kata Dinda saat di kamar.
Dinda mengamati penampilannya dicermin. Blue jeans dipadu dengan basic tee warna putih, sling bag & sepatu convers. Dan tak lupa rambut hitam sebahunya dibiarkan tergerai.
“Dah cakep” kata Dinda memuji penampilannya sendiri. Lalu ia menuruni tangga menuju ruang tv sebelum bertemu Febri.
“Dek, nanti kalau ayah sama bunda tanya bilang gue keluar sama temen ya. Mau cari makan” kataku memberi pesan ke Fauzan.
“Sama siapa?” Tanya adiku
“Sama temennya Anto. Febri namanya” jawab Dinda sembari berjalan ke arah pintu.
“Baru denger. Jangan pulang malem-malem kak. Nanti ayah bunda nelponin mulu” kata Fauzan mengingatkan sambil mengekori kakaknya ke arah teras. Ia penasaran dengan siapa kakaknya akan pergi.
“Iya.. berangkat ya. Assalamu’alaikum..” pamit Dinda pada adiknya Fauzan.
“Jalan dulu ya” Febri pun ikut pamit.
“Wa’laikumsalam.. hati-hati” Fauzan kembali masuk ke rumah dan mobil pun perlahan menjauh dari rumah Dinda.
“Feb, beneran gak apa-apa nih kita ke sana? Anto aja tiap gue ajakin gak mau mulu. Jauh. Panas katanya” tanyaku kembali menanyakan. Tak enak sebenarnya baru kenal tapi sudah merepotkan.
“Santai aja, Din. Kan gue yang ngajakin jalan” Febri kembali meyakinkan.
“Eh lo kemaren nonton film apa? Bagus gak?” Tanya Febri. Entah betul-betul ingin tau atau sekedar mengorek info tentang hubungan Dinda dan Joshua.
“Batman. Bagus. Seru kok film nya. Lo mau nonton? Ajakin si Anton sama Panji. Dari kemaren mereka ada rencana mau nonton film itu tp belom jadi-jadi” kataku mengusulkan pada Febri.
“Nanti coba gue ajakin deh. Lo kalau berangkat kerja jam berapa?” Tanya Febri mencari peluang untuk bisa lebih dekat dan mengenal Dinda lagi.
“Jam 6 Kenapa emang?” Tanya Dinda.
“Senin gue jemput ya. Mau gak?” Tanya Febri. Sambil matanya tetap fokus menatap jalanan di depannya.
“Eh gak usah. Ngerepotin. Gue biasa berngkat sendiri” tolak Dinda halus. Merasa tak enak. Takut merepotkan.
“Gak repot,Din. Kan gue yang nawarin. Lagian juga kata lo kemaren mobil lo lagi gak enak dibawanya” Bujuk Febri.
“Iya juga sih. Tapi beneran gak apa-apa nih? Gak ngerepotin” kataku.
“Iya gak apa-apa. Santei aja” jawab Febri kembali meyakinkan Dinda supaya mau berangkat kerja bersama.
“Ya udah kalau gak ngerepotin” kataku akhirnya.
“Jam 6 teng hari Senin nanti gue jemput” Kata Febri gembira saat Dinda menyetujui ajakannya untuk berangkat kerja bersama.
Selama perjalan banyak sekali obrolan yang dibicarakan. Mulai dari pekerjaan, kegiatan sehari-hari, film, musik, hingga tempat traveling yang ingin mereka kunjungi. Hingga tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat tujuan..
“Yakin mau keluar? Panas begini” tanya Febri
“Iya. Namanya juga dekat pantai. Udah ayok turun. Apa pindah tempat aja atau mau pake payung?” Tanya Dinda sembari memberi solusi. Sebetulnya Dinda agak merasa tidak enak, karna sepertinya Febri agak enggan keluar mobil. Dan memang harus diakui kalau cuaca hari itu cukup terik. Meskipun jam sudah menunjukan pukul 4 sore.
“Udah sampe sini juga kan. Masa mau pindah tempat. Ayok gue mah gak apa-apa. Lo gak takut kepanasan emang?” Tanya Febri agak bingung. Karna biasanya perempuan akan takut jika kulitnya terbakar sinar matahari.
“Enggak. Eh, lo Udah laper?” Tanyaku.
Febri menggeleng. “Kalau gitu kita muter-muter dulu ya. Gimana?” Usulku
“Siap nyonya” jawab Febri sambil memberi hormat. Mereka tertawa bersama.
Dinda terlihat bersemangat mengitari tempat itu. Ada banyak booth dan stand makanan dan minuman dijajakan di sana. Dari makanan berat, cemilan, minuman hingga cotton candy juga ada di sana. Tempatnya pun ditata sedemikian rupa agar terlihat menarik dan memanjakan mata para pengunjung yang datang ke sana. Banyak sekali spot-spot tempat foto yang menarik bagi para pengunjung yang gemar berswafoto. Tak terkecuali Dinda, yang beberapa kali minta Febri untuk mengabadikan gambarnya dibeberapa tempat yang menurutnya menarik.
“Feb, tolong fotoin gue lagi ya. Di situ. Dekat stand kopi” pinta Dinda sambil menyerahkan ponselnya pada Febri.
Dan Febri dengan senang hati mau melakukannya. Ia memotret Dinda menggukan ponsel Dinda dan juga ponselnya. Buat perbandingan hasilnya lebih bagus yang mana. Padahal itu hanya akal-akalan Febri saja supaya dia bisa punya foto Dinda. Dan Dinda pun menurut saja tanpa curiga.
Dinda mengajak Febri berhenti di sebuah toko cake and cookies untuk membeli beberapa cake untuk dirinya dan keluarganya di rumah. Dan tak lupa meminta Febri mengabadikan beberapa gambarnya di toko kue itu karna menurutnya ada beberapa spot foto yang menarik.
“Makan dulu yuk. Laper” ajak Febri karna perutnya sudah mulai meminta asupan makanan.
“Yok. Gue juga udah laper nih” kataku.
Mereka pun menuju salah satu Resto and Cafe rekomendasi Dinda. Disana menyajikan banyak menu mulai dari masakan nusantara, western sampai jappanies food juga ada. Dan yang pasti rasanya tidak perlu diragukan lagi. Enak.
Mereka makan dan sesekali berbincang mengenai berbagai hal diselingi canda tawa. Sampai akhirnya terdengar bunyi ponsel Dinda berdering.
“Sebentar ya. Gue angkat telp dulu” pamit Dinda sambil berjalan agak menjauh dari Febri.
“Hallo..” sapa Dinda terdengar ragu
“Hai” sapa seseorang di sebrang sana.
“Lagi di luar ya?” Lanjutnya lagi
“Iya” jawab Dinda
“Sama siapa?” Tanya dari sebrang sana
“Sama temen” jawabku.
“Siapa?” Tanya dari sebrang lagi
Diam.. tak ada jawaban dariku. Karna merasa kurang nyaman dengan pertanyaan Rama yang seperti menginginkan informasi lebih dengan siapa aku saat ini.
“Maaf.. Aku kangen sama kamu. Bisa kita ketemu?” Tanya seseorang penuh harap
“Maaf kalau untuk sekarang aku belum bisa” Jawabku akhirnya setelah terdiam beberapa saat.
“Kabarin aku kalau kira-kira kamu udah mau ketemu aku ya” kata Rama lagi
“Iya. Aku tutup dulu ya telp nya” kataku seakan ingin cepat-cepat mengakhiri sambungan telp.
“Ok. Have fun ya sama temen-temen kamu”jawab Rama yang mengira Dinda pergi bersama teman-temannya di Geng Kepompong.
“Thanks” jawabku.
“Hei.. I love you” kata seseorang dari sebrang sana lagi. Namun sambungan telp sudah keburu diakhiri.
Rama call end..
“Sorry ya lama” kataku merasa tak enak pada Febri
“Santai. Orang rumah?” Tanya Febri sedikit ingin tau.
“Bukan. Temen kuliah gue” Jawabku tanpa mau menjelaskan siapa si penelpon barusan.
“Ohh.. abis ini mau kemana lagi?” Tanya Febri lagi.
“Kemana ya. Menurut lo enaknya kemana?” Tanyaku pada Febri tak enak karna sepertinya sudah mulai kelelahan.
“Kalau kita balik aja gimana? Udah mulai malem juga. Gak enak nanti sama orang rumah lo. Baru pertama kali ngajak jalan pulangnya malah kemaleman” kata Febri sambil tertawa.
“Yuk. Kaki gue juga udah mulai pegel nih” kataku menyeyujui ajakan Febri untuk pulang.
Selama diperjalanan mereka kebali ngobrol tapi tak sesering saat berangkat tadi karna Dinda mulai mengantuk.
“Next time ke yang sebelah sanaan lagi Din. Yang China Town gitu. Kayaknya banyak jual makanan juga. Kira-kira kapan lo bisanya?” Tanya Febri.
Namun yang ditanya diam saja tak ada respon. Saat Febri melirik ke arah Dinda ternyata dia tertidur. Mungkin kecapean. Kasian. Pikir Febri. Ia pun agak mengecilkan volume radio mobilnya agar tidak mengganggu Dinda tidur. Lagu dari Public pun mengalun menemani Febri diperjalanan pulang menuju rumah Dinda.
——————————————————
Put your hand in mine
You know that I want to be with you all the time
You know that I won’t stop
Until I make you mine
You know ther I won’t stop
Until I make you mine
Until I make you mine
***
Public - Make You Mine