Prolog
Aku udh sampe. Km udh dimana?
Send!
Ting..
Bunyi pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau.
Udah dekat.
Aku menunggu sambil memilih menu yang tersedia di salah satu Cafe yang biasa kami kunjungi.
Andrie Ramadhan, seorang pria yang sudah kukencani selama tiga tahun belakangan ini. Kami bertemu di salah satu kegiatan kampus saat masih sama-sama berkuliah di salah satu kampus negeri sekitar Jabodetabek. Kami berbeda jururusan dan ia dua tingkat di atasku saat itu. Kini ia telah bekerja di salah satu bank swata terkemuka setelah menyelesaikan kuliahnya.
“Hai.. Maaf ya telat. Udh lama?” Sapa Rama saat tiba.
“Hai.. enggak. Sekitar 15 menitan. Aku udah pesan. Kamu pesan dulu.” Jawabku sambil menyerahkan daftar menu untuk Rama.
Tak seperti biasanya, setelah selesai memesan makan malam kami lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan ponsel masing-masing. Mingkin karena belakangan ini kami sering bertengkar dan membuat hubungan ini jadi tak nyaman. Setidaknya itu yang aku rasakan selama beberapa minggi terkahir.
Tak lama pesanan pun datang dan kami menyantapnya tetap dalam diam. Hanya dentingan suara alat makan yang bersentuhan dengan piring yang terdengar.
Hening..
Tak berapa lama..
“Rama, ada yang mau aku omongin.” Ucapku memecah kesunyian diantara kami.
Rama hanya melirik. Menunggu apa yang ingin kusampaikan padanya.
“Aku.." kataku terdiam sejenak.
"Aku mau kita sampai disini aja” lanjutku setelah sempat ragu mengatakannya.
Rama menghembuskan napasnya dengan agak kasar. "Why?" Tanyanya.
“I’m tired, Rama. We've been stuck in the same situation for three years. I think we're not going better" jelasku.
“Seriously?" Tanyanya singkat.
"Kamu tau kan yang lagi aku lakuin buat kita? Kamu pikir gampang bertamu ke rumah pasangan kamu yang jelas-jelas kamu tau kalau ibunya gak suka anaknya dekat sama kamu? Kamu sadar gak sih sama apa yg kamu omongin barusan?" Ucapnya jengkel.
“Rama, kita pacaran udah empat tahun dan kamu baru usahain itu dua bulan belakangan ini. Itu pun aku yang paksa kamu buat datang ke rumah. Sebelumnya kamu selalu nolak dan gak ada inisiatifnya buat ngelakuinnya kan?" Balasku tak kalah sengit.
“Aku udh nurunin ego aku ya buat ngikutin mau kamu. Harus baik-baikin keluarga kamu supaya hubungan kita direstui. Asal kamu tau, itu semua gak gampang buat aku" balas Rama.
“Oh, jadi yang kamu lakuin selama beberapa bulan ini cuma pura-pura baik supaya hubungan kita direstui abis itu balik lagi ke sikap kam yang kaya kemarin? Jemput dan anter aku cuma di depan rumah aja. Tanpa mau turun atau pamitan ke orang tuaku sebelum kita pergi?" Kataku yang makin tersulut emosi setelah mendengar perkataannya tadi.
Kami sama-sama terdiam berusaha menahan emosi yang bergejolak dalam diri. Mendengar perkataannya barusan semakin meyakinkanku untuk mengakhiri hubungan kami.
Aku tidak tau apa yang Rama rasakan selama dua bulan kebelakan ini karna aku terus memaksanya untuk berkunjung atau sekedar pamit pada orang tuaku sebelum kami pergi keluar.
Malam itu, Bang Haikal kakak laki-laki pertamaku yanh sedang merokok diteras tidak sengaja melihat kami cekcok saat Rama mengantarku pulang. Rama mencengkeram tanganku keras untuk menahanku agak tidak masuk rumah sebelum menyelesaikan perselisahan kami. Aku memekik pelan karna cengkrama di tanganku sangat kuat hingga membuatku sakit dan tanganku memerah.
Awalnya Bang Haikal hanya mengamati saja. Namun setelah mendengar suaraku yang kesakitan ia segera keluar untuk menengahi pertengkaran kami. Lalu menyuruhku untuk masuk dan meminta Rama untuk segera pulang.
Di teras rumah aku dan kakak lelakiku sempat berdebat karna ia memintaku untuk segera mengakhiri hubungan dengan Rama. Sialnya perdebatan kami terdengar oleh Bunda yang ternyata sejak tadi mengamati kami semua dari balik gorden. Dan seperti dugaanku Bang Haikal menceritakan semua yang ia saksikan tadi pada Bunda.
Reaksi Bunda tak seperti Bang Haikal. Alih-alih memintaku untuk segera mengakhiri hubungan, ia hanya memintaku untuk masuk kamar dan beristirahat karna esok aku harus kembali bekerja. Namun, saat kulihat raut wajahnya terlihat sedih. Mungkin ia merasa tak rela purti satu-satunya disakiti oleh orang lain.
“So, what exactly do you want?” Tanya Rama memecah keheningan yang sejak tadi tercipta diantara kami.
“Ya. I’m done with us, Rama.” Jawabku mantap.
"Really? Is that what you want? After all the things we've done for us?" Ulangnya untuk meyakinkan. Entah siapa yang sedang ia yakinkan.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Fine. We're done" ucapnya datar. "I want to be happy. I want you to be happy too" ucapku melembut.
Rama terdiam sebentar setelah mendengar ucapanku.
“Ada orang lain?” Tanyanya menyelidik. Namun bagiku itu lebih terdengar seperti tuduhan berulang yang tak berdasar ketimbang sebuah pertanyaan.
Aku hanya menunjukan tatapan tak percaya dengan pertanyaannya. Pertanyaan itu kerap kali muncul tiap kali kami bertengkar. Kali ini aku lebih memilih untuk tidak menanggapi pertanyaannya dan membereskan barangku agar bisa segera pulang. Bertengkar dengannya sungguh memguras banyak energiku. Apalagi kami bertemu selepas pulang kerja.
"Joshua?” Tebaknya lagi seolah mencari jawaban yang ia kehendaki..
“Really?" Aku melihatnya dengan tatapan tak percaya dengan pertanyaannya.
"Than who?" Tanyanya lagi semakin menyudutkanku.
“Seriously, Rama?" Tanyaku semakin tak mengerti dengan semua tuduhannya yang semakin tak masuk akal buatku.
“I'm done! Aku pamit pulang" Lanjutku yang sudah sangat lelah dan ingin segera mengakhiri perdebatan dengannya.
Aku bangkit dari kursiku. Namun Rama menahanku.
"Aku antar" katanya sambil memegang tanganku.
“Aku bawa mobil” ucapku menolak tawarannya lalu bergegas pergi meninggalkannya di Cafe itu.
Aku tau ini langkah yang cukup besat untuk mengakhiri hubungan yang telah dibina selama empat tahun terakhir. Namun setelah pembicaraan saat makan malam tadi semakin menguatkan keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengannya.
Tak lama setelah mobil melaju di aspal, hujan mulai turun membasahi jalan. Dan berbagai kenangan masa lalu mulai bermunculan satu persatu . Dimulai saat pertemuan pertamaku dengan Rama, masa-masa yang kami haniskan bersama hingga pertengkaran terakhir kamu tadi di Cafe. Semuanya terus bermunculan silih berganti di kepalaku.
Ahh.. sepertinya semesta juga ikut mendukungku untuk sekedar memutar kembali memori dengannya lebih banyak lagi.
———————————————————
Nobody said it was easy
It’s such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start
****
Coldplay - The Scientist