Aku udh sampe. Km udh dimana?
Send!
Ting..
Tanda pesan singkat masuk di app hijau.
Udh deket.
Dinda menunggu sambil memilih-milih menu di sebuah cafe tempat ia janji bertemu dengan Rama.
Andrie Ramadhan.. Seorang pegawai bank swasta & orang yang tengah dekat dengannya selama hampir 5 tahun belakangan.
Mereka bertemu dikampus. Dikenalkan oleh seorang kawan. Rama senior Dinda, umur mereka selisih 1 tahun. Meskipun berbeda jurusan, namun mereka mengikuti organisasi kampus yang sama. BEM di sebuah universitas swasta di Jakarta.
“Hai.. Maaf ya telat. Udh lama?” Sapa Rama saat tiba.
“Hai.. enggak kok. Sekitar 15 menitan. Aku udah pesan. Kamu pesan dulu.” Balas Dinda sambil menyerahkan daftar menu untuk Rama.
Tak seperti biasanya, mereka sibuk dengan ponsel masing-masing saat menunggu pesanan datang. Itu dikarnakan hubungan mereka sedang tidak begitu baik akhir-akhir ini.
10 menit kemudian makan malam yang dipesan datang. Mereka makan dalam diam.
Hening.. Tak berapa lama..
“Rama, ada yang mau aku omongin.” Kataku setelah Rama menyelesaikan makan malamnya.
Rama hanya melirik. Menunggu apa yang akan disampaikan. Karna Ada jeda sebelum Dinda melanjutkan kata-katanya.
“Aku.. Aku mau kita sampai disini aja” ucap Dinda akhirnya.
“Kenapa?” Rama terdengar agak kaget dengan ucapan Dinda.
“ I’m tired. We’re stuck in same situation for almost 5 years. Aku ngerasa hubungan kita gak ada perbaikan. Bunda masih aja sinis tiap kali tau kita abis ketemu” jelas Dinda.
“Seriously? Kamu mau kita udahan aja? Aku juga kan lagi usaha bikin orang tua kamu buat setujuin hubungan kita. Terutama bunda kamu. Aku udah ikutin mau kamu buat jemput dan antar kamu di rumah. Main ke rumah. Terus kamu mau kita selesai?” Ucapnya dengan agak kesal.
“Rama, we’ve been together for almost 5 years. Dan kamu baru usahain benerapa bulan belakangan ini. Where have you been? Itu pun aku yang maksa-maksa. Kamu gak ada inisiatifnya.” jawabku tak kalah sengit.
“Kamu liat sendiri kan respon orang rumah kamu kaya apa waktu aku datang? Kamu pikir enak bertamu ke rumah orang tapi sambutan dari tuan rumahnya biasa aja. Malah lebih terkesan cuek?” Jawabnya tak mau kalah.
“Selama kita pacaran, baru 2 bulan terkahir kamu baru mau datang kerumah. Itupun baru 3 kali. 2 kali antar & 1 kali bertamu. Itu pun cuma sebentar. Wajar lah kalau orang tua aku masih perlu bukti kalau kamu bener-bener serius” jawabku.
“Nah itu kamu tau semuanya butuh waktu dan proses. Sekarang giliran aku lagi usahain buat bikin hubungan kita jadi lebih baik lagi dan diterima sama keluarga kamu, kamu malah mau kita selesai” Lanjut Rama lagi dengan nada kesal.
Hubungan kami kurang mendapat restu dari keluargaku. Terutama bunda dan bang Haikal. Kata bunda Rama itu kurang sopan. Karna tiap kali jemput hanya klakson-klakson saja. Tidak pernah turun untuk pamit atau sekedar menyapa kedua orang tuaku.
Bunda juga punya feeling kalau peringai Rama kurang baik. Agak kasar.
Dan ya, memang semua itu benar. Rama akan bersikap agak kasar padaku saat ia emosi. Bukan hanya kasar perkataannya tapi juga sikapnya kepadaku. Ia pernah mendorongku saat dia kesal karna mendapatiku sedang bercanda dengan rekan kerjaku waktu ia hendak menjemputku. Dia juga sangat pencemburu.
“So, what exactly do you want?” Kata Rama setelah kami sama-sama terdiam.
“I’m done with us” kataku terlihat yakin.
“Ada orang lain?” Tanyanya seakan menuduh.
“Kamu nanya apa nuduh?” Kataku seakan tidak terima dengan kalimatnya.
“Ya tergantung kamu nilainya gimana. Joshua?” Tebaknya.
“Seriously? Rama, aku sm Joshua beda keyakinan. Susah buat sama-sama. Apalagi buat serius” jawabku seakan tidak percaya dengan ucapannya.
“Buktinya pas kemarin pas kita putus kamu sempet deket sama dia kan. Dan sampe sekarang pun dia masih suka chat kamu. Bilang I miss you segala. Padahal dia tau kan kamu pacar aku” kata Rama dengan nada kesal.
“Listen! I’m not talk about him. I’m talk about us. Aku capek sama hubungan kita yang gitu-gitu aja. Kamu yang hampir tidak ada inisiatifnya. Kamu yang suka nuduh dan curigain aku yang enggak-enggak. Kamu yang sangat posesif. I’m really, really tired in our relationship!” Kataku dengan penuh mehanan emosi.
“Fine. We’re done!” Ucapnya sengit.
Hening kembali..
“Kita mulai baik-baik. Aku juga mau kita selesai baik-baik. I want to be happy. Us, Rama.” Kataku melunak.
Rama diam. menahan emosi di d**a.
“I’m always happy as long as I’m with you” kata Rama pelan.
Kami sama-terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Menerka-nerka bagai mana esok akan menjalani hari. Aku tanpa Rama. Dan Rama tanpaku.
“Maaf.. Aku harus pulang” kataku akhirnya.
“Aku antar” Katanya menawarkan. Tapi dari nada bicaranya terdengar seperti perintah agar aku mau diantar pulang olehnya.
“Aku bawa mobil” ucapku.
“Ini udah malam ya. Udah jam 10 Dinda. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa” katanya dengan nada bicara yang masih agak sedikit kesal.
“Enggak usah” jawabku tetap pada pendirian
“Rama.. I really want you to be happy although we’re in our own path. I have to go. See you!” ucapku sungguh. Lalu berlalu pamit pulang.
Aku masih memantapkan hati untuk berpisah dari Rama. Laki-laki yang hampir 5 tahun belakangan menemani dan mengisi hari-hariku.
Dikepalaku berputar-putar memori kebersamaan kami. Dari awal bertemu dan kenalan. Menjalin hubungan sampai saat tadi aku harus mengucap pisah.
Dan lagu dari Coldplay menemani perjalananku pulang kerumah diiringi rintik hujan yang mulai turun.
———————————————————
Nobody said it wa easy
It’s such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start
****
Coldplay - The Scientist