Jam menunjukan pukul sebelas malam saat aku tiba di rumah.
Assalamualaikum..” kataku memberi salam saat memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam..” jawab Ayah dan Bunda berbarengan.
"Tumben jam segini belum tidur, Yah, Bun" tanyaku sambil menyalami tangan kedua orang tuaku.
“Lagi nunggu anak Ayah. Masih ada satu yang jam segini belum pulang" jelas Ayah sambil tersenyum usil.
"Dari mana aja jam segini baru pulang? Sudah makan belum?” Kali ini giliran Bunda yang bertanya.
“Udah, bun. Tadi abis makan bareng temen. Makanya pulangnya telat. Maaf ya enggak ngabarin dulu” jawabku sambil nyengir karena merasa tak enak hati membuat kedua orang tuaku menungguku pulang hingga selarut ini.
“Rama?” Tebak Bunda. Aku menjawab dengan anggukan kepala.
“Kamu masih dekat sama Rama, nak? Dari awal ketemu Bunda kurang sreg sama dia. Anaknya kurang sopan. Apalagi setelah kejadian waktu itu" lanjut Bunda lagi.
“Enggak kok, Bun. Dinda sama Rama cuma temenan aja sekarang" jawabku berusaha meredakan kekhawatiran Bunda.
Bunda tersenyum lega setelah mendengar jawabanku lalu mengusap punggungku dengan lembut.
“Iya. Dinda ke kamar dulu ya bun, yah” kataku lalu pergi ke kamarku.
Aku mengecek ponsel setelah mandi. Ternyata ada banyak chat masuk di grup Kepompong. Group chat yang berisi 7 orang sahabatku.
Anto: besok kumpul yok!
Satria: kuy lah. Dimana?
Silvy: rumah Dinda. Biar dia gak pacaran mulu.
Anto: Dinda, lo besok di rumah kan?
Okta: udah tidur kali dia. Dari tadi gak bales chat.
Ricky: woii.. Dinda!
Dinda: iyee. Dateng aja.
Panji: tumben weekend di rumah. Gak pacaran lo?
Dinda: putus.
Anto: hot news ini. Bunda kudu tau juga.
Ricky: bilangin Bunda besok masak yang banyak. Kita mau sekalian makan siang di rumah lo.
Dinda: Dih...
Tika: fix ya besok ketemuan di rumah Dinda. Jamnya dipasin sama jam makan siang masing-masing.
Anto: eh, lo kenapa tiba-tiba putus sih?
Dinda: kepoooo!!
Ricky: namanya juga kepompong. Kadang kepo kadang rempong.
Dinda: besok aja ceritanya. Ngantuk gue. Bye.
Silvy: yahh.. padahal gue udh nyiapin cemilan buat nyimak cerita lo.
Tika: cerita sekarang aja. Kepo gue.
Okta: Dindaaaa..
Sebenarnya masih banyak lagi chat masuk di Group. Namun, aku memilih untuk mengabaikannya dan beristirahat karena hari ini terasa sangat berat bagiku.
Esok harinya, saat aku berjalan keluar kamar terdengar suara yang cukup familiar dan berteriak "paket!!" Aku pun segera berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.
"Ngapain?" Tanyaku tanpa basa basi.
"Mau makan siang lah. Kan semalem udah dikasih tau di grup" jawab Anto sobat kentalku sambil nyelonong masuk ke dalam rumah. Diikuti Tika, Okta, Ricky dan Satria. Mereka tanpa basa basi langsung menuju ruang makan dan satu persatu bergantian menyalami tangan Bundaku.
"Ayo pada ambil piring kita makan bareng. Tadi pagi Dinda bilang kalian pada mau main. Jadi Bunda sekalian masak agak banyakan. Oya sama tolong sekalian hibur Dinda ya. Baru putus dia" kata Bunda yang sudah menganggap para sahabatku seperti anak sendiri. Terlebih Anto yang sudah beberapa tahun belakangan telah ditinggal pergi sang bunda.
"Bunda udah tau duluan ternyata" ucap Anto sambil menyendikkan nasi ke piringnya.
"Din, cerita dong. Cepet!" Pinta Tika yang sudah tidak sabar mendengar detail ceritaku.
"Pada makan dulu deh. Emang pada gak laper jam segini belum makan?" Jawabku menolak halus karena merasa tak enak jika menceritakan detailnya di depan Bunda.
Dan satu persatu mereka mulai bergantian mengisi piring mereka dengan lauk pauk yang sudah dimasak Bunda.
"Bunda tinggal dulu ya" kata Bunda setelah memastikan piring kami sudah terisi semua
"Iya, Bun. Makasih udah dimasakin ya, Bun" ucap Okta.
"Makasih Bundaaa!!" Disusul ucapan terima kasih dari Anto, Tika, Ricky dan Satria bersamaan.
"Iyaa" Jawab Bunda sambil tersenyum.
Tak lama berselang Silvy dan Panji datang bersama. Mereka memang sedang menjalin hubungan, tak heran jika beberapa bulan belakangan mereka jadi lebih sering terlihat bersama.
"Wuihh.. pantesan rame banget. Ternyata ada rapat gabungan di sini" Seru Fauzan adik lelakiku yang baru saja tiba di ruang makan.
"Jan, gabung sini" ajak Anto.
"Ada berita terbaru apa nih, Bang? Seru banget kayanya ngobrolnya" Tanya Ojan, sapaan akrab adikku.
"Si Dinda statusnya udah single sekarang" jawab Ricky yang sudah akrab dengan adikku.
"Bener kak?" Tanya Ojan padaku.
"Hmm.." jawabku singkat.
"Bunda kudu tau nih" katanya dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Telat. Bunda udah tau duluan sebelum kamu" jawabku datar. "Heran deh pada happy banget tau gue putus sm Rama" Lanjutku sambil menatap mereka satu persatu.
"Aku mah percaya sama feeling Bunda, kak. Kalau Bunda bilang gak baik mending gak usah. Stop. Kalau kakak kan beda. Trabas aja. Gimana nanti. Kalau udah mentok baru deh kebingungan atau minta tolong orang lain" jawab adikku yang disetujui oleh sahabatku yang lainnya.
"Nah! Bener itu omongan si Ojan" kata Panji menambahkan.
"Jadi, apa yang akhirnya bikin hati kakak terbuka buat putus dari dia?" Tanya adikku yang ikut penasaran.
"Ini lagi dibahas, Jan" kata Tika gemas.
Adikku hanya cengengesan melihat ke arah Tika dan ikut nimbrung dengan sahabat-sahabatku di ruang makan.
Suasana di ruang makan rumah Dinda semakin riuh setelah member dari Geng Kepompong hadir semua dan ditambah kehadiran Ojan. Dinda pun mulai mencerita kejadian semalam. Tentang isi percakapan terakhirnya dengan Rama semalam, hingga hal-hal yang membuatnya semakin yakin untuk mengakhiri hubungannya dengan Rama yang sudah terjalin selama empat tahun itu. Dan satu persatu akhirnya mereka mengungkapkan uney ya g selama ini mereka simpan tenang hubunganku dengan Rama.
Ternyata para sahabatku pun juga tidak terlalu menyukainya. Terlebih saat aku menjalin hubungan dengan Rama. Karena menurut mereka Rama terlalu over protective padaku. Perangainya agak kasar, baik ucapan maupun sikapnya. Anto juga menambahkan kalau Rama juga seseorang yang sangat pencemburu. Karena ia pernah meminta Anto untuk tidak terlalu dekat dan menjaga jarak denganku. Begitu juga dengan para sahabatku yang laki-laki lainnya, Ricky, Satria dan Panji juga diminta untuk melakukan hal yang sama oleh Rama. Menjauhiku!
Tak kusangka Rama pernah bertindak sejauh itu. Untungnya para sahabatku tidak ada satupun yang melakukan hal yang diminta Rama. Dan keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengannya ternyata sudah sangat tepat.
________________________________________________________
You can count on me like one, two, three..
I'll be there..
And I know when I need it
I can count you like four, three, two
You'll be there..
'Cause that's what friends are supposed to do..
Bruno Mars - Count on Me