14 MENERIMA

684 Words
Satya menatap Dewi yang sepertinya semangatnya sudah datang kembali. Hari ini dia mengajak Dewi ke menara Pisa. Sebenarnya dia sudah sering ke sini, dengan teman-temannya. Tapi rasanya berbeda saat mengajak seorang wanita yang tampak begitu takjub melihat keajaiban dunia itu. Dewi benar-benar tampak sangat bersemangat. Padahal Satya tahu perjalanan yang ditempuh juga menghabiskan banyak waktu. Menggunakan kereta kelas 2 Frecciabianca 9764 hampir 3 jam lagi sampai di Pisa. naik bus LAM ROSSE  tujuan menara miring Pisa. Satya belum pernah sekalipun bertemu dengan wanita yang sangat ceria kepribadiannya. Dewi itu tipe tidak malu-malu dalam posisi apapun. Tadi dia juga sempat melihat Dewi tertidur dengan kepala menengadah ke atas dan mulut menganga saat di kereta. Dan saat terbangun wanita itu biasa saja tidak pernah jaga image di depannya. Hati Satya menghangat mengetahui itu semua. "Hei bule, fotoin aku dong." Teriakan Dewi yang kini sudah berpose layaknya model di depan menara pisa membuat Satya kini menatapnya. Dewi sudah berpose lucu layaknya wanita yang memang suka berselfie ria. Satya akhirnya merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Mengangkatnya dan membidik Dewi. Senyum cerah wanita itu membuat jantung Satya kembali berdegup kencang. "Lihat.." Dewi sudah berlari ke arahnya dan akan merebut ponselnya tapi Satya menariknya. "Jelek," Dia langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Membuat Dewi mengerucutkan bibirnya. "Hish ya udah aku mau foto sendiri." Dewi mengambil ponsel dari dalam tas dan memfoto dirinya sendiri. Membuat Satya hanya menggelengkan kepala melihat aksi Dewi. Hatinya mencoba untuk memantapkan lagi. Kalau wanita yang bertemu tidak sengaja itu akan menjadi istrinya. Terlepas dari perjodohan yang seperti penjara untuknya. Bukan karena dia tidak menyukai wanita yang di jodohkan oleh orang tuanya. Tapi menurut Satya perjodohan itu sudah tidak ada sejak jaman milenium seperti sekarang ini. Hak seorang anak untuk memilih sendiri itulah yang harus diperjuangkan. "Sat, terus kita pulang kapan?" Pertanyaan itu menyadarkannya dari lamunan. Dewi kini tengah merapatkan syalnya kembali. Tampak sangat rapuh dan membuat Satya ingin menariknya ke dalam lingkup tubuhnya. Mendekapnya erat. Tapi Satya tidak suka panggilan Dewi, dia memberengut dan mengabaikan Dewi yang kini melangkah mensejajarinya. Rambut Dewi yang tergerai panjang itu tampak ikut bergoyang saat Dewi melangkah dengan meloncat-loncat seperti anak kecil. "Mas Satya.." Kali ini panggilan itu membuat Satya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dewi yang sudah mengerjapkan mata indahnya. Satya baru sadar kalau mata bulat dengan bulu mata lentik itu tampak begitu cantik. "Ih sebel. Ini aku ngomon sama Lemari es lagi?" Dewi tampak menggerutu dan kini akan meneruskan langkahnya saat Satya menarik salah satu lengan Dewi. Menghentikannya. "Hei, panggilannya jangan Sat... aku gak suka. Dan sekarang aku minta jawaban. Kamu menerima aku menjadi kekasihmu secara nyata?"  Pertanyaannya yang terus terang itu membuat Dewi kini membulatkan matanya. Siang ini Dewi sangat manis dengan memakai sweater warna biru seperti dirinya. Entah kenapa mereka bisa serasi pakaiannya. "Memangnya harus jadi kekasih tetap ya? Kita bisa pulang ke Indonesia dan mengaku kalau kita saling jatuh cinta  dan..."  Satya menggelengkan kepalanya. Lalu menarik Dewi untuk mendekat. Melihat pipi Dewi yang merona merah Satya tampak geli. Dewi bisa tersipu dengannya. "Aku tidak pernah setengah-setengah kalau bertindak. Dalam artian kalau kamu menjadi kekasihku ya jadi kekasih yang sebenarnya. Sebuah komitmen itu tidak boleh dipakai untuk bermain-main." Jawabnya dengan tegas. Lagipula menikmati kebersamaan dengan Dewi memang tidak mengganggunya. "Bagaimana mungkin kamu jatuh cinta sama aku dan.." Dewi menggit bibirnya untuk sesaat. Lalu kembali menatapnya. "Kalau ini solusi terbaik, ok aku menerima. Tapi beri aku kesempatan untuk menelaah semuanya. Kamu begitu asing untukku."  Satya akhirnya tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangan untuk menyingkirkan helai rambut Dewi. Dan kini menangkup wajah Dewi yang mungil itu. "Akan kutunjukkan kalau aku akan menjadi kekasih yang menyenangkan untukmu." Setelah pernyataan itu Satya mengajak Dewi untuk makan di restoran cepat saji yang ada di dekat area menara pisa, lalu membawanya berkeliling. bahkan dia membawa Dewi untuk berbelanja dan membelikan cinderamata. Hanya saja Dewi tidak tertarik dan tidak mau membeli apapun. Hal itu makin membuat Satya makin tertarik dengan kepribadian Dewi. Mereka kembali ke hotel hampir malam, setelah makan mereka akhirnya mengundurkan diri ke dalam kamar masing-masing. Tapi Satya tahu kalau hatinya sudah berubah, ada nama Dewi terukir di sana.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD