13 BERBALIK ARAH

1038 Words
Tawaran Satya membuat Dewi merenung, benarkah dia mau menerima Satya? Pria asing yang baru saja bertemu dengannya. Sedangkan di Indonesia dia sudah punya tunangan seumur hidupnya. Dewi merapatkan jaket yang dikenakannya. Satya sangat sopan, dia akhirnya tidur di ruang tamu sedangkan Dewi meringkuk di dalam kamar yang tersedia di flat. Tapi Dewi masih resah karena dia belum menjawab tawaran Arkana. Dewi kini melangkah keluar dari dalam kamar, harusnya mereka sudah bersiap pulang ke Indonesia. Dewi mengedarkan pandangan ke arah ruang tamu kecil yang ada. Satya sudah tidak ada di sofa putih yang sangat nyaman itu. Dewi melangkah ke arah pantry yang tersedia, dan juga tidak menemukan Satya. "Ayah Cean, harus gimana?", Dewi duduk kembali di sofa dan menghela nafas. Dia bingung, dia lari ke sini karena ingin mencari suasana baru. Niatnya untuk mencari seorang kekasih akhirnya terwujud dan itu sangat cepat. Membuat Dewi terkejut sendiri. Satya sangat memenuhi syarat, pria itu tampan, dan juga kaya. Bukannya Dewi menjadi cewek matre, tapi kriteria ada di Satya. Kalau dia ingin menolak perjodohannya di Indonesia, inilah kesempatan. Dia bisa menjelaskan kepada sang ayah kalau cinta sejatinya bukan anak dari sahabat ayahnya yang sombong itu.   "Hai.. udah bangun?," sapaan itu membuat Dewi menatap pintu depan yang terbuka, lalu sosok yang sedang dipikirkannya terlihat melangkah masuk ke dalam. Berdiri dengan angkuhnya, Satya tampak berbeda pagi ini. Mengenakan celana jins , sepatu kets dan juga sweater warna biru navy sosoknya makin membuat Dewi menelan ludah. Satya memang sempurna.   "Ehm kamu darimana?, " jawabnya dengan canggung. Jantungnya berdegup kencang saat ini. Entah karena apa, padahal selama ini berdekatan dengan Satya juga biasa saja. Hanya setelah tawaran  Satya itu membuat Dewi merasa berbeda. Dia seperti wanita yang benar-benar dipuja. Memang tidak dimungkiri selama ini dia tidak pernah menerima atau katakanlah tawaran itu. Hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk calon suami yang menolaknya sejak kecil. Arkana kini duduk di depannya lalu meletakkan satu bungkusan ke atas meja.   "Aku belikan panzerotti, ini aku beli di toko roti terenak di sini. Yaitu di Luini, coba kamu makan", ucap Arkana sambil membuka bungkusan itu dan memberikan roti yang disebutnya kepada Dewi.   Dewi memegang roti yang berbentuk seperti pastel itu lalu menatap Satya  " Ini enak?" ucapnya masih sedikit ragu Tapi Satya mengangukkan kepala lalu menyuruhnya untuk makan. Dewi akhirnya mengigit roti itu, merasakannya dan akhirnya menatap isi yang ada di dalam roti disela kunyahannya. Roti dengan isi daging asap, keju mozarella yang meleleh dan saus tomat yang segar . Dewi sangat antusias saat mengigit roti yang sangat lembut itu kembali. "Hem enak, rotinya lembut dan empuk, garing dan tidak berminyak." Dia menatap Satya yang kini bersedekap dan mengamatinya dengan intens. Membuat pipi Dewi memanas.   "Habiskan, setelah itu kita bersiap untuk pergi dari sini" Satya beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Dewi yang masih menikmati rotinya itu. "Hemm kita udah mau pulang ke Indonesia ya?" Dia menoleh ke arah Satya yang sudah masuk ke dalam kamar. Tapi tidak mendapat jawaban dari pria itu. Akhirnya Dewi hanya mengangkat bahu lalu kembali meneruskan makannya.   ***** Dewi bingung saat Satya membawanya naik kereta, sejak masuk ke dalam kereta Satya hanya diam saja. Tidak mengajaknya berbicara sedikitpun. Hal itu membuat Dewi kembali bingung, kepribadian pria di sampingnya ini sepertinya belum bisa dia kenal. Kadang hangat, kandang terbuka, tapi lebih banyak dingin dan tertutup.   "Ini kita mau kemana? Bandara kan ya?" Dewi akhirnya menoleh ke arah Satya yang sejak tadi sibuk mengutak atik ponselnya. Pria itu mengalihkan tatapan kepadanya lalu menggelengkan kepala. "Hah? Maksud kamu kita gak ke bandara?" Dewi menegaskan pertanyaannya itu. Tapi Satya kini hanya menggelengkan kepala dan kembali menatap layar ponselnya. Kembali mengacuhkannya.   "Ini gimana sih? Katanya kita pulang, terus kamu sekarang malah culik aku dan," ucapannya terhenti saat Satya mengusap rambutnya. Jantungnya kembali berdegup begitu kencang. "Kamu belum kasih aku jawaban, jadi aku memperpanjang waktuku untuk menunggu jawaban kamu. Toh aku perlu kepastian" jawab datar Satya. Membuat Dewi kini merapatkan syal yang dibelikan Satya kemarin. Dia tentu saja diam saja karena disinggung masalah itu. Bagaimana dia bisa menjawab kalau semuanya masih begitu baru untuknya. Perasaannya dan juga Satya.   "Setidaknya kamu bilang kita mau kemana?' akhirnya Dewi menatap Satya kembali dengan putus asa. Pria yang sombong dan dingin di sampingnya ini memang tidak membantu suasana hatinya kembali menjadi baik. Satya menoleh ke arahnya. Kali ini pria itu menurunkan ponselnya dan menyimpan di saku celana. "Kita mau ke Roma, kalau kamu belum memberiku jawaban lagi, setelah dari Roma aku akan mengajakmu berkeliling lagi. Bahkan seluruh Italia kalau perlu" jawab pria itu dengan diplomatis membuat Dewi kini mengalihkan tatapannya ke arah jendela kaca di kereta. Dia tidak mau menjawab, lebih baik menikmati pemandangan yang dihadirkan dalam perjalanan. **** 3 jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai di stasiun Rome Termini. Satya  masih hanya diam saja tapi menarik tangan Dewi dan menggenggamnya erat. Seperti menjaga anak kecil yang takut hilang, dan menerobos kerumunan orang.   "KIta menginap di sini saja ya," Ucapan Satya membuat Dewi tersadar kalau mereka sudah sampai di sebuah hotel dengan tulisan MADISON. Hotel terdekat dengan Rome Termini.Dewi akhirnya hanya mengangukkan kepala lagi. Mereka menginap di lantai 3, dan kali ini Satya menywakan dua kamar. Jadi Dewi diberi kamar sendiri yang membuatnya bernafas lega.  Tapi belum ada 10 menit dia masuk ke dalam kamar dan mengistirahatkan badanya yang penat akibat duduk terlalu lama di kereta, Satya sudah mengetuk pintu kamar dan mengajaknya pergi lagi. "Kita ke menara Pisa. Anggap saja ini bulan madu kita.' Tentu saja ucapan Satya itu membuat Dewi memberengut. Pria arogan dengan perintah yang harus dituruti.   "Enggak mau, capek ini. Kamu kalau mau pergi sendiri sana. Lagipula aku harus memikirkan jawaban atas tawaran kamu" Dewi menatap Satya yang kini ada di ambang pintu kamarnya. Mata pria itu menatapnya dengan intens. Membuat udara di sekitar mereka terasa begitu panas.   "SIapa suruh kamu tidur seharian di hotel? Aku sudah keluar uang banyak ke sini. Ayo." Dewi mendengar ucapan Satya yang membuatnya langsung melangkah mundur dan akan menutup pintu.  Tapi kalah cepat dengan Satya yang langsung menahan pintu itu dengan kakinya.   "Dew, please. Kamu bisa kan kerjasama. Aku berjanji akan membuatmu tersenyum sampai nanti." Janji yang terucap itu membuat Dewi kini mengernyitkan kening. Tapi kemudian dia menghela nafas lagi.   "Ok' jawabnya akhirnya. Dia berbalik dan mengambil tas selempangnya lalu melangkah ke arah Satya lagi.   "Ayo kita bulan madu."    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD