12 KEPUTUSAN

1141 Words
Satya  menatap jam yang melingkar di tangannya. 12 jam lagi mereka harus sudah meninggalkan Milan. Tapi dia masih malas untuk beranjak dari flat yang disewanya. Sebenarnya dia masih ingin mengajak Dewi ke Roma atau kemana saja. Acara jalan-jalan mereka masih belum cukup. Satya ingin mengenal Dewi dengan lebih dalam. Semakin mengetahui kebiasaan wanita itu hati Arkana semakin tertarik dengan Dewi. Dewi itu Wanita yang tak biasa. Dia unik dan Arkana suka. "Hatsyi.." Tapi memang keadaan Dewi lah yang membuat Satya memutuskan kalau mereka harus segera pulang ke Jakarta. "Kamu ke sini." Satya menunjuk sofa yang ada di sebelahnya. Dewi masih meringkuk di atas kasur. Semalaman Satya tidur di sofa yang ada di dalam kamar tidur. Menjaga Dewi yang kambuh lagi. Dia ingin tidur memeluk Dewi. Tapi dia menghormati Dewi. Akhirnya dia menjaga dengan tidak tidur semalaman. Mengamati Dewi yang tidak nyenyak juga tidurnya. Dan pagi ini, udara memang terasa lebih dingin daripada kemarin. Dewi melangkah ke arah sofa. Dia memakai jaket tebal, topi rajut, syal, kaus kaki dan selimut yang masih tergantung di bahunya. Dewi benar-benar terlihat pucat. "Kita jadi pulang?" Satya menganggukkan kepala saat Dewi duduk di sampingnya. Wajah Dewi memang sudah terlihat segar karena baru saja keluar dari kamar mandi. "Hatsyiii.. " Satya menghela nafas mendengar Dewi bersin lagi. Dia akhirnya mengulurkan tangan untuk memeluk bahu Dewi. "Kita ke dokter dulu?" Dewi kembali menggelengkan kepala lalu menenggelamkan wajahnya kembali di balik syalnya. Satya mengusap rambut Dewi yang ada di balik topi rajut itu. "Obatnya tuh harusnya ada. Tapi ikut jatuh ke air kemarin itu." Dewi kini menggumam. Tapi Satya  masih bisa mendengarnya. Dia menyipitkan mata. "Makanya kita periksa." Tapi Dewi kembali menggeleng. "Enggak mau. Mungkin tidur dipeluk baru sembuh...eh aduh.." Dewi tampak bingung lalu menepuk mulutnya sendiri. Wajahnya memerah. Membuat Satya mengernyitkan kening. Tapi dia tahu Dewi malu. "Dipeluk siapa?" Dewi menggelengkan kepalanya lagi. Tampak lucu dengan topi rajutnya yang mengikuti gerakan kepalanya. "Enggak... bukan... itu anu...aihhh.." Dewi tampak lucu kalau panik begitu. Satya suka melihat ekspresi Dewi. Dia makin merapatkan pelukannya membuat Dewi kini makin menempel di tubuhnya. "Aku peluk. Siapa tahu bisa jadi obat." "Eh enggak...jangan." Tapi Satya melingkarkan kedua tangannya di tubuh Dewi. Membuat Dewi terperangkap. "Diam." Perintahnya akhirnya membuat Dewi diam. Nafas hangat menerpa wajah Satya. Wajah mereka sangat dekat. "Mata kamu indah." Satya refleks mengatakan itu saat Dewi hanya diam saja. Tentu saja mata Dewi membulat. "Rileks. Aku hanya ingin membuat suasana lebih santai. Ehmm umur kamu berapa?" Dewi tampak mengernyit lalu kemudian menjawab dengan cepat. 20 tahun." Jawaban Dewi membuat Satya membelalak. Tidak mungkin kan dia meminta menikah dengan wanita yang baru saja beranjak dewasa? Tapi wajah Dewi memang masih terlihat begitu muda. Tapi kali ini Dewi tersenyum. Sangat manis. Kali ini Dewi lebih santai. Dia bersandar di sofa dengan tangan Arkana yang masih ada di bahunya. "Mau nebak? Nanti dapat cilok dari Mang Edun kalau berhasil nebak umurku." Ucapan Dewi itu makin membuat alis Satya terangkat. Tapi kemudian dia mulai mengikuti permainan Dewi. "Ehm 23? Yang pasti tidak lebih tua dariku." Dewi kini menatap Satya lekat. "Iya. Kamu kan pasti udah 30 tahun." Tentu saja Satya memberengut. "Aku memang terlihat setua itu?" Dewi tersenyum mendengar jawaban Satya. Sungguh wanita itu banyak tersenyum. "Ehmmm iya. Kamu gak pernah senyum. Jadi keliatan tua." Satya makin melotot mendengar ucapan Dewi. Tapi dia menganggukkan kepala. "Aku gak suka senyum." "Eh.." Dewi mengerjapkan matanya lalu mengulurkan tangan yang berbalut sarung tangan itu. Untuk menyentuh pipinya. Tapi kemudian Satya meringis kesakitan saat Dewi mencubit pipinya. "Hiyaa kenapa dicubit?" Dan kali ini Dewi tergelak saat Satya mengusap-usap pipinya. "Jadi orang tuh jangan lempeng aja. Kalau jalan itu lempeng bikin capek. Mending yang berkelok-kelok." Satya hanya diam dan menatap Dewi. Dia tidak mau menjawab. Kali ini yang dipikirkannya bagaimana dia harus meminta ijin orang tua Dewi. "Lebih baik kamu tidur. 12 jam lagi kita terbang. Dan 21 jam di atas langit. Meski transit dua kali. Tapi nanti kamu lelah." Satya sudah tidak nyaman kalau memikirkan Jakarta. Apa yang menantinya di sana membuat Arkana gelisah. Dia pasti sudah mengecewakan maminya. Karena menolak perjodohan itu. Papinya juga kecewa. Satya kini menjauh dari Dewi lalu mengacak rambutnya. "Hei.. "Dewi mengulurkan tangan untuk menyentuh lengannya. "Ada apa? Uang kamu habis ya buat perjalanan pulang? Nanti sampai di Jakarta aku ganti deh. Berapa? 12 juta kan ongkosnya terbang dari sini?" Satya  menoleh ke arah Dewi. Lalu menepuk kening Dewi dengan jarinya "Pikiran kamu sesederhana itu ya?" Dewi mengerjapkan matanya lagi. "Memangnya apalagi? Bukankah itu yang kita hadapi? Mau mikirin ayan tetangga kapan beranak juga gak mungkin kan?" Ucapan Dewi lagi yang aneh. Satya menghela nafas lalu mengamati jam yang melingkar di tangannya. Kalau memang berat apa yang akan menanti mereka. Setidaknya mereka masih mempunyai waktu berdua di sini.  Satya langsung menegakkan tubuhnya. Dan meraih jemari Dewi yang masih terbalut sarung tangan itu. "Ok. Kita pacaran saja." "Hah?" Dewi terkejut dengan ucapannya itu. Membuat Satya tersenyum tipis. Tapi kemudian kembali menatap Dewi dengan serius. "Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi besok setelah sampai di Jakarta. Entah kamu tetap dipaksa menikah dengan tunanganmu itu. Atau aku yang juga dipaksa menikah. Kita masih mempunyai waktu 11 jam 40 menit. Maka kita manfaatkan itu. Mau kan kamu pacaran sama aku? Dalam artian yang sebenarnya." Tentu saja Dewi kembali terlihat terkejut. "Yang sebenarnya gimana?" Dewi tampak bingung. Dan kini Satya menggenggam jemari Dewi makin erat. "Kamu udah pernah pacaran kan?" Dan saat melihat Dewi menggelengkan kepalanya. Membuat Satya terhenyak. "Maksudnya?" Dewi kini mengerucutkan bibirnya. "Enggak pernah. Dari orok juga udah di jodohin. Jadi bunda ama ayah tuh melarang aku buat pacaran ama cowok lain. Kata bunda ' kamu tuh harusnya pacaran ama tunangan kamu' tapi mau pacaran gimana orang kita juga gak pernah ketemu. Dan sejak itu aku emang membatasi diri. Malas lah. Nanti pacaran ujung-ujungnya gak nikah ama dia. Bikin dosa aja." Ucapan Dewi yang panjang lebar itu membuat Satya mengernyitkan kening. Wanita di sampingnya ini benar-benar masih polos. "Memangnya kalian gak pernah ketemu satu kali pun?" Dewi menggelengkan kepala. "Dari kecil tuh ya. Seingatku dari umur 15 tahun lah. Keluarga kita emang beda kota. Dan sama-sama sibuk. Jadi pas ketemu keluarga juga aku dan itu cowok gak pernah mau. Abis nya aku malu. Masa dia udah nolak aku duluan. Padahal dia belum pernah ketemu aku. Sampai pada usia 20 tuh. Ahhh aku kok jadi cerita ini. Nyebelin pokoknya." Dewi kini menatap Satya dengan kesal. "Ganti topik." Dewi mengibaskan tangannya. Membuat Satya kini menatapnya. "Kalau itu aku yang dijodohkan sama kamu. Pasti aku akan langsung menerimanya. Kamu itu lucu. Dan aku nyaman sama kamu. Kenapa kita dipertemukan di saat sama-sama sudah terikat?" Satya kini menghela nafasnya. Lalu melihat pipi Dewi merona. "Memangnya kamu suka sama aku?" Pertanyaan Dewi itu tentu saja membuat Satya menganggukkan kepala. "Ya. Aku suka sama kamu. Kita pacaran dalam waktu 11 jam 40 menit dan selama 21 jam perjalanan dari Milan ke Jakarta."          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD