11 BERDUA

820 Words
Dewi menatap syal dan kaos asli yang dibelikan Satya di stadion San siro. Dia tidak menyangka Satya akan mengajaknya masuk ke dalam stadion yang menjadi markas Inter milan dan Ac milan itu. Karena Dewi memang Milanisty. Dia suka sekali dengan sepakbola apalagi liga Italia. Bukan nurun  dari ayahnya tapi dari bunda nya lah dia suka dengan sepak bola. Aneh memang. Tapi begitulah adanya. Lalu Dewi kembali dibuat terkesima dengan pilihan menginap Satya. Bukannya menginap di hotel atau di penginapan tapi Satya malah mengajaknya menginap di flat atau apartement yang dikhususkan untuk liburan. San Siro Apartement. Yang kini menjadi tempat menginapnya.  Hanya saja Dewi agak tidak setuju. Cuma ada satu kamar dan satu tempat tidur. Meski ada ruang tamu dan dapur juga. Hanya saja dia tidak nyaman. Tidak mau satu kamar dengan pria yang baru dikenalnya itu. Meski mereka memang memutuskan untuk menikah. "Coklat hangat." Satya baru saja dari pantry dan mengulurkan cangkir berisi coklat hangat yang mengepul. Sedangkan Dewi memang duduk di atas sofa empuk yang ada di ruang tamu. "Ehm kita pindah hotel aja lah. Ini masa kamarnya cuma satu?" Dewi kini mulai merajuk. Dia sebenarnya tidak berani. Karena bagaimanapun juga Satya sudah menghabiskan uang sangat banyak untuknya. Satya duduk di depannya dan mengangkat alisnya. Wajahnya tampak muram saat Dewi mengatakan itu. "Kamu kelelahan dan kedinginan. Ini tempat yang terdekat dari stadion.  Wajah kamu aja udah pucat gitu. Aku mengajakmu ke sini bukan karena alasan lain. Yang aku pikirkan itu kesehatan kamu. Toh di sini privasi  kita lebih terjamin." Ucapan ketus Satya membuat Dewi kini mengerucutkan bibirnya  lalu mengambil cangkir itu dan meniup-niup isinya. Memang benar alasan Satya. Tapi kan dia.. "Atau kamu masih belum bisa mempercayaiku? Tak mungkin aku memanfaatkan keadaan. Sudah sejauh ini." Dewi menatap Satya dari balik cangkir coklatnya. Jadi yang terlihat memang hanya matanya saja. Membuat Satya kini mengernyitkan kening ketika menatapnya. "Apa?" Satya merasa jengah ditatap  seperti itu. Membuat Dewi menggelengkan kepala lalu menyesap coklat hangat itu. "Kamu emang asli dingin gitu ya?" Nah pertanyaan itu membuat Satya kini makin menatapnya dari seberang sofa. Pria itu sudah berganti pakaian. Kali ini memakai sweater biru navy dan celana jins warna senada. Menambah terang warna kulitnya yang memang terang. Tidak mendapat jawaban karena Satya hanya menatapnya lalu menyesap coklatnya sendiri. "Eh kamu kan udah bertahun-tahun di sini. Kenapa gak bawa-bawa koper gede tuh. Baju-baju kamu?" Kali ini Satya menatapnya dengan malas. "Aku buang." "Hah?" Dewi benar-benar terkejut dengan ucapan Satya. Pria di depannya ini memang terlalu angkuh. Tapi tiba-tiba ponsel Satya berdering. Membuat pria itu langsung merogoh saku celananya. Lalu Dewi bisa melihat wajah Satya berubah muram lagi. "Ya pi.." Dewi menenggelamkan tubuhnya di jaket tebal yang juga dibelikan Satya tadi. Lalu melihat Satya kini beranjak dari duduknya. Lalu melangkah mendekati dirinya. "Baik pi. Kalau papi tidak percaya.. " Satya sudah menjatuhkan diri di sebelahnya. Lalu dia berbisik di telinga Dewi. "Papiku  pingin denger suara kamu. Dia tidak percaya kalau aku sudah menidurimu. Kamu nanti ngaku aja ya." Tentu saja mata Dewi membelalak mendengar bisikan Satya tapi sebelum Dewi bisa protes suara berwibawa sudah terdengar. Satya  sudah memperbesar volume ponselnya. "Halo.." "Iya pi ini kekasih ku." Satya menyenggol lengan Dewi yang gelagapan. Dia menatap Satya dan pria itu memberikan isyarat untuk menjawab. "Owh...ha...halo...Om." Dewi tergagap saat mengatakan itu. "Apa yang sudah diperbuat anakku? Benarkah kalian sudah tidur bersama?" Pertanyaan frontal itu membuat Dewi merona pipinya. Bahkan terasa panas. Dia bingung dengan pertanyaan papi Satya itu. "Pi... Kenapa tanyanya begitu? Ini privasiku. " Ucapan Satya yang menyela membuat Dewi bernafas lega. Dia akan beringsut menjauh tapi tangan Satya sudah menggenggam jemarinya. Menahannya untuk tidak bergerak. "Papi perlu tahu  biasanya kamu kan buat trik agar kamu tidak jadi menikah." Ucapan ketus sang papi di ujung sana membuat Dewi ketakutan. Kenapa papinya Satya sangat galak? "Satya udah dewasa pi. Udah 25 tahun. Berhak menentukan nasib Satya sendiri. Satya mencintai kekasih Satya." Jantung Dewi berdegup kencang saat mendengar ucapan Satya itu. Dia akan protes tapi Satya masih terus berbicara dengan papinya. "Papi ingin mendengar calon istrimu." Ucapan tegas itu membuat Satya langsung menoleh ke arahnya. Lalu Satya berbisik lagi di telinganya. "Bilang kamu juga mencintaiku.  Please." Dewi mengerucutkan bibirnya. "Siapa nama kekasihmu itu?" "Dewi pi." "Dewi kamu mencintai Anakku?" Nah itu. Dewi makin dibuat bingung dengan pertanyaan papinya Satya. "Ehm anu..." Nah malah itu yang keluar dari mulutnya. Dan membuat Satya menyandarkan kepalanya di bahu Dewi. "Please.." Bisik Satya lagi. Dewi tentu saja melirik Satya yang kini menyandarkan dahinya di bahu miliknya itu. Pria itu tampak putus asa. Dewi merasa iba jadi.. "Iya om...saya mencintai putra anda." Wajahnya memerah dan memanas. Entah karena dia menyatakan itu dengan lugas atau arti dari ucapannya sendiri. "Baiklah. Kalian segera pulang ke Indonesia. Dan segera menikah." Sambungan diputus. Membuat Dewi menghela nafas lega.  Tapi Dewi spontan langsung menoleh ke arah Satya lagi yang baru saja mengecup pipinya. "Makasih ya." Senyum itu kembali terlihat di wajah Satya. Dan membuat tubuh Dewi seketika lemas tak bertulang.            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD