Satya menatap Dewi yang kini tengah mengamati koleksi alat musik kuno dan beberapa benda yang berhubungan dengan pertunjukan opera. Dia mengajak Dewi ke sini, di La Scala. Gedung opera yang sangat terkenal di dunia dan juga merupakan sejarah perkembangan opera di Italia.
Sejak dulu dia ingin menonton pertunjukan opera yang ditayangkan di sini. Tapi karena jadwalnya yang padat dia tidak mempunyai waktu untuk melihat. Seperti saat ini dia juga tidak bisa melihat pertunjukan opera bersama Dewi karena tiketnya sangat sulit di dapat. Harusnya berminggu-minggu mereka sudah harus membelinya.
Wanita dengan topi rajut dan syal itu kini menatap semua barang bersejarah itu dengan takjub. Arkana sampai terkejut dengan antusias Dewi. Jarang ada wanita yang tertarik dengan seni. Biasanya setiap wanita yang ada di Milan ini pasti berburu baju atau merk terkenal yang ada. Karena di Milan ini juga salah satu pusat mode seperti di Paris. Semua merk terkenal ada di sini. Tapi Dewi tidak sedikitpun merengek minta diantarkan untuk mencari-cari barang branded.
"Kamu suka?" Satya mendekati Dewi yang masih fokus dengan alat-alat musik itu. Dewi langsung menoleh ke arahnya. Dan tersenyum ceria.
"Suka. Besok aku mau bilang sama bunda kalau aku sampai di sini. Di gedung opera paling terkenal di dunia. Meskipun kita gak bisa lihat operanya." Mata Dewi berbinar saat mengatakan itu dan Satya baru tahu kesenangan wanita di depannya itu.
"Atau kita menunggu sampai opera yang akan datang dan kita pesan tiket?" Dewi langsung menoleh ke arahnya.
"Enggak ah. Mahal kan tiketnya? Nanti uang kamu habis." Satya makin terkejut dengan ucapan Dewi. Kenapa wanita di depannya ini sungguh sangat berbeda?
"Sampai tujuh turunan pun uang dalam rekeningku tidak akan habis. Tenang saja."
Ucapannya malah membuat Dewi kini membulatkan matanya.
"Wah aku gak mau dekat-dekat sama orang kaya. Enggak." Dewi menyingkir dari hadapannya. Lalu melangkah mundur. Membuat Satya menyipitkan mata. Ada apa dengan Dewi?
"Kalau tidak kaya tidak mungkin aku sampai di sini, kuliah di sini dan membayar semua biaya kamu." Ucapannya memang terkesan ketus. Tapi memang itulah kenyataannya kan? Kekayaan kedua orang tuanya sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupnya enak.
"Waahh sombong banget ya." Dewi kini membenarkan topi rajutnya. Tapi wanita itu kini mendekat lagi ke arahnya. Lalu mengulurkan tangan untuk menepuk-nepuk lengannya.
"Tapi bener juga sih kalau enggak kaya gak mungkin ya sampai di sini. Hemmm..."
Dewi mengernyitkan kening mendengar ucapannya sendiri lalu wanita itu tersenyum. Kembali ceria. Padahal sebelum ke sini tadi Dewi sempat akan menangis dan Setelah Satya berhasil memenangkannya Dewi malah seakan lupa dengan topik yang akan membuatnya menangis.
"Eh kita kok kayak honeymoon ya di sini?"
Dewi berbisik di sebelahnya membuat pipi Arkana merona. Sungguh, hal itu malah membuat Satya tersipu. Dia tidak berpikiran kalau bersama Dewi akan menjadi seperti...
Lalu dia menatap lekat Dewi. Bukankah wanita di depannya itu memang calon istrinya. Terlepas dari semuanya Dewi memang akan hidup bersamanya selamanya. Kalau urusan di Indonesia besok lancar. Terutama untuk restu ayah Dewi. Dia perlu memikirkan itu. Satya merangkulkan lengan di bahu Dewi lalu membenarkan topi rajut Dewi yang melorot lagi.
"Kita buat ini honeymoon kita." Mata bulat Dewi membelalak terkejut. Mulutnya yang merah merona itu terkatup dan terbuka. Seperti akan mengatakan sesuatu tapi tidak bisa.
"Ehm kita mulai dari membeli gaun pengantin untukmu. Banyak merk terkenal di sini. Kamu mau milih yang mana? Prada? giorgio Armani?" Ucapannya itu tentu saja membuat Dewi mengerucutkan bibirnya.
"Enggak. Aku mau nikahnya pake kebaya rancangannya bude Lestari aja. Tetangga belakang rumah." Ucapan Dewi makin membuat Satya takjub. Wanita ini memang tidak ada duanya. Dia akhirnya mengulas senyumnya yang sangat jarang dia perlihatkan. Membuat Dewi tiba-tiba memekik riang.
"Waaa kamu tersenyum... astaga ini beneran kamu senyum kan?" Satya langsung berganti memberengut mendengar ucapan Dewi.
"Kenapa? Kamu jatuh cinta sama senyumanku?"