Dewi menatap Satya yang kini tengah membenarkan syalnya. Pria di depannya itu sungguh sangat manis untuk saat ini. Sebenarnya itu adalah keputusan Dewi. Ayahnya memaksa dia tetap pulang dan harus menikah dengan pria yang selama ini saja sudah menolaknya secara frontal. Dan Dewi tidak mau itu terjadi. Kalau harus menikah ya dengan pria yang menerimanya apa adanya. Sepertinya terdesaknya Satya karena dia juga dijodohkan membuat pria itu mau menerimanya. Yang pasti Dewi tidak akan menikah dengan si Arkana itu, atau yang disebut Arwana oleh bundanya. Dewi sendiri tersenyum geli saat bundanya memanggil salah nama Arkana. Bundanya selalu menghibur hatinya.
"Sudah siap?" pertanyaan Satya menyadarkan Dewi dari lamunannya. Mereka kini sudah ada di depan hotel. Satya sudah mengurus semuanya, hari ini mereka akan keluar dari Venesia. Kalau Dewi ingin segera pulang ke Indonesia, tapi sepertinya Satya ada rencana lain.
"Kita langsung pulang ke Indonesia kan?"
Tapi Satya yang kini sudah membenarkan tas ranselnya langsung menggelengkan kepala.
"Kita ke Milan dulu, aku ingin mengajakmu keliling Milan. aku tinggal di sana sudah bertahun-tahun dan mungkin juga perjalanan perpisahan dengan kota itu dengan seorang wanita yang akan menjadi istriku." Satya mengatakan itu dengan sangat diplomatis. Dewi menghela nafasnya, toh dia tidak bisa membantah karena perjalanannya ini juga dibiayai semua oleh Satya.
"Tapi ayahku..." Satya kembali menggelengkan kepala, lalu menepuk bahu Dewi dengan lembut.
"Nanti kita pikirkan lagi. Sekarang kita naik ACTV [water bus] menuju Mestre Rail Way station." Dewi hanya menganggukkan kepala lagi. Kondisinya yang tidak sehat juga membuat Dewi enggan untuk membantah Satya. Pria itu mengulurkan tangan untuk merangkul bahunya. Tapi Dewi melangkah mundur.
"Don't touch me." Ucapan Dewi itu membuat alis Satya terangkat, tapi sejenak kemudian Dewi tertawa.
"1 sama, dulu pas pertama bertemu kamu juga bilang gitu sama aku." Tentu saja Satya menghela nafasnya. Pria itu tidak tersenyum tapi kemudian merangkul bahunya memberikan kehangatan. "Maafkan aku atas sikapku kemarin."
Dewi kini melirik Satya pria dingin yang tidak pernah bisa tersenyum, tapi membuat Dewi merasa nyaman.
****
Setelah perjalanan yang hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di stasiun kereta. Selama perjalanan tadi Dewi menatap pemandangan indah gunung Alpen. Dewi benar-benar puas dengan perjalanan singkat itu.
"Indah ya.." Dewi menoleh ke arah Satya yang sudah duduk di sebelahnya. Mereka sudah ada di dalam kereta menuju Milan. Dan selama perjalanan Dewi makin dibuat takjub oleh kota-kota yang dihiasi dengan khas Eropa serta beberap castle di puncak bukit.
"Kamu suka?" Satya berbisik di telinga Dewi membuat dia tidak bisa berkutik. Lingkupan tangan Satya di bahunya makin membuat jantungnya berdegup kencang.
"Eheheehhe kamu punya uang berapa sih? Banyak banget pasti ya?" Nah itu malah yang keluar dari mulutnya. Kalau gugup ucapannya malah jadi tidak sinkron. Wajah Dewi sudah memanas karena malu, apalagi kini Satya menatapnya lekat tampak bingung.
"Kenapa jadi ngomongin uang? jangan bilang kamu juga cewek matre?" Tentu saja pertanyaan Satya itu membuat Dewi memberengut lalu mendorong tubuh Satya untuk menjauh.
"Jangan samakan aku dengan wanita lain. Kalau cuma duit aja Ayah aku juga udah kaya. Apalagi kakekku. Belum Tante dan Om ku semuanya juga udah kaya. Jadi jangan bilang kalau..." Ucapannya terhenti saat Satya tiba-tiba membenarkan topi rajutnya yang terlepas dari kepalanya. Tentu saja Dewi langsung menoleh ke arah Satya yang kini sudah membenarkan kembali ke kepalanya.
"Nanti aku beliin topi rajut yang lebih besar deh." Dewi menelan ludahnya. Tidak bisa menatap Satya yang kali ini memang sangat manis. Dewi kini menatap pemandangan di luar sana lagi. Satya juga tidak mengatakan apapun lagi akhirnya selama perjalanan dua jam itu.
Satya menggandeng tangan Dewi sejak mereka sampai di Milan Centrale Station. Bangunan gedung yang mewah dan anggun. Dewi menyukai bangunan stasiun itu.
"Masih kuat jalan gak?" Satya menatap Dewi yang kini masih takjub dengan pemandangan di sekitar mereka. Tapi Dewi menggelengkan kepala. Dia kembali mengigil dan memang tubuhnya sepertinya tidak bisa diajak berkompromi lagi.
"Aku kedinginan." Ucapannya itu membuat Satya langsung melepas gandengan tangannya. Tapi kini beralih memeluk pinggangnya dan merapatkan tubuh Dewi ke tubuhnya sendiri.
"Kita makan dulu atau.." Dewi kembali menggelengkan kepala. Kalau seperti ini rasanya dia ingin pulang ke Indonesia. Sedang kambuh begini biasanya dia selalu minta dipeluk oleh ayahnya.
"Hei... aku di sini. tatap aku." Satya membuat Dewi akhirnya menatapnya. Manik mata Satya tampak begitu tajam. Memberikan kehangatan tersendiri di tubuh Dewi.
"Jangan memikirkan apapun, hadapi apa yang ada di depan kamu. Sekarang kamu ada di sini. Di Milan. Bersamaku, calon suamimu dan nikmatilah perjalanan ini. Karena besok, suatu saat kita akan merindukan saat-saat seperti ini."