Satya menatap Dewi yang kali ini kembali tertidur. Wanita di sampingnya ini perlu dibawa pulang ke Indonesia. Hawa di sini sepertinya tidak cocok untuk Dewi. Satya tidak tega melihat Dewi terus menerus kedinginan. Apalagi saat tadi perjalanan pulang dari pulau Burano kembali ke ke Venesia Dewi tidak bisa jauh darinya. Selalu menempel untuk mencari kehangatan. Dan wanita itu lebih banyak diam. Tapi membuat Satya malah menemukan ketertarikan sendiri. Dewi itu cantik. Tidak bisa dipungkiri oleh Satya . Rambut hitamnya yang tersembunyi di balik topi rajutnya itu sangat indah. Alis matanya tebal dan bulu matanya lentik. Matanya bulat dan menyenangkan jika dipandang.
"Makasih. Aku bisa tidur sendiri." Satya tersadar kalau mereka sudah sampai di depan kamar hotel Dewi. Dia memang mengantarkan Dewi ke dalam kamar. Tapi Satya menggelengkan kepalanya.
"Kalau nanti kamu kambuh gimana?" Satya menatap Dewi yang kini mulai melepas syalnya. Lalu melemparkan begitu saja ke atas kasur. Dewi juga membuka topi rajutnya dan menggerai rambutnya. Satya terdiam. Sosok Dewi makin lama makin terlihat menarik. Dewi sudah duduk di tepi kasur dan Satya masih menatap Dewi di depannya.
"Kalau udah masuk kamar juga udah gak dingin." Dewi kini mengerjapkan mata ke arah Arkana. Tapi Arkana sudah melepas jaketnya. Lalu melepas sepatunya. Bersiap untuk tidur di dalam kamar itu juga. Membuat mata Dewi membulat.
"Jangan bilang kamu..." Dewi sudah menunjuknya, tapi Satya sudah naik ke atas kasur.
"Tidur."
"Enggak." Satya kini menghela nafas. Lalu menyugar rambutnya. Saat itulah ponselnya kembali berdering. Ini pasti dari papi atau maminya lagi. Dengan malas Satya mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Lalu menatap layar ponselnya dengan malas.
"Ya pi.." Satya akhirnya menjawab panggilan itu. Lalu menatap Dewi yang kini sudah menguap. Melihat lagi wanita itu menepuk-nepuk bantalnya dan membaringkan diri.
"Arkan. Jangan buat papi sakit jantung, itu wanita kan yang tidur di sebelah kamu? Papi memang tidak melihat dengan jelas foto kamu. Hanya terlihat rambut yang tergerai hitam selebihnya wajahnya tidak terlihat karena tertutup selimut. Kamu tidak main-main sama papi kan?" Suara papinya yang kesal membuat Arkana kini menatap Dewi. Dan dia heran melihat Dewi sudah tertidur pulas.
"Maaf pi. Arkan khilaf. Iya itu wanita. Tepatnya kekasih Arkan. Calon istri Arkan jadi.."
"Jangan buat mami kamu sedih Arkan. Dengan tingkah liarmu. Segera nikahi wanita itu. Papi tidak pernah menyetujui free seks. Papi tidak akan menerimamu kalau kamu pulang sebelum menikahi wanita itu. Masalah pertunangan kamu dengan Cean. Papi akan mengurusnya."
Suara ponsel dimatikan membuat Satya terdiam. Papinya marah besar. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dalam hal ini dia merasa bersalah karena telah membohongi papinya. Tapi merasa lega karena dia tidak jadi menikah dengan wanita yang sejak kecil di jodohkan untuknya. Dia memang menolak keras. Dan sekarang...
Satya menoleh ke arah Dewi. Wanita yang belum lama dikenalnya tapi sudah membuat sisi hatinya bergetar ini akan dinikahinya. Dengan cara apapun.
Satya kini menggeser tubuhnya. Menatap Dewi yang tidur memunggunginya. Nafas Dewi sudah teratur. Dalam artian Dewi memang sudah tertidur pulas. Dia menatap tas punggung yang sejak tadi dibawa Dewi. Yang terletak di atas nakas. Dengan perlahan Satya mengambil tas itu. Lalu membukanya. Sangat perlahan dia mencari ponsel Dewi. Dan saat menemukan ponsel berwarna merah muda itu. Dengan berdoa agar Dewi tidak terbangun tiba-tiba. Satya mengutak-atik ponsel itu. Mencari satu nama...
Satya tersenyum mendapatkan tulisan 'ayah dan tanpa menunggu dia langsung mengambil ponselnya sendiri dan mengcopy nomor ponsel itu.
Satya kini bergeser untuk turun dari atas kasur. Lalu kemudian melangkah ke arah jendela. Tirai kedap cahaya masih belum di tutup. Sehingga dia masih bisa melihat pemandangan kanal di luar sana. Sedikit mengambil nafas dia lalu memencet nomor ayahnya Dewi.
"Halo.." Satya melirik Dewi yang masih belum berubah posisinya. Lalu dia meyakinkan diri sendiri kalau inilah cara yang tepat.
"Halo om. Maaf saya lancang. Nama saya Satya. Kekasih Dewi." Ucapannya yang langsung itu membuat Satya sendiri sedikit goyah. Tapi sudah terucap dan dia tidak bisa mundur lagi.
"Maksud kamu..." Tiba-tiba dari arah tempat tidur Dewi terbangun. Dia mengusap matanya dan mengerjapkan mata saat duduk. Lalu berteriak begitu melihatnya.
"Eh..ngapain Kamu masih di sini?" Satya tentu saja langsung berbalik dan melihat Dewi sudah beranjak dari tidurnya. Lalu turun dari kasur dan melangkah ke arahnya.
"Halo.." Ayahnya Dewi masih menunggu jawabannya. Bersamaan dengan Dewi yang mendekat.
"Kamu ini aku kan sudah bilang.. " Tapi Satya langsung menarik Dewi untuk menempel di tubuhnya. Lalu menempelkan ponsel di telinga Dewi..
"Halo..halo.." Suara Ayah Dewi memang terdengar jelas karena Satya memperbesar volumenya.
"Ayah?" Dewi langsung membelalakkan mata mendengar suara ayahnya. Dan membuat Satya menganggukkan kepalanya. Dengan cepat Dewi merebut ponsel itu. Lalu mematikan loudspeakernya dan menjauh dari Satya. Sehingga Satya tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Tapi dia sudah tersenyum. Berhasil caranya.
"Owh itu...eh enggak ayah. Hah menikah?" Dewi langsung menatap Satya dengan bingung. Tapi wajahnya sudah pucat pasi.
"Owh iya ayah. Baik." Dewi langsung menurunkan ponsel dari telinganya. Kemudian menatap Satya dengan kesal.
"Aku di suruh pulang. Besok. Dan harus menikah dengan orang yang sudah di jodohkan denganku. Ini semua gara-gara kamu." Ucapan Dewi itu tentu saja membuat Satya mengernyitkan kening. Bukankah harusnya Dewi menikah dengannya? Tapi kok ini..
Dewi langsung membalikkan badannya. Berderap kembali ke atas kasur. Dan langsung menangis di sana. Membuat Satya bingung. Dia mendekati Dewi tapi kini bersimpuh di depan Dewi yang terisak di tepi kasur.
"Hei kenapa menangis?" Dewi mengusap air matanya. Lalu menatap Satya.
"Ayah bilang aku...aku...harus pulang. Kalau...aku...di sini.." Dewi nampak susah mengatakan sesuatu. Karena masih menangis. Arkana kemudian beranjak dari posisinya. Kemudian duduk di sebelah Dewi.
Lalu merengkuh Dewi ke dalam pelukannya. Menyandarkan kepala wanita itu di bahunya. Dan mengusap rambut Dewi dengan lembut.
"Jadi kamu sudah dijodohkan?" Anggukan Dewi membuat Satya menghela nafas. Situasi ini menjadi rumit.
"Kamu lebih memilih menikah denganku atau dengan pria yang dipilihkan untukmu? Situasi kita hampir sama. Aku juga dijodohkan. Ini jaman sekarang kenapa masih ada perjodohan seperti Ini?" Dewi akhirnya menatap Satya. Hidungnya memerah tapi tangisnya sudah lebih tenang.
"Aku gak mau nikah sama cowok yang sejak pertama nolak aku. Makanya aku lari ke sini. Pingin lari sejenak dari pernikahan yang udah ada di depan mata. Tapi.
" Satya menatap Dewi dengan sabar.
"Kalau harus menikah lebih baik sama kamu aja. Tapi kamu juga gak aku kenal."
Satya kini tersenyum lalu menepuk rambut Dewi.
"Lebih baik aku kan? Daripada cowok yang belum kamu kenal? Kamu udah pernah bertemu sama dia?" Dewi menggelengkan kepalanya.
"Belum. Dan gak mau. Lagipula dia mungkin gak mau nemuin aku karena wajahnya gak sempurna kali ya? Gak punya hidung mungkin."
Ucapan Dewi itu membuat Arkana tersenyum lagi. Kenapa Dewi begitu lucu?
"Jadi... kamu lebih baik menikah sama aku?"
"Iya..eh Enggak." Dewi menatap Satya dengan bingung. Satya kini menggenggam jemari Dewi.
"Aku berjanji. Kalau kamu menerimaku, pulang ke Indonesia aku akan langsung melamarmu." Alis Dewi terangkat. Bibirnya mengerucut.
"Ayah gak mungkin setuju. Beliau udah jodohin aku dan gak boleh diganggu gugat."
"Aku akan memohon sampai ayah kamu setuju." Dewi kini menatapnya lekat. Lalu mata itu membulat.
"Kamu beneran Ini? Mau berkorban kayak gitu?" Satya menganggukkan kepala dengan mantap.
"Aku tidak akan pantang menyerah untuk mendapatkanmu."