"Cean kenapa bisa ketinggalan rombongan? Ayah mau jemput kamu aja."
Dewi menatap Satya yang kini mengamatinya dari seberang meja. Hari sudah pagi, saat semalam akhirnya Dewi berhasil mengusir Satya dari kamarnya. Dengan janji pagi akan membicarakan masalah 'lamaran' lagi. Dan akhirnya dia berada di sini. Di cafe. Dia di ajak Satya untuk berjalan-jalan di Venesia. Satya mengajaknya ke Piazza San Marco dengan katedral mewah dan alun-alun yang rame. Banyak terdapat restoran dan cafe-cafe yang bertebaran. Di salah satu cafe itulah Dewi dan Satya kini duduk. Akhirnya Dewi meminjam ponsel Satya. Ponsel yang sudah diganti dengan kartu internasional untuk dapat menelepon ke Indonesia.
"Enggak ayah. Besok pasti pulang. Ayah gak usah khawatir ya."
"Alergi kamu gimana? Obat dari ayah udah dibawakan?" Pertanyaan sang ayah di ujung sana membuat Dewi kini menatap Satya. Pria itu hanya mengetuk-ngetuk ujung meja dengan tangannya. Tampak bosan.
"Ehm udah kok."
Padahal obat itu ikut tenggelam ke dalam air bersama dompetnya.
"Ya udah...nih bunda kamu mau ngomong." Terdengar suara berisik di ujung sana.
"Ceaaaaannn. Kenapa bisa ketinggalan rombongan. Kamu pasti ketiduran kan?"
Dewi hanya tersenyum mendengar celotehan bundanya.
"Pokoknya pulang aja. Gak ada cowok yang lebih cakep dari ayah kamu. Ngapain jauh-jauh ke Venesia. Takdirmu itu sama si Arwana. " Dewi mengernyitkan kening mendengar nama aneh itu.
"Arkana sayang... Arwana kan ikannya yang kamu masukin ke akuarium."
Dewi terkekeh mendengar suara ayahnya menyela ucapan bundanya. Tapi saat dia melirik Satya lagi pria itu sedang menatapnya dengan dingin.
"Bunda udah dulu ya. Nanti mahal nih. Besok aku telepon lagi. Muach muach."
Dewi mendengar bunda dan ayahnya mengucapkan sesuatu sebelum sambungan akhirnya di putus. Lalu Dewi segera memberikan ponsel Satya kepada pemiliknya.
"Itu sudah termasuk hitungan. Jadi kalau kamu masih ingin bisa pulang dan jalan-jalan di Venesia ini. Atau kamu agar tidak kelaparan jadi terima saja lamaranku."
Ucapan Satya membuat Dewi kini memberengut tapi bagaimana lagi dia memang tidak mempunyai uang lagi.
"Ehmmm kamu meras Aku?"
Satya kini mengangkat alisnya. Dan bersedekap di depannya.
"Lebih tepatnya kesepakatan. Kamu mendapatkan perlindungan seutuhnya dariku. Dan aku mendapatkan kamu sebagai istriku."
Tentu saja Dewi kini menghela nafas. Lalu membenarkan syal yang membebat hidungnya itu.
"Ya udah. Aku terima tawaran kamu. 10 hari mencari cinta." Dewi mengulurkan tangan kepada Satya. Tapi pria itu hanya menatapnya saja.
"Tidak butuh jabat tangan. Kita mulai dengan mengelilingi kota ini. Dan serahkan kepada takdir." Dewi hanya menatap Satya yang sudah beranjak dari duduknya. Lalu pria itu mengulurkan tangan kepadanya.
"Genggam tanganku. " Dewi menatap ragu tapi Satya sepertinya menunggu dengan tidak sabar. Maka dia lalu menggenggam jemari Satya dari balik sarung tangannya. Lalu beranjak dari duduknya.
*****
Satya mengajak Dewi berkeliling kota Venesia yang kecil itu. Tidak perlu khawatir akan tersesat karena di setiap sudut jalannya ada tanda jalan. Dewi benar-benar takjub dengan keindahan kota Venesia yang 99% memang hanya dihuni oleh para turis. Menurut Satya penduduk asli Venesia malah memilih untuk mengungsi ke daratan utama yang bernama Mestre. Jadi sepenuhnya kehidupan di Venesia ini adalah untuk wisatawan. Dewi makin takjub dengan bertebarannya cafe-cafe unik.
"Itu es krim?" Dewi menunjuk es krim yang dijajakan di sebuah cafe yang mereka lewati. Yang disebut 'gelateria'.
"Mau?" Dewi tentu saja menganggukkan kepala. Tapi Satya menggelengkan kepalanya.
"Kamu alergi dingin." Dewi langsung memberengut mendengar ucapan Satya.
"Ih pelit. Itu kan gelato. Pasti rasanya enak."
"Tidak." Satya malah kini membawanya untuk naik bus air. Yang dinamakan vaporetto. Dewi melihat Satya memasukkan pas yang sudah dibelinya di airport. Untuk keperluan naik vaporetto itu.
"Kita mau kemana sih? Gak bawa aku ke tempat pembuatan kristal-kristal. Pengen beli itu" ucapnya memohon. Tapi Satya mengacuhkannya membuat Dewi kesal.
"Kayak gini kok dinamakan pacaran, bisa buat jatuh cinta. Apalagi menikah hiih dingin kayak es gitu kok." Dewi menggerutu sendiri dengan sikap Satya. Tapi kemudian dia merasakan bahunya di rangkul dari samping dan Satya merapatkan tubuh mereka. Membuat Dewi langsung menoleh ke arah Satya yang tidak menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Kita mau ke Burano. Kota kecil yang ada di sekitar sini." Hanya itu. Dewi akhirnya diam. Dia menikmati pemandangan dari kanal-kanal yang mereka lewati. Dan memang dia tidak jadi kesal karena sesampainya di Burano. Dewi kembali senang. Bangunannya berwarna-warni seperti pelangi.
"Wah... kok kayak rainbowcake ya?"
Dewi menoleh ke arah Satya saat mereka turun dari vaporetto. Tapi Satya kini hanya menoleh sebentar lalu menatap sekeliling mereka.
"Mau langsung ke hotel?" Pertanyaan Satya membuat Dewi kini mengernyitkan kening.
"Hotel? Memangnya kita ngapain di sini sewa hotel. Kan nanti kembali lagi ke hotel kita. Lah mau bobok siang gitu?" Ucapan Dewi membuat Satya kini berdecak sebal. Pria itu menyugar rambutnya dan membuka kacamata hitam yang sejak tadi dipakainya.
"Aku akan menciummu. Tapi tidak di tempat umum. Jadi kita cari hotel." Mendengar ucapan Satya tentu saja Dewi langsung melangkah mundur. Lalu membuka syal yang dipakainya. Dan kini membuat syal itu seperti tameng untuknya.
"Jangan m***m ya. Kamu gak ngigau kan? Ngapain pake cium-cium katanya cuma buat aku jatuh cinta." Satya kini menghela nafasnya lalu melangkah perlahan ke arah Dewi. Tapi Dewi melangkah mundur.
"Aku akan teriak kalau kamu memaksa....hatsyiii.." Dia belum selesai menyelesaikan ucapannya sudah bersin terlebih dahulu. Lalu bersin lagi, lagi dan lagi. Membuat Dewi membungkuk dan memeluk dirinya sendiri. Alergi dinginnya kambuh lagi.
"Astaga." Satya langsung mendekatinya dan membungkus dirinya dengan jaket jins yang dipakai Satya. Lalu meminta syalnya kembali dan di lingkarkan di hidungnya. Menutupi wajahnya.
"Kamu ini alergi dingin. Kenapa dibuka syalnya?" Dewi hanya terdiam. Kalau sudah begini dia memang tidak bisa berkutik. Akhirnya dia menurut saat Satya mengajaknya melangkah. Menuju ke sebuah toko. Dewi di dudukan di kursi yang ada di ujung toko itu lalu menatap Satya yang sibuk memilih entah apa. Dewi mengedarkan pandangan dan menemukan toko itu menjual souvenir. Isinya taplak meja, gaun dan syal yang ada bordiran indahnya. Dewi kembali terhanyut dalam bordiran-bordiran itu. Sampai akhirnya Satya sudah Berdiri di depannya.
"Pakai ini." Dewi terkejut saat Satya melingkarkan syal berbordir indah ke lehernya. Lalu pria itu membungkuk di depannya. Sehingga wajah mereka sejajar.
"Hei... cobalah untuk menerimaku." Satya menangkup wajahnya dengan kedua tangan pria itu yang terasa hangat. Nafasnya juga menerpa wajah Dewi. Matanya menatap lekat.
"Aku tidak akan memaksamu. Tapi berusahalah. Kita sama-sama berusaha. Kamu tidak bisa tanpa aku di sini. Dan aku memang membutuhkanmu. Hanya sesimpel itu."