03 ARE YOU CRAZY

1005 Words
Dewi merasa takut. Jauh-jauh ke Venesia dia bertemu dengan orang gila. Setelah mendengar ucapan Satya. Refleks dia menimpuk  wajah Satya dengan sandal hotel yang dipakainya. Lalu segera berlari keluar dari kamar. Dan di sinilah dia berada. Duduk di loby hotel seperti orang hilang. Dengan ponsel menempel di telinganya. "Ayolah Nin, angkat telepon gue." Dewi menatap lift terus menerus. Dia takut kalau Satya menyusulnya. Dewi terkejut saat mendengar permintaan aneh pria itu. Sungguh, jaman sekarang orang sudah mulai tak waras semua, itu pikirnya. Karena Satya memintanya untuk mengandung anaknya. Dalam artian dia hamil, dihamili. "Aduh lo kemana sih? Ditelepon kok ya teleponnya tulalit." Dewi menggerutu saat temannya Nina yang satu rombongan dengannya tidak bisa ditelepon. Padahal saat ini dia juga takut mau kembali lagi ke dalam kamarnya. "Hatsyiii.." Dewi bersin. Udara di lobi membuat dia kembali bersin-bersin. Dewi menyesal keluar dari kamar hanya mengenakan piyama tidurnya. Otomatis tubuhnya bereaksi. "Hatsyiii.." Dewi kembali bersin lagi. Dia menutup hidung dengan kedua telapak tangannya. Kalau sudah seperti ini dia pasti akan bersin-bersin terus. "Hatsyiii.." Tapi setelah bersinnya yang terakhir dia hampir memekik saat dirasakan kehangatan mulai melingkupi tubuhnya. Saat menoleh ke arah sampingnya. Dewi menemukan Satya sudah melingkarkan jaket di tubuhnya dan kini mendekapnya erat. Tentu saja mata Dewi membulat lalu dia berusaha untuk berontak. "Jangan bergerak. Wajah kamu saja sudah pucat begitu." Suara dingin Satya dan perintahnya yang otoriter itu membuat Dewi menggelengkan kepala. "Lepaskan. Don't touch-touch me ya." Ucapannya memang kacau. Karena saat ini dia benar-benar tidak mau bersinggungan lagi dengan pria yang baru saja frontal akan menghamilinya. Tapi Satya tetap memeluknya erat dan membungkus tubuhnya dengan jaket tebal. Dan kemudian suara sesuatu membuat Dewi menunduk malu. Itu suara perutnya. Dia kelaparan. Satya menyipitkan matanya dan kini menatap perut Dewi. "Jangan tatap  aku seperti itu." Ucapan galak Dewi membuat Satya hanya menatapnya dengan masam. Dia kemudian berdiri. Melepaskan pelukannya. Membuat Dewi sedikit terbebas. "Pakai pakaian hangat. Aku akan mengajakmu makan malam." "Enggak." Dewi menggelengkan kepala. Dia tidak mau lagi terjebak oleh rayuan maut pria yang kini sedang menatapnya kesal itu. "Jangan salah sangka. Aku tidak bernafsu dengan tubuhmu." Satya berdecak lagi dan menyugar rambutnya. Lalu berdiri dengan berkacak pinggang. "Aku akan menjelaskan situasinya. Tapi nanti. Kita makan dulu." Dewi menyipitkan matanya. Lalu dia berdiri. Memeluk dirinya sendiri dalam balutan jaket tebal yang terasa hangat itu. "Janji kelingking." Dewi mengulurkan kelingkingnya kepada Satya. Tapi Satya hanya menatapnya dengan muram. "Cepetan. Janji dulu baru aku mau ikut sama kamu. Kalau enggak aku timpuk lagi dengan sandalku." Tapi saat Dewi menunduk kedua sandalnya  memang ada di dalam kamar. Dalam artian tadi dia berlari tanpa mengenakan apapun. Satya akhirnya  mengulurkan tangan. Lalu dengan malas menautkan  kelingkingnya. ***** Suasana malam di Venesia sungguh sangat romantis. Kalau siang jembatan Rialto padat oleh turis yang ingin mengambil foto. Tapi saat malam menjelang keadaan jembatan lumayan sepi. Satya mengajaknya ke jembatan Rialto yang menghubungkan distrik San paolo dan San Marco. Tujuan Satya adalah ke pasar yang ada di dekat Rialto. Yang terkenal dengan sayur dan ikan segar. Tempat tujuan para turis untuk makan. Tapi sayang, ketika mereka sampai di sana pasar itu sudah tutup. Jadi Satya mengajak Dewi ke sebuah lorong yang tak jauh dari pasar. Ada sebuah restoran Italia dengan meja-meja bercorak kotak-kotak di pinggir jalan. Dewi menatap spaghetti, ayam dan salad di depannya. Lalu menatap suasana di sekitar mereka. Makan malam di pinggir kota tua dengan pemandangan bangunan-banguan khas Eropa. Membuat Dewi tersenyum. "Eh ini kayak di film-film ya? Romantis." Dia sudah melupakan ketegangannya.  Dia sudah terbalut jaket tebal milik Satya. Topi rajut dan syal miliknya. Selama  perjalanan ke Rialto tadi Satya memang menjaga jarak darinya. "Ehm tapi kamu pasti sudah sering ke sini ya?" Dewi kini mengunyah ayam yang terhidang. Dan menatap Satya yang sejak tadi hanya diam dan menikmati makanannya. "Ehm atau kamu memang orang sini ya? Tapi gak mungkin kamu pinter bahasa Indonesia kok. Ehm owh iya kamu asli mana?" Dewi mulai menginterogasi Satya. Kalau ingin bicara dia harus mengenal pria di depannya itu. "Jakarta." Itulah jawaban Satya. Yang membuat mata Dewi membulat. "Sama dong ya. Tapi aku.." "Aku tidak perlu mendengar kamu tinggal dimana. Yang pasti kita harus segera menikah dan aku akan menghamilimu.  Secepatnya." Ucapan Satya yang kembali frontal itu membuat Dewi tersedak.  Lalu menatap Satya yang kini mengulurkan air mineral kepadanya.  Dewi langsung menerima air itu dan meneguknya. Menghela nafas untuk menenangkan dirinya. "Wah jangan-jangan kamu pasien rumah sakit jiwa." Dewi menatap horor ke arah Satya. Dia kembali tidak percaya dengan pria yang baru saja mengucapkan itu. Artinya dia sedang dilamar. "Are you crazy?" Dewi kembali mengatakan itu dan membuat Satya kini meletakkan sendok di atas piringnya. Pria itu kini bersandar di kursinya dan bersedekap. Tatapannya kembali mengintimidasi. "Aku harus menikah. Dan ini mendesak. Tidak hanya menikah tapi harus juga menghamilimu. Tidakkah penjelasanku  itu sudah sangat gamblang?" Pertanyaan Satya membuat Dewi kini mengerucutkan bibirnya. Benar-benar menghadapi orang gila, pikirnya. "Mas. Aku ke sini itu untuk cari cowok yang bisa aku cintai. Eh tahunya nemu cowok gila yang mau nikahin. Laah. Mas nya beneran keluar dari rumah sakit jiwa deh. Udah minum obat belum?" Pertanyaannya yang kacau itu membuat Satya kini menyipitkan matanya. "Aku serius." Pria di depannya itu memang sangat dingin. Sejak tadi ekspresinya datar. Dewi sampai heran. Ayahnya juga orang yang dingin. Tapi itu katanya bundanya. Selama ini juga Dewi melihatnya tidak seperti itu. "Aku juga serius." Akhirnya Dewi ikut bersedekap. Meniru gerakan  tubuh Satya. "Kita menikah, kamu hamil dan kita pulang ke Indonesia." Ucapan tegas itu membuat Dewi menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Mas nya memang kehabisan obat ini." Tapi Satya kini makin menatapnya dengan muram. "Kamu cari cowok yang ingin kamu cintai kan?" Pertanyaan Satya membuat Dewi terdiam. Dewi akhirnya menganggukkan kepalanya. "Maka aku bisa kamu cintai." Dan mendengar ucapan Satya kini tawa  Dewi menyembur. Dia sungguh di buat gila oleh orang tidak waras di depannya. "Aduh. Perutku sakit mas. Ini kayaknya mas nya memang harus dibawa ke rumah sakit." "Aku tidak gila. Dan aku serius. Menikahlah  denganku," ucapan serius Satya membuat Dewi terdiam. Dia menatap Satya tanpa tersenyum lagi. "Ini seriusan? Kamu ngelamar aku?"    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD