04 PRESSURE

1070 Words
Satya menatap Dewi yang saat ini tampak bersembunyi diantara kerumunan orang. Setelah semalam Dewi langsung diam mendengar lamarannya. Hari ini Dewi sepertinya menghindarinya. Padahal Satya tahu wanita  itu tidak mempunyai uang sepersenpun. Dari ceritanya dompetnya jatuh ke dalam air. Sungguh wanita yang sangat ceroboh. Sebenarnya tadi saat menghampiri ke kamar Dewi, Arkana ingin mengajak bicara dengan serius. Dia sudah mantap melamar Dewi dan akan menikahinya. Setidaknya Dewi cantik. Sedap dipandang. Apalagi kalau itu memang jalan yang terbaik untuk menggagalkan perjodohan dengan wanita yang memang sangat dihindarinya sejak dulu. Tapi sudah disangka Satya. Dewi tidak ada di dalam kamarnya. Bahkan sekarang sudah 2 jam lebih Satya berkeliling mencari Dewi. Satya sempat berpikiran wanita itu kabur darinya. Hanya saja memakai apa? Atau dia sudah di jemput oleh temannya? Hal itu membuat Satya gusar. Kalau misi untuk menikahi Dewi gagal. Maka dia akan tertunda pulang ke Indonesia. Dan itu akan membuat maminya sedih. Satya menyugar rambutnya. Sudah terlalu lelah. Dia akhirnya berdiri di salah satu jembatan dari banyak jembatan di Venesia ini. Setiap jembatan ada maknanya tersendiri. Dan sepertinya tempat dia berdiri untuk saat ini tepat di seberang jembatan Ponte dei Sospiri. Ponte dei Sospiri adalah sebuah jembatan dari batu kapur berwarna putih yang melintang di atas Rio di Palazzo. Dulunya jembatan ini menghubungkan Penjara Prigioni Nuove dan ruang interogasi di Istana Doge. Dari tempatnya berdiri yaitu di seberang jembatan yang tertutup dan terbuat dari batu kapur putih. Satya  bisa melihat dengan jelas jembatan itu. Konon dulunya Jembatan digunakan untuk membawa tahanan dari kamar interogasi di Istana Doge ke sel mereka di Prigioni. Legenda mengatakan bahwa tahanan yang dihukum berjalan melintasi jembatan ke penjara untuk pelaksanaan eksekusi. Lewat jembatan ini tahanan bisa melihat sekilas dunia luar dan menghela napas. Saat ini sepertinya jembatan ini menjadi salah satu lokasi paling romantis di Venesia. Menurut mitos yang dipercaya masyarakat setempat, pasangan yang mengarungi sungai di Venesia dengan gondola kemudian berciuman di bawah Jembatan Desah saat matahari terbenam, tepat ketika lonceng di St. Mark Campanile berdentang cintanya akan abadi dan diberkahi. Pemandangan Venesia dari atas jembatan itu merupakan hal terakhir yang dilihat oleh para narapidana di zaman dahulu sebelum dikurung di sel tahanan. Konon karena keindahan panorama yang tampak dari atas jembatan, para narapidana yang melihatnya akan mendesah kagum. Maka jembatan  yang ada di seberangnya  itu dinamakan jembatan desah. Satya menatap setiap turis yang melintas dan juga gondola-gondola yang lewat di bawahnya. Bisa dipastikan pemandangan di bawah sana membuatnya memalingkan wajah. Karena banyak pasangan romantis yang berciuman di bawah jembatan ini. Dan saat itulah dia melihat sosok Dewi. Siang ini wanita itu memakai topi rajut berwarna merah muda. Yang menutupi sampai telinganya. Syal warna senada juga membebat hidungnya. Hampir seperti saat pertama kali Arkana melihat Dewi. Wajahnya tersembunyi di balik syal. Satya melangkah perlahan. Wanita itu sedang menatap ke seberang tepatnya ke jembatan. Pasti sedang menatap setiap pasangan yang berciuman mesra. Satya menggelengkan kepalanya.  Dewi terlalu fokus mengamati gondola-gondola itu. Sehingga saat Satya sudah berdiri di sampingnya. Wanita itu masih juga tidak menyadari. "Kamu ingin dicium seperti Itu?" Satya sengaja mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Dewi. Membuat wanita itu langsung menoleh secara terkejut. "Demiiiiiitttttt kolor  ijo."Teriakan Dewi membuat Satya tersenyum puas. Dia berhasil mengagetkan wanita itu. Dewi kini melangkah mundur dan mengamatinya. "Hust.. hust.. sana. Far-far dari I. You tidak boleh dekat-dekat. Aku gak mau kamu touch lagi." Satya hanya mengangkat alisnya mendengar celotehan tidak jelas Dewi. Wanita itu memang aneh. "Aku pikir kamu sudah kabur." Ucapannya membuat Dewi mendengus dari balik syalnya. "Ngejek aku? Mana bisa aku kabur pake uang cuma 200 ribu rupiah. Buat naik gondola aja cuma dapat dayungnya  aja." Satya kini mengangkat dagunya dan menatap angkuh ke arah Dewi. Dia sudah menang. "Jadi kamu menerima lamaranku kan?" Dan mendengar ucapannya Dewi kini menggelengkan kepala. "Mas nya kenapa sih ngotot  pengen ngebuntingin  saya? Kelainan nih Mas nya." Dewi kini membalikkan tubuh dan ingin meninggalkannya saat tangan Satya terulur dan mencegah Dewi untuk melangkah. "Don't..." "Aku akan menyentuhmu  dimanapun." Arkana mengucapkan itu dengan tegas. Dia tidak suka dibantah. Tidak ada yang bisa membantahnya. "Aku akan teriak kalau kamu nekat." Dewi kini menatap sekeliling. Lalu saat akan berteriak syalnya melorot. Memberikan pemandangan bibir mungil yang merah merona. Membuat Satya  terdiam. "Eh mas.. hei.." Dewi mengibaskan tangannya di depan wajah Arkana. Tapi dia bergeming. Hanya menatap bibir Dewi yang membuat... "Shit." Satya melepaskan Dewi dan memalingkan muka. Dia tidak akan tergoda. Akhirnya dia menghirup udara. Untuk mengembalikan kendali dirinya. "Larilah!" "Hah?," suara Dewi terdengar ragu. Satya menatap Dewi yang malah menatapnya dengan bingung. "Berlarilah  saat ini dariku. Karena kalau tidak aku akan menciummu di sini saat ini juga." Mendengar ucapannya mata Dewi membulat. Tapi wanita  itu tetap berdiri dan menatapnya bingung. "Eh mas salah tempat. Kalau mau cium itu di bawah sana. Dan naik gondola lagi. Itu bisa buat cintanya langgeng." Dewi malah menunjuk jembatan di seberang   mereka. Yang membuat Satya makin tidak bisa mengendalikan diri. "Kamu tutup syalmu  itu dan tutup bibirmu  yang menggoda itu. Kalau tidak.." Wajah Dewi langsung merona merah mendengar ucapannya. Secepat kilat Dewi langsung menutup kembali hidungnya dengan syal  lalu melangkah mundur. Lalu segera menuruni jembatan tanpa menoleh lagi ke belakang. Satya hanya menyipitkan matanya. Melihat kepergian Dewi. Haruskah dia melepaskan kesempatan Ini?  Arkana melangkah menyusul. Dia harus mendapatkan Dewi. Setidaknya wanita itu sudah dikenalnya. Dia tidak terlalu dekat dengan wanita. Selama di sini dia sebenarnya mempunyai beberapa kekasih. Hanya satu bulan paling lama. Dia tidak cocok. Dengan siapapun. Maka saat melihat Dewi, wanita itu sepertinya tidak membuatnya bosan. Satya mempercepat langkahnya. Menuruni jembatan dan kini melewati  kerumunan turis yang siang ini sepertinya banyak berkerumun di jembatan ini. Agak berlari karena Dewi sudah menghilang dari pandangannya. Apalagi wanita itu tidak mempunyai uang. Kalau Dewi kelaparan? Tiba-tiba rasa khawatir mendesaknya untuk menemukan Dewi.  Nafasnya terengah saat menghentikan langkah. Dia melihat topi rajut  berwarna merah muda dan naik gondola. Tentu saja matanya langsung mengerjap. Itu Dewi. Wanita itu tampak sedang tersenyum dengan seorang pria. Tentu saja Satya  langsung berlari menuju gondola yang belum berjalan itu. Dengan mengucapkan bahasa Italia dia meminta gondoler untuk menunggunya. Membuat Dewi dan pria berambut pirang itu menoleh ke arahnya. Mata Dewi membelalak saat Arkana melompat ke dalam gondola. "Aku tidak bisa melepaskanmu.  Tidak bisa. Kamu harus menikah denganku." Satya langsung menarik Dewi ke dalam pelukannya. Saat gondoler mulai bernyanyi dan mendayung ke arah jembatan, Satya tidak mempercayai mitos. Tapi untuk kali ini dia mengesampingkannya. Diraihnya wajah Dewi dan... ciuman itu terjadi tepat saat gondola melewati bawah jembatan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD