"Cara ngilangin kutukan." Dewi menatap ponsel yang ada di tangannya. Saat ini dia sedang menggulirkan layar ponselnya. Membaca. Tepatnya mencari di google. Tangannya tapi terasa panas dan berkedut-kedut. Tangan yang digunakan untuk menampar Satya. Dewi memang menampar Satya setelah pria itu mencium bibirnya tepat di bawah jembatan saat matahari terbenam. Sungguh dia merasa malu. Terutama kepada Edward. Temannya.
Sebenarnya Edward adalah satu rombongan dengannya dari Milan. Edward juga tertinggal rombongan. Jadi mereka akhirnya memutuskan untuk menyusul rombongan berdua. Hanya saja Satya mengacaukan semuanya. Setelah menerima tamparannya, Satya malah bilang kepada Edward kalau Dewi adalah kekasihnya. Dia menyusul Dewi untuk berbaikan kembali. Cerita yang sangat menyentuh. Sehingga membuat Edward berbalik mendukung Satya. Dan alhasil Edward pergi dan mengatakan kalau mereka pasangan yang sangat romantis. Dewi marah. Dia langsung pergi setelah gondola menepi. Membiarkan Satya yang membayar gondola itu.
Dia langsung mencari sosok Edward dan akan menyusulnya tapi pria itu menghilang. Akhirnya Dewi kembali ke hotel dan mengurung diri di dalam kamar.
"Aduh. Itu bukan kutukan ya? Tapi mitos. Kenapa juga harus berciuman di bawah jembatan desah coba?" Dewi membayangkan jembatan yang tertutup dan hanya mempunyai jendela kecil itu. Jembatan tinggi yang memang mempunyai mitos paling romantis di antara beberapa jembatan yang ada di Venesia ini. Ciuman Arkana membuatnya gusar. Katanya kalau berciuman di bawah jembatan akan langgeng, bahagia dan menemukan cinta abadi. Dewi merinding membayangkan cinta abadinya si Satya. Pria dingin, angkuh dan kejam itu.
"Ayah... jemput Cean dong." Akhirnya dia berteriak putus asa. Ingin menangis saat ini. Melarikan diri ke Venesia bukan langkah yang tepat untuk menghindari perjodohan dengan teman sahabat ayahnya. Tapi ini bukan jaman siti nurbaya, pikirnya. Kalau bisa pun dia minta adiknya yang dijodohkan. Tapi apalah mau dikata adiknya itu cowok. Si Bayu adiknya tercinta. Dewi kembali mengutak atik ponselnya. Nomor Nina tidak aktif. Dia juga lupa tadi meminta nomor ponselnya Edward. Turis asal London itu. Nasibnya memang ada di tangan Satya.
Dewi menatap sekeliling kamarnya. Bahkan Satya menyewakan kamar dengan tarif mahal. Dewi tahu kalau kamar ini bertarif 2 juta semalam. Kamar dengan fasilitas mewah. Ada gorden kedap cahaya di seberang ranjangnya yang besar. Ada televisi lcd dan juga brankas dan meja tulis. Bahkan ada book bayi gratis juga. Layanan kamarnya termasuk mini bar sudah masuk ke dalam fasilitas makan dan minum. Lalu kamar mandinya juga di lengkapi dengan Shower dan bathub. Bahkan Dewi bisa mengeringkan rambutnya setelah keramas.
Tadinya dia tidur di kamar yang lebih murah. Tapi Satya mengambil alih semuanya. Dewi kembali mendesah.
"Jadi hidupku tergantung sama pria dingin Itu?" Dewi menghitung kancing piyama yang dipakainya.
"Terima, tidak, terima, tidak, terima. Kenapa kancingnya cuma 5 Coba? Masa ya aku harus nerima si Satya. Duh."
Dewi memandang ponselnya lagi. Ingin menelepon Ayah dan bundanya. Tapi harus beli pulsa internasional. Dalam artian dia tidak mempunyai uang lagi. Dewi sekarang sedang tengkurap di atas kasur empuk itu. Kepalanya di baringkan di atas kasur. Tapi kakinya menghentak-hentak. Dia bingung.
Saat itulah terdengar ketukan di pintu kamarnya. Tentu saja Dewi menegang lagi. Itu pasti Satya. Dengan malas Dewi beranjak dari kasur lalu melangkah ke arah pintu. Membuka kuncinya dan...
Satya memang sudah berdiri di ambang pintu. Masih mengenakan pakaian yang tadi. Kaos warna abu dan celana senada. Di wajahnya bertengger kacamata hitam.
"Mau ngapain?" Dewi mengatakan itu dengan dingin. Dia tidak mau dianggap murahan oleh pria yang kini sudah menatapnya dari balik kacamata hitamnya.
"Aku ingin minta maaf."
Dewi mengernyitkan kening. Tampak ragu mendengar ucapan Satya.
"Kalau minta maaf berlaku buat apa ada polisi?" Dewi mengutip perkataan Sanchai di drama Taiwan Meteor Garden itu. Drama yang booming pada masanya. Tapi Dewi suka melihat di youtube. Kali ini Satya melepas kacamata hitamnya dan menyipitkan mata saat menatap Dewi. Salah satu tangannya bersandar di ambang pintu.
"Kalau bukan karena kamu wanitanya. Aku juga tidak akan minta maaf." Dewi mencibir mendengar ucapan Satya. Dia menunjuk d**a Satya dengan telunjuknya.
"Jangan jadi gombal. Kamu ini entah playboy, orang gila atau orang m***m. Pokoknya aku gak mau menikah sama kamu."
"Apa alasannya?" Satya masih dengan sikap percaya dirinya. Dan Dewi kini terdesak. Dia mengedarkan pandangan ke koridor di luar kamar. Sepi.
"Perlu penjelasan yang panjang. Jadi mau masuk atau di sini," suaranya terdengar lirih. Tapi Satya sudah menerobos masuk begitu saja. Membuat Dewi kesal.
"Hei.."
"Namaku Satya." Pria angkuh itu kini berbalik dan menatap Dewi lagi.
"Terserahlah. Sekarang apa maumu?"
Satya kini menyugar rambutnya dan melangkah untuk duduk di kursi yang tersedia di depan meja tulis.
"Menikah denganmu," jawab Satya lugas. Dewi menghentakkan kakinya.
"Aku tidak mencintaimu."
"Aku mudah dicintai." Sombong lagi, pikir Dewi. Kini dia mendekati meja tulis dan mencondongkan diri ke depan. Dimana Satya masih menatapnya dengan tenang.
"Hei tuan sombong. Tidak semua wanita mau jatuh cinta sama kamu. Kucingnya Mang Tarjo aja masih lebih layak dicintai daripada kamu." Dewi tentu saja mengucapkan itu dengan asal. Tapi sepertinya perkataannya itu memicu amarah Satya. Pria itu berdiri dan menghampiri Dewi. Membuat Dewi sedikit melangkah mundur.
"Aku bukan kucing. Lagipula kita sudah berciuman. Dibawah jembatan itu. Kamu percaya sama mitosnya kan? Kita akan hidup bahagia. Cinta akan abadi," ucap Satya diplomatis. Dewi merinding mendengar ucapan Satya. Tapi saat mata mereka bertatapan. Dewi baru menyadari kalau mata Satya berwarna coklat. Manik matanya bukan hitam. Hal itu membuat Dewi menatapnya dengan penasaran.
Satya melangkah mendekat lagi. Lalu kini bersedekap di depannya. Masih menatapnya dengan intens.
"Dan kamu adalah pilihanku. Kamu cantik." Mendengar rayuan Satya otomatis Dewi merona. Pipinya terasa panas. Tapi dia kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kalau buaya itu ya pinter buat cari mangsa. Bilang cantik dan bla bla tapi akhirnya..."
"Aku bukan kucing juga bukan buaya. Aku hanyalah pria yang sedang mencari istri. Jadi menikahlah denganku sekarang juga." Mata Dewi melebar mendengar ucapan Satya. Dia benar benar pusing. Lalu dia mencubit lengannya sendiri dan meringis kemudian. Satya mengangkat alisnya.
"Jangan bilang kamu habis mencubit lengan kamu sendiri?" Pertanyaan Satya itu membuat Dewi kembali melangkah mundur. Pria ini terlalu berbahaya untuk dirinya.
"Aku..aku..sudah punya pacar." Akhirnya Dewi mengatakan itu saat dia kini berada jauh dari jangkauan Satya. Tapi pria itu masih menatapnya dengan datar. Nyaris tidak ada emosinya.
"Bohong."
"Kenapa harus bohong. Aku udah punya pacar dan sebentar lagi menikah." Dewi makin menceracau saat dilihatnya Satya kembali melangkah mendekatinya.
"Kamu masih sendiri dan ciuman kita tadi adalah ciuman pertamamu. Kamu masih polos seperti bayi."
Dewi merapat ke dinding saat Satya akhirnya sampai di depannya kembali. Pria itu mengulurkan tangan menyentuh wajahnya yang membuat Dewi memejamkan mata. Terlalu takut untuk menunggu apa yang akan terjadi. Nafas hangat menerpa wajahnya. Jantung Dewi berdegup kencang. Dan...
"Hatsyiii.." Tiba-tiba Dewi bersin. Tentu saja dia membuka matanya. Menatap dengan kaget saat wajah Satya terkena bersinnya. Tapi yang lebih mengagetkan adalah reaksi Satya. Pria itu tidak jijik. Hanya mengusap wajahnya dengan tangannya. Dan pria itu tidak menjauh sedikitpun.
"Kenapa?" Akhirnya Dewi mengatakan itu. Kali ini Satya menyipitkan mata mendengar pertanyaannya.
"Karena aku ingin menikah denganmu," jawaban Sarya membuat Dewi menghela nafas. Lalu mengulurkan tangan untuk mengusap wajah Satya.
"Kamu beneran gak kesurupan setan kan? Ngotot minta kita menikah. Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai. Bukan orang yang menciumku di atas gondola." Dewi akhirnya menunduk. Malu. Teringat ciuman tadi. Satya mengulurkan tangan dan menyentuh dagunya. Membuat Dewi kembali menatap Satya.
"Aku beri waktu 10 hari untuk mencintaiku. Kalau kamu sudah mencintaiku. Maka kita menikah."