Dua belas

1525 Words
Happy Reading. * Keringat dingin terlihat meluncur dari dahi Aliya begitu saja. Pandangan mata yang gusar dengan tangan yang meremas Hanbok-nya dengan gusar. Wajahnya menaling kanan dan kiri terus menerus dan terlihat jika Aliya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Wajahnya yang pucat pasi sudah cukup menjelaskan semuanya. "Tidak lupa dengan janjimu pada Orabonie kan?" Didepannya Taehyung berdiri kokoh dengan wajah keras dan pandangan yang tajam. Pakaian pengawal dan pedang tajam. Taehyung menyamar untuk menemuinya dan Aliya tidak bisa lari begitu saja. Yang ia rasakan saat ini adalah ketakutan padahal ini Kakaknya sendiri. Melihat reaksi adiknya Taehyung mengepalkan tangannya dengan kuat. Taehyung benci Aliya yang lemah, kalah dengan perasaannya sendiri dan melupakan semuanya. Tangan Taehyung bergerak cepat meraih tangan Aliya dan membawanya menjauh dari ruang senjata ini. Mengikuti tarikan Taehyung dan terus berjalan, keduanya tidak sadar jika ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari tadi. Bahkan orang itu menutup mulutnya tidak percaya. "Permaisuri? Dengan siapa? Prajurit?" * Jung Soo Hyun terlihat begitu khawatir karena Aliya tidak segera kembali. Jung Soo Hyun tau jika Aliya menemui Taehyung dan kenapa lama sekali? Jung Soo Hyun takut jika Taehyung kembali membawa Aliya pergi dan pasti akan ada masalah besar lagi. "Soo Hyunie!" Jung Soo Hyun menoleh dan menemukan Jungkook yang berjalan kearahnya. Tidak membuang waktu lagi Jung Soo Hyun berlari menghampiri Jungkook. "Orabonie Aliya~~~" "Dibawa Taehyung Hyung" lanjut Jungkook yang menyela ucapan Jung Soo Hyun dan wanita itu mengangguk khawatir. Jungkook sendiri hanya diam dan menghela nafas pelan. Ia tau perihal ini, Taehyung sempat bercerita jika ingin kembali menemui Aliya di istana. Tapi hanya waktunya saja yang Jungkook tidak tau. "Berdoa saja agar Taehyung Hyung tidak membawa Aliya pergi. Akan ada bencana jika sampai itu terjadi. Kau pasti tau apa yang akan dilakukan Raja" Jung Soo Hyun semakin khawatir mendengar ucapan Jungkook. Raja pasti akan bertindak cepat jika sampai Aliya kembali pergi. "Orabonie tau kemana Orabonie Tae membawa Aliya?" Jungkook menggeleng pelan. Tapi yang pasti Taehyung menemui Aliya di istana ini dan tempatnya tidak pasti. "Jangan khawatir Soo Hyunie. Kau jaga saja berita ini dan pastikan jika Raja tidak mencari Aliya. Aku akan mencoba mencari mereka di istana ini" kata Jungkook dan berlalu. Taehyung harus segera ditemukan dan Aliya tidak boleh pergi lagi. Taehyung tidak bisa membuat masalah lagi. Jika memang Taehyung ingin memisahkan Raja dan Aliya maka bukan seperti ini caranya. "Kumohon Tuhan bawa Aliya kembali. Akan ada bencana besar nanti" doa Jung Soo Hyun lirih. * Jimin terlihat begitu serius mendengarkan ucapan Para petinggi di kerajaan mengenai pengembangan kerajaan. Laporan dan berbagai masalah dibicarakan saat ini. "Maaf menggangu Yang Mulia" semuanya menoleh dan menemukan Pelayan Hwang yang terlihat khawatir menghampiri mereka. "Ada apa?" Tanya Jimin pelan dan Pelayan Hwang langsung berjalan mendekati Raja dan membisikkan sesuatu. "Mwo?" Jimin terkejut mendengar itu, tidak membuang waktu lagi, Jimin berlalu dan meninggalkan rapat kali ini. Ada yang lebih penting dari pada rapat ini. "Apa yang terjadi pelayan Hwang?" Pelayan Hwang menatap khawatir pada Panglima Kerajaan Kim Yogyeom. "Ada banyak Rakyat didepan dan mereka ingin Raja turun tahta" "Mwo?" * "Lihat itu" Aliya menunduk saat melihat banyak kerumunan orang yang berdiri di depan gerbang kerajaan dan meneriaki agar Jimin turun tahta. Aliya tau ini ulah Taehyung, ini sudah pernah Aliya dengar dari mulut Taehyung sendiri. "Orabonie sudah melakukan banyak hal dan kenapa kau masih diam?" Aliya menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat mendengar suara Taehyung yang begitu dingin dan menusuk. Ia tidak bisa melakukan apa yang Taehyung perintahkan. Tidak mungkin Aliya mencelakai Jimin, suaminya ayah dari anaknya. Aliya bukan orang sejahat itu. "Apa susahnya mencampur racun perlahan kedalam minumannya? Apa perlu Orabonie sendiri yang melakukan itu?" Aliya mendongak menatap Taehyung dan jangan lupakan jika ada air mata yang menggenang diwajahnya. Menggeleng pelan dan membuat Taehyung melayangkan tangan kekarnya pada pipi Aliya. Plakk! "Hyung~~~" tubuh Aliya terhuyung menerima tamparan keras Taehyung dengan dibarengi teriakan Jungkook yang begitu keras. "Kau gila? Dia adikmu" pekikan Jungkook membuat Taehyung mendengus sinis. Menatap bengis pada Aliya yang sudah menangis dan berada dalam pelukan Jungkook. "Adik? Dia bahkan tidak mau menuruti ucapanku" decih Taehyung dan membuat tangis Aliya pecah seketika. "Jika kau ingin memisahkan mereka bukan begini caranya. Jangan gunakan Aliya sebagai umpan. Kau sama saja mendorongnya kedalam jurang" mendengar teriakkan Jungkook, Aliya semakin menangis. Keduanya ingin memisahkan mereka, bedanya Taehyung ingin Jimin mati seketika dan Jungkook ingin Jimin menderita karenanya. Keduanya sama saja. "Kau tau alasan dia tidak mau membunuh Raja?" Tanya Taehyung sinis dan Jungkook hanya mendengus. "Aliya mencintai Raja" jawab Jungkook dan membuat Taehyung kaget. Jungkook tau? "Jika hanya itu aku sudah tau. Jika saja Aliya tidak mencintai Raja sialan itu sudah kubunuh dia dari hari pertama aku ada disini dan kau tidak perlu repot-repot turun tangan sendiri" cetus Jungkook sinis dan menarik Aliya agar berdiri dibelakangnya. Menatap nyalang Taehyung yang masih terlihat kaget. "Jangan gunakan kekerasan pada Aliya. Jika kau ingin menuntaskan tujuan mu maka gunakan tanganmu sendiri dan jangan gunakan Aliya. Dia tidak terlibat disini" tegas Jungkook dan membuat Taehyung diam. Akan berbahaya bagi Taehyung jika sampai Aliya jadi umpan disini. Jin dan Jungkook tidak akan diam saja. "Lalu apa sekarang?" Jungkook menatap tajam Taehyung. "Seulgi. Jadikan dia kambing hitam" cetus Jungkook dan membuat Taehyung diam. "Selir itu?" Jungkook mengangguk yakin. * Setelah menyelesaikan kerumunan orang yang memuaskanya turun tahta Jimin kembali ke istana. Wajah Jimin dipenuhi raut lelah dan kecewa. Rasanya begitu menyedihkan saat mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Jimin terus berjalan dan sampai pada kamarnya. Menghembuskan nafasnya kasar dan masuk kedalam dengan cepat. Mata Jimin menjelajah ke sekitar kamarnya dan menemukan Aliya yang duduk didepan meja rias. Jimin semakin mendekat dan saat sampai tepat dibelakang tubuh Aliya yang duduk. Mengamati wajah Aliya dengan seksama yang tercetak dicermin. Mata Jimin menajam saat melihat ada bekas merah dipipi Aliya. Itu seperti bekas pukulan. Jimin menarik Aliya untuk berdiri dan membalik tubuh Aliya dengan cepat. "Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Jimin tajam dan menyetuh bekas itu. Dan benar Aliya langsung meringis. "Siapa yang memukul ini?" Tanya Jimin geram dan Aliya hanya menggeleng pelan. Melepaskan tangan Jimin yang ada diwajahnya dan tersenyum lembut. "Aku hanya terjatuh. Yang Mulia tidak perlu khawatir" kata Aliya dan menarik Jimin dalam pelukannya. "Hari ini aku benar-benar lelah. Bisakah Yang Mulia menemani aku tidur!" Ujar Aliya yang seperti bisikan angin dan membuat Jimin diam. Pelukan Aliya sangat erat dan Jimin tidak bisa melepaskan diri. "Ada yang Permaisuri fikirkan?" Aliya menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aniya" balas Aliya lirih dan mencium tengkuk leher Jimin hingga tubuh Jimin menjadi panas. "Permaisuri~~~" Aliya hanya diam dan semakin mencium lembut leher Jimin. Mata Jimin perlahan terpejam karena ciuman Aliya. Nikmat! "Yang Mulia~~~" suara Aliya terdengar lembut dengan nafas yang memburu, Jimin bergerak cepat dan melepaskan pelukan mereka. Menatap mata Aliya yang sudah berubah sendu. "Bogoshipoe~~~" tidak membuang waktu lagi Jimin segera menggendong Aliya dan membawanya keranjang. "Aku perlu waktu senggang untuk kita" Aliya hanya diam dan menelusupkan wajahnya kedada bidang Jimin. "Palli" * "Seulgi terlihat sangat antusias pada Raja?" Nilai Taehyung pelan. "Dia ingin posisi Ratu Hyung sayangnya Raja tidak pernah menyentuhnya" Taehyung terlihat begitu datar mendengar ucapan Jungkook mengenai Seulgi. Kang Seulgi, sepertinya Taehyung pernah mendengar nama itu. Tapi kapan waktunya Taehyung tidak ingat. "Kau sudah selidiki latar belakang keluarganya?" Jungkook menggeleng dan membuat Taehyung diam. Harus ada penyelidikan lebih dulu. "Bawa semua informasi Kang Seulgi padaku. Yang lain biar aku kerjakan" Jungkook mengangguk dan tersenyum lalu meninggalkan Taehyung sendiri dikamarnya. "Kang Seulgi? Kenapa nama itu tidak asing? Siapa dia?" Tanya Taehyung pelan. * Aliya diam dan memeluk Jimin dengan erat. Mata Aliya tidak bisa terpejam sama sekali, padahal hari sudah mulai pagi. Fikiran Aliya terbagi banyak hal, satu sisi kakaknya dan satu lagi Jimin. "Apa aku salah?" Aliya mendongak menatap Jimin yang baru saja berbicara dengan suara lirih. Mata mereka bertemu dan Aliya bisa melihat dengan jelas jika ada guratan kesedihan dan kekecewaan disana. Aliya benci melihat itu. "Mworago?" Tanya Aliya tidak kalah pelan. "Apa yang salah dengan ku? Hingga semua rakyat ingin aku turun tahta?" Aliya tau jawaban pertanyaan Jimin. Tapi bibirnya terasa kelu untuk menjawabnya. Ia tidak mungkin mengungkapkan semua ini. Taehyung adalah sebab nya dan Aliya tidak mau kakaknya terkena masalah. "Kadang tidak semua apa yang kita inginkan tercapai. Mungkin itu ujian Yang Mulia. Bersabarlah semua pasti akan berlalu" kata Aliya pelan dan membuat Jimin bergerak lebih dekat. Mengikis sempurna jarak tubuh mereka dan mendekatkan wajahnya. "Apa impianku untuk menjadi seorang Ayah belum bisa terwujud?" Mendengar pertanyaan Jimin, Aliya diam seketika. Terasa ada ribuan jarum yang menusuk hatinya. "Apa salah?" Aliya menatap sendu mata Jimin dan menggeleng. "Aniya. Tapi aku belum bisa mewujudkan itu" rasanya Aliya ingin menangis sekarang juga. Lagi dirinya membohongi Jimin. "Apa itu terlalu berat?" Aliya menggeleng dan mencoba tersenyum. "Aku berharap suatu saat nanti bisa mengatakan bahwa aku punya anak dari Yang Mulia" kata Aliya dan kembali mencium bibir Jimin. Menyesap dalam bibir manis Jimin yang menjadi candunya. Aliya akan benar-benar memuaskan keinginannya. Waktunya dengan Jimin tidak banyak lagi. Taehyung tidak akan diam saja, apalagi melihat Jimin yang masih baik-baik saja dan Aliya yang mencintainya. "Biarkan aku mewujudkan impian Yang Mulia" Jimin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menindih lagi tubuh Aliya yang sudah telanjang. "Kuharap berita itu akan segera datang" Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD