Happy Reading.
*
Jimin terlihat bingung saat tidak menemukan Aliya dikamar. Ini sudah jam 12 malam dan kemana perginya Aliya dijam tengah malam seperti ini? Kamar mandi juga kosong.
"Kemana dia?" Jimin berlalu keluar begitu saja.
"Panggilkan Pelayan Jung" perintah Jimin pada penjaga kamar Aliya.
"Nde Yang Mulia" kata penjaga itu dan berlalu. Jimin masih setia menunggu didepan kamar sampai bayangan seseorang yang Jimin kenali mengalihkan perhatian nya.
"Permaisuri?" Jimin tidak menahan dirinya untuk mengikuti orang itu. Pakaian wanita yang ia anggap Aliya ini terlihat tertutup dengan jubah pelayan yang menutupi seluruh tubuhnya dan jangan lupakan jika wanita itu tengah mengendap-endap.
Jimin terus mengikutinya tanpa bersuara. Sampai mereka sampai diruang senjata istana. Wanita itu masuk dan Jimin tidak bisa ikut masuk, mengintip dari balik renggangan pintu.
Mata Jimin melebar saat melihat orang itu membuka jubahnya. Ternyata itu Aliya, kenapa Aliya datang keruang senjata malam-malam seperti ini? Dan kenapa harus mengendap-endap?
Wajah Jimin berubah kosong saat melihat Aliya yang tiba-tiba berlari memeluk seseorang dengan pakaian prajurit. Dan jangan lupakan jika laki-laki itu membalas pelukan Aliya. Bahkan laki-laki itu mencium pundak Aliya.
Tangan Jimin mengepal erat melihat Aliya yang menangis dan kembali memeluk laki-laki itu. "Bogoshipoe~~~" samar-samar Jimin mendengar suara Aliya yang mengucapkan kata rindu.
Dengan amarah yang memuncak Jimin berlalu begitu saja dan tidak berniat masuk memergoki keduanya. Sementara setelah kepergian Jimin, Taehyung yang dari tadi berada tidak jauh dari Jimin hanya tersenyum sinis. Melihat bagaimana reaksi Jimin tadi sudah Taehyung pastikan jika Jimin mencintai Aliya. Bukankah itu kejutan yang bagus.
"Kau memperlancar rencanaku Hyung! Teruslah temui Aliya dengan cara seperti ini" desis Taehyung dan berlalu. Itu adalah Jin dan Taehyung tau. Bukankan jika seperti ini pekerjaan Taehyung akan lebih mudah. Sekali mendayung dua pulau terlampaui.
*
Seulgi terkejut saat melihat Jimin yang masuk kedalam kamarnya secara tiba-tiba. Ini tengah malam dan tidak biasanya Jimin masuk kekamar nya.
"Yang Mu~~~" ucapan Seulgi terhenti saat Jimin tiba-tiba menarik tubuhnya untuk masuk kedalam pelukan Jimin dan jangan lupakan jika Jimin melempar tubuh mereka keatas ranjang.
"Bukankah kau meminta hakmu beberapa waktu yang lalu. Sekarang akan kuberikan" cetus Jimin dingin. Sementara Seulgi masih saja diam. Ia terlalu terkejut mendengar suara Jimin.
"Yang Mulia~~~" Jimin hanya diam dan merapatkan tubuh mereka.
"Lakukan tugasmu sebagai istri" cetus Jimin dan menatap tajam iris Seulgi.
"Lakukan"
*
"Kau sudah bertemu Orabonie Jin?" Aliya Mengangguk pelan dan membuat Jung Soo Hyun tersenyum. Tiba-tiba Jung Soo Hyun ingat sesuatu.
"Kau bertemu dengan Yang Mulia semalam?" Aliya menggeleng dan menatap Jung Soo Hyun. Semalam setelah menemui Jin, Aliya langsung istirahat.
"Ani. Wae?" Tanya Aliya pelan.
"Lalu untuk apa Yang Mulia memanggil ku semalam?" Aliya mengerutkan keningnya bingung. Yang Mulia memanggil Jung Soo Hyun? Untuk apa?
"Sekitar tengah malam. Yang Mulia memanggil ku. Kufikir ada keperluan mu yang harus dipersiapkan tapi saat sampai disini Yang Mulia tidak ada" tunggu dulu. Jung Soo Hyun bilang jika itu tengah malam, saat itu ia masih menemui Jin.
"Apa Yang Mulia kesini semalam?" Gumam Aliya pelan. Jika Jimin kesini tengah malam itu artinya Jimin mencarinya dan Aliya tidak ada disini. Tidak menutup kemungkinan jika Jimin memanggil Jung Soo Hyun untuk bertanya dimana ia semalam. Jung Soo Hyun tidak bertemu Jimin jadi kemana Jimin.
"Dari pada kau terus berfikir tidak-tidak lebih baik coba temui raja diruang pribadinya" saran Jung Soo Hyun dan membuat Aliya mendongak menatapnya.
"Aniya Soo Hyunie. Biarkan saja, lagi pula ini juga tidak penting" bohong jika Aliya bilang ini tidak penting. Buktinya hati dan fikiranya saat ini sangat tidak tenang dan terus memikirkan Jimin. Jelas Aliya khawatir Jimin berfikiran yang tidak-tidak tentangnya. Hanya saja Aliya mencoba menutupinya.
"Terserah padamu. Tapi yang penting kau harus tau jika Tae Orabonie akan segera pergi" Aliya mengangguk tau. Jin datang kesini untuk membawa Taehyung pergi. Jin mengatakan itu semalam. Jin tidak mau Taehyung mengacau istana dan merusak semua tatanan yang ada. Jin tau jika Taehyung akan berulah maka dari itu Jin datang cepat-cepat kesini apalagi setelah kejadian Taehyung yang memprovokasi rakyat untuk membuat Jimin turun tahta.
"Aku akan menemui kakakku dulu Soo Hyunie. Disini lah sebentar" kata Aliya dan berlalu. Ia ingin bicara dengan Jin sebentar.
*
"Apa kau dengar? Yang Mulia menghabiskan malamnya dengan Selir Kang semalam" samar-samar Aliya mendengar bisik-bisik para pelayan.
"Kau benar. Ah Selir Kang sangat beruntung bisa menghabiskan banyak waktu dengan Raja. Hah bisa jadi nanti Selir Kang yang akan menjadi Ratu" Aliya mematung mendengar bisikan itu. Bermalam? Semalam? Dengan Selir Kang? Jadi semalam Jimin menghabiskan waktunya dengan Seulgi?
Rasa sesak mulai menggerogoti hati Aliya. Matanya terasa Panas dan entah kenapa Aliya ingin menangis. Mencengkram kuat Hanbok-nya dan berbalik kembali. Tujuannya kekamar Jungkook batal, tapi justru Aliya melihat pemandangan yang seumur hidup tidak pernah ingin ia lihat.
Disana Jimin baru saja keluar dari kamar Seulgi dengan pakaian dan wajah acak-acakan dan Aliya bisa menebaknya dengan pasti. Jimin akan berpenampilan seperti itu jika baru saja bermalam dengan dan itu terjadi juga dengan Seulgi.
Air mata Aliya tiba-tiba jatuh. Dengan cepat Aliya berlari kembali menuju kamarnya. Ia tidak mau bertemu siapapun.
*
"Aliya kumohon jangan seperti ini" Aliya hanya diam membisu. Setelah Jin dan Taehyung yang pergi tadi Aliya jadi bisu dan tidak mau bicara dengan siapapun. Termasuk Jung Soo Hyun.
"Kumohon jangan membuat aku khawatir. Bukankah ini konsekuensinya? Raja memiliki istri bukan hanya kau. Dan kau harus mengerti jika Raja juga berhak atas Selir Kang. Raja hanya bersikap adil Aliya" Aliya menangis mendengar suara Jung Soo Hyun.
"Tapi aku hamil anaknya Soo Hyunie. Seharusnya dia memanjakan dan memperhatikan aku. Kenapa justru dia tidur dengan Selir Kang?" pekik Aliya tidak terima. Ia tidak mau berbagi kasih sayang Jimin dengan siapapun. Termasuk Seulgi, ia ingin Jimin hanya untuknya.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Sementara kau tidak mau berkata jujur pada Raja. Kau hanya tau jika kau hamil. Apa Raja tau? Jawab aku?" Tangis Aliya semakin tidak terkendali setelah mendengar suara Jung Soo Hyun.
Ia tidak bisa jujur dengan Jimin. Ia takut Taehyung akan berbuat yang lebih buruk dari pada kemarin. Aliya memiliki banyak kekhawatiran untuk Jimin.
"Kau lupa pesan Jin Orabonie? Dia ingin kau bahagia" Aliya masih saja terisak dan Jung Soo Hyun tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Aliya.
"Aku tidak bisa Soo Hyunie. Aku tidak bisa" Isak Aliya yang semakin terisak.
*
"Bagikan ini pada daerah pesisir. Mereka mengalami kerugian karena laut yang tidak bersahabat" perintah Jimin pada Mentri-nya.
"Nde Yang Mulia" Jimin diam dan memilih kembali melihat laporan dari semua Mentri-nya.
"Maaf Yang Mulia Permaisuri ingin bertemu" wajah Jimin terlihat dingin mendengar ucapan pengawal. Untuk beberapa saat Jimin diam dan berucap datar.
"Suruh masuk dan Kalian pergilah" kata Jimin yang mengusir beberapa petinggi kerajaan.
"Nde Yang Mulia" Jimin meletakkan laporan yang ia pegang dan membenahi pakaiannya.
"Yang Mulia! Maaf saya mengganggu pertemuan anda" kata Aliya lembut dan masih saja ditatap dingin oleh Jimin.
"Saya dengar Yang Mulia agak tidak sehat. Saya hanya ingin menjenguk Yang Mulia sebentar" kata-kata Aliya semakin terdengar melemah saat tidak mendengar balasan apapun dari Jimin. Dadanya terasa sesak dan air matanya mendesak ingin keluar. Aliya tidak bisa menahan ini terlalu lama lagi. Ia tidak sekuat itu.
"Jika sudah selesai lebih baik Permaisuri keluar. Waktu ku tidak banyak jadi bisakah hentikan pembicaraan ini. Lagi pula saya baik-baik saja dan Permaisuri tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya bukan anak kecil lagi" pertahanan Aliya runtuh saat mendengar suara Jimin yang begitu dingin dan datar. Tanpa permisi liquid Bening membasahi pipi Aliya.
"Maaf" Aliya berucap begitu lirih dan berlari dari ruangan Jimin. Ia tidak kuat lagi. Sepeninggalan Aliya, Jimin menundukkan kepalanya dalam. Jimin Berani bersumpah jika berkata kasar pada Aliya bukan keinginan nya. Ia masih emosi saat mengingat kejadian Aliya memeluk prajurit beberapa waktu yang lalu. Jimin cemburu.
"Maaf"
*
"Aliya, Tae Orabonie ingin menemui mu" Aliya Mengangguk mengerti setelah mendengar ucapan Jung Soo Hyun. Setelah kejadian dimana Jimin yang berucap kasar padanya, Aliya menjadi sosok yang pendiam. Tidak banyak dan tidak pernah keluar dari kamarnya. Terhitung sudah 1 Minggu Aliya tidak bertemu Jimin dan Aliya juga tidak berniat menemui Jimin dulu. Aliya jera karena usiran waktu itu.
"Dimana Tae Orabonie Soo Hyunie?" Jung Soo Hyun hanya memberikan surat pada Aliya.
"Dia hanya menitipkan ini" Aliya meraihnya dengan cepat dan berlalu begitu saja.
*
Jimin terlihat gusar, wajah Jimin terlihat gugup. Entah kenapa akhir-akhir ini Jimin merasa tidak tenang. 1 Minggu tidak bertemu Aliya, Jimin jadi aneh. Munafik jika Jimin bilang tidak merindukan Aliya. Jimin sangat merindukan Aliya.
"Tidak ada salahnya minta maaf. Yang Mulia bukan Tuhan yang tidak pernah salah" Jimin semakin menundukkan kepalanya karena ucapan Pelayan Hwang.
"Aku takut dia marah"kata Jimin yang tidak menyembunyikan kekhawatirannya.
"Itu lebih baik dari pada Yang Mulia diam disini dan membiarkan Permaisuri terluka. 1 Minggu Permaisuri tidak keluar kamar dan Yang Mulia pasti tau alasannya?" Jimin menghela nafas panjang dan bangkit dari posisinya.
"Kuharap dia tidak akan marah"
*
"Apa yang kau lihat?" Tanya Jimin saat melihat Pelayan yang terlihat ketakutan setelah melewati kamar Jungkook.
"Animida Yang Mulia. Saya baik-baik saja" Jimin menatap curiga pada Pelayan itu. Pasti ada yang salah. Jimin berjalan kearah pintu kamar Jungkook. Ada sedikit celah dan Jimin mengarahkan pandangannya untuk melihat dalam.
Tangan Jimin mengepal erat melihat pemandangan yang ada didalam. Jungkook berdiri disamping Aliya yang menangis dengan seorang laki-laki yang memeluknya dengan erat.
"Maafkan saya Yang Mulia. Ini sudah lebih dari dua kali saya melihat Permaisuri seperti ini. Dulu saat diruang senjata dengan seorang prajurit yang menarik tangannya, beberapa waktu yang lalu dengan seorang prajurit juga diruang senjata tengah malam dan sekarang~~~" Jimin menatap tajam Pelayan itu dan membuatnya diam seketika.
"Tutup mulutmu" desis Jimin dan berlalu meninggalkan Pelayan itu, tidak jauh dari tempat Jimin, Seulgi tampak menyeringai. Rencananya berhasil, membuat Jimin dan Aliya salah faham. Seulgi tau jika orang-orang yang dimaksud pelayan itu adalah kakak-kakak Aliya. Dan yang menyuruh Pelayan itu berkata seperti itu pada Jimin juga Seulgi.
"Kau akan tamat Permaisuri"
*
"Maafkan Orabonie" Taehyung menyesali tindakannya yang kembali menampar Aliya. Lagi kenapa Taehyung harus menyakiti adiknya?
Berlutut didepan Aliya yang sudah bersimpuh dengan tangis yang terus terdengar dari bibirnya. Sudut bibir yang terluka dan itu karena ulah Taehyung sendiri.
"Orabonie bisa membunuhku tapi kumohon jangan sakiti Yang Mulia" isakan Aliya membuat Taehyung sadar jika adiknya benar-benar mencintai Jimin. Apa Taehyung akan menjadi penyebab penderitaan Aliya?
"Kumohon mengerti lah Hyung. Jika bukan karena Aliya mencintai Raja aku sudah lama membunuhnya. Aku hanya ingin Aliya bahagia dan kebahagiaan Aliya adalah dengan Raja. Aku sadar jika Raja tidak salah. Ini murni kesalahan Raja Park Hwang Ju dan tidak ada hubungannya dengan keturunannya" kata Jungkook mencoba membujuk Taehyung.
Sebenarnya Jungkook juga tidak sepenuhnya membela Jimin hanya saja melihat Aliya yang begitu mencintai Jimin dan kata-kata Jin yang menasehatinya membuat Jungkook sadar jika Jimin tidak salah. Ini murni kesalahan Raja Park Hwang Ju dan Jimin tidak terlibat.
"Demi kebahagiaan Aliya dan keponakan ku. Kumohon hentikan dendammu" Lirih Jungkook yang ikut bersujud pada Taehyung. Jungkook akan melakukan apapun untuk Kebahagiaan Aliya.
"Baik jika itu yang kau inginkan. Orabonie akan melepaskan Jimin, tapi dengan satu syarat. Jika Jimin membuatmu menangis akan kupastikan jika Orabonie akan benar-benar membunuhnya" kata Taehyung tegas dan menarik Aliya dalam pelukannya.
"Hiks Orabonie~~~"
"Maaf"
*
"Sepertinya Permaisuri sedang bahagia" Aliya menoleh dan menemukan Seulgi yang berjalan kearahnya. Wajah angkuh dan senyum pogah. Berdiri tepat di samping Aliya. Keduanya ada ditaman dan ini sudah malam.
"Sepertinya akhir-akhir ini Yang Mulia jarang menemhi Permaisuri apa ada masalah?" Aliya hanya diam dan tidak membalas ucapan Seulgi. Aliya tidak sadar jika Seulgi sudah mengeluarkan pisau kecil dari sakunya. Tangan Seulgi bergerak halus kearah pinggang Aliya. Tepat saat jarak beberapa Centi tangan Seulgi lebih dulu tersingkir dengan sebuah pedang yang melayang pada tanganya hingga tangan Seulgi terluka.
"Akh~~" Aliya terkejut mendengar jeritan Seulgi dan sebuah pedang yang terlempar begitu saja. Ada pisau kecil yang jatuh dan Aliya melihat itu.
Tidak lama kemudian ada seorang prajurit yang berlari kearah mereka. "Orabonie~~~" itu Taehyung dan Jungkook.
Taehyung bergerak cepat mengambil pedangnya dan mengacungkannya pada Seulgi. Aliya hanya mampu menutup mulutnya tidak percaya melihat apa yang Taehyung lakukan.
"Berani kau menyentuh adikku" Taehyung menerjang Seulgi dengan kakinya hingga tubuh Seulgi jatuh ke tanah.
"Orabonie~~~"
"Permaisuri~~~" Aliya tersentak mendengar teriakan Jimin dengan beberapa prajurit yang ada dibelakangnya.
"Selir Kang? Tangkap penyusup itu. Mereka melukai Selir Kang" Aliya menatap panik Jungkook dan Taehyung. Bergerak cepat menarik Taehyung menjauh dari Seulgi.
"Kumohon pergilah dari sini" Taehyung mentap tajam Aliya yang sudah menangis. Dan menggenggam tangan Aliya erat.
"Tidak" Aliya menggeleng dan mendorong Taehyung dan Jungkook menjauh.
"Kumohon Orabonie. Saat ini kalian dalam bahaya. Raja sedang salah faham, pergilah" ujar Aliya semakin kalut.
"Dan membiarkan mu jadi kambing hitam? Tidak" Aliya menggeleng mendengar ucapan Jungkook.
"Aku Permaisuri. Tidak akan ada yang melukai Ku. Kumohon pergilah. Jebal" Aliya terus menangis dan membuat keduanya akhirnya menyerah.
"Jaga dirimu baik-baik" pesan Taehyung dan mencium kening Aliya dan berlari menjauh.
"Orabonie janji akan segera kembali" Aliya mengangguk dan memberikan kalung dengan manik-manik berwarna merah pada Jungkook.
"Ini milik Orabonie. Bawalah" Jungkook terlihat terkejut tapi Aliya lebih dulu mendorongnya menjauh.
"Pergilah" keduanya akhirnya pergi dan menyisakan Aliya dengan pandangan kosong dan Seulgi yang menjerit kesakitan dengan beberapa Pelayan yang sudah memapah Seulgi. Dan jangan lupakan Jimin yang ada didepannya.
"Bawa Selir Kang ketabib dan pastikan dua penghianat itu tertangkap" teriak Jimin keras. Semuanya mengangguk patuh dan pergi, menyisakan Jimin dan Aliya.
"Kau memalukan" Aliya hanya diam saat Jimin menariknya menjauh dari taman dengan kasar. Aliya tau satu hal! Malam ini akan jadi pertengkaran mereka yang hebat.
*
"Jin-ah?" Jin hanya memberikan senyum tipis pada seorang yang ia anggap ibu dulu.
"Apa kabar Ibu Taeyeon" Taeyeon menutup mulutnya tidak percaya melihat Jin. Anak dari sahabatnya yang ia kira mati 12 tahun yang lalu tengah berdiri didepannya dengan kokoh dengan keadaan sudah dewasa.
"Maaf mendadak ibu. Tapi Jin sedang benar-benar butuh bantuan ibu saat ini" Taeyeon tidak menahan dirinya untuk berlari kearah Jin dan memeluknya.
"Maafkan ibu" Jin hanya tersenyum tipis. Ia tahu maksud Taeyeon.
*
"Kau tidak lebih dari wanita murahan. Aku benar-benar menyesal menjadikan mu sebagai istri" Aliya hanya bisa menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar keras. Yang diperkirakan Taehyung benar. Jimin menuduhnya dan membuat semua seolah Aliya yang salah. Jimin terus menyalahkan dan membuat Aliya jadi kambing hitam disini. Dan jangan lupakan umpatan kasar yang terus Jimin lontarkan untuk Aliya.
Aliya sudah mencoba menjelaskan semua pada Jimin tapi Aliya justru mendapat tamparan keras dari Jimin. "Akan kupastikan untuk menemukan mereka berdua dan aku akan menghukumnya bersama mu. Bukankah kau begitu mencintai mereka. Maka matilah dengan mereka" cetus Jimin dingin dan berlalu.
"Yang Mulia andwae~~~~ akhh" tubuh Aliya jatuh menabrak ranjang saat Jimin mendorongnya dengan kasar. Aliya meremas kuat perutnya dan merintih. Rasanya sangat sakit.
"Akh~~~~"
"Jangan menyentuhku" cetus Jimin dingin dan meninggalkan Aliya yang kesakitan.
"Andwae" lirih Aliya yang menahan sakit diperutnya.
*
"Hyung~~~" Taehyung menahan tangan Jungkook.
"Kita kembali Jungkook-ah. Aliya akan dapat malah besar jika kita pergi" kata Taehyung dan segera membalik arahnya. Taehyung tidak akan membiarkan adiknya sendirian.
"Kau benar Hyung. Aliya akan dapat bencana jika kita pergi" Jungkook mengikuti langkah Taehyung untuk kembali ke istana. Mereka harus menyerahkan diri.
*
Taehyung dan Jungkook hanya diam saat para penjaga membawa mereka keruang sidang. Senjata yang sudah dilucuti dengan pedang para penjaga yang mengacung dileher mereka.
Tepat saat mereka sampai didepan Jimin tubuh mereka dibuat berlutut. "Menyerahkan diri? Kalian sungguh berani" Taehyung mendecih sinis dan menatap Jimin.
"Apa yang perlu kutakutkan dari Raja Sialan seperti mu Park Jimin?" Jimin mengeram marah mendengar ucapan Taehyung.
"Bedebah. Kubunuh kau~~~~"
"Hentikan Park Jimin" semuanya menoleh karena Mendengar teriakan Taeyeon dari luar. Dan jangan lupakan Jin yang ada dibelakangnya.
"Hentikan semua. Dan kalian turunkan pedang itu sekarang" Taeyeon berteriak histeris. Berlari kearah Taehyung dan Jungkook yang berlutut. Mendorong semua prajurit yang mengerubungi mereka dan memeluk keduanya dengan erat.
"Maafkan Ibu" Jimin diam melihat bagaimana Taeyeon memeluk keduanya dengan erat. Tangis Taeyeon pecah dan Taeyeon juga meminta maaf.
"Lepaskan" Taeyeon menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf untuk semuanya nak. Maaf untuk penderitaan kalian. Untuk ayah dan ibu kalian dan untuk Aliya. Maaf tidak bisa menjaga Adik kalian dengan baik"
'Prank' pedang yang awalnya dipegang erat oleh Jimin jatuh begitu saja.
Adik?
Aliya?
Aliya adik mereka?
Apa Jimin salah faham disini?
"Orabonie~~~" semua kembali terkejut saat mendengar teriakkan keras dengan Jung Soo Hyun yang berlari. Membawa pakaian yang Jimin yakini adalah pakaian Aliya. Dan jangan lupakan jika Jung Soo Hyun menangis.
Apa lagi ini?
"Ada apa Soo Hyunie? Kenapa kau menangis?" Jung Soo Hyun berdiri takut didepan Jin.
"Aliya, Aliya~~~aku tidak menemukan dia diistana ini. Dan ini~~~baju ini penuh darah Orabonie. Ini baju Aliya, aku~~~aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Aliya dan janinnya" tubuh Jimin jatuh berlutut setelah Jung Soo Hyun selesai berucap.
Janin?
Aliya?
Hamil?
Darah?
Itu anaknya?
Ini tidak mungkin. Dirinya salah faham pada Aliya dan kakaknya, menyebut Aliya wanita murahan dan dirinya juga melukai Aliya. Dan sekarang ada noda darah dibajunya Aliya. Tidak mungkin itu darah Aliya, tidak mungkin. Itu pasti darah Seulgi yang terluka semalam. Ya Seulgi, Aliya pasti baik-baik saja. Mereka, Aliya dan janin itu tidak mungkin terluka.
"TEMUKAN PERMAISURI DIISTANA INI SEKARANG JUGA. PASTIKAN JIKA PERMAISURI BAIK-BAIK SAJA. DAN JANGAN SAMPAI PERMAISURI TERLUKA. CEPATTTTT"
TBC.