Empat belas

2140 Words
Happy Reading. * "Yang Mulia" Jimin menoleh dan menemukan Seorang Wanita berpakaian istana khusus Permaisuri berjalan kearahnya. Memberikan senyum tipis dan kembali menghadap bulan. "Saya kira Yang Mulia istirahat" Jimin hanya berdehem pelan dan tidak membalas ucapan itu. Pandangannya terlalu fokus pada bulan dan tidak berniat mengalihkan perhatiannya pada wanita yang ada disampingnya. "Apa Yang Mulia akan tetap pergi ke sana?" Tanya wanita itu pelan. "Hem. Itu tugasku" jawab Jimin tanpa menoleh. Wanita itu hanya memberikan senyum tulus pada Jimin, Suaminya, Rajanya. "Apa Panglima Jeon akan ikut?" Wanita itu Choi Yuna, Permaisuri Jimin setelah kepergian Aliya 5 tahun yang lalu. Waktu berjalan begitu cepat dan 5 tahun telah berlalu. Banyak hal yang berubah diistana. Tatanan kerajaan, hubungan sang Raja dan Permaisuri, tatanan pemerintahan dan Petinggi Kerajaan. Jungkook saat ini sudah menjadi Panglima besar Kerajaan. Atas permintaan Taeyeon, Jungkook akhirnya menyetujui permintaan itu. Jin menjadi penasehat hukum istana dan Taehyung? Pria itu masih sibuk berkelana dan hidup di manapun tempat untuk mencari adiknya. Aliya belum ditemukan Sampai sekarang. Dan Taehyung tidak akan pernah berhenti untuk mencari Aliya sampai Aliya ditemukan baik-baik saja. Memiliki Permaisuri baru membuat Jimin melupakan Aliya? Tidak sama sekali. Dalam setiap detak jantung Jimin hanya ada nama Aliya dan nafas Jimin masih berhembus untuk Aliya. Dalam hidupnya Jimin tidak pernah bisa melupakan Aliya. Tidak dalam setiap detikpun. Posisi Choi Yuna sebagai Permaisuri hanya sebuah status untuk Kerajaan dan mengenai hubungan mereka yang sesungguhnya tidak benar-benar terjadi antara suami dan istri. Setelah kepergian Permaisuri dan terbongkar kejahatan Selir Kang, Jimin langsung memberikan hukuman pengasingan pada Seulgi selama sisa hidupnya. Dua istri Raja hilang secara bersamaan dan posisi Permaisuri tidak bisa kosong begitu saja. Taeyeon menunjuk Choi Yuna sebagai Permaisuri yang baru dan ini sudah berlangsung selama 5 tahun. "Yang Mulia akan kelelahan jika Berdiri semalam disini. Istirahatlah, besok Yang Mulia pergi Pagi" Jimin mengangguk dan menatap Choi Yuna sebentar dan berucap pelan. "Permaisuri juga istirahat. Permisi" berlalunya Jimin membuat Choi Yuna menghela nafas panjang. Kebisuan Jimin dan penderitaan Jimin sangat disesalkan oleh Yuna. Sikap asli Jimin telah pergi dibawa Aliya yang hilang 5 tahun yang lalu. Wanita yang dicintai Jimin dan ibu dari calon pewaris Jimin yang sampai saat ini masih tidak diketahui keberadaannya. "Berharap akan ada matahari terbit diistana ini" doa Yuna tulus dan berlalu. Hari sudah cukup malam. * "Yang Mulia yakin ingin pergi sendiri?" Tanya Jin sedikit khawatir pada Jimin. "Ya Hyung" jawaban Jimin membuat Jin menghela nafas. Jimin tidak pernah berhenti memanggil Jin, Hyung dan Jin tidak bisa mengendalikan Jimin. Ia hanya penasehat istana dan tidak berhak mengatur Jimin. "Setidaknya biarkan Jungkook mengantar anda" Jimin menggeleng dan tersenyum pada Jin. "Aku baik-baik saja Hyung. Dan jangan khawatir. Aku tidak akan kemana-mana. Hanya perbatasan" ujar Jimin menenangkan Jin. "Tapi tetap saja" Jimin menepuk pundak Jin pelan dan mengatakan jika dia tidak papa. Melihat Jimin yang kekeh menolak usulanya Jin hanya menghela nafas pasrah. Ia tidak bisa berbicara banyak lagi. "Cepatlah kembali. Istana membutuhkan anda" Jimin mengangguk dan tersenyum. "Jangan khawatir Hyung. Aku akan segera kembali" * Sepanjang perjalanan menuju arah perbatasan istana Jimin hanya diam. Tidak ada prajurit ataupun pengawal pribadi. Hanya Jimin sendiri. Cukup berbahaya bagi seorang Raja tapi itu tidak berpengaruh pada Jimin. Jimin bukan pergi sebagai Raja tapi orang biasa. Tidak ada pakaian kerajaan atau pakaian mewah. Hanya pakaian lusuh dan biasa yang menempel di tubuh Jimin. "Maaf Tuan anda akan pergi kemana?" Jimin tersentak saat ada yang menahannya untuk memasuki perbatasan. "Saya ingin masuk ke daerah ini. Memangnya ada apa?" Tanya Jimin sopan. "Jika anda ingin masuk tolong berikan identitas anda" peraturan apa ini? Jimin tidak pernah memberikan perintah untuk menyebutkan nama saat akan memasuki Perbatasan. "Maaf Tuan kenapa saya harus menyebutkan nama saya? Sementara Yang Mulia Raja sendiri tidak memberikan perintah semacam itu?" Tanya Jimin yang mencoba mengorek informasi. "Ini memang bukan perintah dari Yang Mulia tapi ini adalah perintah dari kepala desa kami. Jadi saya mohon sebutkan nama anda" Jimin terlihat menghela nafas dan mengangguk. "Park Ji~~~" Jimin menghentikan ucapannya dan berdehem pelan. Ia tidak mungkin membongkar identitasnya. "Park Ji-Sung" kata Jimin tegas. "Ah nde Tuan Park. Untuk apa anda disini?" Jimin tampak memikirkan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan ini. "Saya hanya ingin melihat-lihat beberapa daerah sekitar sini. Untuk lahan kebun, saya dengar beberapa tahun terakhir ini daerah ini memilki tanah yang baik untuk dijual. Dan lagi ada yang bilang jika tanah disini sangat subur" kata Jimin beralasan. "Nde Tuan. Beberapa tahun terakhir ini memang daerah kami diincar oleh pekebun kaya. Dulu tanam kami tanah gersang dan tidak bisa ditanami apapun tapi setelah kedatangan Nona Kim dan dia memberitahu kami cara untuk membuat Tanah gersang menjadi subur banyak yang ingin membeli tanah kami" kata penjaga itu memberitahu. "Nona Kim?" Tanya Jimin yang sedikit tertarik dengan informasi tadi. "Nde Nona Kim. Beliau datang beberapa tahun yang lalu dan sekarang menetap disini bersama Putranya" Jimin mengangguk mengerti. Sepertinya Jimin harus berterima kasih pada Nona Kim yang dimaksud penjaga itu. Membuat daerah yang dulunya gersang menjadi subur adalah hal yang sulit dan itu bisa dengan mudah dilakukan oleh Nona Kim tadi. "Hem bisakah saya melihat tanah disini?" Punya Jimin dan dibalas anggukan dari penjaga tadi. "Nde Tuan silahkan" * "Kau akan pergi?" "Hem! Ada banyak urusan Orabonie" "Sendiri?" "Tentu saja tidak. Ada setan kecil yang akan menemani~~~" "Ibuuuuuu~~~" teriakan melengking bocah laki-laki dari belakang mengagetkan keduanya. "Pangeran kecilmu sudah datang. Sambut dulu. Nanti dia merajuk lagi" wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk. "Ibuuuuu" teriakan itu semakin melengking keras dan membuat wanita itu tersenyum tipis. Pangeran kecilnya memang sangat suka berteriak. "Ibu dengar sayang" balas Wanita itu dan tidak lama ada seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun lebih muncul didekat mereka dengan wajah kesal. "Ibu lama" wanita itu tertawa mendengar ucapan kesal sang putra. Sangat suka merajuk. "Aigoo sayang ibu sedang berbicara dengan Paman" kata wanita itu memberi alasan. "Terus saja berbicara dengan Paman dan lupakan Won" wanita itu tersenyum dan meraih bocah itu dalam gendongannya. "Baiklah ibu minta maaf. Sekarang Won mau apa dengan ibu?" Bocah itu tampak berfikir dan menatap mata sang ibu. "Kekebun" * "Wah anda beruntung memiliki Nona Kim didesa ini" kata Jimin setelah berbicara dengan kepala desa. Kepala desa ini memberitahu Jimin tentang bagaimana proses penguburan tanah didesa ini dan termasuk Nona Kim yang dimaksud penjaga tadi. "Ah apa saya bisa bertemu Nona Kim?" Punya Jimin. "Entahlah Tuan. Beliau jarang kesini, jikapun kesini pasti sudah dari pagi. Biasanya juga Nona Kim akan datang dengan putranya" Jimin mengangguk mengerti dan tersenyum pada kepala Desa. "Saya menge~~~" "Ibuuuuu~~~~" ucapan Jimin terhenti setelah mendengar teriakan keras yang ia yakini anak kecil. "Ah itu dia Nona Kim. Wah keberuntungan anda hari ini Tuan, Nona Kim dan putranya datang kesini. Ah itu mereka" Jimin tersenyum dan berbalik. Ada seorang bocah laki-laki yang sepertinya berumur 4 tahun lebih sedang berlarian disekitar kebun dan tidak jauh dari bocah laki-laki itu ada seorang wanita dengan pakaian sederhana yang mengejarnya. "Jangan lari Ji Wonie" teriakan wanita itu membuat Jimin membeku seketika. Wanita itu semakin mendekat dan Jimin bisa melihat dengan jelas wajahnya. "Nona Kim memang sangat menyayangi putranya. Mereka sering kesini untuk bermain. Dan Tuan Muda Ji Won sangat suka mengajak Nona Kim berlarian seperti ini" "Permaisuri~~~" lirih Jimin sangat pelan. Mata Jimin Mulai berkaca-kaca. Ya Nona Kim adalah Aliya dengan putranya yang dimaksud Ji Won. Apa Ji Won Putranya? Apa saat itu Ji Won adalah jamin yang sempat dirinya lukai? "Tuan anda baik-baik saja?" Jimin tersentak mendengar pertanyaan kepala desa. "Apa dia punya suami?" Tanya Jimin pelan dan membuat kepala desa menyeringit bingung, tapi tetap menjawab pertanyaan Jimin. "Tidak. Nona Kim datang kesini 5 tahun yang lalu. Dalam keadaan yang bisa dibilang buruk. Beliau saat itu mengalami pendarahan dan sedang hamil muda lalu tidak sengaja ditolong oleh tabib didaerah ini. Nona Kim hampir keguguran tapi Tuhan begitu baik menyelamatkan nyawa janin itu dan saat ini janin itu tumbuh menjadi Tuan Muda Ji Won. Mereka menetap disini, dan setahun setelahnya kakak Nona Kim datang kesini. Namanya adalah Kim Taehyung" air mata Jimin jatuh begitu saja setelah mendengar jawaban kepala desa. Ji Won adalah putranya dan Taehyung? Kenapa Taehyung tidak pernah jujur jika sudah menemukan Aliya? Bahkan pada Jin dan Jungkook. "Ibuuuu~~~" Jimin mengalihkan pandangannya saat mendengar suara keras dari Ji Won Yang memanggil Aliya. Disana keduanya terlihat saling tertawa dengan Aliya yang menggendong Ji Won. "Apa kau hidup bahagia tanpa aku?" Tanya Jimin lirih. Jelas melihat Aliya yang begitu bahagia dengan Ji Won membuat hati Jimin sakit. Dirinya menderita selama 5 tahun ini dan Aliya terlihat begitu bahagia dengan putra mereka. "Apa ini hukuman?" * Flashback. "Jika sampai terjadi sesuatu pada adik dan calon keponakan ku, aku akan benar-benar membunuh mu Park Jimin" desis Taehyung yang menginjak tubuh Jimin. Mendengar ucapan Jung Soo Hyun tadi Taehyung memberontak dalam pelukan Taeyeon dan menerjang kasar Jimin yang masih berlutut. "Jangan berharap jika kau akan baik-baik saja setelah ini. Kau bertanggung jawab atas semuanya" desis Taehyung dan berlari keluar. Ia harus menemukan adiknya. Jin juga berlari mengikuti Taehyung. Meninggalkan Taeyeon dan Jungkook yang terdiam. "Kookie-ya~~~" Jungkook hanya mendengus mendengar panggilan Taeyeon. Berjalan kearah Jimin yang masih diam diposisinya. "Seharusnya aku tidak menahan Taehyung Hyung untuk membunuhmu" desis Jungkook sinis dan mengambil sesuatu dari sakunya. Melemparkan itu pada Jimin dan berucap begitu dingin. "Aku menyesal menyimpan benda ini selama 12 tahun" berlalunya Jungkook membuat Jimin semakin bungkam. Mengamati benda yang dilemparkan Jungkook padanya. Mata Jimin terlihat berkaca-kaca. Ia tau benda itu, kalung manik-manik berwarna merah. Itu punya adik kecil dengan gigi kelinci yang sering Jimin panggil Kelinci Jeon. Apa itu Jungkook? Dan apakah yang dipanggil Taehyung Hyung oleh Jungkook adalah Tae-Tae dulu? Apa mereka teman masa kecilnya dulu. "Mereka teman masa kecilmu Jimin-ah. Tae-Tae dan Kelinci Jeon" tangis Jimin pecah mendengar ucapan Taeyeon. Kehancuran dirinya secara bersamaan. Aliya dan calon anaknya yang tidak terketahui dan sekarang kebenaran jika teman masa kecilnya begitu membencinya. "Argghh~~~" * Pelayan Hwang berlari kelabakan menuju ruang sidang istana. Wajahnya terlihat gusar tapi saat tidak sengaja melewati kamar Selir Kang dan mendengar suara yang ada didalamnya Pelayan Hwang menghentikan langkahnya. "Maafkan saya Selir Kang" "Bodoh. Apa susahnya menutup mulutmu? Ingat jika sampai aku tertangkap kau juga sama" "Tapi saya takut Selir Kang" "Apa yang kau takutkan? Permaisuri sudah pergi dari sini dan kau tidak perlu berbohong lagi. Yang Mulia tidak akan mencarimu hanya karena kau yang berbohong tentang identitas kakak Permaisuri dan kau juga tidak perlu jujur jika aku yang menyuruhmu berbohong. Yang Raja tau Taehyung adalah selingkuhan Permaisuri dan~~brakk" Pelayan Hwang tidak menahan diri untuk mendobrak pintu kamar Seulgi. Mengejutkan mereka dan Pelayanan Hwang hanya menatap keduanya dengan geram. "Kupastikan kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal" desis Pelayan Hwang. * Istana heboh dengan berita hilangnya Permaisuri dan kembalinya cucu Panglima Kim Tae Hoon dari kematian. Jin dan Taehyung menyita banyak perhatian dan kebenaran jika Adik mereka pergi. Jimin memberikan pengumuman untuk seluruh rakyat kerajaan. Yang menemukan Permaisuri dalam keadaan baik-baik saja akan mendapatkan hadiah besar. Dan Jimin tidak main-main dengan ucapannya. "Apa ini hukuman untukku?" Pelayan Hwang menatap iba Jimin yang terlihat berantakan. Sudah lebih dari satu bulan pencarian Aliya, tapi belum ada kabar sama sekali. "Tolong jangan katakan itu Yang Mulia. Permaisuri pasti akan kembali" Jimin tersenyum miris dan memandang hampa bulan yang sangat bersinar. "Kembali? Dia pasti sangat membenciku. Menunjukkan wajah didepanku pun dia enggan apalagi menemuiku. Aku sudah melakukan banyak hal, tapi apa? Sampai saat ini dia masih saja belum menemuiku. Bukankah itu berarti dia sangat membenciku?" Air mata Jimin jatuh begitu saja. Mengakui jika wanita yang begitu ia cintai ternyata tidak mau menemuinya membuat Jimin benar-benar seperti orang jahat. Ya Jimin memang jahat karena menuduh Aliya dan melukai anaknya sendiri. Bayangan wajah Aliya yang kesakitan masih terekam jelas diingatan Jimin dan itu tidak akan pernah hilang. "Permaisuri tidak mungkin membenci Yang Mulia. Permaisuri sangat mencintai Yang Mulia dan itulah kebenarannya" Jimin tersenyum hambar dan menatap Pelayan Hwang. "Ya sangat mencintai ku sebelum kejadian itu terjadi. Dan sekarang dia sangat membenciku dan aku harus terima dengan kenyataan ini" cetus Jimin miris. Jimin tau semua ceritanya. Alasan kenapa Taehyung sangat membencinya dan alasan pernikahan mereka. Tidak ada yang salah disini. Ini murni salah Raja Park Hwang Ju dan dendam Taehyung adalah hal yang wajar untuk seorang anak yang orang tuanya dibunuh secara keji. "Saya berharap Permaisuri akan segera kembali" Flashback end. * Perlahan Jimin mendekati keduanya, Aliya berbalik membelakanginya dengan Ji Won yang masih ada digendongannya. "Apa kau lupa padaku? Atau kau begitu membenci ku, karena ingin membunuh dua kakakmu hingga mengatakan jika kau saat itu hamil sangat susah kau ucapkan?" kedua mata itu bertemu saat Aliya berbalik. Terlihat wajah Aliya yang awalnya sumringah langsung berubah kosong saat beradu pandang dengan Jimin. "Ibu dia siapa?" Pertanyaan polos Ji Won membuat Jimin benar-benar ingin menangis. Ji Won bahkan tidak mengenalinya sebagai Ayah. "Dia bahkan tidak mengenali aku. Itu benar-benar bukti jika kau membenciku. Maaf" dan Tangis Jimin benar-benar pecah saat itu juga. "Yang Mulia~~~~" Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD