Lima belas

2324 Words
Happy reading. * "Apa dia Ayah?" Aliya bungkam mendengar pertanyaan Ji Won Yang bertanya tentang Jimin. "Ibu jawab Won" Aliya mengalihkan pandangannya saat mendengar suara Ji Won Yang menuntut jawaban darinya. Demi Tuhan Aliya tidak bisa menjawab pertanyaan Ji Won. Ia tidak tau akan bilang apa pada Ji Won. Bagaimana bisa ia menjelaskan semua pada Ji Won? Kebenaran jika Aliya menyembunyikan kebenaran Jimin yang masih hidup. "Ibu~~~" "Won-ah" disana Taehyung berdiri diambang pintu kamar Aliya dan menatap Aliya dan Ji Won bergantian. "Paman~~~" Taehyung tersenyum dan menghampiri keduanya. "Saatnya kau istirahat. Masuk kedalam kamar sayang" Ji Won sempat menolak permintaan Taehyung tapi akhirnya menurut saat Taehyung membahas akan membahas ayahnya. "Paman janji?" Taehyung mengangguk dan Ji Won akhirnya berjalan keluar dari kamar Aliya. Hanya beberapa langkah Ji Won berbalik dan menatap ibunya. Jelas Ji Won tau jika ibunya sepertinya sedang bersedih. "Jika itu benar-benar ayah, jebal biarkan Won berbicara sebentar denganya dan memeluknya untuk pertama dan terakhir kali. Mengatakan jika Won sangat menyayangi Ayah. Won tidak tau alasannya tapi yang jelas Won tau jika ibu menderita bersama Ayah. Jika tidak menderita, tidak mungkin ibu pergi dan meninggalkan ayah? Won janji akan melupakan semua dan kembali seperti sebelum mengenal ayah" dan setelahnya Ji Won berlari kekamarnya, meninggalkan Taehyung yang mematung dan Aliya yang menangis. Pertahananya runtuh mendengar ucapan Ji Won. "Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Taehyung dan membawa Aliya untuk menatapnya. Taehyung ingin tau jawaban adiknya mengenai kemunculan Jimin. "Orabonie~~~" Taehyung menatap tajam iris sang adik dan memaksa untuk dapat jawaban yang pasti. "Jawab~~~" Aliya menghentikan tangisannya dan membalas tatapan mata Taehyung. "Jika memang Ji Won ingin ayahnya maka aku akan memberikan itu" Taehyung mendecih sinis dan mencengkram kuat lengan adiknya. "Dan kau? Membiarkan Ji Won pergi begitu saja? Dan kau tetap disini?" Aliya tersenyum miris dan melepaskan cengkraman Taehyung. "Apa aku punya hak? Dia ayahnya dan aku hanya bertugas melahirkan dan membesarkan Ji Won saja. Selebihnya aku tidak berhak atas Ji Won Sama sekali" Taehyung mengeram mendengar jawaban Aliya yang terdengar putus asa. "Kau bisa hidup tanpa Ji Won?" Aliya menunduk dan mengepalkan tangannya kuat. Ia tidak boleh terlihat lemah. "Ya~~~" "Jangan bodoh Aliya. Kau fikir Orabonie tidak tau jika sampai saat ini kau masih mencintai Yang Mulia? Kau mengalihkan semua kepada Ji Won, dan bagaimana bisa kau hidup tanpa Ji Won? Apa kau fikir Orabonie tidak tau jika Ji Won Sangat mirip dengan Yang Mulia? Dan kau menganggap Ji Won sebagai pengganti Yang Mulia kan?" Air mata Aliya kembali jatuh mendengar teriakkan lantang Taehyung. Yang dikatakan Taehyung adalah kebenaran. Sikap dan wajah Ji Won Sangat mirip dengan Jimin dan Aliya menganggap Ji Won adalah Jimin. "Orabonie~~~" Taehyung mendengus sinis dan meninggalkan Aliya begitu saja. Emosi Taehyung sedang dalam keadaan tidak stabil dan akan berbahaya jika Taehyung terus berdebat dengan Aliya. Tubuh Aliya jatuh berlutut dengan tangis yang semakin kuat. Aliya tidak munafik mengakui jika dirinya masih sangat mencintai Jimin, tapi Aliya tidak bisa melakukan apapun. Semua berjalan tidak sesuai kehendak Aliya dan Aliya tidak berfikir akan serumit ini. Jimin terlalu banyak mengecewakan dirinya. Memilih Seulgi, menuduhnya sebagai wanita murahan, menyakiti dirinya dan Ji Won, dan kesalahan Jimin yang terakhir benar-benar tidak bisa Aliya toleransi. Menikah dengan wanita lain dan menjadikanya sebagai Permaisuri baru, saat Aliya baru pergi selama 1 bulan. Dengan kehadiran Ji Won dalam hidupnya sudah membuat Aliya benar-benar merasakan jika ia memang harus meninggalkan Jimin. Jimin tidak tau jika Ji Won Ada dan Aliya tidak berniat memberitahu Jimin. Dulu alasan Aliya tidak berkata jujur adalah karena Taehyung dan terakhir karena Jimin sendiri. Aliya sempat ingin kembali ke istana tapi berita pernikahan Jimin benar-benar membuat Aliya hancur dan Aliya benar-benar mengubur dalam-dalam keinginannya untuk kembali ke istana. "Maafkan ibu Ji Won-ah" lirih Aliya. * "Jadi Nona Kim adalah Permaisuri Kim?" Jimin tersenyum hambar mendengar pertanyaan Kepala desa Lee Jin Hyuk. "Ya~~~" Lee Jin Hyuk melihat semua dimana Aliya yang menghindari Jimin dan pergi begitu saja dan Lee Jin Hyuk juga baru tau jika yang ada didepannya saat ini adalah Raja. "Yang Mulia~~~" Jimin meremas tangannya pelan dan berdiri dari duduknya. Menatap bulan yang terlihat bersinar sangat terang. "Permaisuri sangat membenciku" kata Jimin lirih. "Lalu apa Tuan Muda Ji Won adalah Pangeran Muda?" Jimin hanya mengangguk pelan. Ji Won adalah putranya dan Ji Won juga adalah calon pewaris tahtanya. Dan seharusnya Aliya saat ini menjadi ratu dikerajaan. Tapi Aliya justru lebih memilih menetap didesa kecil dan membesarkan Ji Won Tanpa status Permaisuri ataupun Pangeran. "Apa aku punya pilihan untuk membawa mereka kembali ke istana?" Tanya Jimin yang seperti bisikan angin tapi masih bisa didengar oleh Lee Jin Hyuk. "Anda harus meluluhkan hati Permaisuri terlebih dahulu" Jimin mengalihkan perhatiannya pada Lee Jin Hyuk. "Saya cukup mengenal Permaisuri. Sejauh yang saya lihat selama 5 tahun ini Permaisuri mengalami banyak luka dihatinya dan Yang Mulia harus berusaha menyembuhkan luka itu. Karena Sadar atau tidak Yang Mulia adalah penyebab utama dari semuanya. Maaf jika saya berbicara tidak sopan pada Yang Mulia, tapi yang jelas tidak akan ada seorang wanita yang akan membesarkan anaknya sendiri tanpa suami jika bukan karena sakit hati yang disebabkan suaminya sendiri" Jimin mengakui apa yang dikatakan Lee Jin Hyuk adalah kebenaran. Alasan Aliya yang tidak mau kembali Jimin belum tau pasti. Jika ini karena kesalahannya menuduh Aliya waktu itu Jimin akan rela meminta maaf dan berlutut didepan Aliya agar mendapatkan maaf. Percayalah harga diri Jimin akan menjadi ke nomor 100 jika itu berhubungan dengan Aliya. Jimin akan melakukan apapun. "Kuncinya satu, taklukkan dulu Kim Taehyung, Pangeran Muda Ji Won dan terakhir Permaisuri. Saya hanya bisa mendoakan agar yang Yang Mulia berhasil menyelesaikan semua" * "Jadi anda adalah Permaisuri?" Aliya mendesah pelan mendengar pertanyaan Lee Jin Hyuk tentang Jimin. Sepertinya semua sudah terbongkar. "Saya bukan Permaisuri lagi. Jadi saya mohon berhenti mengatakan itu" Lee Jin Hyuk terlihat menghela nafas mendengar jawaban Aliya. "Apa Permaisuri membenci Yang Mulia? Maaf jika saja lancang, tapi yang harus Permaisuri tau jika selama 5 tahun ini hanya Permaisuri yang dicintai Yang Mulia. Dan itu adalah kebenaran. Yang Mulia memang tidak mengatakan apapun pada saya tapi orang buta pun tau jika Yang Mulia sangat mencintai Permaisuri. Maaf saya permisi" dada Aliya terasa sesak mendengar ucapan Lee Jin Hyuk. Mata buta pun bisa melihat itu, Aliya sudah tau saat pertama kali Jimin menemuinya dan Aliya jelas melihat sorot kerinduan Dimata Jimin. Tapi bukan hanya itu yang Aliya butuhkan. Ia butuh sesuatu yang nyata, ia butuh bukti bukan ucapan. "Jika Yang Mulia mencintai ku, kenapa dia harus menikah lagi?" "Karena itu tuntutan seorang Raja dan bukan seorang laki-laki yang mencintai wanitanya" Aliya tersentak saat mendengar suara lembut dari belakang. Tidak jauh darinya ada Jimin yang berdiri dibelakangnya. "Yang Mulia~~~" Jimin berjalan mendekat dan berdiri tepat dihadapan Aliya. "Seorang Raja butuh seorang Permaisuri untuk mendampinginya, itu hanya sebuah status dan tidak lebih dari itu. Jika sebagai Raja aku menginginkan Permaisuri, maka sebagai seorang suami aku menginginkan istriku, ibu dari anak-anakku dan pemilik hatiku. Bukan Permaisuri ataupun Ratu" Aliya diam dan tidak berani membalas ucapan Jimin. "Maaf untuk semua kata-kata kasarku. Aku tidak tau jika Taehyung adalah kakakmu. Dan mengenai Ji Won aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Kenapa Permaisuri tidak jujur saat hamil Ji Won? Jika saja saat itu Permaisuri jujur saya tidak akan melakukan hal seka~~~" "Cukup" Teriakan Aliya menghentikan ucapan Jimin. "Semua sudah berlalu dan tidak akan berguna jika Yang Mulia membahasnya. Yang Mulia sudah punya Permaisuri baru dan itu artinya Yang Mulia tidak butuh saya. Tolong jangan usik saya ataupun Ji Won. Yang Mulia bisa meminta seorang pewaris dari Permaisuri baru dan tolong jangan jadikan Ji Won sebagai Raja dimasa depan. Permisi" "Apa aku harus berteriak pada seluruh dunia dan mengatakan jika aku begitu mencintaimu, menginginkanmu seperti orang gila disetiap detik, bahkan aku hampir gila karena merasa bersalah padamu. Apapun yang kau inginkan akan kau kabulkan. Melepaskan tahtaku, bahkan menghabisi diriku sendiri. Katakan mana yang kau mau, agar kau mau kembali padaku Aliya~~~" langkah Aliya berhenti setelah mendengar teriakkan keras Jimin. Air mata Aliya perlahan jatuh. "Saya tidak butuh apapun dari Yang Mulia. Dulu saat saya begitu ingin Yang Mulia hanya sakit hati yang saya dapatkan. Saya hamil Ji Won, Yang Mulia justru berhubungan dengan Selir Kang. Egois memang tapi saya hanya ingin Yang Mulia hanya untuk saya pribadi. Tapi apa yang saya dapatkan? Selir baru, bersikap kasar pada saya, kakak saya, bahkan pada Putra Yang Mulia sendiri. Dan terakhir, Yang Mulia justru memperistri wanita lain saat saya baru pergi selama 1 bulan. Maaf saya tidak bisa memaksa hati saya untuk melupakan kesalahan Yang Mulia secepat itu. Permisi" Langkah Aliya terasa berat, tapi tetap berjalan menjauh dari Jimin. "Apa aku harus mati didepanmu?" Terus berjalan dan menulilan telinganya. "Baik jika itu yang Permaisuri inginkan. Anggap kematianku sebagai ucapan maaf darimu" Jimin berbalik dan meninggalkan Aliya yang tiba-tiba berhenti. Mata Aliya semakin memanas dengan air mata yang mengalir diwajahnya. "Mian~~~" * Taehyung menatap dingin Jimin yang berjalan kearahnya. Perkiraan Jimin yang akan menemuinya sudah Taehyung pastikan akan terjadi. "Untuk~~~bukk" perkataan Taehyung terhenti saat melihat Jimin yang berlutut didepannya. Mulut Taehyung menganga tidak percaya melihat Jimin bersimpuh didepannya. Taehyung masih memperhatikan Jimin yang mencabut pedang dari tempatnya dan membawanya tepat dihadapan Taehyung. "Adikmu ingin aku mati. Dia menganggap ini sebagai permintaan maaf dariku. Dan kumohon lakukan itu. Anggap ini sebagai balasan atas sakit hati yang dia rasakan selama ini dan juga untuk kematian kedua orang tua kalian. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Kumohon lakukan Taehyung" Taehyung mendengarnya dengan seksama dan jelas. Dari cara bicara Jimin, jelas jika Jimin sedang putus asa. "Kau benar-benar ingin mati?" Dan anggukan dari Jimin membuat Taehyung meraih pedang yang diserahkan padanya. Mengacungkan pedang tepat dileher Jimin. "Aku akan mengabulkan permohonanmu" Jimin mendongak menatap Taehyung dan mengangguk. "Sebelumnya aku juga ingin minta maaf padamu. Aku tidak tau jika kau adalah teman dimasa kecilku, aku baru tau saat kau menyerahkan diri saat itu. Aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahan kakekku. Aku juga ingin berterima kasih karena mau menjadi temanku. Taehyung-ah gumawo. Aku juga ingin minta tolong padamu. Jaga Aliya dan Ji Won, katakan jika aku sangat mencintai mereka. Katakan selamat tinggal ku pada mereka" dan tepat setelahnya Jimin benar-benar menutup matanya. Pasrah pada kematian yang akan diberikan Taehyung padanua. "Lakukan Tae" Taehyung masih mengacungkan pedangnya pada Jimin. Mengeratkan genggamannya dan siap menebas leher Jimin. "Ucapan selamat tinggal pada kematian Park Jimin~~~prankk" Jimin membuka matanya saat mendengar suara yang ia yakini pedangnya yang terlempar jauh oleh Taehyung. "Tae~~~" "Kembalilah. Aku tidak mau menjadi penyebab penderitaan adik dan keponakanku. Aliya sangat mencintaimu dan Ji Won ingin Ayahnya. Aku tidak akan menghalanginya. Pergilah" mata Jimin terlihat berkaca-kaca mendengar ucapan Taehyung. Itu artinya Taehyung merestuinya untuk berbaikan dengan Aliya. "Gumawo Tae" Taehyung mengangguk pelan dan meninggalkan Jimin begitu saja. "Tapi perlu kau tau, jika sekali lagi kau menyakiti adikku, maka aku akan benar-benar membunuhmu" desis Taehyung dan berlalu. "Aku janji tidak akan mengecewakanmu ataupun Aliya" * Jimin berjalan menuju rumah Aliya. Tadi saat selesai berbicara dengan Taehyung, Jimin bertanya dimana Aliya tinggal dan Lee Jin Hyuk memberitahukan dimana tempatnya. Jimin ingin menemui Ji Won, Baru pertama kali Jimin menemui Ji Won, itupun cuma beberapa saat karena Aliya langsung membawa Ji Won Berlalu dari hadapannya. Jimin mengerutkan keningnya saat melihat banyak orang yang berlari sama dengan tujuannya. "Ada apa Tuan?" Tanya Jimin pada orang yang lewat. "Itu Rumah Nona Kim terbakar. Kami mencoba memadamkan apinya" Nona Kim? Mendengar itu Jimin berlari mendahului orang yang ia tanyai tadi. Itu Rumah Aliya. "Padamkan apinya" Jimin kalang kabut saat melihat api yang sudah benar-benar membesar. "Siapa saja yang ada didalam?" Tanya Jimin keras. "Belum ada yang keluar dari sana tuan" Jimin melangkah cepat untuk masuk ke kobaran api, tapi tanganya lebih dulu dicekal oleh orang yang ada disampingnya. "Apinya sudah sangat membesar Tuan. Akan berbahaya bagi anda" Jimin menyentakkan tanganya kuat dan berteriak pada laki-laki itu. "Istri dan anakku ada didalam dan kau ingin aku diam? Kau gila?" Jimin berlari cepat kedalam. Menghindari api beberapa kali dan benar-benar masuk kedalam. "Permaisuri~~~~" * "Ibu Won takut" didalam pelukannya Ji Won menangis dengan kuat, sementara Aliya hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar ia tidak menangis seperti Ji Won. Ia harus kuat dan mencari jalan keluar untuk mereka. Menghalangi tubuh Ji Won agar tidak terkena kobaran api. "Tenang dulu sayang. Biarkan ibu mencari jalan~~~" "Permaisuri~~~" Aliya tersentak saat mendengar teriakkan Jimin. Apa ini nyata? Jimin masuk kedalam sini? "Ibu~~~" Aliya menatap Ji Won. "Permaisuri~~~" teriakan Jimin semakin keras. "Ayah kami disini" Aliya menatap tidak percaya kearah Ji Won Yang memanggil Jimin. Ji Won memanggil Jimin ayah? "Won-ah" lirih Aliya. "Ayah, Ibu dan Ji Won disini" air mata Aliya jatuh mendengar Ji Won memanggil Jimin dengan kuat. Ji Won tau ayahnya. "Permaisuri, Ji Won-ah" Aliya memeluk erat Ji Won. "Bertahanlah" mematung saat merasakan lengan kekar yang melingkupi tubuh mereka. Itu Jimin. "Ayah?" Aliya mengalihkan pandangannya pada Ji Won Yang menatap Jimin penuh binar kebahagiaan. "Tenang dulu nak. Biar ayah mencari jalan keluar untuk kita" Aliya tidak bisa menahan dirinya untuk menangis mendengar ucapan Jimin yang begitu lembut pada Ji Won. "Kumohon jangan menangis didepanku" Jimin mengusap air mata Aliya dengan lembut. "Kaj~~~" "Kalian~~~" "Tae~~~" "Orabonie~~~" "Paman~~" Taehyung langsung meraih Ji Won dalam gendongannya dan berucap cepat pada Jimin. "Kita cari jalan keluar. Bawa adikku" Jimin mengangguk dan segera membawa Aliya masuk dalam gendongannya. "Yang Mulia~~~" menggeleng pelan pada Aliya dan menatap lembut padanya. "Kumohon kali ini saja" dan Jimin tersenyum dengan lembut dan mengikuti langkah Taehyung yang sudah berjalan terlebih dahulu. Pandangan Aliya tidak pernah lepas dari Jimin yang terus mencari celah agar mereka tidak terkena kobaran api. Wajah itu terlihat begitu khawatir dan Aliya sadar akan satu hal sekarang. "Maaf~~~" bergerak masuk dalam pelukan Jimin dan menelusupkan wajahnya kedada bidang Jimin dan menangis. "Sudah kukatakan untuk tidak menangis. Kumohon hentikan itu" dan Aliya semakin terisak dan terus mengucapkan kata maaf. "Aku mencintaimu" wajah khawatir yang Jimin tunjukkan berubah cerah mendengar ucapan Aliya. "Aku tau. Hanya saja mendengar itu langsung darimu benar-benar terasa berbeda. Terima kasih karena sudah mencintaiku dan aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi" Tbc!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD