Happy Reading.
*
"Ibu kenapa Won memakai baju seperti ini?" Aliya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Ji Won. Hari ini Jimin resmi akan mengenalkan Ji Won pada semua. Sang pewaris tahta Jimin selanjutnya.
"Won-ah sekarang hidup kita tidak seperti dulu. Won harus berjanji pada ibu. Belajar lah yang baik dan turuti semua perkataan ayah. Won akan belajar menjadi calon penguasa muda sekarang. Dan ibu mau Won benar-benar berusaha untuk itu" Ji Won Mengangguk mengerti dan tersenyum. Mencium lembut pipi Aliya dan mengusap sayang wajah Aliya.
"Won janji tidak akan mengecewakan ibu. Won akan menuruti semua ucapan Ayah dan Won akan jadi anak yang baik" Aliya tersenyum dan memeluk erat Ji Won.
"Ibu sayang Ji Won" Ji Won juga membalas pelukan Aliya.
"Dan satu lagi sayang. Won harus memanggil Permaisuri Yuna dengan panggilan ibu. Won mengerti?" Ji Won Mengangguk dalam pelukannya.
"Won janji ibu" Aliya melepaskan pelukannya.
"Jadilah anak yang baik"
"Dia pasti akan menjadi anak yang baik. Ibu tenang saja" keduanya menoleh dan menemukan Jimin yang berjalan kearah mereka.
"Ayah" Jimin tersenyum dan mengusap kepala Ji Won.
"Putramu sudah tau tugasnya dan kau tidak perlu khawatir" Aliya tersenyum dan mengangguk.
"Aku titip dia Yang Mulia. Ji Won tanggung jawab Anda" Jimin tersenyum dan mengangguk.
"Dia putraku. Aku akan menjaganya" Aliya mengangguk mengerti.
"Won-ah sekarang pergi temui paman Jungkook. Dia akan mengajarimu banyak hal. Sana" Ji Won Mengangguk dan keluar dari kamar Jimin. Meninggalkan keduanya yang melihat langkah Ji Won Yang sudah tidak ada dikamar ini.
Aliya tersenyum saat merasakan tangannya digenggam Jimin. Lembut dan erat. "Ada apa?" Bukanya menjawab pertanyaan Aliya, Jimin justru menarik Aliya dalam pelukannya.
"Hanya ingin memelukmu" Aliya tersenyum dan membalas pelukan Jimin. Hangat!
"Bagaimana nasib Yang Mulia saat saya pergi 5 tahun yang lalu?" Tanya Aliya menerawang kedepan.
"Buruk. Tidak satu detikpun dalam hidup ku terang. Kadang aku berfikir kematian jauh lebih baik. Kekosongan membuat aku jenuh dan putus asa" Aliya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jimin.
"Apa Yang Mulia tidak bisa berhubungan baik dengan Permaisuri Choi?" Jimin menggeleng.
"Bagaimana bisa aku berhubungan baik dengannya sementara hati dan fikiranku selalu tertuju padamu. Memikirkan itu aku tidak akan bisa Aliya" mendengar panggilan Jimin untuknya Aliya terlihat begitu bahagia. Tidak ada status yang membedakan mereka sekarang.
"Senang melihat Yang Mulia tetap sehat"
"Dan aku senang melihatmu" kata Jimin lembut dan mendekatkan wajah mereka tapi dihalangi oleh Aliya.
"Acaranya akan dimulai dan waktu yang tersisa tidak akan cukup untuk ini. Saya tau Yang Mulia dan ini akan jadi bencana jika Raja tidak datang diacara peresmian Putra Mahkota" Jimin tertawa mendengar alasan Aliya. Jelas itu penolakan tapi secara halus.
"Aku sudah menahannya selama 5 tahun jadi biarkan aku merasakannya untuk beberapa menit saja. Kumohon aku janji tidak akan lama" dan setelah itu Jimin benar-benar menempelkan bibir mereka. Lembut dan basah dengan Jimin yang melumat penuh perasaan dan rasa rindu.
Aliya yang awalnya tidak setuju justru ikut terhanyut dan mengalungkan tangannya keleher Jimin hingga ciuman mereka semakin dalam. Bergerak lembut membalas ciuman Jimin.
Bibir Jimin menggigit kecil bibir Aliya dan Aliya dibuat melenguh pelan. Ciuman mereka semakin dalam dan panas. Seharusnya Aliya tau jika ini tidak akan menjadi beberapa menit jika itu Jimin. Yang benar adalah beberapa jam.
"Yang Muliaahh" mendesah tertahan dan Jimin segera mendorong tubuh Aliya untuk jatuh keranjang dengan Jimin yang menindih tubuhnya. Tangan Jimin mulai bergeliyar ditubuh Aliya. Menelusup kedalam Hanbok Aliya dan menjelajah disana. Lembut dan penuh kenikmatan.
"Ugh!" Tidak bisa dipungkiri jika keduanya sama-sama larut dalam kenikmatan ini. Sama-sama saling merindukan dan membutuhkan. Tapi sayang waktu yang tersisa tidaklah banyak untuk mereka menyelesaikan ini.
"Malam ini kau milikku Nyonya Park" pipi Aliya bersemu merah mendengar ucapan Jimin. Panggilan yang umum untuk pasangan suami-istri biasa. Dan Aliya lebih senang dengan itu.
"Bukankah itu sudah menjadi rutinitas Yang Mulia?" Jimin tertawa dan mencium bibir Aliya dengan lembut tapi hanya beberapa detik saja.
"Kau canduku. Entah dulu atau sekarang. Bagiku kau masih saja. Lembut dan menyegarkan sangat nikmat jika dilihat dalam keadaan tanpa satu kain pun yang melekat ditubuh. Apalagi dengan bibir merah yang selalu terbuka~~~emhpp" Aliya menutup bibir Jimin dengan cepat.
Pembicaraan ngawur Jimin harus dihentikan. Aliya tidak mau kepanasan karena ucapan Jimin yang semakin tidak terkendali.
"Benarkan baju Yang Mulia. Acara Ji Won akan segera dimulai" mengedipkan matanya lucu dan mengangguk. Aliya langsung melepaskan tangannya dari bibir Jimin.
Mendorong tubuh Jimin untuk bangkit tapi Jimin tidak bergerak sama sekali. "Yang Mulia" pekik Aliya kesal.
"Aku bangun" kata Jimin yang tertawa.
"Dasar"
*
Tepuk tangan rakyat terdengar menggema saat Ji Won Baru saja selesai dikenalkan sebagai Putra Mahkota oleh Jimin. Senyum bahagia terlihat terukir pada bibir seluruh penghuni istana. 5 tahun rakyat menunggu sang pewaris dan akhirnya impian itu terwujud.
Bukan hanya Putra Mahkota tapi Jimin juga mengenalkan Ratu kerajaan. Wajah Choi Yuna terlihat shock dan Aliya tersenyum tipis. Bukan Aliya yang menjadi ratu, tapi Choi Yuna dan itu karena permintaan Aliya.
*
"Kenapa anda melakukan itu?" Aliya tersenyum mendengar pertanyaan Choi Yuna yang seperti marah padanya.
"Apa yang saya lakukan? Saya tidak melakukan apapun?" Kata Aliya lembut.
"Ini salah Ratu. Tidak seharusnya saya yang menerima posisi ini. Pangeran Ji Won adalah anak Ra~~~"
"Anak mu juga" sela Aliya yang membuat Choi Yuna diam. Aliya menatap lembut Choi Yuna dan mengusap lengannya dengan lembut.
"Sebelum kau datang dalam kehidupan kami aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi Ratu. Aku tidak tertarik dengan posisi itu dari dulu. Bahkan dengan Selir Kang Seulgi dulu. Ji Won memang putraku tapi aku tidak mau menerima posisi itu. Kau pantas menjadi Ratu. Menghadapi semuanya dan menemani Yang Mulia saat-saat gelap dalam masanya. Dan itu pantas mendapatkan apresiasi. Demi tuhan Ratu Choi tolong terima posisi ini. Kau bertanggung jawab untuk semua dan aku percaya padamu" mendengar ucapan Aliya, Choi Yuna terlihat berkaca-kaca. Bagaimana bisa Aliya begitu percaya padanya. Mereka bahkan belum bertemu cukup lama. Hanya beberapa hari.
"Per~~~"
"Aku percaya padamu?" Kata Aliya yang memeluk Choi Yuna dan tangis Choi Yuna pecah. Aliya hanya bisa mengusap pelan punggung Choi Yuna.
"Aku juga minta maaf karena Yang Mulia tidak memperlakukan mu dengan sesungguhnya. Aku janji itu akan berubah mulai sekarang. Yang Mulia akan memperlakukan mu secara pantas layaknya seorang istri yang sudah bersuami" janji Aliya dan Choi Yuna semakin menangis.
"Terima kasih Permaisuri Kim" dibalik pintu Jimin tersenyum simpul melihat Aliya dan Yuna. Melihat bagaimana Aliya berjanji pada Yuna membuat Jimin benar-benar beruntung memiliki Aliya. Wanita cantik dengan sikap yang luar biasa sempurna.
Jimin sangat yakin jika mencintai Aliya adalah kebenaran. "Aku beruntung memilikimu"
*
"Kau tidak marah padaku?" Aliya hanya diam mendengar pertanyaan Jimin. Lebih memilih melihat Jimin dengan tatapan mata menggoda. Pagi-pagi buta Jimin datang kekamar dengan keadaan yang bisa dibilang acak-acakan. Bahkan Aliya tidak bangkit dari posisi tidurnya.
"Bukankah tadi malam adalah malam yang panjang?" Goda Aliya dan Jimin segera melompat ikut bergabung diatas ranjang.
"Yang Mulia" pekik Aliya saat Jimin meringsek Memeluk tubuhnya dan Jimin semakin merapatkan tubuh mereka.
"Hem" jawab Jimin yang menelusupkan wajahnya keceruk leher Aliya. Tentu saja dengan mengecupi leher Aliya.
"Ini sudah pagi" kata Aliya yang mencoba mendorong Jimin.
"Dan aku tidak peduli" kata Jimin yang sudah menindih tubuh Aliya. Menunduk dan langsung mencium bruntal bibir Aliya.
Serangan Jimin membuat Aliya kewalahan, apalagi dengan tempo kecepatan ciuman Jimin yang menjadi. Memukul dada Jimin juga dirasa percuma jika sudah seperti ini.
"Apa semalam kurang?" Tanya Aliya sedikit kesal saat Jimin melepaskan ciumannya.
"Beda. Itu Yuna dan ini dirimu. Aku jauh lebih menginginkan dirimu" Aliya mendesis saat tangan Jimin mulai merambat kebagian dadanya.
"Yang Mulia" Jimin semakin tidak terkendali dan Aliya hanya bisa mendesah Pasrah. Jimin tidak akan bisa dicegah jika sudah seperti ini.
"Pastikan jika ini cepat. Aku tidak mau Ji Won melihat kita" desis Aliya dalam kenikmatannya. Jimin hanya tersenyum tipis dan melanjutkan pekerjaannya.
"Apa salah jika aku ingin anak perempuan?" Mendengar pertanyaan Jimin, Aliya hanya bisa menggeleng tidak percaya.
"Yang Mulia bisa memintanya pada Ratu Choi ahhhhh" Aliya mendesah panjang karena Jimin tiba-tiba memasuki tubuhnya dengan 3 jari sekaligus.
"Yang Mulia Sakitttt" pekik Aliya saat Jimin menggerakkan jarinya secara acak.
"Bukan sakit tapi nikmat? Iyakan?" Goda Jimin yang meraih bibir Aliya dalam kulumannya. Jimin tau dimana titik sensitif Aliya dan memancing Aliya dengan cara seperti ini sayang menyenangkan.
"Suka?" Mendesah nikmat saat Jimin semakin tidak terkendali. Aliya bahkan tidak sadar jika Jimin sudah menelanjangi tubuhnya dari tadi.
"Anda benar-benar berbahaya" Jimin hanya tersenyum dan memanggut puncak dada Aliya dalam mulutnya. Hangat dan lembut. Ini juga candunya.
"Ugh!" Aliya semakin mendesah dan Jimin semakin tidak terkendali.
"Kupastikan akan ada anak perempuan yang memanggil ku ayah. Dan kau tidak bisa menyembunyikan ini lagi seperti Hamil Ji Won dulu" desis Jimin.
Tbc.