Tujuh belas

1615 Words
Happy Reading. * Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar menggema dilantai istana. Seorang bocah perempuan terlihat mengangkat gaunnya agar mudah berlari. Rambut hitam panjang yang terurai terlihat menjuntai bebas. Terus berlari dan mengabaikan tatapan penjaga yang memperhatikannya. Bocah itu seperti menghindari sesuatu, terus melihat kebelakang dan mempercepat larinya. "Park Ji Young~~" Mendengar namanya disebut bocah itu semakin mempercepat larinya. "Ji Young jangan hindari Ayah" tidak jauh dari bocah yang berlari itu, terlihat Jimin yang mengejarnya. Menahan tawanya melihat sang putri yang mencoba menghindar darinya. Ya putri kecilnya yang berusia 4 tahun terlihat ketakutan menghindarinya, karena tidak sengaja menumpahkan minuman yang dibuat ibunya untuk Jimin. "Park Ji Young ayah akan menangkap mu awas jika sampai kau kena" para penjaga mencoba menahan tawanya saat melihat Jimin yang terus mengejar Ji Young. Pemandangan langka karena melihat Sang Raja yang mengejar putrinya. Ji Young terus berlari dan saat sampai dilapangan yang biasa digunakan untuk para prajurit untuk berlatih Ji Young justru 18 masuk kedalam. Tujuannya satu, menemukan perlindungan dari ayahnya. Memperhatikan sekitar dan seseorang yang ia cari ada disana. Ji Young berlari menghampiri laki-laki itu. Dan saat laki-laki itu memperhatikannya Ji Young tidak sungkan untuk melompat kepelukan laki-laki itu. "Paman lindungi Young dari ayah" Taehyung menyeringit bingung mendengar ucapan Ji Young. Kenapa tiba-tiba Ji Young berkata seperti itu? "Mencoba mencari perlindungan Hem?" Taehyung semakin bingung saat melihat Jimin yang tersenyum sambil memperhatikan Ji Young yang tengah memeluknya erat. Mata Taehyung seolah bertanya kepada Jimin, dan Jimin hanya mengedipkan mata dan Taehyung mengerti. "Wah apa yang Ji Young lakukan? Cepat lihat ayahmu" Ji Young menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada Taehyung. "Kau dengar Ji Younggie. Paman bilang kau harus melihat ayah? Cepat lepaskan pelukanmu dan lihat ayah" Jimin ikut memaksa Ji Young dan Taehyung juga semakin memaksa Ji Young. "Hua Ji Young tidak mau. Ji Young takut ayah. Paman tidak mau melindungi Ji Young. Ibu tolong Ji Young" Jimin dan Taehyung gugup saat tiba-tiba Ji Young menangis keras. Sontak para prajurit yang berlatih mencoba menahan tawanya saat melihat Jimin dan Taehyung ketakutan. Masalahnya mereka akan berhadapan dengan Aliya jika sampai Aliya tau. "Sayang ayah tidak marah Hem. Ayah hanya bercanda Sayang" kata Jimin lembut dan meraih Ji Young yang ada diperlukan Taehyung. Mengusap sayang punggung Ji Young dan terus mengucapkan kata-kata lembut agar Ji Young berhenti menangis. Masalahnya Jimin akan berhadapan dengan Aliya jika Ji Young tidak mau berhenti menangis. "Younggie" Jimin semakin gugup saat mendengar suara Aliya yang memanggil Ji Young. Melirik kearah Taehyung dan sialnya Taehyung langsung angkat tangan dan berlari. "Ya Tuhan Younggie" tamat riwayat Jimin Sekarang. Aliya sudah berjalan kearah mereka. "Kenapa nak?" Aliya meraih Ji Young yang ada dipelukan Jimin. Bertanya pada Ji Young yang Masih terisak. "Jawab ibu nak. Ada apa Hem?" Ji Young mengusap matanya pelan dan menatap wajah Ibunya. "Hiks ayah jahat Bu" mendengar ucapan Ji Young, Jimin jadi gelagapan sendiri. "Jahat?" Tanya Aliya yang sudah melirik Jimin. "Hiks nde. Masa ayah mau menghukum Younggie hanya karena minuman tadi. Ayah jahat Bu hiks" mendengar alasan Ji Young, Aliya hanya menggeleng pelan. Pasti ini karena Jimin yang menggoda Ji Young lagi. Tidak mungkin Jimin akan menghukum Ji Young Hanya karena itu. "Jinjja?" Ji Young Mengangguk pelan dan Aliya tersenyum tipis. Mengusap sayang wajah Ji Young. "Jika seperti itu Younggie seharusnya menghadapi ayah dan bertanya apa yang salah? Jika Ji Young Salah itu artinya Ji Young Harus minta maaf dan bukannya lari. Younggie lari kan tadi?" Ji Young Mengangguk pelan. "Nah karena Younggie sudah tau kesalahannya. Itu artinya Younggie harus?" Ji Young menatap ibunya takut dan melirik Jimin dari ekor matanya. "Minta maaf pada ayah" dan jawaban Ji Young membuat Aliya tersenyum. "Sekarang waktunya Younggie minta maaf" kata Aliya yang menurunkan Ji Young dan menghadapkan Ji Young pada Jimin. Ji Young terlihat masih takut tapi Aliya menggenggam erat tangan Ji Young seolah mengatakan jika ini akan baik-baik saja. Akhirnya Ji Young mendongak dan menatap wajah Jimin. "Maaf ayah. Younggie salah" kata Ji Young Pelan dan Langsung memeluk perut Aliya. Ia takut dengan reaksi Jimin. Jimin sendiri mencoba menahan tawanya melihat tingkah Ji Young. Menunduk dan melepaskan pelukan Ji Young pada perut Aliya. Membawa Ji Young dalam gendongannya. Jimin masih bisa melihat ketakutan Dimata sang putri. "Ayah tidak marah sayang. Ayah hanya menggoda Younggie, dan kenapa Younggie harus menangis? Itu tidak perlu eoh" dan mendengar ucapan Jimin, Ji Young Langsung mendongak. Menatap iris pekat sang ayah dan mencari kejujuran disana. Ji Young akhirnya kembali menunduk dan mengerucutkan bibirnya. "Tadi bilangnya mau menghukum Younggie?" "Mana bisa ayah menghukum putri kecil yang menggemaskan ini. Cengeng lagi" dan Ji Young Langsung menatap horor Jimin yang mengatakan jika dirinya cengeng. Ji Young tidak suka dikatai begitu. "Ayah jangan bilang Younggie cengeng. Younggie tidak suka" dan baik Aliya maupun Jimin tidak bisa menahan tawanya saat mendengar suara Ji Young yang terdengar sangat kesal. Pipi mengembung, mata melotot, dan bibir mengerucut kedepan. Wajah Ji Young Sangat lucu jika seperti ini. Melihat ibunya yang ikut tertawa ekspresi Ji Young Kembali berubah. Melengkungkan bibirnya kebawah dan wajahnya berubah keruh. "Hua ibu menertawakan Younggie. Hua ibu sama dengan ayah. Huaa" * "Mereka menggemaskan" Aliya hanya tersenyum dan mengusap tangan Jimin yang ada dipinggangnya. Memperhatikan Ji Young dan Ji Won Yang tidur terlelap diranjang. "Kadang aku berfikir jika Ji Young Masih seperti bayi" kata Jimin yang tidak berhenti terkagum pada tingkah sang putri. Keinginan Jimin untuk memiliki anak perempuan dari Aliya tercapai. Awalnya Aliya tidak setuju dan menyuruh Jimin untuk memiliki setidaknya seorang anak dari Ratu Choi Yuna tapi Tuhan berkehendak lain. Ratu Choi Yuna tidak bisa memiliki anak dan mungkin itu adalah bagian dari kehidupannya. Jarak beberapa Minggu ternyata Aliya dinyatakan hamil lagi. Tentu Jimin sangat senang, keinginannya untuk memiliki anak lagi tercapai. Dan Jimin semakin senang saat Aliya melahirkan seorang bayi perempuan kecil yang begitu menggemaskan. Wajah bulat dan mata Jimin yang dimilikinya. Bayi Ji Young Sangat gendut dengan pipi bulat sama seperti ibunya. Ji Young lebih mirip dengan Aliya dari pada Jimin. Nama Park Ji Young adalah pemberian dari Ratu Choi Yuna dan itu atas permintaan Aliya sendiri. Ratu Choi Yuna juga sangat dekat dengan Ji Young dan tidak jarang saat Ji Young tidak mau tidur dengan Aliya atau Ji Won, pasti Ji Young akan lari kekamar Ratu Choi Yuna. Ji Young tidak pernah mau tidur sendiri. Harus ada yang menepuk pahanya agar Ji Young bisa cepat tidur. "Sepertinya Ji Young sudah cocok untuk memiliki adik" dan Aliya hanya diam mendengar ucapan Jimin. Entah mau berapa anak Jimin darinya? "Apa Yang Mulia berniat memiliki 11 anak dari saya?" Dan anggukan antusias Jimin membuat Aliya menghela nafas panjang. Pasti akan mendapatkan Jawaban seperti ini dari Jimin. "Minta persetujuan dari Ji Won dan Ji Young dulu dan saya akan memikirkan tentang Bayi lagi. Rasanya baru kemarin Perut saya membesar dan Yang Mulia sudah mau melihat itu lagi. Ini benar-benar tidak lucu" dan Jimin hanya mengulum senyum mendengar ucapan Aliya. Mencium kilat pipi Aliya dan berucap begitu sensual. "Kau sangat Menggoda jika dilihat dengan keadaan perut membesar dan tanpa Hanbok sialan ini" memejamkan matanya sesaat dan menatap kesal Jimin. "Jangan menggoda saya" bukanya takut, Jimin justru menyeringai. "Itu kesenangan ku" dan Aliya harus menutup mulutnya agar tidak berteriak karena Jimin yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Membawanya berlalu begitu saja dari kamar Ji Won dan Ji Young. Tentu saja tujuannya saat ini adalah kamar mereka. Akan ada pembuatan adik Ji Won dan Ji Young. "Yang Mulia~~~" * "Pagi ini benar-benar dingin" Aliya mendengus dan mencoba melepaskan tangan Jimin yang semakin menjelajah diatas tubuhnya. Pagi ini hujan dan Aliya tidak mau Jimin kembali menyerangnya. Sudah menjadi agenda rutin jika hujan turun dipagi hari maka tidak ada kata bebas untuk Aliya. "Yang Mulia" kesal Aliya saat Jimin mulai menarik selimutnya kebawah. Bukanya takut atau menghentikan tanganya, Jimin justru tersenyum manis pada Aliya dan semakin bergerak kebawah. "Berhenti bertingkah mesum. Ji Young akan kesini sebentar lagi" ini bukan alasan tapi kenyataan. Ji Young akan berlari kekamarnya jika turun hujan dipagi hari. Ji Young takut dengan kilat dan petir. Dan pasti yang dituju Ji Young adalah Aliya. "Tidak ak~~~" "Ibu Hikss" Jimin maupun Aliya kaget mendengar teriakkan Ji Young dari luar. Aliya langsung bangkit dari posisinya dan tidak lupa menarik selimutnya. "Ibu Hikss. Younggie takut" Aliya bergerak turun kebawah dengan cepat. Mengambil pakaiannya dengan serampangan. "Ya Tuhan, Yang Mulia anakmu menangis diluar. Cepat bangun dan atasi dia dulu. Biarkan saya berpakaian dulu" Jimin sendiri hanya terlihat seperti orang bodoh. Tidak bangkit ataupun bergerak dan itu membuat Aliya jadi kesal. "Cepat" dan Jimin langsung melompat turun dari ranjang dan memakai asal pakaiannya. Aliya sudah berlari dulu kekamar mandi dan itu artinya Jimin harus mengatasi Ji Young. "Hiks Ibu Palli. Younggie Takut Hiks" Jimin berlari cepat kearah pintu dan membukanya dengan cepat. Wajah Ji Young yang memerah dan baju tidur berantakan. Rambut acak-acakan. Semuanya kacau. Ya Tuhan Park Ji Young. "Sayang" Ji Young menatap Jimin yang memperhatikannya. "Hiks pantas ibu lama. Ayah ada didalam. Hiks ayah jahat. Kenapa tidak membuka pintunya dengan cepat? Younggie takut. Hiks ayah jahat. Ibuu hiks, Younggie mau ibu hiks. Ibuuuu" dan Jimin benar-benar bingung melihat Ji Young yang semakin histeris. "Ya Tuhan Park Ji Young kenapa lagi sayang?" Aliya berlari dari kamar mandi dan menghampiri Ji Young yang Masih menangis di ambang pintu. "Ibu, Ayah jahat. Hiks kenapa Ayah tidak membuka pintunya dengan cepat. Younggie takut diluar. Hiks Ayah jahat Bu" Aliya sendiri langsung membawa Ji Young kedalam pelukan dan membawanya masuk kekamar. Reaksi Jimin masih saja diam dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa Ji Young marah-marah padanya? Bukankah tadi Ji Young Minta dibukakan pintu dan Jimin sudah membukanya. Lalu kenapa Ji Young justru semakin histeris? "Hiks Ayah Jahat" dikatakan Jahat lagi. Ya Tuhan Park Ji Young sepertinya akhir-akhir ini kau sangat suka memusuhi Ayahmu saja. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD