Happy Reading.
*
Kang Seulgi berdandan sangat cantik pagi ini. Menyempurnakan penampilannya dengan Hanbok merah dan menyanggul rambutnya dengan hiasan ratu.
"Apa aku sudah cantik?" Pelayan pribadi Kang Seulgi hanya mengangguk dan membuat Kang Seulgi tersenyum puas.
"Aku harus menemui Permaisuri dan bercerita banyak hal. Bukankah seharusnya dia cemburu pada pengantin baru?" Ujar Kang Seulgi sinis, walaupun tidak terjadi malam pertama antara dirinya dan Raja setidaknya Kang Seulgi harus mengarang cerita untuk membuat Permaisuri marah kan?
"Tapi dimana Yang Mulia Raja, Selir Kang?" Tanya pelayan pribadi Seulgi.
"Kau tidak perlu tau. Tugasmu bukan bertanya hal itu. Jadi lebih baik kau diam" cetus Kang Seulgi dingin dan membuat pelayan pribadinya diam.
"Bereskan kamarku dan langsung pergi" sinis Kang Seulgi dan berlalu lalu berjalan dengan angkuh.
"Aku tidak melihat Yang Mulia Raja. Lalu untuk apa Selir Kang ingin menemui Permaisuri?" Tanya pelayan itu bingung.
*
"Apa Permaisuri ada didalam?" Tanya Kang Seulgi angkuh pada pengawal depan kamar Aliya.
"Maaf Selir Kang. Tapi Permaisuri sudah tidak menempati kamar ini" jawab pengawal itu sopan.
"Benarkan? Waw ini menyenangkan. Itu artinya aku bisa menggunakan kamar ini? Ah apa Yang Mulia ada dikamar ini?" Pengawal itu terlihat bingung mendengar pertanyaan Kang Seulgi.
"Yang Mulia~~~"
"Tidak perlu dijawab. Sekarang katakan kamar mana yang ditempati Permaisuri?" Tanya Kang Seulgi menyela.
"Permaisuri menggunakan kamar mendiang Ratu Han Jiwon" Kang Seulgi tersenyum puas dan melangkahkan kakinya untuk menuju kamar Permaisuri. Bukankah Kang Seulgi harus membuat kejutan untuk Permaisuri?
Langkah kaki Kang Seulgi begitu ringan dan tidak sadar jika dirinya lah yang akan terkejut jika sampai dikamar Permaisuri.
*
"Buka matamu?" Aliya tidak menuruti ucapan Jimin, lebih memilih menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Melihat apa yang Aliya lakukan Jimin jadi geram dan menarik paksa dagu Aliya. Mata bening Aliya langsung menatap Jimin dan Jimin tidak menyia-nyiakan waktu untuk melihat mata bening Aliya.
Keduanya sama-sama diam dan memilih untuk berbicara lewat tatapan mata. Kata-kata yang ingin Jimin ucapkan hilang saat melihat sorot mata Aliya. Entah sadar atau tidak mata Aliya mulai menjadi kelemahan Jimin.
"Kembali kekamar ku" kata Jimin yang lebih mirip perintah dari pada permintaan. Jelas Jimin tersinggung saat Aliya memilih pergi dari kamarnya, itupun tanpa persetujuan dan sepengatahuan nya. Bukankah itu berarti Aliya tidak menganggapnya?
Jimin mudah berkata seperti itu pada Aliya, tapi apa Aliya pernah bertanya seperti itu pada Jimin. Semuanya terlihat jika Jimin orang yang egois dan akan mengambil apapun yang ia rasa miliknya. Bahkan jika harus mengorbankan orang lain.
"Biarkan Selir Kang yang menempatinya" balas Aliya yang masih menatap mata Jimin. Sejak kejadian semalam Aliya tidak takut untuk menatap mata Jimin. Apa yang perlu ditakutkan dari seorang Raja yang akan tunduk pada Permaisuri nya yang sedang marah?
Aliya mengingat setiap perkataan Jimin semalam, dan Aliya bisa dengan mudah mencerna semuanya, walaupun itu hanya kata-kata kiasan. Dibandingkan menghabiskan malam dengan Selir Kang, Jimin lebih memilih mendatanginya dan menyelesaikan semua masalah antara mereka.
Jimin memang belum mencintai nya tapi kata belum itu akan berubah menjadi bisa jika Tuhan menghendaki.
"Apa ini sebuah penolakan?" Pertanyaan yang dilontarkan Jimin hanya mendapat balasan senyum dari Aliya.
"Anggap saja seperti itu. Bukankah Yang Mulia lebih nyaman dengan Selir Kang?" Pertanyaan yang Aliya ucapkan berhasil menyulut emosi Jimin.
"Apa Permaisuri ingin bertengkar lagi denganku. Seperti semalam?" Aliya mengangguk dengan berani dan membuat Jimin mengeram.
Ditariknya tubuh Aliya dan tidak menyisakan jarak antara tubuh Polos mereka. Aliya masih saja diam dan menatap mata Jimin. Membiarkan Jimin melakukan apa yang diinginkannya, Aliya ingin melihat kemarahan Jimin, bukankah itu terlihat menyenangkan. Sadar atau tidak sikap Aliya yang lembut mulai berubah karena Jimin.
"Jadilah Permaisuri yang baik" Aliya tertawa mendengar ucapan Jimin. Terdengar palsu dan memuakkan.
"Jika itu yang Raja inginkan maka saya juga ingin Raja menjadi suami yang baik. Bisa?" Tantangan yang diberikan Aliya membuat Jimin tersenyum simpul dan mendekatkan wajahnya.
"Apa yang Permaisuri inginkan sebenarnya~~~prannkk" keduanya menoleh saat mendengar suara pecahan benda kaca dan saat menemukan keberadaan pelayan Jung yang mematung ditempat.
"Berani~~~"
"Pergilah Soo Hyunie" kata Aliya yang menyela Jimin lebih dulu. Jelas Aliya tau jika Jimin akan marah karena kelancangan pelayan Jung, tapi Aliya tidak mau pelayan Jung menerima itu. Aliya lah yang meminta pelayan Jung untuk masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk atau meminta ijin.
Mendengar ucapan Aliya, pelayan Jung segera menguasai dirinya dan membereskan kekacauan yang dirinya buat dengan cepat dan segera berlalu dari kamar Aliya.
"Jangan marah padanya. Aku yang memintanya melakukan itu, jadi jangan buat ini menjadi masalah~~~bukk" kali ini ucapan Aliya yang terhenti saat mendengar suara benda jatuh.
"Yang Mulia?" Kali ini bukan pelayan tapi Selir Kang yang mematung ditempatnya. Aliya melirik Jimin yang hanya diam, jelas jika Jimin membuang pandangannya dan tidak mau memandang Selir Kang.
"Selir Kang pasti kecewa dengan Raja" cetus Aliya pelan setelah Selir Kang berlari dari kamarnya. Mendengar ucapan Aliya, Jimin hanya diam dan memilih memejamkan matanya lalu menarik tubuh Aliya agar lebih merapat pada tubuhnya.
"Tidurlah" kata Jimin yang akan kembali melanjutkan tidur. Hari ini sungguh melelahkan, sudah seharusnya Raja istirahat. Reaksi Aliya hanya diam dan juga ikut memejamkan matanya, ini bukan tanggung jawabnya. Biarkan Jimin yang mengurus Selir Kang. Itu urusan Jimin dan Aliya tidak akan terlibat didalamnya.
"Jadilah Ratu"
*
Pelayan Jung menggoda Aliya habis-habisan karena kejadian tadi dan Aliya hanya bisa menatap datar kearahnya.
"Yang Mulia bahkan pergi begitu siang dari kamarmu. Ah benar-benar tidak bisa dipercaya" pelayan Jung terus menerus menggoda Aliya.
"Selir Kang melihat juga?" Aliya menatap aneh pelayan Jung. Pelayan Jung tahu?
"Kau tau?" Pelayan Jung mengangguk antusias dan menatap dalam Aliya.
"Aku tidak sengaja melihatnya tadi. Awalnya aku ingin mencegahnya tapi kufikir-fikir akan seru jika dia melihatnya. Setidaknya dia tidak perlu sombong denganmu. Dan lagi dia pasti sangat terkejut melihat Yang Mulia Raja lebih memilih menghabiskan malamnya denganmu dari pada dengan Selir Kang" kata pelayan Jung yang tidak menyembunyikan kesenangannya. Aliya tau jika pelayan Jung tidak menyukai Selir Kang karena sikapnya yang sombong dan Aliya juga tidak perduli.
"Keundae Soo Hyunie apa kau fikir Selir Kang akan membuat masalah?" Tanya Aliya memperkirakan jika ini akan menjadi masalah. Sosok angkuh Selir Kang pasti tidak akan diam melihat Raja yang lebih memilih permaisuri dari pada dirinya.
Pelayan Jung juga mulai memikirkan itu, tidak mungkin sosok ambisius Selir Kang akan diam saja. Bukankah itu hal mustahil? Pelayan Jung menepuk pundak Aliya dan menggeleng pelan.
"Tidak perlu khawatir. Lagi pula bukan kau yang menggoda Yang Mulia tapi Yang Mulia sendiri yang datang padamu. Dan kukira itu tidak menjadi masalah" Aliya akhirnya mengangguk dan berjalan kearah meja riasnya. Mengamati riasan wajahnya yang terlihat natural dan kembali berbalik menatap pelayan Jung.
"Apa aku harus menuruti keinginan Yang Mulia?" Tanya Aliya minta pendapat.
"Hem. Lagi pula Yang Mulia sendiri yang memintamu dan sudah kewajiban untuk melakukannya. Kau harus ingat jika kau istrinya Aliya dan jangan lupakan statusmu sebagai Permaisuri" Aliya hanya mendengus mendengar ucapan pelayan Jung. Aliya tau jika Pelayan Jung sangat mendukung hubungannya dengan Raja dan tidak jarang pelayan Jung menyuruh Aliya untuk dekat-dekat dengan Raja.
"Hah padahal aku sangat menyukai kamar ini. Tapi kenapa harus pindah?" Tanya Aliya yang sedikit kesal.
"Tapi kau lebih dapat yang spesial dari kamar ini?" Tanya pelayan Jung yang membuat Aliya bingung.
"Mworago?" Pelayan Jung tersenyum dan mendekati Aliya.
"Kasih sayang Yang Mulia" jawaban pelayan Jung membuat Aliya diam. Tidak bereaksi atau terkejut, Kasih sayang? Aliya bahkan tidak memikirkannya sama sekali. Itu terlalu jauh dan mustahil.
"Urus kepindahan ku" kata Aliya yang mengakhiri pembicaraan mereka hanya keluar dari kamar. Aliya ingin jalan-jalan untuk melepaskan penatnya.
*
Aliya tertawa saat melihat kelincahan para anak-anak yang bermain ditaman istana. Anak-anak ini adalah anak dari petinggi-petinggi kerajaan dan mereka akan bermain disini saat siang hari. Aliya yang kebetulan melihat mereka ingin ikut bergabung tapi justru mereka membuat Aliya tidak bisa menahan tawanya karena melihat kelucuan mereka saling bertengkar.
"Hei sudah. Kalian mau sampai kapan mau terus bertengkar?" Tanya Aliya yang sudah berhasil menghentikan tawanya.
"Salahkan Jeong Hoon Permaisuri. Dia merusak mainan ku" Aliya tersenyum pada anak laki-laki yang mengadu padanya.
"Siapa namamu?" Tanya Aliya lembut.
"Naega? Young Woon. Kim Young Woon" Aliya berjalan kearah ank kecil yang bernama Kim Young Woon tersebut. Menyamakan tingginya dengan anak itu lalu mengusap Surai hitam anak itu.
"Dalam pertemanan tidak ada kata kesalahan Young Woon-ah. Semuanya murni dan ingatlah jika temanmu melakukan kesalahan kau harus memaafkannya. Menemukan teman sejati lebih sulit dari pada mencari teman baru. Jeong Hoon mungkin tidak sengaja. Benarkan Jeong Hoon-ah?" Anak kecil itu mengangguk keras mendengar pertanyaan Aliya.
"Kau lihat? Jeong Hoon tidak sengaja. Sekarang kalian harus baikan eoh? Aku tidak mau melihat kalian bertengkar lagi. Mengerti?" Keduanya mengangguk kompak dan saling berbaikan.
Aliya tersenyum melihat itu, apalagi dengan Young Woon dan Jeong Hoon yang kembali bermain bersama. Hah masa kecil memang menyenangkan.
"Permaisuri?" Aliya menoleh saat mendengar panggilan dari belakang. Ternyata Raja dan Selir Kang yang menghampirinya. Aliya membungkuk hormat pada Raja dan tersenyum pada Selir Kang lalu kembali melihat anak-anak yang sedang bermain.
"Permaisuri disini?" Tanya Selir Kang berbasa-basi pada Aliya.
"Hem. Aku bosan dikamar" jawab Aliya tanpa memandang Selir Kang. Sementara Jimin hanya diam diantara keduanya. Tidak berniat bertanya atau mencampuri pembicaraan keduanya.
Selir Kang masih memperhatikan Permaisuri dan Raja yang sama-sama diam. Tiba-tiba smirk sinis terlukis dibibirnya. "Siapa nanti yang akan menjadi Ratu, Permaisuri?" Jimin terkejut mendengar pertanyaan Seulgi, sementara Aliya hanya menatap aneh kearah Seulgi.
"Apa pertanyaan saya salah? Saya hanya bertanya siapa yang akan melahirkan penerus Raja setelah ini? Bukankah itu wajar?" Aliya tau jika Seulgi sedang memancing kekesalannya tapi sayang Aliya tidak peduli sama sekali.
"Entahlah. Saya juga tidak tau, lagi pula itu masih sangat lama dan entah itu siapa nanti biar Tuhan yang menjawabnya" mendengar jawaban Aliya, Seulgi jadi sedikit kesal karena pancingannya gagal.
"Kenapa anda bertanya seperti itu? Apa anda berniat menjadi Ratu? Hah jika itu impian anda maka saya akan mendukungnya. Lagi pula saya tidak berniat menjadi Ratu. Jika saya dikaruniai keturunan saya hanya ingin menjadikannya sebagai anak yang baik dan berbakti, itu lebih dari cukup untuk saya" kali ini Jimin yang menatap Aliya. Jelas Jimin tidak suka dengan jawaban Aliya. Bagaimana bisa Aliya tidak mau menjadi Ratu? Itu adalah impian semua wanita dikerajaan ini, dan bagaimana bisa Aliya mengucapkan kata-kata itu dengan mudah dan tanpa beban. Sebenarnya terbuat dari apa hati Aliya?
"Jadi anda tidak berniat menjadi Ratu?" Baru saja Aliya akan menjawab pertanyaan Seulgi suara Pelayan Hwang lebih dulu menghentikan itu.
"Maaf menganggu Yang Mulia, tapi ada yang ingin menemui Permaisuri" Aliya menoleh dan menatap pelayan Hwang seolah bertanya siapa. Tapi pelayan Hwang hanya tersenyum dan menyingkirkan tubuhnya lalu sosok jakung seorang pria dengan baju sederhana dengan pedang yang ada ditangannya membuat Aliya tersenyum haru dan menggeleng tidak percaya.
Tanpa memperdulikan Raja dan Selir Kang yang ada disampingnya Aliya berlari kencang menuju laki-laki tersebut dan menumburukkan tubuhnya kepelukan hangat laki-laki itu.
Melihat apa yang Aliya lakukan Jimin terlihat tidak suka dan Seulgi justru tersenyum senang. Aliya berani memeluk laki-laki didepan Raja? Bukankah itu bisa menjadi masalah.
"Bogoshipoe" lirih laki-laki itu dan mengeratkan pelukannya sedangkan air mata Aliya mulai jatuh mendengar ucapan lirih itu.
"Nado Bogoshipoe"
Tbc.