Happy Reading.
*
'Dia Jeon Jungkook. Kakak sepupu Permaisuri' Jimin terdiam saat kata-kata Pelayan Hwang kembali terngiang ditelinganya. Pelayan Hwang mengatakan jika mereka sudah lama terpisah dan kembali bertemu saat ini.
"Jeon Jungkook?" Jimin pernah mendengar nama itu. Terasa tidak asing dan Jimin sedang mencoba mengingatnya. Sosok jakung Jeon Jungkook mengingatkan Jimin pada seseorang dimasa lalu. Tapi siapa? Kenapa wajah Jeon Jungkook begitu familiar dimatanya.
"Yang Mulia~~" Jimin tersentak saat mendengar panggilan yang ia yakini dari Aliya. Menengok belakang dan menemukan Aliya yang berdiri diambang pintu dengan Jeon Jungkook yang ada dibelakangnya.
"Boleh saya masuk?" Pertanyaan yang dilontarkannya Aliya hanya dibalas anggukan kepala dari Jimin.
Aliya tersenyum dan menarik Jeon Jungkook untuk masuk kedalam. Mata Jimin fokus pada tangan Aliya yang menggenggam tangan Jeon Jungkook. Kenapa harus digandeng? Bukankah mata Jeon Jungkook berfungsi dengan baik untuk melihat jalan?
"Sebelumnya saya minta maaf untuk kejadian tadi. Saya rasa tadi saya sangat tidak sopan, saya hanya terlalu terkejut melihat kakak saya ada disini. Sekali lagi maaf" ujar Aliya lembut dan menatap Jimin.
"Aku mengerti" jawaban Jimin membuat Aliya tersenyum.
"Saya kesini ingin minta ijin pada Yang Mulia untuk mengijinkan kakak saya tinggal di sini untuk beberapa waktu kedepan. Apa Yang Mulia keberatan?" Tanya Aliya sopan dan tidak meninggalkan kesan anggun. Sementara Jimin mulai memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan.
Lain halnya dengan Jeon Jungkook yang masih diam memperhatikan Jimin. Mata tajam Jeon Jungkook terlihat datar saat melihat Jimin yang berfikir. Sampai jawaban Jimin membuat Jeon Jungkook tersenyum samar.
"Dia boleh tinggal disini"
*
"Orabonie suka?" Jeon Jungkook tersenyum dan mengusap Surai hitam Aliya dan membuatnya tersenyum.
"Kau tumbuh dengan cepat rupanya" Aliya tersenyum dan mengangguk antusias. Keduanya masih melepas rindu dan sekarang sedang ada ditaman istana. Sudah 10 tahun keduanya tidak bertemu jadi wajarkan jika keduanya terlihat begitu saling merindukan?
"Orabonie tahu dari mana jika aku ada disini?" Pertanyaan yang diajukan Aliya membuat Jungkook tersenyum tipis.
"Tidak ada yang tidak tau jika Aliya kecil sudah menjadi Permaisuri Raja Park Jimin sekarang" jawab Jungkook datar dan membuat Aliya terkekeh pelan. Ternyata Jungkook masih sama saja. Datar dan menyebalkan jika dilihat dari luar dan begitu hangat jika sudah dilihat dari dekat.
"Orabonie tinggal dimana selama ini?" Tanya Aliya yang ingin tahu dimana kakaknya tinggal selama ini. Jelas Aliya harus tau dimana kakaknya tumbuh selama 10 tahun ini. Pergi dari rumah saat usia yang baru menginjak 12 tahun dan hilang selama 10 tahun tanpa kabar yang jelas.
"Dimana pun tempatnya Orabonie pasti bisa tinggal. Dan kau tidak perlu khawatir. Orabonie bukan anak kecil lagi" jawaban yang dilontarkan Jungkook membuat Aliya kesal. Setidaknya berikan keterangan yang jelas.
"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi dimana Orabonie tinggal selama ini. Yang penting Orabonie akan tinggal lama denganku kan?" Tanya Aliya antusias dan membuat Jungkook tersenyum manis.
"Harus. Orabonie harus tinggal lama denganmu. Lagi pula Orabonie sangat merindukan adik kecil Orabonie ini. Dan jangan tanya kapan Orabonie pergi dari sini karena Orabonie sendiri tidak bisa menjawabnya" Aliya tersenyum penuh kebahagiaan dan mengangguk antusias. Ia senang Jungkook akan tinggal lama dengannya.
"Aliya sayang Orabonie" Jungkook tertawa dan mencubit pipi tembem Aliya.
"Dasar bocah" Aliya merengut dikatai bocah. Dirinya sudah dewasa. Usianya sudah 20 tahun sekarang.
Melihat wajah kesal Aliya, Jungkook tertawa dan terus meledek Aliya sontak Aliya jadi kesal dan mulai mencubit Jungkook. Keduanya terlihat begitu bahagia dan tidak sadar jika ada dua pasang mata yang tengah menatap mereka. Satu dengan pancaran mata yang tidak suka, dan yang satu pancaran mata dengan berbagai rencana licik. Park Jimin dan Kang Seulgi.
*
Jimin dan Aliya terlihat diam saja dalam kamar. Aliya sendiri bingung kenapa Jimin ada disini. Ia kira Jimin akan bersama Seulgi. Bukankah umum dua orang yang saling mencintai menghabiskan waktu bersama? Tapi kenapa Jimin tidak melakukannya? Bukankah mereka saling mencintai?
"Permaisuri terlihat dekat dengan Jeon Jungkook?" Aliya tersentak mendengar pertanyaan Jimin. Ada yang aneh dengan pertanyaan Jimin, kenapa Jimin harus menayakan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Seorang adik pasti akan dengan kakaknya Kan?
"Maaf Yang Mulia apa ada yang salah? Kami terbiasa hidup bersama dari kecil dan Orabonie Jeon sudah meninggalkan saya selama 10 tahun ini. Wajarkan jika saya merindukannya?" Tanya Aliya yang balik bertanya. Sementara Jimin hanya diam mendengar pertanyaan Aliya. Kenapa terlihat jika Jimin sedang cemburu?
"Aniya. Hanya saja kalian sudah sama-sama dewasa dan kedekatan kalian bisa menimbulkan kesan tidak baik dimata orang. Kalian adalah saudara tapi tidak banyak yang tau. Ingat statusmu sebagai Permaisuri" Aliya tau jika ada maksud lain dari Jimin. Jimin ingin Aliya tidak terlalu dekat dengan Jungkook.
"Saya mengerti Yang Mulia" jawab Aliya yang tidak mau berdebat dengan Jimin.
"Bagus jika Permaisuri faham, sekarang siapkan baju untukku" kata Jimin yang membuat Aliya menyeringit aneh.
"Baju? Yang Mulia bermalam disini?" Jimin mengangguk yakin dan membuat Aliya hanya bisa menurutinya.
"Akan segera saya siapkan"
*
"Kurasa itu cukup" kata Seulgi yang memperhatikan ranjangnya yang sudah penuh dengan kelopak bunga mawar. Bukankah ini terlihat romantis? Keadaan Kamar yang remang-remang dengan pencerahan lilin-lilin kecil dan aroma terapi yang menenangkan. Malam ini adalah malam spesial bagi Seulgi, karena malam ini dirinya akan menghabiskan malam bersama Yang Mulia Raja.
"Carikan Yang Mulia dan katakan jika aku menunggunya" perintah Seulgi pada pelayannya.
"Saya mengerti Selir Kang" Seulgi tersenyum puas dan mengamati ranjangnya.
"Malam ini pasti akan menjadi malam yang panjang" ujar Seulgi dengan senyum manis.
*
Pelayan Seulgi terlihat kebingungan mencari Raja, pelayan itu sudah berkeliling istana untuk mencari Raja tapi tidak menemukannya. Sampai pelayan tersebut bertemu dengan pelayan Hwang dan bertanya dimana Raja.
"Katakan pada Selir Kang jika Yang Mulia Raja sedang bersama Permaisuri" ujar Pelayan Hwang dan berlalu begitu saja.
"Permaisuri? Hah Pasti Selir Kang akan marah lagi"
*
"Tidak tidur?" Aliya tersentak saat mendengar pertanyaan Jimin. Ia kira Jimin sudah tidur karena ini sudah menunjukkan waktu tengah malam.
"Hem saya belum bisa tidur" jawab Aliya tanpa berbalik. Mereka memang saling membelakangi.
"Berbalik lah" ujar Jimin dan Aliya sedikit ragu untuk menurutinya, tapi Aliya tetap berbalik. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Jimin.
"Wae?" Aliya menatap wajah Jimin dan membuat Jimin merengkuh tubuh Aliya, sontak Aliya membelalakkan matanya kaget. Jimin memeluknya? Ini nyata? Atau Aliya sedang bermimpi?
"Yang Mulia~~~" Jimin mengeratkan pelukannya dan mulai memejamkan matanya.
"Tidurlah" ujar Jimin lembut dan masih membuat Aliya tidak percaya. Akhirnya Aliya mulai menyamankan posisi tidurnya dan perlahan memejamkan matanya, tapi tetap tidak bisa tidur.
Jimin juga tidak bisa tidur, hanya sibuk mengeratkan pelukannya dan susah memejamkan mata. "Yang Mulia~~~" Akhirnya Jimin melonggarkan pelukannya dan menunduk untuk menatap wajah Aliya.
"Apa yang membuat mu tidak bisa tidur?" Tanya Jimin lembut dan membuat Aliya mendongak menatapnya.
"Entahlah. Saya memang akan sering seperti ini" ujar Aliya pelan.
"Ada yang ingin Permaisuri tanyakan?" Tawaran Jimin membuat Aliya berfikir untuk bertanya atau tidak, tapi Aliya penasaran jika tidak bertanya.
"Uhm, kenapa Yang Mulia tidak menghabiskan malam ini dengan Selir Kang?" Tanya Aliya yang terdengar ragu.
"Entahlah. Aku hanya ingin bersamamu hari ini" Jawaban Jimin membuat seluruh sendi Aliya terasa lemas. Detak jantung yang terasa lebih cepat dan merasakan kupu-kupu yang terbang didalam perutnya.
"Tapi kenapa?" Pertanyaan Aliya membuat Jimin menundukkan wajahnya lebih dekat pada Aliya. Menyatukan dahi mereka dan kembali mengeratkan pelukannya.
"Aku sendiri tidak tau jawabannya~~~chuu" bibir Jimin menempel lembut pada bibir Aliya dan itu sukses membuat Aliya mematung.
Ciuman Jimin benar-benar lembut dan membuat Aliya terbuai dan akhirnya ikut memejamkan matanya lalu membalas ciuman Jimin.
Begitu lembut dan saling memanggut. Keduanya larut dalam ciuman manis yang berubah menjadi gairah. Tubuh kecil Aliya sudah ada dibawah Jimin, apalagi dengan tangan Jimin yang mulai melepas tali gaun tidur Aliya.
Bergerak tidak sabar dan berakhir membuat gaun tidur Aliya robek. Aliya hanya mengikuti nalurinya dan membiarkan akal sehatnya tersingkir untuk malam ini. Dirinya juga menginginkan Jimin.
"Uh~~" bergerak dengan cepat dan membuat Aliya melenguh pelan. Tangan Jimin berhasil menyingkirkan gaun tidur Aliya dan melemparkannya kelantai.
Tangan Jimin bergerak mengalungkan tangan Aliya kelehernya dan memperdalam ciumannya. Bergerak liar dan terus mengecup bibir Aliya. Menelusupkan lidahnya pada mulut Aliya dan berakhir berperan lidah.
Aliya masih kalah jauh dengan Jimin, bisa dibilang Aliya adalah amatir. Jemari Aliya meremas lembut rambut Jimin.
"Yang Muliaahh~~~" Aliya mendesah dalam ciumannya saat tangan Jimin sudah sampai pada dadanya. Meremasnya dengan lembut hingga tubuh Aliya melengkung keatas seolah meminta lebih.
"Sebut namaku Aliyahh" akhirnya Jimin menyebut nama asli Aliya tanpa embel-embel Permaisuri.
"Tidakhh! Ah" Jimin bergerak lebih saat Aliya tidak menuruti keinginan. Dan Aliya semakin dibuat frustasi karena Jimin terus saja mempermainkan tubuhnya.
"Katakan~~~" Aliya menyerah dan berakhir memeluk kepala Jimin dengan erat.
"Jiminahhh~~~Jebhaal" ujar Aliya yang sudah benar-benar kehilangan kesadarannya. Sementara itu Jimin yang mendengarnya tersenyum manis dan mengecup leher Aliya dengan kuat dan meninggalkan jejak kepemilikannya dileher Aliya.
Keduanya semakin larut dalam malam yang panas dan manis sampai tepat saat Jimin akan menyatukan tubuh mereka suara pintu yang terbuka menghentikan kegiatannya.
Jimin menengok belakang dan menemukan Seulgi yang berdiri mematung diambang pintu. Wajah Jimin berubah dingin lalu turun dari tubuh Aliya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Aliya. Aliya yang awalnya terpejam ikut membuka matanya saat Jimin menyelimuti tubuhnya dan sudah tidak menemukan Jimin diatasnya lagi.
"Tunggu sebentar!" Jimin berucap begitu lembut pada Aliya dan tidak lupa memberikan ciuman manis dibibir Aliya. Bergerak cepat turun dari ranjang dan memakai cepat jubah tidurnya.
Berjalan cepat kearah pintu dan Aliya baru tau jika ada Seulgi disana. Aliya tidak tau harus bereaksi apa. Melihat Jimin menarik Seulgi keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan kasar. Tapi Aliya tau satu hal diakhir malam ini. Jimin tidak akan kembali kesini. Itu pasti, keduanya Jimin dan Seulgi pasti akan bersama dan Aliya akan ditinggalkan malam ini.
Tersenyum miris dan bangkit dari tidurnya, memakai selimut dan berjalan kearah kamar mandi. Aliya tidak bisa membiarkan seseorang mendengar tangisannya.
*
"Lama tidak bertemu Orabonie Jeon" Jungkook tersenyum dan mengusap kepala Jung Soo Hyun.
"Terima kasih karena sudah menjaganya Soo Hyun-ah" ujar Jungkook tulus.
"Jangan ucapkan terima kasih Orabonie Jeon. Itu adalah tugasku, lagi pula aku sudah berjanji pada Orabonie" Jungkook mengangguk dan mengarahkan pandangannya kelangit yang penuh bintang.
"Terima kasih juga karena tetap membiarkannya tidak tau" pandangan mata Jung Soo Hyun berubah sendu.
"Bagaimana keadaannya?" Jungkook tersenyum miris mendengar pertanyaan Jung Soo Hyun.
"Sama seperti 10 tahun yang lalu. Hanya saja sudah tumbuh dewasa" ujar Jungkook.
"Apa kedatangan Orabonie Jeon kesini untuk menuruti perintah Orabonie?" Jungkook mengangguk.
"Aku juga harus menepati janji. Bukan hanya pada Hyung, Aliya dan kau. Tapi pada Kedua orang tuaku" jawab Jungkook lirih dan membuat Jung Soo Hyun menggigit bibir bawahnya kuat.
"Aku berharap semua akan baik-baik saja"
*
Aliya menggigit bibir bawahnya dengan kuat saat Jimin semakin menjadi dengan kecepatan gerakan tubuhnya. Tubuh Aliya sedikit menggigil karena keadaan mereka yang tengah berada didalam bak mandi berisi air.
"Sejaahh~~" mendesah pelan memanggil nama Jimin dan semakin membuat Jimin bergerak liar. Aliya fikir malam ini akan berakhir menyedihkan untuknya tapi fikiran itu melesat.
Saat masih berendam dalam bak mandi tiba-tiba Jimin masuk kedalam dan ikut bergabung. Tanpa berbicara apapun Jimin kembali melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda tadi. Aliya benar-benar dibuat gila dengan ini.
"Sejaahhh~~~" Jimin bergerak semakin kuat saat kenikmatan itu akan menghampirinya, apalagi dengan Aliya yang sudah kalah dulu.
"Ahhh!" Tubuh Jimin bergetar mendapatkan pelepasannya untuk kesekian kali. Melepaskan semua cairanya kedalam tubuh Aliya.
Nafas keduanya masih terengah-engah, sampai Jimin sadar jika tubuh Aliya menggigil kedinginan. Menurunkan Aliya yang tengah mengangkang diatasnya dan bergerak membawa Aliya keluar dari bak mandi tanpa menggunakan apapun. Wajah Aliya merah padam dengan apa yang Jimin lakukan.
Berakhir dengan menelusupkan wajahnya di dada keras Jimin dan membuat Jimin terkekeh geli. "Kenapa harus malu?" Pertanyaan Jimin semakin membuat Aliya malu.
Jimin sampai di ranjang, menurunkan Aliya dengan pelan dan ikut berbaring di ranjang lalu menyelimuti tubuh mereka dengan selimut dan menarik Aliya dalam pelukannya. "Masih tidak bisa tidur?" Aliya menggeleng kuat dan langsung memejamkan matanya.
"Tidurlah" Jimin juga ikut memejamkan matanya. Tubuhnya juga sangat lelah karena harus mengurus Seulgi dulu sebelum melanjutkan kegiatannya dengan Aliya tadi.
"Bagaimana dengan Selir Kang?" Tanya Aliya yang ingat kejadian tadi.
"Lupakan itu. Bukan urusanmu untuk tau. Lebih baik tidur, tubuhmu pasti menggigil karena tadi" ujar Jimin dan membuat Aliya pasrah lalu memejamkan matanya untuk tidur.
"Mimpi indah Permaisuri" lirih Jimin.
"Raja juga"
TBC.