Happy Reading.
*
Aliya mengepalkan tangannya dengan kuat saat mendengar hinaan Seulgi padanya. Jelas Seulgi mempermasalahkan kejadian semalam. Apalagi Seulgi melihat sendiri apa yang mereka lakukan.
Telinga Aliya benar-benar sudah tidak bisa mendengar ucapan Seulgi, dengan emosi yang sudah ada di ubun-ubun Aliya dengan kasar mengangkat tangannya dan berakhir menimbulkan suara nyaring karena tangan itu sampai tepat dipipi Seulgi.
"Permaisuri~~~" Aliya tidak menoleh mendengar teriakkan Jimin. Aliya sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan kemarahan Jimin. Yang harus dirinya tau adalah Seulgi harus dihentikan.
Sementara Seulgi memegangi pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan Aliya. Tenaga Aliya tidak bisa diremehkan. Mata Seulgi menatap tajam Aliya, dan Aliya tidak peduli.
"Apa yang Permaisuri lakukan?" Tubuh Aliya tertarik kasar oleh tangan Jimin. Menatap Jimin dengan sorot dingin dan tidak peduli.
"Bagaimana bisa Permaisuri melakukan hal memalukan ini? Menampar Selir Kang didepan umum? Itu tidak pantas untuk seorang Permaisuri. Sekarang minta maaf" Bentakan keras Jimin membuat Aliya tidak bergeming. Masih menatap Jimin dengan sorot mata yang sama dan berlalu begitu saja. Bahkan teriakan Jimin yang menyuruhnya kembali tidak dipedulikan Aliya. Terus melangkah menjauh mengikuti kakinya.
Jimin menghembuskan nafasnya dengan kasar dan melirik Seulgi yang masih memegangi pipinya. "Bawa Selir Kang ketabib. Obati lukanya" ujar Jimin dan pergi begitu saja.
Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah Seulgi. Walaupun pipinya sakit tapi setidaknya dirinya berhasil membuat pertengkaran antara Jimin dan Aliya. "Kajja Selir Kang" Seulgi mengikuti tarikan Pelayan-nya menuju ruangan tabib.
*
"Uljima~~~" Jungkook mengusap lembut punggung Aliya yang sedang menangis sesenggukan. Mereka ada dikamar Jungkook. Setelah pertengkaran dengan Jimin tadi Aliya berlari menuju kamar Jungkook. Jungkook sendiri baru saja selesai berbenah karena selesai latihan pedang dengan para Prajurit, dan melihat Aliya yang sudah menangis dikamarnya.
"Kenapa Yang Mulia Raja Membentakku? Ini salah Selir Kang, Orabonie Hiks" Aliya masih saja menangis dan Jungkook dengan setia mendengarkan keluhannya mengenai masalah tadi.
"Mungkin Yang Mulia tidak tau. Kenapa kau tidak menjelaskannya?" Tanya Jungkook lembut.
"Yang Mulia membentakku duluan dan aku sudah benci jika diperlakukan seperti itu" kebiasaan Aliya tidak berubah. Begitu benci dibentak dan didiami dan Jungkook tau apa saja yang akan Aliya lakukan juga sudah seperti itu.
Pergi menjauh dari orang yang membentaknya dan tidak mau menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Sudahlah lagi pula kemarin kau bilang jika sudah dewasa, kenapa sekarang kau menangis?" Tanya Jungkook mencoba mengalihkan Aliya yang terus saja menangis.
"Hiks tapi aku tidak suka dibentak" Aliya masih saja menangis dan membuat Jungkook tersenyum tipis.
"Orabonie tau jika kau tidak suka dibentak, tapi apa Yang Mulia Raja tau kebiasaan buruk itu? Tidakkah?" Mendengar pertanyaan Jungkook tangis Aliya perlahan melemah. Yang dikatakan Jungkook benar juga. Raja tidak tau kebiasaan buruknya.
Jungkook tersenyum dan melonggarkan pelukannya lalu menangkup wajah Aliya, meringis pelan saat melihat wajah basah Aliya, perlahan mengusap pipi Aliya dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis. Sudah kukatakan jika kau jelek menangis. Sekarang diam dan kembali kekamar. Orabonie tidak mau melihat wajah jelekmu lagi" Aliya merenggut mendengar ucapan Jungkook.
"Aku tidak jelek" elak Aliya pelan.
"Makanya berhenti menangis. Sekarang kembali kekamar. Soo Hyun pasti sedang mencarimu. Sana" Aliya mengangguk dan mengusap sisa air matanya, bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari kamar Jungkook tapi saat sampai di pintu Aliya kembali berbalik dan menatap Jungkook.
"Orabonie jangan bilang pada siapa-siapa jika aku menangis?" Jungkook menahan tawanya dan mengangguk kecil.
"Awas jika bilang" ancam Aliya dan benar-benar pergi. Sementara Jungkook melepaskan tawanya saat Aliya benar-benar menghilangkan dari pintu kamarnya.
"Aku tidak akan bilang pada siapapun, tapi melihat wajahmu semua orang pasti tahu jika kau habis menangis. Wajah dan matamu merah semua"
*
"Saya kira Yang Mulia keterlaluan pada Permaisuri tadi" kata Pelayan Hwang menyuarakan keberatan pada Jimin tentang kejadian bentakan tadi.
"Apa maksudmu? Jelas Permaisuri salah karena menampar Selir Kang" kata Jimin kekeh.
"Yang Mulia pasti mengenal Permaisuri. Jika Selir Kang tidak mencari masalah pada Permaisuri tidak mungkin tangan Permaisuri sampai dipipi Selir Kang. Jelas jika Selir Kang memulai duluan. Permaisuri bukan orang yang suka mencari masalah, apalagi dengan Selir Kang" ucapan Pelayan Hwang mulai membuat Jimin berfikir. Nalurinya mengatakan jika apa yang dikatakan Pelayan Hwang adalah benar, tapi tadi Jimin melihat Aliya yang menampar Seulgi.
"Saya sudah bertanya pada Dayang yang ada disana dan mereka kompak menjawab jika Selir Kang yang membuat masalah dulu dengan Permaisuri" Jimin menghela nafas pasrah mendengar ucapan Pelayan Hwang. Jika sudah begini Jimin yang salah sekarang.
"Singkirkan dulu Malasah pribadiku. Sekarang bahas masalah Istana saja" kata Jimin yang mengalihkan pembicaraan mereka. Biarkan Aliya nanti Jimin yang mengurus.
"Saya mengerti Raja"
*
"Aliya makanlah" Aliya hanya diam saat Jung Soo Hyun menyiapkan sendok nasi padanya. Selera makan Aliya hilang saat mengingat kejadian tadi siang.
"Ayolah Aliya. Kau belum makan dari tadi pagi" bujuk Jung Soo Hyun.
"Aku tidak lapar Soo Hyunie" ketus Aliya dan membuat Jung Soo Hyun semakin memaksa Aliya.
"Satu su~~~" perkataan Jung Soo Hyun terhenti saat mendengar pintu kamar yang terbuka. Menengok kebelakang dan menemukan Jimin yang ada diambang pintu.
Jung Soo Hyun meletakkan piringnya dan bangkit dari posisi jongkoknya. Aliya hanya diam duduk di kursi meja rias. "Jangan lupa makan" ujar Jung Soo Hyun dan berjalan kearah pintu, membungkuk hormat pada Jimin dan berlalu.
Jimin masih berdiri diambang pintu dan menatap Aliya yang tidak bergerak sama sekali, menghela nafas panjang dan menghampiri Aliya
Aliya masih tidak bergeming dan mengabaikan keberadaan Jimin yang semakin berjalan mendekat. Sampai Jimin yang ada didepannya Aliya masih saja diam.
Jimin menghela nafas melihat kebisuan Aliya, menarik nafas dalam-dalam dan berjongkok didepan Aliya yang duduk di kursi. Dengan tangan yang memegang jemari Aliya.
Melihat apa yang Jimin lakukan Aliya tidak bisa menahan keterkejutannya. Jimin berjongkok didepannya? Mimpi apa dirinya semalam.
"Maaf" Jimin yang mengucapkan kata maaf juga tidak membuat Aliya sadar dari keterkejutannya.
"Seharusnya aku tidak membentakmu tadi" Jimin masih saja mengucapkan kata maaf dan Aliya belum juga sadar.
"Permaisuri~~~" panggilan lembut Jimin membuat Aliya tersentak dan menatap Jimin yang ada didepannya.
"Yang Mulia~~~" Aliya masih tidak bisa percaya dengan Jimin yang ada didepannya.
"Mau memaafkan aku?" Mendengar pertanyaan Jimin, Aliya hanya mengangguk pelan. Mulut Aliya terkunci rapat saat ini.
"Sebagai ungkapan rasa bersalah ku, bagaimana jika kita jalan-jalan. Kudengar Permaisuri suka dengan Kuda. Kita bisa melihatnya" ajak Jimin yang masih tetap berjongkok didepan Aliya.
"Tapi ini sudah malam" kata Aliya pelan.
"Apa bedanya? Malam atau siang sama saja" kata Jimin beralasan.
"Apa kudanya tidak tidur?" Tanya Aliya dengan polos dan membuat Jimin tertawa kecil.
"Bisa kita bangunkan. Kajja" Aliya hanya mengikuti tarikan tangan Jimin dan berjalan keluar untuk kekandang kuda. Aliya sendiri bingung dengan apa yang dirinya lakukan. Kenapa juga Aliya begitu mudah mengikuti ajakan Jimin.
"Bisa naik kuda?"
"Tidak! Kau mengajakku naik?"
"Entahlah"
*
Jungkook diam menatap bulan yang bersinar dengan terang. Wajah Jungkook terlihat begitu datar, mencengkram kuat kalung tali dengan bandul manik-manik berwarna merah.
"Semuanya harus selesai Hyung. Aku harus menepati janjiku dan kuharap dengan ini kau akan bahagia" Jungkook memejamkan matanya dan mengangkat kalung yang ada ditangannya.
"Raja Park Hwang Ju harus membayar semuanya. Termasuk dengan kebahagiaan Cucunya" desis Jungkook penuh kebencian dan melempar kalung itu dengan penuh kebencian dan menarik kasar pedangnya.
"Semuanya harus selesai dengan cepat" Jungkook melemparkannya padanya pada kaca dan kaca tersebut pecah seketika.
"Apapun itu harus tetap dibayar. Mata dibalas dengan mata, tangan dibalas tangan dan nyawa dibalas dengan Nyawa. Park Jimin harus menanggung dosa dari Kakeknya"
*
"Aku takuttt" Aliya mencengkram kuat tali ikat kuda dan terus merancau dan membuat Jimin yang ada dibelakangnya terus tertawa. Mereka menaiki kuda bersama dengan keadaan malam hari. Mungkin jika semua orang istana melihat itu pasti akan tertawa. Untung ini malam hari dan tidak ada banyak orang. Hanya para penjaga kuda serta Jimin dan Aliya.
"Hei tenanglah. Permaisuri tidak akan jatuh. Ada aku dibelakang Permaisuri" kata Jimin yang mencoba menenangkan Aliya.
"Aku tidak bisa. Kudanya terus bergerak. Hiks aku takut" mendengar tangisan Aliya, Jimin justru tertawa keras. Aliya yang menangis terlihat lucu dimata Jimin.
"Diamlah. Tidak akan terjadi apa-apa. Percaya padaku" Aliya masih saja menangis dan membuat Jimin bingung.
"Mau menghadap samping?" Tanya Jimin pelan.
"Bagaimana caranya?" Tanya Aliya yang masih menangis.
"Buat kaki Permaisuri menjadi satu arah dan berbalik pelan-pelan" mendengar isntruksi Jimin, Aliya mulai mengikutinya dengan pelan, dan tidak lupa terus mencengkram kuat tali kuda dengan satu tangan nya.
"Bagaimana ini?" Tanya Aliya yang kesusahan menghadap samping. Jimin tersenyum saat melihat wajah Aliya yang basah dengan air mata. Merah semuanya.
"Lakukan dengan pelan dan jangan takut. Aku akan memegangi tangan Permaisuri. Pelan-pelan mengerti?" Kata Jimin memegang tangan Aliya. Perlahan Aliya mengikuti apa yang Jimin katakan dan dirinya berhasil menghadap samping dengan sempurna.
"Hah aku berhasil" Aliya memekik senang dan menengok samping, tapi sialnya wajahnya berhadapan dengan Jimin langsung.
"Ehem pegang tanganku" kata Jimin mengulurkan tangannya dan Aliya mengikutinya.
"Siap berjalan?" Aliya melirik canggung dan menggeleng pelan.
"Apa lagi?" Tanya Jimin aneh.
"Bagaimana bisa Yang Mulia melihat jalan jika aku seperti ini?" Yang ditanyakan Aliya ada benarnya juga. Jimin memang bisa melihat dengan jelas tapi dengan posisi Aliya yang seperti ini Jimin tidak yakin bisa mengalihkan pandangan pada Aliya.
Ada satu cara yang Jimin miliki tapi ia takut Aliya tidak suka. "Tetap mau naik kuda?" Aliya mengangguk dan membuat Jimin memilih pilihan tadi.
"Maaf~~~" Jimin mengarahkan dua tanganya untuk memeluk pinggang Aliya dan menyatukanya dengan pengendali kuda.
"Peluk aku" Aliya menahan nafasnya merasakan apa yang Jimin lakukan. Kenapa jadi seperti ini?
"Yang Mulia?" Jimin memejamkan matanya sesaat dan menarik Aliya agar masuk kedalam pelukannya lalu mengarahkan kepala Aliya kelehernya.
"Hanya ini yang akan membuat kita aman" Aliya mengikuti perlakuan Jimin dan mengarahkan tangannya untuk memeluk leher Jimin.
"Siap?" Aliya menggangguk pelan dan membuat Jimin menarik tali pengendali kudanya dan benar saja kuda mereka mulai berjalan.
"? Permaisuri suka?" Tanya Jimin yang mencoba menghentikan kegugupan yang dialaminya.
"Hem!" Sebenarnya bukan naik kudanya yang Aliya suka, tapi memeluk Jimin dengan posisi seperti ini. Terbukti dengan mata Aliya yang mulai terpejam dan menikmati angin malam.
"Aku ingin pergi jauh. Ketempat yang hanya berisi kita berdua dan tidak ada siapapun yang mengganggu" tanpa sadar Aliya mengucapkan kata-kata yang membuat Jimin diam seketika. Apa itu artinya Aliya hanya ingin hanya berdua dengannya? Hanya dengannya?
"Keberatan jika aku mengajak Permaisuri ketempat masa kecilku?" Tanya Jimin lembut.
"Aniyo" jawab Aliya pelan dan sepertinya masih tidak sadar. Jimin tersenyum dan menjalankan kudanya ketempat yang dirinya maksud. Biarkan malam ini mereka pergi berdua dan menghabiskan waktu bersama seperti apa yang Aliya inginkan. Karena bukan hanya Aliya yang ingin, Jimin pun sama.
*
Didalam gua yang gelap berdiri beberapa orang dengan persenjataan lengkap dan berbaris dengan rapi. Diatas batu besar terdapat satu pria jakung yang berdiri angkuh disana. Menatap sinis para kumpulan orang-orang nya.
"Ada kabar?" Tanya pria tinggi itu dengan dingin.
"Ya Tuan. Tuan Jeon sudah ada disana" pria itu menyunggingkan senyum sinis dan menarik pedangnya.
"Semua akan dimulai. Persiapan diri kalian" cetusnya dingin.
"Maaf Tuan. Apa Tuan tidak akan menunggu Tuan Jeon menyelesaikan rencananya dulu?" Pertanyaan itu terdengar pelan dan membuat pria tinggi itu tertawa sinis.
"Jungkook punya rencana sendiri dan akupun sama. Cara Jungkook dan caraku berbeda jadi jangan samakan kami" cetusnya sinis.
"Lalu kapan Tuan akan pergi? Biarkan kami mempersiapkan semuanya"
"Tidak perlu. Kalian tetap disini. Aku akan pergi sendiri. Aku harus menemui seseorang dulu" jawab pria itu dingin.
"Apa itu adalah Nona Muda?"
"Kau pasti tau itu dengan pasti" jawabnya datar.
"Apa Tuan juga akan menemui Tuan Besar Kim?" Pria itu menyinggungkan senyum sinis.
"Tidak akan pernah terjadi" jawabnya dan berlalu.
Tbc.