Delapan

1760 Words
Happy Reading. * Aliya menatap aneh sebuah kalung yang ia temukan dilantai kamar Jungkook. Aliya ingin membereskan barang-barang Jungkook yang akan digunakan untuk pergi berburu tapi justru Aliya menemukan kalung lama dengan manik-manik berwarna merah. "Aku seperti pernah melihat ini" ujarnya mengamati Kalung itu. "Tapi dimana?" Aliya masih mencoba berfikir sampai panggilan lembut Jung Soo Hyun dari belakang membuat Aliya menyimpan kalung itu dibajunya dengan cepat. "Kenapa lama sekali. Orabonie Jeon akan berangkat" Aliya mengangguk mengerti dan berjalan keluar. Sementara Jung Soo Hyun hanya menghela nafas melihat punggung Aliya yang semakin menjauh. "Kenapa ini jadi semakin panjang?" Gumam Jung Soo Hyun lirih dan mengamati kamar Jungkook. "Kuharap Orabonie tidak terluka lagi" * "Jangan banyak berbuat ulah. Orabonie akan segera kembali dan membawa hasil buruan" kata Jungkook saat Aliya mengantarnya kedepan gerbang istana. "Orabonie hati-hati saja. Jangan sampai terluka di hutan" pesan Aliya lembut dan membuat Jungkook mengangguk. "Orabonie berangkat" pamit Jungkook dan berjalan menjauh dari Aliya. "Orabonie~~~" Jungkook menengok saat mendengar panggilan Aliya. "Mwo?" Tanya Jungkook. "Hem apa dulu Orabonie punya teman selain Orabonie Tae?" Pertanyaan Aliya membuat Jungkook bungkam. Kenapa Aliya menanyakan pertanyaan itu. "Wae?" Tanya Jungkook pelan. "Aniya hanya ingin bertanya. Oh ya jangan lupa pulang cepat. Beberapa hari lagi peringatan kematian Eomma, Appa, Orabonie Tae dan Orabonie Jin" wajah Jungkook berubah sendu saat mendengar ucapan Aliya. "Orabonie" panggil Aliya yang menyadarkan Jungkook. "Aku akan pulang cepat. Kau tunggu saja dan siapkan semuanya" Aliya mengangguk dan membuat Jungkook langsung menjalankan kudanya. Aliya masih mengamati punggung Jungkook yang menjauh dan menghela nafas panjang. "Kenapa aku merasa jika Kalung itu lebih dari dua ya? Bukankah dulu Orabonie Tae membuat tiga kalung. Satu untuknya, untuk Orabonie Jungkook dan satunya lagi untuk siapa?" Aliya semakin bingung saat mencoba mengingat kejadian dimasa lalu. Dulu Jungkook pergi dari rumah setelah kematian Semua keluarganya, dan sejak saat itu Jungkook tidak pernah kembali. Jungkook memang besar dengan keluarganya karena orang tua Jungkook meninggal saat masih bayi karena serangan saat perang. Dan sejak saat itu Jungkook dirawat keluarganya dan menjadi anak ke-3 dari orang tuanya. "Apa mungkin satunya lagi dimiliki Orabonie Jin?" * "Pergi kemana Yang Mulia dengan Permaisuri selama 3 hari ini?" Jimin hanya diam mendengar pertanyaan Seulgi. "Hanya mengunjungi tempat lama" jawab Jimin singkat. "Sebenarnya apa ini? Yang Mulia menikahi saya dan tidak pernah menyentuh saya. Kenapa?" Teriakan Seulgi membuat Jimin kembali diam. Entah kenapa menyentuh Seulgi tidak bisa Jimin lakukan. Saat bersama Seulgi, Jimin hanya bisa mengingat Aliya, dan itu tidak bisa berubah. Pernah sekali Jimin mencoba melakukanya pada Seulgi tapi berakhir gagal karena wajah Aliya yang menghiasi fikiranya. Dan berakhir Jimin pergi kekamar Aliya dan kembali menghabiskan waktunya dengan Aliya. Apa yang salah denganya? Dirinya menikahi Seulgi dan kenapa dirinya tidak bisa menyentuh Seulgi? "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kulakukan Selir Kang tapi saat ini keadaan ku benar-benar kurang baik. Jadi bisakah kau meninggalkan aku?" Pinta Jimin lembut. "Tapi Yang Mulia harus berjanji jika malam ini adalah waktu Yang Mulia untukku? Yang Mulia harus adil" Jimin hanya mengangguk pelan dan membuat Seulgi pergi dari hadapannya. "Huh kepalaku pusing" "Yang Mulia" Jimin berbalik saat mendengar panggilan Pelayan Hwang. "Ada apa?" Tanya Jimin datar. "Ini laporan untuk pajak bulan lalu. Dan ya rakyat mengirim banyak sekali herbal untuk Permaisuri. Mereka bilang jika ingin segera melihat Pewaris dari Permaisuri" wajah Jimin dihiasi senyum saat mendengar ucapan Pelayan Hwang. "Mereka ada-ada saja" kekeh Jimin yang mulai membaca laporan dari Pelayan Hwang. "Oh ya Yang Mulia pergi kemana selama 3 hari ini dengan Permaisuri?" Bukannya menjawab pertanyaan Pelayan Hwang, Jimin justru tersenyum manis dan membuat pelayan Hwang juga ikut tersenyum. Pasti ada kejadian manis antara mereka. Flashback Keduanya masih sama-sama diam. Aliya yang masih menikmati pelukan pada tubuh Jimin dan Jimin sendiri mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Harum tubuh Aliya benar-benar mengganggu konsentrasi Jimin. Perjalanan mereka cukup jauh, hanya saja ini jalan rahasia dan hanya para orang-orang tertentu yang tau jalan ini. Sampai Jimin sampai pada sebuah taman yang ada dibalik rumput liar yang panjang. Taman ini memang ditutupi rumput liar yang panjang sebagai samarannya. Jimin tersenyum melihat taman ini yang dijaga dengan baik, masih banyak bunga lama yang tumbuh. Rumah pohon kecil dan lapangan yang luas. Masih sama seperti dulu. Cukup lama Jimin diam dan membiarkan dirinya mengenang masa lalu, sampai keadaan Aliya yang masih memeluknya membuat Jimin sadar jika sepertinya Aliya belum sadar. "Masih mau memelukku?" Tanya Jimin lembut. "Hem" Jimin tidak bisa menahan senyumnya mendengar ucapan jujur Aliya. "Kita sudah sampai" kata Jimin yang membuat Alia membuka matanya. Melepaskan pelan pelukannya dan memegang tangan Jimin untuk menjaganya agar tidak jatuh. "Lihat Depan" pinta Jimin dan Aliya menurutinya. Mata Aliya berbinar melihat taman ini. Bahkan bibir Aliya terbuka karena kagum dengan taman ini. "Mau turun?" Aliya mengangguk antusias dan Jimin bergerak turun dulu, lalu mengangkat tubuh Aliya untuk turun. "Hup~~~" tubuh Aliya jatuh kepelukan Jimin dan Aliya segera melepaskan diri dan mengucapkan terima kasih. "Ini malam hari tapi kenapa tamanya terlihat sangat indah?" Puji Aliya yang tidak menyembunyikan kekagumannya. "Akan lebih indah jika pagi hari. Mau menunggunya?" Tawar Jimin yang membuat Aliya tertarik. "Itu artinya kita harus tidur disini? Lalu dimana kita tidur?" Tanya Aliya dan membuat Jimin menunjuk rumah pohon kecil diatas. "Bisa tidur disana?" Tanya Aliya ngeri dan membuat Jimin terkekeh pelan. "Takut?" Anggukan polos Aliya membuat Jimin tertawa. "Jika nanti rumah itu Roboh pasti kita jatuh berdua. Jangan takut eoh. Kajja" Jimin menarik Aliya untuk berjalan kesana. "Permaisuri mau naik dulu?" Aliya menggeleng cepat mendengar pertanyaan Jimin. "Baiklah aku naik dulu" Jimin dengan mudah memanjat rumah pohon itu dan saat sampai diatas Jimin mengulurkan tangannya untuk Aliya. Aliya masih merasa takut tapi Jimin menyakinkan bahwa akan baik-baik saja. Dan Aliya tidak punya pilihan lain untuk ikut naik. "Pegang tanganku" pinta Jimin saat Aliya sudah tidak jauh darinya. Tangan Aliya bergerak mengulurkan ketangan Jimin. Dan saat tangan mereka menyatu Jimin langsung menarik Aliya keatas. "Wah Daebak" puji Aliya saat sudah sampai diatas. Pemandangannya jauh lebih indah jika dilihat dari sini. "Suka?" Aliya mengangguk antusias. "Kenapa ditutup pintunya?" Tanya Aliya bingung dan Jimin hanya bisa tersenyum. "Ini sudah malam. Tidak mau tidur?" Tanya Jimin lembut dan membuat Aliya sadar jika mereka pergi malam hari. "Kajja kita tidur?" Ajak Jimin yang mengulurkan tangannya dan Aliya menyambutnya dengan senang hati. Jimin menarik untuk berbaring dan Aliya menggunakan lengan Jimin sebagai bantalnya dan Jimin tentu saja memeluk Aliya dengan erat. "Apa Yang Mulia pernah mengajak Selir Kang kesini?" Tanya Aliya ingin tau. Setidaknya Aliya harus sadar jika bukan dirinya yang pertama diajak~~~ "Tidak pernah. Kau yang pertama" Aliya terkejut mendengar jawaban Jimin. "Jinjjayo?" Tanya Aliya tidak percaya dan mendongak menatap Jimin sontak saja Jimin membalas tatapan Aliya. "Hem~~~chu" Aliya tidak terkejut saat Jimin menciumnya. Hari ini terlalu banyak kejadian yang mengejutkan yang dirinya alami dengan Jimin. Memejamkan matanya dan menikmati ciuman Jimin yang mulai memanas. Aliya meremas baju bagian depan Jimin saat tubuhnya mulai ditindih. "Seja~~~!" Jimin memperdalam ciumannya dan mulai melepas tali baju Aliya. Bergerak cepat hingga baju Aliya tanggal dari tubuhnya. Bibir Jimin semakin memperdalam ciuman mereka dan mengekspos penuh bibir Aliya. Rasanya begitu manis dan membuat Jimin tidak bisa berhenti mengecupi nya. Nafas Aliya mulai terengah karena pasokan oksigen yang semakin menipis. Menyadari jika Aliya sudah mulai tidak bisa bernafas, Jimin melepaskan ciumannya dan mengecupi seluruh wajah Aliya. Mengecup lama dahi Aliya, kedua mata, hidung, pipi dan dagu lalu kembali ke bibir. Mengecupnya pelan dan beralih keleher. Jimin mengecupi pelan leher Aliya, menghisap satu titik disana dan hanya meninggalkan satu tanda. Wajah Aliya mendongak keatas dengan mulut terbuka karena menahan kenikmatan yang diberikan Jimin. "Uh!" Kembali melenguh saat Jimin meremas dadanya dan Aliya benar-benar dibuat melayang dengan ini. Aliya mulai mengikuti nalurinya. Mengarahkan tanganya untuk melepas tali baju Jimin. Merasakan tangan Aliya yang bergerak ditubuhnya Jimin hanya diam. Membiarkan Aliya mengeksposnya, melihat wajah Aliya yang memerah Jimin hanya bisa mengulum senyum. "Kenapa harus malu? Hanya ada kita berdua" lirih Jimin dan membuat Aliya mendongak menatapnya. "Aniya" Aliya meraih wajah Jimin dan kembali menyatukan bibir mereka. Jimin sendiri tidak terkejut menerima serangan Aliya. Bukankah sifat asli seseorang akan hilang jika sudah dihadapkan dengan gairah? "Hem!" Merasakan Aliya yang kesusahan melepaskan tali bajunya, Jimin ikut membantu dan akhirnya baju Jimin ikut terlepas. "Ah!" Mendesah lembut saat merasakan jari kecil Aliya yang menari ditubuhnya. Jimin membiarkan Aliya menguasainya dan bergerak dengan lambat. Menikmati setiap detik keindahan tubuh Aliya dan benar-benar mengingatnya. Bergerak berirama dan saling mendesah. Keduanya larut dalam kenikmatan yang begitu indah malam ini, sampai pekikan kenikmatan yang mereka suarakan mengakhiri semuanya. Tubuh Jimin ambruk diatas tubuh Aliya dengan nafas yang tersengal-sengal. Keringat masih membanjiri tubuh mereka dan keduanya masih saja diam. "Kuharap akan ada seseorang yang memanggil ku Ayah secepatnya" ucapan Jimin membuat Aliya tersenyum simpul. "Aku pun mengharapkan itu" balas Aliya yang membuat Jimin menatapnya. "Harapan kita sama" ujar Jimin dan kembali memanggut bibir Aliya "Sejahhh!" Flashback end. * "Pergi" desis Seulgi tajam pada Pelayan-nya. Seulgi diliputi kemarahan karena penolakan Jimin yang terus-menerus padanya. "Mohon maaf Selir Kang ada yang ingin menemui anda" ujar Pelayan pribadinya. "Aku tidak peduli siapa yang akan menemuiku, sekarang pergi dari sini" usir Seulgi yang sudah benar-benar emosi. "Dia mengatakan jika ini berhubungan dengan Permaisuri" ucapan itu membuat Seulgi mulai tertarik. "Katakan padanya untuk masuk" ujar Seulgi datar. "Saya mengerti" * "Kenapa dengan perutmu?" Tanya Jung Soo Hyun pada Aliya yang terus saja tersenyum dan mengusap perutnya. "Aniya" balas Aliya dan menurunkan tangannya. "Oh ayolah katakan ada apa?" Tanya Jung Soo Hyun penasaran dan membuat Aliya tersenyum. "Tapi kau janji tidak akan bilang siapa-siapa?" Jung Soo Hyun mengangguk pelan. "Yang Mulia~~~" ucap Aliya menggantung dan membuat Jung Soo Hyun semakin penasaran. "Ada apa dengan Yang Mulia?" Tanya Jung Soo Hyun kesal. "Yang Mulia ingin seorang Anak dariku Soo Hyunie" jawab Aliya yang tidak melupakan senyumannya. "Hah? Jinjja?" Aliya mengangguk antusias dan menceritakan tentang keinginan Jimin mengenai anak darinya. Tentu saja saat kepergian mereka selama 3 hari lalu. "Wah Daebak. Kufikir Yang Mulia menginginkan anak dari Selir Kang tapi ternyata darimu" puji Jung Soo Hyun tidak percaya. "Entahlah Soo Hyunie aku sendiri bingung kenapa Yang Mulia bisa berkata seperti itu" ujar Aliya menerawang kedepan. "Lalu apa kau akan menuruti permintaan Yang Mulia?" Tanya Jung Soo Hyun dalam. "Menurutmu aku harus apa?" Balik Aliya yang bertanya. "Kalau itu terserah padamu. Tapi menurut sudut pandang ku kau harus menuruti keinginan Raja. Karena kau adalah istrinya terlepas dari status mu sebagai Permaisuri" Aliya mengangguk mendengar ucapan Jung Soo Hyun. "Aish sudahlah aku mau mandi" kata Aliya mengakhiri pembicaraan mereka. "Kuharap Orabonie Jeon tidak melakukan hal yang buruk pada Yang Mulia Raja" lirih Jung Soo Hyun pelan. "Bagaimana keadaan kalian?" Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD