Ending

1966 Words
Happy Reading * Pernikahan Taehyung dan Lisa digelar begitu meriah dan semarak. Pesta rakyat digelar selama 3 hari, dan ada kunjungan ke istana bagi yang berminat. Baik Taehyung maupun Lisa sebenarnya ingin pernikahan sederhana tapi Aliya menolak. Ia ingin salah satu pernikahan kakaknya digelar meriah. Jin dan Jungkook sudah menolak keinginanya dan Taehyung harus mau diadakan pesta meriah. "Apa dulu Ibu juga cantik saat menikah? Hem seperti Bibi Lisa?" Aliya tersenyum dan mengangguk mendengar pertanyaan Ji Young. Putrinya memang selalu ingin tau peristiwa dimasa lalu. Ji Young adalah orang yang selalu penasaran akan sesuatu hal yang dilihatnya. "Sangat. Bahkan ayah dulu tidak bisa berpaling dari ibu!" Aliya mendecih mendengar ucapan Jimin. Bohong! Tidak bisa berpaling? Dulu Jimin masih membencinya dan bagaimana bisa Jimin mengatakan tidak bisa berpaling. "Kau tidak percaya?" Memilih membuang muka dan kembali melihat Taehyung dan Lisa yang sedang tersenyum bahagia. Keduanya terlihat sangat serasi dan cocok. "Ibu apa Bibi Lisa akan segera memberikan Younggie adik?" Aliya tertawa dan membawa Ji Young dalam pangkuannya. Mengusap sayang pipi tebal Ji Young. "Tunggu dan bersabar ya?" Ji Young Mengangguk pelan dan menunduk. Ia ingin jawaban pasti dan bukanya janji. Aliya yang mengerti langsung mencium lembut pucuk kepala Ji Young. "Pasti akan ada adik. Younggie tunggu saja nde!" Dan akhirnya Ji Young Hanya mengangguk tidak rela. Menunggu lagi? Huh Ji Young lelah menunggu. "Younggie tidak ingin ikut Paman?" Ji Young mendongak dan menemukan Jungkook yang merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan agar Ji Masuk kedalam pelukannya. Ji Young jelas mengerti. Turun dari pangkuan Aliya dan mencuri satu ciuman dari pipi Aliya dan berlari menghampiri Jungkook. Meninggalkan Jimin dan Aliya berdua. Atmosfir keduanya seperti tegang dan dingin. Aliya merasakan hangat saat tanganya digenggam oleh Jimin, tapi Aliya tidak merespon, memilih diam dan terus memperhatikan Taehyung dan Lisa. "Marah?" Bertanya dengan lembut dan Aliya tetap diam. Aliya sedikit kesal mendengar jawaban bohong Jimin tadi. "Maaf" dan berikutnya Aliya tersenyum saat merasakan jika Jimin Mencium mesra tanganya. Itu sudah sangat cukup untuk Aliya. "Gwenchanayo" keduanya saling melemparkan senyum dan jelas mereka jadi perhatian. Yang menikah Panglima Kim atau Raja Park? Kenapa yang terlihat mesra adalah Raja Park. Sepertinya pasangan pengantin baru yang dimabuk asmara. Mereka sudah menikah hampir 10 tahun. "Saya mengerti" Jimin tersenyum dan menarik Aliya dalam pelukannya. Mengusap lengan Aliya dengan lembut. Memberikan kehangatan pada Aliya. "Terima kasih" lirih Jimin. "Untuk?" Jelas Aliya bingung kata terima kasih itu untuk apa? "Hadiah besar yang gagal. Aku tau jika kau hamil" Aliya terkejut. Bagaimana bisa Jimin tau dengan rencananya. Tidak ada yang tau jika Aliya hamil. Hanya tabib yang tau. "Yang Mulia" Jimin melonggarkan pelukannya dan membawa dagu Aliya untuk menatapnya. Mengusap wajah Aliya dengan lembut. "Kejutanmu kuhargai, tapi maaf aku sudah tau duluan" dan Aliya hanya bisa menunduk, rencananya gagal total. "Padahal saya sudah merencanakan ini dengan sangat hati-hati!" Jimin tersenyum manis dan mendaratkan bibirnya dikening Aliya. Lembut dan penuh kasih sayang. Jimin Sangat mencintai istrinya. "Kehadiran mu dan anak-anak sudah sangat membawa kebahagiaan untukku jadi jangan merasa gagal saat kejutan itu batal. Aku akan selalu bahagia jika melihat mu dan anak-anak Tersenyum. Hanya itu dan bukan yang lain" Mata Aliya berkaca-kaca mendengar ucapan lembut Jimin. Aliya tau itu tulus dan Aliya benar-benar bahagia memiliki Jimin dalam hidupnya. "Terima kasih" Jimin menggeleng dan kembali mencium kening Aliya. "Akulah yang seharusnya berterima kasih. Kau adalah kebahagiaan ku jadi jangan coba untuk lari atau meninggalkan aku. janji?" Aliya mengangguk dan masuk kedalam pelukan Jimin. "Tidak ada alasan bagi saya untuk meninggalkan Yang Mulia" "Memang tidak ada, hanya saja aku takut peristiwa masa lalu terulang. Setidaknya aku harus belajar dari masa lalu agar hidupku tidak pergi" "Ya pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga dalam hidup" Jimin mengeratkan pelukannya dan menbawa Aliya lebih dalam masuk kedalam kedadanya. "Mari beristirahat. Anak kita akan bermasalah jika ibunya Banyak tidur malam" Aliya mendongak menatap Jimin. "Anak-anak?" Jimin tersenyum dan mencium lembut kening Aliya. "Ada Jung Soo Hyun yang akan menemani mereka. Biarkan Ji Young bersama Ratu Choi dan Ji Won bersama Jin Hyung. Mereka tidak akan protes saat kita tidak ada disini. Mereka terlalu sibuk menikmati kebebasan ini" Aliya mengerti apa yang dimaksud Jimin. Jungkook dan Jin membawa Ji Won dan Ji Young untuk berbaur dengan anak-anak yang lain. Keduanya sepertinya belajar banyak mengenai berteman. Ada banyak anak-anak yang datang untuk bermain diistana, dan mereka terlihat tidak takut bermain dengan Ji Won ataupun Ji Young. "Ya sepertinya Ji Won dan Ji Young Harus belajar banyak tentang rakyat. Jin Orabonie dan Jungkook Orabonie harus sering membawa mereka keluar dan berbaur" itu sangat perlu untuk keduanya. Mereka calon pemimpin dan harus tau tugas serta kewajiban. Jangan hanya diam diistana dan menerima sesuatu dengan beres. "Pasti mereka akan belajar hanya saja mereka perlu waktu. Jangan memaksa untuk bisa selagi ada waktu yang sempurna. Anak-anak tau tugas mereka dan kau tidak perlu khawatir. Putra-putri mu bukan orang yang akan tinggi hati. Kau lupa siapa yang mendidik mereka?" Aliya menatap lembut kearah Jimin. Ji Won dan Ji Young dididik sangat baik oleh orang-orang yang mengerti tata Krama dan sopan santun. Dan Aliya sangat percaya dengan itu. "Jadi mari beristirahat" mengangguk dan membiarkan Jimin menuntunnya untuk pergi kekamar. Membiarkan Jimin merangkul lenganya dan melingkupi tubuhnya dengan lengan Jimin. "Yang Mulia" Aliya memanggil Jimin dengan lembut. "Ya?" "Boleh saya meminta satu hal?" Pinta Aliya dengan lembut. "Selama aku bisa akan kukabulkan. Jika boleh tau apa itu?" Aliya tersenyum dan memperhatikan mata Jimin. "Permintaan sederhana dan Yang Mulia pasti bisa mengabulkannya" "Katakan?" Cetus Jimin lembut. "Bebaskan Selir Kang Seulgi!" Pinta Aliya dengan cepat. "Mwo?" Teriak Jimin tidak percaya. * "Ibu jangan banyak bergerak. Hati-hati nanti adik terluka" Park Ji Young semakin crewet dan berisik saat tau Aliya hamil. Melarang Aliya melakukan ini itu, Ji Young benar-benar bersikap seperti seorang perawat. "Ibu tidak papa sayang. Jangan seperti itu, ibu bukan bayi"Ji Young mengurai senyum manis untuk Aliya. Menggenggam tangan Aliya dengan erat dan menggeleng. "Ibu memang bukan bayi tapi ada adik bayi diperut ibu dan ibu harus hati-hati. Benarkan?" Jungkook dan Jin tertawa melihat tingkah Ji Young. Persis seperti ibu-ibu Crewet. Ji Won sendiri hanya membiarkan Ji Young melakukan apapun keinginannya. Biarlah Ji Young melakukan itu sampai puas. Nanti jika lelah juga Berhenti sendiri. "Tapi putri ibu ini berlebihan" kata Aliya yang menbawa Ji Young kepangkuannya. "Jinja?" Tanya Ji Young terkejut. "Hem. Sangat!" Ji Young menunduk dan memainkan tali Hanbok-nya. "Padahal Younggie sudah bertanya banyak hal agar ibu baik-baik saja sampai adik lahir" perkataan Ji Young membuat Aliya tertarik. Belajar? Dari siapa? "Dari?" Aliya ingin tau dari mana pemikiran putrinya muncul. "Uhm Bibi Soo Hyun" pantas Ji Young bertingkah berlebihan, ini ajaran Jung Soo Hyun. Wanita ini benar-benar menyebalkan. Jung Soo Hyun tidak berhenti menganggap Aliya bayi, padahal Aliya sudah beranak 2 dan akan punya anak 3. "Jangan ikuti ajaran Bibi Soo Hyun nde? Bibi Soo Hyun berlebihan" Ji Young Mengangguk pelan dan menatap Aliya. "Younggie juga berfikiran seperti itu, tapi bibi Soo Hyun mengatakan jika itu biasa. Dan Younggie akhirnya melakukan itu" tersenyum lalu mengecup kening Ji Young. Mudah belajar sesuatu dan memahami semua dengan cepat. Ji Young adalah orang yang peka. Karena sifat Aliya menurun sempurna pada putrinya. "Ibu mengerti Sayang" kata Aliya mengusap sayang wajah putrinya. "Maaf Permaisuri, Yang Mulia Raja sudah kembali dan beliau ingin semua berkumpul dihalaman istana" "Halaman? Untuk?" Pelayan itu membungkuk hormat pada Aliya dan mengucapkan sesuatu yang tidak bisa Aliya percaya sama sekali. "Yang Mulia membawa Selir Kang kembali" secepat itu Jimin mengabulkan keinginannya? Apa ini nyata? Jimin membawa Seulgi kembali. Aliya ingat malam itu setelah Aliya mengutarakan keinginannya, mereka sempat perang dingin. Jimin jelas tidak setuju dengan permintaan Aliya tapi Aliya tetap ingin Jimin membebaskan Seulgi. Aliya beranggapan jika Seulgi sudah waktunya bebas dan Jimin menolak itu dengan sangat keras. Bahkan saat itu Jimin sempat membentak Aliya dan mengatakan jika Aliya terlalu baik dan gegabah. Dan karena bentakan itu Aliya jadi diam. Tidak banyak bicara dengan Jimin selama 3 hari dan hari ke-4 Jimin pamit untuk berburu untuk 3 hari. Aliya hanya diam dan tidak merespon dengan ucapan Jimin. Bahkan saat kepergian Jimin, Aliya hanya mengantar dari kamar dan tidak keluar. Jimin tidak membawa Jin, Taehyung ataupun Jungkook. Jimin pergi sendirian dan Aliya tidak menyangka jika Jimin ternyata akan membebaskan Seulgi. "Selir Kang? Siapa ibu?" Aliya menurunkan Ji Young dari Pangkuannya dan menuju halaman depan. Aliya harus memastikan jika Jimin benar-benar membawa Seulgi kembali. "Selir Kang? Untuk apa Yang Mulia membawanya kembali?" Jin menepuk pundak Jungkook pelan dan mengangguk. "Kau pasti tau alasannya?" Jungkook menatap Jin dalam dan matanya melebar tidak percaya. "Aliya?" Tersenyum tipis dan menuju halaman. Jin juga ingin melihatnya. * "Kau puas?" Tanya Jimin pada Aliya yang masih diam. "Sangat" Jimin hanya diam saat Aliya mengeratkan pelukannya pada tubuh telanjang mereka. Keduanya berakhir diranjang setelah tadi. Seulgi kembali ke istana dengan posisi yang sama. Selir Istri Raja Park Jimin, Aliya juga ingin itu dan Jimin tidak akan pernah berkata tidak pada istrinya. "Terima kasih" tersenyum samar dan membalas pelukan Aliya. Kebahagiaan Aliya adalah hal yang utama dan Jimin akan melakukan apapun agar bisa melihat Aliya bahagia. "Saya berharap Yang Mulia juga bisa berbuat adil pada Selir Kang" Jimin mengangguk samar membawa Aliya untuk menatapnya. "Ada lagi keinginan yang belum tersampaikan?" Menggeleng pelan dan membuat Jimin mengangguk mengerti. "Katakan apapun yang kau mau dan asal jangan tinggalkan aku" cetus Jimin menatap sendu Aliya. Jimin takut jika Aliya kembali pergi meninggalkannya. "Yang Mulia terlihat terobsesi dengan saya" kata Aliya sedikit takut. "Bukan Obsesi tapi cinta" sela Jimin dan membawa bibir dalam lumatanya, Jimin menciumi bibir Aliya dengan dalam dan lembut. Mengecup atas dan bawah secara bergantian. "Keberatan jika aku menginginkan itu lagi?" Aliya tentu menggeleng. Membiarkan Jimin melakukan apapun yang Jimin inginkan. Karena itu kewajiban Aliya untuk melayani suaminya. Keduanya bergerak berirama dan saling mendesah. Aliya menahan dada Jimin saat merasakan jika Jimin masuk terlalu dalam, ini akan melukai sesuatu yang ada didalam tubuhnya. "Aku mengerti. Tapi sebut namaku dan buka matamu. Tatap aku" Jimin berucap begitu lirih dan menggerakkan tubuhnya dengan pelan. Jimin juga tidak ingin menyakiti anaknya. "Eugh. Yang Muliaahh" Aliya tidak sanggup melihat Jimin. Bagaimana bisa Aliya melihat Jimin yang ada diatasnya, wajah menggoda sempurna dengan keringat yang mengalir dari sana. Tidak Aliya tidak sanggup untuk itu. "Kumohon" dan akhirnya mata Aliya terbuka. Sempurna melihat Jimin yang tersenyum tipis kearahnya. Mulut terbuka dan nafas memburu. Aliya menyukainya sangat menyukai itu. Aliya mencoba menahan dirinya agar tidak terlalu bersuara. Merasakan gerakan Jimin yang semakin mendesaknya. Ini sangat nikmat. "Euh" tangan kecil Aliya mengusap wajah Jimin dengan lembut. Suaminya benar-benar terlihat sangat tampan jika dilihat dari bawah. "Sebut namaku" lirih Jimin yang menambah kecepatan tubuh mereka. "Yang Muliaahh" tubuh Aliya terasa akan meledak untuk kesekian kalinya. Ini benar-benar gila dan sangat memabukkan. Menarik kepala Jimin untuk menyatukan bibir mereka. Mencium bibir Jimin dengan serampangan dan acak. Sampai sesuatu yang sangat memabukkan itu datang menghampirinya. "Yang Muliaahh" Aliya sampai pada titik kenikmatannya tapi belum dengan Jimin. Jimin belum mendapatkan apa yang dituju, bergerak semakin cepat dan gelombang itu datang. "Aliyaaaaaa" mulut terbuka lebar dengan wajah mendongak keatas penuh kenikmatan. Tangan mencengkram pinggang Aliya dan semuanya selesai. Keduanya sampai pada titik kenikmatan itu. "Terima kasih" lebih memilih menarik Jimin dalam pelukannya dan tidak mengatakan apapun. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu" lirih Jimin dan menenggelamkan wajahnya keleher Aliya. Memejamkan matanya menikmati pelepasan yang baru saja Jimin rasakan. "Berjanjilah Yang Mulia akan membesarkan anak-anak bersama saya dan hanya boleh terpisah saat maut datang" Jimin mengangguk dalam pelukannya. "Aku janji. Kau bisa membunuhku jika permintaan itu kulanggar" Aliya tersenyum bahagia dan mengeratkan pelukannya. Kebahagiaan terbesar dirinya adalah Jimin, Aliya sangat mencintai Jimin. Sangat mencintai. "Saya sangat mencintai Yang Mulia. Sangat" keduanya berakhir bahagia setelah apa yang dihadapi dimasa lalu. Sikap terbuka dan jujur adalah kunci dari semuanya. Kebahagiaan milik dia yang bersabar dan itu benar-benar nyata. Tuhan menjanjikan setiap kebahagiaan pada masing-masing orang walaupun dengan cara yang berbeda. This Is End! End.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD