CHAPTER 10 - ATAUPUN
Ruby masih menatap Juan tidak percaya bahwa pria itu benar-benar memiliki kekuatan yang dia pikirkan. Menciptakan angin dingin dalam ruangan tertutup dan hampir membuat dirinya menggigil karena hawa dinginnya tersebut sempat menusuk tulangnya.
Ya aku sekuat itu.
Suara Juan bergema dalam kepala Ruby sehingga membuat wanita itu menelan ludahnya, hatinya mulai ciut mengetahui pria di depannya ini bisa saja membuat kehancuran hanya karena dirinya. Sekaligus Ruby takut jika Juan sanggup melukainya bahkan tanpa menyentuhnya sekalipun.
“Demi Tuhan aku tidak akan pernah melakukan hal itu Ruby!”
Tapi kau baru saja hampir melakukannya.
Juan menggeleng keras. Tangannya meraih jari-jari Ruby yang terlihat sangat kecil dibandingan tangannya yang besar dan kuat. Dia merasa harus hati-hati menggenggam tangan tersebut untuk tidak meremukkan tulang-tulangnya yang ringkih. “Itu tidak benar. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa kau tidak bisa membantahku terus menerus…,” katanya.
Kelopak mata Ruby mengerjap
“Kita akan menikah.”
Mata Ruby mendelik dan mendengkus sekaligus. Wanita itu menghela napas panjang satu kali, lalu memandang pria di depannya lekat-lekat, “Apa kau akan membunuhku jika aku mengatakan tidak mau menikah denganmu?”
Jangan marah Juan, batin Juan memperingati. Kembali Juan menarik napas panjang untuk meredakan emosinya yang berada pada titik kritis lagi. Ini adalah penolakan pertama kali dalam hidupnya yang baru dia alami. Tidak pernah sekalipun dia meminta atau mengajak seorang wanita untuk menikah dengannya, karena tidak ada satu wanita pun yang dia temui merupakan takdirnya—seperti sekarang. Namun, bisa dipastikan tidak satu pun dari mereka yang akan menolak untuk diperistri olehnya. Dia adalah seorang Juan Terrel Mackinnley—pewaris tunggal sebuah tahta kerajaan!
Dan sekarang wanita bernama Ruby ini terang-terangan menolak dirinya? Di mana harga diri seorang Juan?
“Apa kau berniat menolakku My Lady?”
Gesture tubuh Juan tidak bisa terlihat tenang, dad@nya meradang—panas. Apalagi dia sangat tahu bahwa alasan wanita ini menolaknya adalah karena pria lain. Juan melepaskan tangan Ruby dan berdiri dengan gusar dan wajah yang keras.
Ruby sempat melonjak kaget dengan sikap Juan yang cepat tersebut. Please jangan marah dulu Juan.
“Dengar Mr. Juan… menikah adalah keputusan penting dalam hidupku, dan ini tidak bisa diputuskan mendadak. Bisakah kita bicarakan ini baik-baik, tanpa harus ada tekanan darimu seperti sekarang? Karena terus terang kau membuatku takut…,” ujar Ruby sambil berjalan mendekati Juan dan meraih tangan pria itu.
Bisakah kau menahan emosimu?
Perasaan tidak dihargai dan dijatuhkan karena penolakan Ruby barusan masih menyisakan bara panas di dad@ Juan. Akan tetapi bukan karena itu saja yang membuat hatinya terluka akibat penolakan tersebut. Selain harga dirinya yang dipertaruhkan, Juan tidak terima dirinya dibandingkan dengan pria bernama Anthony yang memenuhi kepala calon istrinya itu.
Sepanjang dia bertemu dengan wanita di depannya ini, nama Anthony tidak pernah hilang dari pikiran Ruby. Semua tindakannya selalu dibandingkan dengan pria itu dan itulah yang membuatnya sangat marah—karena dia merasa tidak ada pria yang sebanding dengannya apalagi Anthony.
Sambil menarik napas panjang Juan melepaskan tangan Ruby dan dengan berat hati melangkah mundur menjauh dari wanita itu. Pria itu memutuskan untuk menggunakan cara lain untuk membuat Ruby memilihnya.
“Asal kau tahu Ruby aku tidak mungkin melukai apalagi membunuhmu. Aku akan mati jika kau mati—tolong kau ingat hal itu.” Lalu dia menghela napasnya panjang sekali lagi dan memutar tubuhnya sambil berkata, “kau boleh pergi, biar Odiv mengantarmu pulang.”
Juan duduk di kursinya sambil merebahkan punggung pada sandaran kursinya. Dia menyugar rambutnya sekaligus mengunci akses Ruby untuk bisa masuk ke dalam telepatinya. Pria itu memutuskan untuk memberikan ruang pribadi seperti yang wanita itu inginkan. Ruby tidak akan bisa mendengar suara Juan lagi di kepalanya sampai pria itu membuka aksesnya. Namun, Juan tetap bisa membaca pikiran wanita itu.
Ekspresi Ruby berubah antara kebingungan dan perasaan lega karena terbebas dari Juan. Tapi perasaannya berkecamuk aneh karena Juan malah memerintahkan pengawalnya Odiv untuk mengantarnya pulang.
Bukankah tadi dia sendiri yang bersikeras mau mengantarku pulang? Apa Juan marah dan sedang menunjukkan aksi merajuknya?
"Dengan Odiv?"
Juan mengangguk. “Yup.”
"Bukankah tadi kau sendiri yang mau mengantarku pulang?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Ruby, Juan memanggil pengawalnya itu, "Odiv, masuklah!"
Tubuh Odiv yang hampir sama besar dengan Juan muncul di ambang pintu seraya membungkuk hormat pada pria itu, “Ya, Mr. Juan.”
"Antarkan Ruby pulang dan berjaga saja di sana."
"Baik, Yang Mulia."
Ruby menatap Juan dengan wajah yang bingung. Dia serius meminta Odiv berjaga di tempatku? Tapi untuk apa? Mau tidur di mana pria itu nanti?
“Tapi—Juan… aku bukan anak kecil yang harus dijaga. Lagi pul—”
“Kalau begitu kau kembali lagi ke sini setelah memastikan Ruby sampai di apartemennya, Odiv.” Juan meralat perintahnya sesuai keinginan Ruby dengan begitu mudahnya.
Bukan hanya Ruby yang syok, tampang Odiv pun sama herannya. Tidak pernah terjadi sebelumnya calon rajanya itu merubah perintahnya begitu saja.
Apa kau melakukan ini karena marah padaku Juan?
Suara Ruby menggema di kepala Juan. Namun, tentu saja Juan tidak mengubrisnya, karena sekalipun menjawabnya Ruby juga tidak akan mendengarnya.
Kau benar-benar marah sehingga tidak menjawabku?
Juan memandang Ruby dari sudut matanya dan pada saat bersamaan wanita itu juga sedang melihat ke arahnya. Tatapan mereka bertemu dan tetap seperti itu untuk beberapa detik selanjutnya, sampai akhirnya Juan menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Ruby.
Odiv memberikan gestur untuk mempersilakan Ruby keluar dari ruangan CEO Mackinnley System Coorporation tersebut. Di luar Ruby bertemu dengan Dimitri yang tersenyum ke arahnya. Pria itupun sama syoknya saat mengetahui bahwa Odiv diperintahkan untuk mengantar Ruby pulang tanpa Juan ikut bersamanya.
“Menurutmu pria di dalam sana itu akan memecatku?”
“Itu tidak mungkin Miss. Ruby,” jawab Dimitri tenang. Tidak mungkin terjadi. Pria itu menambahkan dalam hati.
"Aku baru tahu ada orang marah bisa membuat angin dingin dalam ruangan," oceh Ruby. “Pria di dalam sana itu pasti sedang marah besar padaku ya kan? Pasti karena aku katakan padanya kalau aku tidak mau menikah dengannya,” tambahnya.
Odiv dan Dimitri saling berpandangan. Lalu Odiv lagi-lagi memberikan gestur untuk segera pergi dari tempat itu. Ruby terpaksa mengikuti Odiv walau dia masih penasaran dengan jawaban Dimitri tentang perilaku Juan yang berbeda terhadapnya saat ini.
***
“Odiv… menurutmu apa yang kulakukan tadi sangat keterlaluan?” tanya Ruby memulai percakapannya di dalam mobil.
“Saya terkejut Anda menolak pinangan Mr. Juan, Miss Ruby,” ujar Odiv memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapatnya di depan calon ratunya itu.
Ruby menghela napasnya pelan, “Kamu tahu kan Odiv… menikah itu bukan main-main. Aku memang memikirkan untuk menikah tapi tidak mendadak seperti ini dan dengan cerita dongeng begini….”
“Maaf Miss Ruby. Saya harus katakan bahwa Anda tidak seharusnya mengatakan cerita yang disampaikan Yang Mulia Juan itu sebagai cerita dongeng, karena semua yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Yang Mulia Juan sangat dijunjung tinggi dan disegani di negeri kami, Miss. Dan mencari Anda sebagai pasangan hidupnya sudah kami lakukan sejak setahun yang lalu—yaitu sejak disebutkan bahwa Yang Mulia Juan akan menjadi pengganti King Mackinnley dan membawa Cxarvbunza pada kemakmuran yang hakiki hanya jika dia menemukan pasangan yang bisa bertelepati dengannya. Maka di sinilah kami berada Miss Ruby,” tutur Odiv panjang lebar.
Ruby terdiam mendengar penjelasan Odiv tentang calon rajanya tersebut. “Jadi dia ingin menikahiku karena ingin menjadi orang paling berkuasa di negeri kalian itu?”
Odiv menarik napas diam-diam. Ternyata wanita di belakangnya ini salah paham mengenai penjelasannya. Seketika dia merasa lancang sudah mencampuri urusan pasangan penting ini. “Demi Tuhan Miss Ruby, saya berani bersaksi bahwa Yang Mulia Juan tidak seperti itu,” ujarnya.
“Kamu sangat takut padanya bukan Odiv? Apa dia akan menjadi raja yang kejam karena memiliki kekuatan seperti tadi?”
Odiv merasa terjebak dengan penjelasannya sendiri sekarang. Sepertinya dia bisa memahami kenapa calon rajanya itu tidak bisa menahan emosinya dalam menghadapi Ruby. Dia menggeleng cepat dan berkata. “Kami sangat menghormati Yang Mulia Juan, Miss Ruby. Karena itulah kami tidak akan pernah mengecewakannya. Dan jika itu terjadi maka kami rela mendapat hukuman yang setimpal darinya….”
“Wow….” Ruby berdecak kagum dengan pernyataan Odiv.
“Kita sudah sampai Miss Ruby. Dan saya diperintahkan untuk langsung kembali ke kantor.” Odiv turun dari kursinya dan membukakan pintu penumpang serta membantu Ruby turun. “Selamat sore Miss Ruby,” katanya santun.
Ruby memandangi pria tersebut melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir gedung apartemennya.
***