MENGELAK

1883 Words
  CHAPTER 9 - MENGELAK JUAN POV Pembicaraanku dengan Ruby tadi sudah selangkah lebih maju. Walaupun dia belum sepenuhnya menerima takdir yang datang mendadak kepadanya saat ini, tapi setidaknya dia berusaha untuk menerimanya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 4 sore hari, satu jam setelah kami berbicara empat mata tadi. Aku baru saja menghabiskan lima menit untuk membaca seluruh detail tentang keluarga Ruby dari berkas yang diberikan Dimitri tadi. Keluarganya tinggal di pinggiran Nebrash yang ada di balik gunung di ujung sana, dia mempunyai adik perempuan yang masih kuliah di tingkat dua, bernama Hillary. Secara keseluruhan wajah adiknya itu tidak terlalu mirip dengan Ruby. Karena Hillary mempunyai mata yang berwarna hazel dengan rambut hitam yang lurus dan tebal. Mereka mempunyai kemiripan yang sama, Cantik, aku bergumam pelan. Kemudian informasi tambahan lainnya adalah mengenai orang-orang terdekat Ruby. Hanya ada dua nama yang diberikan oleh Dimitri, yaitu Laima dan Anthony. Sepertinya calon istriku itu memang sangat pemilih dalam berteman. Mataku langsung terpaku pada sebuah foto pria yang ternyata kuketahui bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Ruby—hanya saja dia terlalu pengecut untuk mengakuinya. Namun, hal itu merupakan keuntungan untukku, karena dengan demikian Ruby tidak akan tahu perasaan sebenarnya dari pria bernama Anthony itu. Alis mataku berkerut melihat gambar pria dengan rambut hitam yang terbelah rapi di bagian pinggir dan kacamata berbingkai hitam yang menyamarkan bentuk matanya yang sedikit turun. Aku putar ke sisi mana pun tetap tidak kutemukan letak pada bagian mana yang Ruby bilang kalau Anthony lebih tampan dariku? Yang benar saja! Spontan tanganku meremas foto yang ada dalam genggamanku menjadi serpihan yang tidak bermakna lalu melemparkannya ke tong sampah. Kusandarkan punggungku pada kursi dan memutarnya menghadap jendela, kemudian kudapati langit di atas sana sudah mulai diselimuti warna orange. Kau akan pulang bersamaku, kau ingat itu kan, Ruby? Aku menunggu jawaban Ruby dan sialnya tidak menemukan dirinya ada dalam gedung ini. “Sial!” umpatku sambil beranjak dari  kursi dan memanggil Odiv dengan gusar karena tidak menemukan pikirannya dalam jangkauanku! Bagaimana mungkin dia lolos dari pengawasanku?! Odiv muncul di hadapanku dengan wajah cemas. Kurasa dia sudah tahu alasanku memanggilnya dengan nada marah. Beraninya wanita itu pergi tanpa izinku bahkan setelah aku memberikan peringatan jelas padanya!   “Saya belum menemukannya di gedung ini, Yang Mulia,” sahut Odiv tanpa aku harus bertanya. “Dimitri sedang mencari Miss Ruby keluar gedung,” tambahnya. Kuraih ponselku dan meneleponnya sambil menyuruh Odiv keluar. Beruntung pada dering kedua wanita itu menjawab teleponnya karena kalau tidak aku pasti akan keluar mencarinya dan menyeretnya untuk ikut denganku. “Kau di mana Ruby?” “Ck, tentu saja dalam perjalanan pulang Mr. Juan, ini kan sudah jam pulang kantor.” Mataku mendelik sambil menahan emosi yang bisa meledak kapan saja. Kalimat mana yang kurang jelas pada saat aku mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa pergi tanpa izinku??! Dia mengabaikan perintahku dan tidak menghargaiku sama sekali. “RUBY!” Suaraku meninggi karena amarah. Aku menyesal tidak mengunci kakinya tadi. “Jangan bilang kau mau mengunjungi kasih tak sampaimu itu My Lady!”Aku sengaja menyebut My Lady untuk membuatnya teringat bahwa dia baru saja memanggilku dengan sebutan Mr. Juan. “Apa mengunjungi seorang teman menjadi sebuah kejahatan sekarang ini?” Aku menarik napas dengan gusar. Mulai frustrasi menghadapi wanita pembangkang ini sekaligus mulai meragukan kemampuanku sendiri karena aku sama sekali tidak sadar akan kepergiannya. Jariku mengetuk meja dengan ritme cepat. “Ya itu sebuah kejahatan kalau kau sudah menjadi tunangan seseorang Ruby!” “Aku belum sepenuhnya menerimamu sebagai tunanganku, Juan.” “Oya?” “Errgh, please jangan memulai lagi soal ini....” “Aku tidak akan berhenti mengingatkanmu soal ini terus menerus, KARENA SEPERTINYA KAU LUPA KALAU KAU ADALAH CALON ISTRIKU! “JANGAN MEMBENTAKKU!” Suara di seberang sana tidak kalah tinggi. Hanya dia… ya hanya dia yang berani meninggikan suaranya padaku. ERRRGH!! Apa yang harus kulakukan padanya sekarang? Mengikatnya di belakangku? Agar dia tidak bisa ke mana-mana? Ini tidak bisa didiamkan. “KEMBALI KE KANTOR SEKARANG JUGA ATAU AKU YANG AKAN MENYERETMU SENDIRI!!” Aku tidak perduli dia kaget di tengah orang banyak karena mendengar suaraku yang keras di ponselnya. Aku benar-benar marah karena sikapnya yang nyata-nyata melanggar perintahku. “Jangan memerintahku seperti itu! Sekalipun kau atasanku, aku tidak merasa berbuat kesalahan atas pekerjaanku! Jadi sebagai atasanku kau tidak berhak membentakku seperti itu. Dan sebagai calon suamiku kau juga tidak berhak memerintah calon istrimu SEPERTI ITU!! KAU PAHAM? Mataku membesar dan terhenyak mendapat serangan balik darinya. Apa dia tidak sadar sedang berbicara dengan siapa?! ARRGH!! Hawa dingin mulai menyelimuti ruangan. Aku bisa membuat gedung ini membeku karena amarahku pada wanita itu. Lima menit kemudian Odiv menelepon memberitahu bahwa dia sudah menemukan Ruby baru saja turun dari taksi di depan gedung apartemen pria pujaannya itu. “Bawa dia ke sini Odiv!” “Baik Yang Mulia.” Pintu ruanganku terbuka setelah ada perintah masuk dariku. Dimitri berdiri di sana sambil sedikit membungkuk. “Maafkan saya Mr. Juan,” katanya. Jika orang ini bukan Dimitri mungkin sudah tinggal nama karena lalai menjaga Ruby dari pengawasannya. Tapi dari isi kepalanya yang kutahu Rubylah yang berhasil mengecohnya dan juga Odiv. Aku berdecak kesal karena melewatkan momen tersebut. Miss Ruby bersama saya Yang Mulia. Namun, dia menolak turun dari mobil dan mengancam akan membuat keributan. Aku menghela napas panjang sambil menggeleng. Aku bisa mendengar umpatannya saat ini. Aku tidak akan turun! Oh ya kamu akan melakukannya Ruby. Karena kamu calon suami yang arogan? Jadi sekarang kamu mengakui kalau aku adalah calon suamimu? Ck. Belum jadi suami saja sudah seperti ini. Mana ada calon suami yang menculik calon istrinya sendiri? Kita akan bicara tatap muka di ruanganku Ruby! Apa-apaan ini Odiv?! Eh… aduh. Ini pasti perintah Juan kan?!! Umpatannya bergema terus dalam kepalaku sampai suara ketukan di depan pintuku terdengar. Beberapa staf yang masih ada di kantor juga bertanya-tanya dan kebingungan melihat Odiv yang membopong Ruby sampai di depan kantorku. Pintu terdorong dengan keras dan masuklah wanita bernama panjang Ruby Naraya Zephania dengan wajah garangnya. Entah kenapa dia malah terlihat cantik dalam keadaan marah seperti itu. “Tinggalkan kami Odiv!” Wanita berambut panjang bergelombang itu menatapku dengan matanya yang tajam. Tubuh mungilnya itu berdiri di hadapanku sekarang, kepalanya mendongak untuk bisa menatap mataku. Seakan pancaran mata hijaunya itu bisa membunuhku dia benar-benar menatapku dengan intens dengan kepalanya yang berisi berbagai u*****n untukku. "Apa begini cara pria memperlakukan calon istrinya di Zarbuxa, huh?" semburnya. Cxarvbunza Ruby. "Apapun itu!" Lagian susah sekali sih nama kotanya. Aku melenguh pasrah mendengar keluhannya. Pertama, Cxarvbunza itu bukan kota, tapi merupakan sebuah kerajaan terbesar di tempatku berada. Kedua, apa susahnya sih menyebut Cxarvbunza??! "Dengar My Lady."  Kemudian tubuhku sedikit membungkuk depannya demi untuk mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Seumur hidup baru kali ini aku membungkuk pada seseorang. "Tidak ada yang boleh membantah perintahku apalagi melanggarnya. Kau harus patuh pada setiap perintahku!" seruku geram. Aku bukan budakmu! Aku menarik napas dalam-dalam sambil menatapnya tajam. Ruby! “Bisakah aku mendapatkan waktu pribadi beberapa hari ini untuk merenung? Tentang semua ini?” Aku menggeleng dengan cepat. “Tidak bisa.” Kenapa cepat sekali sih menjawabnya? “Memangnya apa yang terjadi kalai aku tidak mematuhi perintahmu Juan?” Dia mundur selangkah dan aku pun menegakkan punggungku tanpa lepas mengamati gerak-geriknya. Dia jelas-jelas ingin menentangku sekarang ini… demi Tuhan hanya karena dia tidak ingin meninggalkan pria bernama Anthony itu! Aku menangkap kepanikan pada raut wajahnya ketika melihat kertas-kertas yang berhamburan dari atas mejaku bersamaan dengan hembusan angin dingin yang datang tiba-tiba. Wanita itu tidak tahu bahwa aku bisa saja membuatnya membeku dan hancur seketika hanya dengan tatapan kemarahanku. Tapi mana mungkin hal itu akan kulakukan pada wanita mungil di depanku ini. Hanya dia yang bisa mengguncang hatiku sejak pertama kali aku melihatnya. Sepertinya aku hanya harus berdamai dengan sifat pembangkangnya. Ya Tuhan kenapa tiba-tiba ada angin dingin dalam ruangan? Mataku terpejam perlahan ketika melihat Dimitri yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu. Dia pasti juga merasakan hawa dingin yang baru saja kuciptakan tadi. "Kau tidak bisa menentang dan menantangku seperti itu Ruby. Aku adalah calon seorang Raja Cxarvbunza Kingdom," kataku seperti orang yang butuh pengakuan. Terus terang aku tidak pernah menyebutkan statusku pada orang lain seperti sekarang. Sinar kehijauan pada manik matanya menyorotku dengan tajam. Mr. Juan yang terhormat. Berikan saya waktu untuk menjawab pinangan Anda. Tapi selama itu saya mohon agar Anda tidak memasuki pikiran saya terus menerus. Wanita itu mengungkapkan permohonannya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dad@nya.  “Untuk Anda ketahui juga. Mungkin Anda adalah calon Raja di tempat asal Anda, Mr. Juan. Tapi di sini? Perintah Anda tidak berlaku… apalagi pada saya!” tukasnya, lagi-lagi dia memancing emosiku. Angin dingin yang tercipta lebih besar dari sebelumnya. Gorden tebal dan berat yang menggantung di depan jendela kaca besar itu bahkan bergoyang sangat cepat. Dimitri yang berada di tempat itu berusaha untuk mengendalikan situasi dengan mengeluarkan aura ketenangannya padaku yang terlihat sangat gusar. Mata Ruby beralih padanya, dan Dimitri melihatnya sambil sedikit membungkukkan badannya. “Miss. Ruby.” Ruby menelan ludahnya seraya merapatkan blazernya. Tatapannya beralih lagi padaku dan tiba-tiba saja pupil matanya itu membesar, dia baru menyadari sesuatu—efek dari kemarahanku. I-inikah akibat dari kemarahanmu? Kau menggunakan kekuatanmu untuk menciptakan angin yang bisa memporak-porandakan sebuah gedung? Apa kau gila mau membunuh semua orang yang ada dalam gedung ini hanya karena kau marah padaku, Juan?! Tenggorokanku tercekat mendengar isi kepalanya. Aku bungkam tidak bisa menumpahkan amarahku dalam kata-kata kepadanya. Kehadiran Dimitri lumayan berpengaruh padaku, putaran angin dingin di ruangan berkurang seiring dengan redanya kemarahanku. Apakah benar yang dikatakan Ruby barusan? Aku bisa saja membunuh seisi gedung hanya karena keegoisanku.   Aku menelan ludah sambil menatap calon permaisuriku ini dalam-dalam. Tubuhnya memang mungil tapi dia sanggup membuat seorang Juan Terrel Mackinnley terdiam kehabisan kata. “Duduklah,” kataku tertuju pada wanita mungil itu, “keluarlah Dimitri.” “Baik Yang Mulia.” Aku melihat tatapan Ruby pada Dimitri sangat aneh. Dia masih tidak percaya kalau aku punya panggilan istimewa karena kedudukanku sebagai calon pewaris tunggal Cxarvbunza Kingdom. Saya mohon Yang Mulia bisa menahan emosi menghadapi Miss. Ruby. “Apa saat ini aku meminta saranmu, Dimitri??” Dimitri menggeleng sambil membungkuk, dia melangkah mundur dan keluar dai ruangan. Aku mendengar Ruby menghela napasnya pelan. Wanita itu terlihat lebih tenang dari sebelumnya, mungkin efek kehadiran Dimitri juga berpengaruh padanya. Dia melangkah ke arah sofa ruang tamuku, lalu tanpa berkata apa pun dia duduk di sana. Kakiku juga berderap pelan menuju ke arahnya. Maafkan aku. Suaranya bergema di kepalaku memohon maaf. Tapi aku tidak akan minta maaf, karena apa yang kulakukan padanya adalah untuk kebaikannya sendiri. Aku melakukan hal yang benar. "Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi antara kita sekarang," cetusnya. "Kenapa kita seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar?" Ya karena memang seperti itulah kita sekarang. Kepalanya menggeleng, dan di kepalanya kembali berkecamuk pertentangan antara mempercayai situasi yang terjadi sekarang atau menolaknya mentah-mentah. Aku masih ingat pembicaraannya terakhir tadi, bahwa dia sedang berusaha untuk mencoba menerima situasi ini. Tapi sekarang dia kembali lagi penolakannya. Kurasa aku tidak bisa untuk menahan diri lebih lama lagi dalam menghadapi keputusannya yang tidak konsisten. Dia masih memainkan jemarinya sambil menyilangkan kakinya. Mengamati sosok mungilnya yang bersemangat—(aku mengatakan demikian untuk menghibur diriku sendiri)—bisa membuat dadaku menghangat. Aku berpindah ke sisinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD