BISA

1846 Words
  CHAPTER 8   BISA Ruby duduk di mejanya menghadap ke pintu ruangan sang CEO Mackinnley System Coorp di depannya. Pintu kayu itu tertutup rapat, tapi tidak bisa menghalangi dirinya untuk berpikir sesukanya—karena pria pencuri pikiran di dalam sana pasti mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Tentu saja. Wanita itu mendengkus pelan sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Dia bahkan belum mengucapkan terima kasih kepada Anthony atas bingkisan yang dititipkan Laima kepadanya. Anthony memberikan sebuah jepit rambut berhiaskan mutiara putih yang cantik untuknya dan Ruby merasa senang sekali. Juan menghela napas di dalam sana menahan diri untuk tidak berkomentar. Terlebih ketika mengetahui bahwa calon istrinya itu mulai mengetik sebuah pesan untuk pria yang lebih dulu ada dalam kehidupan wanitanya itu. [Anthony, terima kasih hadiahnya untukku ya… sangat cantik, aku menyukainya. Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu?] [Hai By. Aku baik-baik saja syukurlah. Terima kasih kalau kamu suka hadiahnya By, tapi tetap saja lebih cantik yang memakainya….] Ruby tersipu malu membaca kalimat balasan dari Anthony. Hatinya bermekaran bak taman di musim semi, sampai dia lupa bahwa ada seseorang yang sedang menahan rasa cemburu di dalam ruangannya. [Tadinya aku mau mampir ke rumahmu, tapi ternyata aku harus datang di kantor lebih awal. Mungkin sepulang kantor nanti aku mampir ya. Aku akan ajak Laima juga.] Tidak boleh! Ruby tersentak kaget dengan suara keras yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya. Dia mengumpat tentang larangan tersebut. Tolong jangan mulai lagi Mr. Juan. Kamu tidak boleh pergi ke mana pun tanpa izinku My Lady! Jangan panggil aku seperti itu! Ponsel di tangan Ruby hampir saja jatuh ke lantai tatkala dia mendapati sosok Juan sudah menjulang di depan mejanya. Ya Tuhan, selain bisa baca pikiran orang lain, Anda juga bisa teleport Mr. Juan? Tidak salah lagi. Ck. Ruby berdecak sambil berdiri. “Saya rasa, Anda tidak berhak melarang saya untuk pergi ke mana pun yang saya mau, Mr. Juan,” ujarnya. “Dengar My Lady! Kamu adalah calon permaisuri Cxarvbunza, jadi mulai saat ini terimalah kenyataan itu.” Huh? Sarbunsa? Apa itu? Juan mendengkuskan napasnya keras. “Ah sudahlah! Yang pasti kakimu tidak akan beranjak dari tempat ini tanpa izinku!” Pria itu berbalik kembali menuju ruangannya dengan gusar.   Bibir Ruby cemberut melihat CEO barunya itu terlihat sangat kesal. Dia berpikir Juan adalah pria modern yang kolot. Pria itu kan baru saja bertemu dengannya kemarin, tapi seolah-olah sudah mengenalnya luar dalam dan memiliki dirinya. Anthony saja yang sudah bertahun-tahun mengenalnya tidak pernah memperlakukannya seperti itu. Aku akan segera mengenalmu luar dalam.   *** Ruby meletakkan teleponnya dan merapikan berkas yang akan dia bawa kepada Mr. Edward. Kakinya melangkah anggun meninggalkan mejanya menuju ruangan lain—masih di lantai yang sama. “Ruby!” Kepalanya menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Koleganya sesama asisten—Veronica menghampirinya dengan langkah cepat. “Kamu sekarang bukan asisten Mr. Daniel lagi?” tanya Evoni. Suara lenguhan napas Ruby terdengar pelan dan putus asa. “Apa boleh buat Ve? CEO baru kita itu sangat dictator dan arogan.” Gadis itu menaikkan kedua bahunya, “aku hanya seorang pegawai rendahan bisa berbuat apa?” keluhnya sengaja supaya Juan bisa mendengar semuanya. Tidak ada bantahan dari pemilik suara dalam kepalanya seperti biasa. “Iya, kamu benar Ruby.” Veronica memasang wajah prihatin, “seandainya aku yang dipilihnya, tanpa berpikir panjang aku pasti langsung mau….,” katanya sambil tersenyum aneh dan terpejam. Kening Ruby berkerut, “Heh! Jangan tertipu sama tampangnya Ve!” “Ck! Kamu By… Mr. Juan itu menyelamatkan kamu tahu tidak sih! Kamu tahu kan kenapa Mr. Daniel di pecat?” “Huh?? Mr. Daniel benar dipecat?” “Iya! Karena Sasha melaporkan pelecehan yang dilakukan Mr. Daniel kepadanya! Asal kamu tahu Sasha itu asistennya sebelum kamu!” Kepala Ruby menggeleng tidak percaya kenyataan itu. “Mr. Daniel melakukan hal itu?” Veronica mengangguk cepat. “Mr. Daniel pernah juga hampir melecehkanku… tapi aku lebih galak! Dan dia tidak pernah lagi mencoba mendekatiku….” “Serius Ve?” “Jadi… aku sangat mendukung Mr. Juan memecat Mr. Daniel!” Ya Tuhan… kurasa dia tahu apa yang ada di pikiran Mr. Daniel! Karena itulah dia sangat marah saat Mr. Daniel mendekatiku. Seketika Ruby tersadar akan sesuatu. Itu benar. Suara Juan kembali bergema dalam kepalanya. Maafkan aku Mr. Juan. Tidak ada yang perlu dimaafkan My Lady. Ruby mendesah kesal. Jangan sebut aku My Lady lagi, Mr. Juan. Kalau begitu berhenti memperlakukanku seperti atasanmu, aku adalah calon suamimu. Panggil aku Juan, Sayang atau Babe, Love… apa saja. “Hissh!” Ruby bersuara sambil terkekeh ringan sehingga membuat Veronica memandangnya heran. “Kenapa By? Bagus kan tidak ada pria c***l lagi di kantor ini?! Yang ada pria super tampan jelmaan malaikat yang membuat hari-hari kita semua semangat datang ke kantor hanya untuk bisa melihatnya, walau selewat saja….” Kedua alis Ruby mengkerut, “Ve! Kamu apa-apaan sih??” “By… coba kasih tahu bagaimana rasanya bisa berdekatan dengan Mr. Juan? Aahh kamu beruntung sekali!!” Ruby memilih melanjutkan langkahnya daripada harus mendengarkan ocehan melantur dari teman sejawatnya itu. Melantur? Anda pasti besar kepala sekali ya kan Mr. Juan? Tentu saja My Lady. Arrrgh! Ruby mempercepat langkahnya dengan harapan suara Juan di kepalanya bisa menghilang. Namun, dalam hati dia tahu bahwa itu adalah hal yang sia-sia saja. *** Sebuah buket bunga di atas meja Ruby membuatnya kikuk. Dia mendekati buket cantik tersebut dan mencari pengirimnya—selalu saja harapannya adalah Anthony. Memangnya dia pernah mengirimkan bunga untukmu? Tidak. Lalu kenapa kamu berpikir buket itu darinya? Ya manusia kan bisa saja berubah pikiran?! Eh jangan bilang buket ini dari Anda Mr. Juan. Hanya aku yang tahu apa yang kamu inginkan My Lady. Errgh. Lady lady! Sebut saja namaku. Kalau begitu sebut juga namaku saja. Juan. Kenapa Anda senang sekali membuatku kesal? Kenapa kamu harus kesal? Ruby memilih diam daripada berbuntut panjang. Dia mengamati buket bunga pot yang sangat cantik di atas mejanya. Wanita itu menyukai aromanya dan warnanya—hijau dan biru. Tentu saja Juan bisa tahu apa yang Ruby sukai tanpa dia harus bertanya.    Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, hanya aku yang tahu apa yang kau inginkan Ruby. Lagi-lagi suara pria itu ikut campur. Aku memang harus terbiasa mendengar suaranya setiap saat. Pilihan yang bagus. Ruby sebenarnya ingin melonjak kegirangan melihat buket mawar di atas mejanya ini. Dengan kata lain dia merasa tersanjung ada pria yang mengiriminya bunga cantik dengan warna favoritnya. Sayangnya pria itu bukan Anthony—tapi dia tidak memungkiri dadanya menghangat melihat kumpulan bunga mawar di dalam pot tersebut. Terima kasih Juan. Ucapan tulus dari lubuk hati Ruby, dan untuk  pertama kalinya dia menyukai caranya berkomunikasi lewat telepati seperti sekarang ini. Apapun untukmu Ruby. Entah kenapa ada getaran aneh menjalar menelusup ke dalam dad@ Ruby mendengar sahutan Juan tersebut. Kita harus bicara lagi nanti, tentang kita. Seketika jantung Ruby berdetak lebih kencang mendengar Juan menyampaikan kalimat tersebut dengan nada lembut dan serius. Ya. *** Ruby sudah berada di dalam ruangan Juan lagi. Namun, dia duduk pada sofa di ruang tamu yang letaknya persis dekat pada dinding kaca yang sangat besar. Ruby bisa sepuasnya memandang ke arah luar dengan bebas.    "Ruby, apa yang akan aku sampaikan ini mungkin akan membuatmu kembali meragukanku. Aku mengerti itu. Pasti sulit bagimu menerima suatu kenyataan yang tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehmu—sebelumnya.” Ruby menelan ludahnya. “Apa yang pernah kusampaikan padamu malam itu adalah kenyataan. Kau adalah takdirku.” “Juan….” “Kita berdua tidak bisa mengelak. Telepati ini adalah bukti bahwa kau adalah pasangan yang aku cari selama ini. Baik aku atau kamu tidak bisa mengingkari dan mengubahnya Ruby,” tutur Juan. Ruby menunduk. “Tapi ini benar-benar seperti kisah dongeng.” Juan berpindah tempat duduk dan mendekati Ruby, dia mengangkat dagu Ruby dengan jari telunjuknya sehingga mata Ruby yang berwarna hijau bergerak-gerak mengamati wajah Juan. Kepalanya mengangguk. Mungkin saja ini seperti dongeng. “Tapi cara kita berkomunikasi sekarang adalah nyata bukan? Aku tahu kau sangat menyadari hal itu.” Kelopak mata Ruby mengerjap ketika mendapati manik biru Juan sangat intens menatapnya. Dan yang membuat wanita itu syok, dia seolah hampir kehilangan kesadaran karena terhipnotis tatapan Juan. Demi Tuhan aku tidak pernah merasa seperti ini saat menatap mata Anthony. Berhentilah memikirkan Anthony. Salahmu sendiri karena mengintip pikiran orang lain. Mata biru itu membesar menyorot tajam ke arah Ruby. Rahangnya berkedut menahan sesuatu—amarahnya mungkin—karena warna biru itu meredup cenderung menggelap. "Aku sedang berusaha mencerna dan menerima ceritamu ini, Juan,” sahut Ruby, “dan kau tahu ini bukanlah hal yang mudah,” lanjutnya lagi. Pria itu mengangguk dan mata birunya mulai kembali terang. "Tanyakan apa saja yang ingin kau ketahui, Ruby," ujar Juan tanpa mengalihkan pandangannya dari Ruby, tapi dia melepaskan jarinya dari dagu calon istrinya itu. Ya sudah pasti pria itu membaca apa yang sedang berkecamuk dalam kepala Ruby memikirkan semua cerita darinya dan banyak pertanyaan yang muncul mengenai asal usulnya. “Pertama, aku bukanlah alien yang bisa berubah menjadi monster seperti pikiranmu itu. Kedua, aku berasal dari sebuah negeri kerajaan yang ada di atas langit sana.” Jari Juan menunjuk ke langit-langit ruangannya. Lalu dia menarik napasnya dalam-dalam sambil menatap Ruby, “dan aku adalah calon pewaris tahta dari Kerajaan Cxarvbunza, nama tempat asalku, dan juga asal leluhurmu,” paparnya. Kepala Ruby melengos seolah tidak percaya dengan semua yang keluar dari mulut Juan. Kerajaan langit? Kupikir itu hanya ada dalam film saja. “Kau bilang asal leluhurku?” “Kau itu bukan wanita sembarangan, Ruby. Darah yang mengalir di tubuhmu memiliki garis keturunan Cxarvbunza, karena itulah kau bisa mendengar suara telepatiku sekarang.” “T-tapi aku tidak pernah mendengar nama tempat itu, Sar—Sarburza—bunsa—apa tadi?” “Cxarvbunza.” Ya itu. Mana ada garis keturunan kerajaan langit. Yang kutahu mama bukan keturunan bangsawan, apalagi papa. Kalau memang aku keturunan bangsawan kenapa aku hanya punya apartemen kecil dan rumah mama berada di tempat terpencil? “Karena itulah tempat tinggalmu yang sekarang sangat tidak layak untukmu.” “Baiklah, Juan. Ada satu pertanyaan lagi, apa kau yakin hanya aku wanita satu-satunya yang bisa mendengar suara telepatimu itu?” “Aku sudah mencarimu ke segala penjuru dunia, dan Nebrash adalah tempat terakhir yang kukunjungi dan akhirnya bertemu denganmu. Bagaimana menurutmu?” "Bagaimana kalau setelah kita menikah dan kau menemukan wanita lain yang juga bisa mendengar suara telepatimu?" tanyaku. Juan menghela napasnya pendek, "Tidak akan ada wanita lain," tegasnya. Ya kan aku katakan kalau… kalau ada bagaimana? Aku pastikan tidak ada. Karena aku tidak menemukan yang lain selain dirimu Ruby! Kalau setelah menikah dan ternyata ada wanita lain yang bisa mendengarmu, kau akan menceraikan aku? Begitu? Mata Juan membesar. Kenapa sulit sekali membuatmu percaya padaku? Lagi pula ini sangat aneh. Zaman modern seperti sekarang ini, kita tidak lagi harus percaya pada peramal yang mengatakan hal mustahil seperti itu Juan. Bagaimana bisa seseorang yang bahkan belum dilahirkan bahkan bisa dikatakan berjodoh?? Pria berbadan tinggi dan tegap di sebelah Ruby itu tiba-tiba saja berdiri. Dia memutuskankan untuk a memanggil Dimitri demi menjaga agar gedung ini tidak luluh lantak karena amarahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD