TIDAK

2398 Words
  CHAPTER 7 - TIDAK Juan mendengkus pelan, Waktumu tinggal satu menit lagi. Dia menyampaikan ultimatumnya lewat pikiran yang masuk ke kepala Ruby di dalam ruangan sana. Seakan-akan aku ini tahanan yang dibatasi bertemu pengunjung. Ruby protes dalam hati sekaligus mengabaikan suara dalam kepalanya tersebut. "Tapi aku berharap kamu tidak gegabah mengambil keputusan, By. Karena aku lihat kamu tidak nyaman berada dekat pria itu," ujar Anthony. Ruby menganggap bahwa pria itu sangat perhatian padanya dan sangat mengenal dirinya. Karena Anthony memang benar, dia merasa tidak nyaman bersama dengan Juan dan pengawal-pengawalnya itu. Walaupun menurut Laima Juan adalah pria tertampan yang pernah dilihatnya, tapi hanya Anthony yang ada di hati Ruby. Ck, sepertinya kamu memang tidak boleh berlama-lama. B@nci itu ingin mempengaruhimu. “DIA BUKAN B@NCI!” Tiba-tiba saja Ruby berteriak dengan suaranya, ini karena dia saking kesalnya dengan ocehan Juan yang meledek pria pujaannya. Dia bukan laki-laki karena tidak berani mengungkapkan perasaan cintanya padamu!!   Perasaan cintanya? Maksudnya Anthony punya perasaan yang sama denganku? Ck, sudah terlambat membahas itu sekarang! Tidak ada yang bilang itu terlambat! Juan menggeram di luar sana. “Ruby? Kamu kenapa marah-marah?!” Laima menyentuh bahu Ruby sambil menatap sahabatnya itu dengan ekspresi cemas. “By? Maaf kalau aku membuatmu kesal… aku tidak bermaksud sok tahu dengan mengatakan kalau aku melihatmu tidak nyaman berada di dekat Juan. Tapi aku tidak mengatakan kalau dia banci By….” Tatapan Anthony sama cemasnya dengan Laima, tapi sekaligus merasa bersalah. Ruby terlihat gugup dan canggung karena amarahnya pada Juan terungkap dengan suaranya yang keras dan membuat kedua sahabatnya tentu saja kebingungan dan jadi salah paham. Dia menggelengkan kepalanya. "Huh? Eh… tidak—bukan maksudku—eh maaf kalau tadi aku terdengar seperti marah-marah. Tapi percayalah teriakanku itu bukan karena marah kepada kalian kok.” Dia menatap mata Anthony yang sendu sambil mencari tahu tentang perasaan pria tersebut dari tatapannya. Juan pasti sedang menggodanya, pikir Ruby sambil mengumpat. “Hh? Terus kamu marah sama siapa dong sampai teriak seperti itu?” tanya Laima makin kebingungan. Ruby menatap ke arah sahabatnya itu, sementara dalam kepalanya Juan terus mengancam akan masuk dan menyeret dirinya keluar. “Sepertinya aku tidak enak badan, Ma… maaf aku tidak bisa lama-lama di sini,” katanya sambil mengalihkan pandangannya pada Anthony, “aku pamit pulang ya Anthony. Dan sepertinya aku tidak bisa menemuimu lagi nanti.” Ruby mengerjapkan matanya dengan maksud memberikan tanda pada Anthony bahwa dia sedang berbohong saat ini. “Mata kamu kenapa By?” Tetapi Anthony tidak menangkap maksud Ruby. Percuma saja, aku tahu apa yang kamu rencanakan dalam hatimu. Tuhaaan… bagaimana aku bisa keluar dari semua ini??? Keluh Ruby dalam hati. Ruby mendengkus keras dengan putus asa. "Aku pulang ya…." "Iya By, kamu tenang saja, aku akan menemani Anthony sampai dia diperbolehkan pulang hari ini," ujar Laima. Akan tetapi itu tidak menenangkan Ruby sama sekali. Justru dia merasa ingin bertukar tempat saja dengan sahabatnya itu agar bisa menemani Anthony saat ini. Kamu pasti bercanda. Ruby pura-pura tidak mendengar suara itu dan berjalan keluar dari ruangan Anthony dengan langkah kesal. “By! Tunggu….” Laima menyusulnya dan memberikan sebuah bingkisan untuk Ruby, “Anthony menitipkan ini, dia memang berniat mau memberikannya padamu saat kalian bertemu tadi. Tapi jangan ketahuan tunangan kamu yang ganteng itu ya,” katanya. Ruby menerima bingkisan kecil dari Laima dengan wajah sumringah. Dia mengangguk dan menyimpan benda tersebut ke dalam tas mungilnya. Walau dia juga tahu Juan pasti akan mengetahui hal ini, tapi dia tidak akan menolak pemberian dari Anthony.   "Dan kamu harus jagain tunangan kamu  itu By! Bahaya kalau nanti diambil orang!" goda Laima ketika dia melihat sosok Juan yang berdiri di luar  ruangan IGD. Aku mengharapkan itu Ma, ada wanita lain yang mengambilnya dan menggantikan posisiku, gumam Ruby dalam hati dan Juan hanya menyeringai melihatnya. Apa kau yakin? Ruby tidak mau menjawabnya, tapi dia menanggapi komentar sahabatnya, “Tidak semua wanita memilih pria berdasarkan wajah tampan saja Ma,” ujarnya sambil melirik ke arah Juan. "Hh? Jangan munafik By! Tampang juga perlu untuk membuat hidup kita lebih bersemangat. Memangnya kamu bisa suka sama Anthony kalau tampangnya seperti Dome?” sahut Laima. Dan Ruby melihat Juan menganggukkan kepalanya di sebelah sana. “Laki-laki seperti Juan itu banyak peminatnya—bahkan bisa jadi banyak wanita yang memohon untuk bisa bers—mmpft!" Mata Laima mendelik menatap Ruby yang menutup mulutnya. "Sssh! Kamu berisik, tahu enggak?" Walau dalam hati Ruby tahu tindakannya itu sia-sia saja karena pria di ujung sana pasti bisa membaca pikiran sahabatnya itu dengan jelas. Laima menepiskan tangan Ruby sambil mengumpat, “Aduh By! Apa-apaan sih?” Dia mengusap mulutnya sambil melihat ke arah Juan dan dua pria yang bersamanya. "Aku sebenarnya masih merasa aneh By. Kamu itu suka sama Anthony dari dulu, tapi malah mau bertunangan sama orang lain! Untungnya Juan guanteng abis, jadi aku juga tidak bisa menyalahkan kamu yang langsung berpaling… siapa yang sanggup menolak cowok seperti tunangan kamu itu," ocehnya panjang. "Iish… sumpah yaa mulut kamu bawelnyaaa...." Ruby menghela napas panjang pasrah. *** Mungkin apa yang dikatakan Laima ada benarnya juga. Karena sepanjang jalan menuju keluar menuju lobi rumah sakit Ruby merasa menjadi pusat perhatian dari beberapa pasang mata yang dilewatinya. Wanita itu sadar kalau bukan dirinya yang menjadi pusat perhatian tersebut, akan tetapi pria yang berjalan di sebelahnya. Penampilan Juan bisa dikatakan sangat mencolok dengan double jas mahal yang ada di tubuhnya. Tampangnya juga tidak kalah menarik perhatian seperti dikatakan Laima, terlebih dagunya yang terbelah juga menjadi daya tarik lain yang tidak terelakkan. Ruby berdecak memprotes para wanita yang menatap Juan seolah malaikat yang turun ke Bumi. Langkah Ruby berhenti di depan Lobi ketka Dimitri membukakan pintu mobil di bagian penumpang. “Kita berpisah di sini saja, aku bisa pulang sendiri naik taksi.” Juan memberikan tatapannya yang tajam sekali saja dan membuat Ruby bergerak masuk ke dalam mobil tersebut. Oh Tuhan ini pasti akan jadi malam yang panjang. Sudah pasti. *** Suara alarm di kamar Ruby berbunyi nyaring dan membuatnya melonjak kaget. Dia baru saja memejamkan matanya dan alarmnya sudah berbunyi lagi. Oh hidup ini benar-benar tidak adil! Dumalnya dalam hati. Baru saja dia menikmati ketenangan yang sudah direnggutnya sejak pagi ini dia sudah harus bersiap-siap lagi untuk bertemu dengannya. Oh tidak Tuhaan…. Juan benar-benar pria keras kepala yang tidak terbantahkan. Karena laki-laki itu bisa dibilang hampir menginap di rumahnya karena baru pergi jam tiga dini hari tadi. Pria itu baru pergi setelah Ruby berjanji untuk memberinya kesempatan membuktikan ceritanya tentang takdir yang digaruskan untuk mereka berdua.  Walau masih diliputi perasaan tidak percaya dan aneh yang tidak berkesudahan Ruby pelan-pelan mencoba untuk menerima apa yang terjadi padanya. Memang sangat aneh bisa berbicara tanpa harus mengeluarkan suara seperti yang sudah dia alami kemarin, tapi kenyataannya itu terjadi padanya. Dia bisa berkomunikasi dengan Juan tanpa harus repot-repot mengeluarkan tenaga untuk suaranya. “Tapi tetap saja melelahkan lahir batin!” Dia tetap mendumal dengan suaranya sambil menuju ke kamar mandi. Untung saja tempat tinggalnya tidak dalam radius lima ratus meter dari sini. Hiiy… aku tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi… mana bisa aku hidup tenang?! Ruby memilih setelah blazer dan celana berwarna biru pastel dipadukan dengan tank top warna putih dengan potongan dad@ yang cukup rendah. Dia meraih tas kerjanya dan memasukkan kakinya ke dalam sepatu high heels berwarna putih setinggi 7 senti meter. Kemudian dia melangkah ke arah pintu dan membukanya. Namun dia melonjak kaget ketika menemui Dimitri yang ada di depan pintunya. “Ya Tuhan. Dimitri?!” “Selamat pagi Miss Ruby,” sapanya Dimitri sesopan mungkin. Ruby memperhatikan Dimitri dari atas sampai bawah. Pria itu masih menggunakan pakaian yang sama dengan tadi malam. Jantungnya berdegup keras, “Jangan bilang Juan menyuruhmu untuk tidak pulang dan berjaga di depan pintuku sejak tadi malam?!” Dimitri tersenyum menyejukkan. Pria itu menggeleng pelan, “Tidak Miss Ruby… ini adalah inisiatif saya sendiri,” katanya. Ck, aku tidak percaya sama sekali. Ruby tidak memperpanjang lagi pembahasan mengenai hal tersebut pada Dimitri. Tentu saja ini bukan salahnya. Pria ini kan hanya menuruti perintah majikannya. CEO arogan itu tidak memikirkan kesehatan anak buahnya! Tapi tampang Dimitri tidak seperti orang yang tidak tidur semalaman, pikir Ruby dalam hati. Padahal masih ada waktu sebelum menuju ke kantor, tadinya Ruby berniat untuk mampir ke tempat Anthony terlebih dulu. Namun, dengan adanya Dimitri sekarang geraknya sangat terbatas dan dia tidak punya alasan yang bagus untuk mengelak dari tawaran Dimitri untuk masuk ke dalam mobilnya. Dengan sikap yang sopan Dimitri mempersilakan Ruby untuk turun dari mobil. Waktu masih menunjukkan pukul 8.30 pagi dan ini masih terlalu pagi untuknya. Ruby terbiasa tepat waktu, masuk pukul 9.00—maka pukul 8.55 dia datang di kantor. Wanita itu menghela napasnya saat matanya memandang ke arah jam tangan yang melingkar manis di pergelangannya. Baiklah hari ini pengecualian karena ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai asisten Mr. Juan Terrel Mackinnley, gumamnya dalam hati. Pagi My lady. Seketika Ruby terhenyak dan hampir saja memekik kaget mendengar suara yang tidak asing dalam kepalanya. Orang-orang yang mengantri lift bersamanya memberikan tatapan yang aneh. Sebaiknya kebiasaan buruk itu dihilangkan, karena kau harus ada di kantor 30 menit sebelumnya mulai hari ini! Ck! Pintu lift terbuka dan kaki Ruby melangkah masuk ke dalamnya. Semua orang di dalam lift itu tidak tahu bahwa dia dan CEO perusahaan ini sedang berkomunikasi dengan cara yang aneh tapi nyata. Padahal Ruby sendiri tidak tahu pria itu berada di mana. Bukankah itu merupakan keistimewaan? Dan satu hal, jangan katakan ini cara yang aneh, kau hanya tidak terbiasa. Ya terserahlah. Ruby memilih pasrah menerima semuanya mulai sekarang, ini lebih baik dia lakukan daripada harus menjadi gila karena menolak kenyataan yang memang terjadi padanya. Ruby melangkah keluar lift pada lantai yang dituju. Aku menunggumu di ruanganku, My Lady. Berhenti memanggilku seperti itu, Mr. Juan. Dan kau berhenti memanggilku Mr. Juan. Aku calon suamimu. Ck. Calon suami apanya. Ruby.... “YA YA! Baiklah Mr. Juan.” Tanpa sadar Ruby berucap dengan suara yang cukup keras di depan beberapa staf yang dilewatinya. Tentu saja tatapan mereka yang mendengar Ruby tiba-tiba saja berteriak menjadi aneh, mungkin malah menganggap Ruby sedang tidak waras. Namun, Ruby berhasil mengabaikan pandangan mereka semua dengan terus melangkah penuh percaya diri menuju ruangan CEO mereka yang baru. Masuk. Suara tersebut bergema bahkan sebelum Ruby sempat mengetuk pintunya. Kepalanya menoleh ke meja sekretaris dan tidak ada siapa-siapa di sana. Ruby mengerutkan keningnya sambil mendorong pintu kayu berwarna cokelat tersebut. Dan Ruby menelan ludah mendapati Juan yang tengah berdiri di depan meja dengan senyum sempurna yang menghiasi wajah tampannya. Tidak bisa dipungkiri pria itu memang seperti malaikat dari langit ketujuh. Pesonanya tidak tertandingi. Akhirnya. Apa? “Akhirnya kau mengakui juga hal itu,” katanya dengan suara baritonnya. Ruby berdecak sambil mengumpat dalam hati. Mana bisa kukosongkan pikiranku ini saat berhadapan dengannya? Apa bisa Anda tidak masuk sembarangan ke dalam pikiran orang lain tanpa izin? Saya merasa Anda sedang melecehkan saya sekarang ini. Ruby memprotes dalam diam sambil berjalan mendekati bosnya itu. Juan menyeringai mendengar keluhan calon istrinya tersebut. “Aku tidak sedang melecehkan calon istriku sendiri, Ruby. Tapi aku mau mengucapkan terima kasih atas pujianmu tadi, walau kau tidak mau menyuarakannya… suara hati adalah yang paling jujur,” ujarnya sambil bergerak ke arah tempat duduknya. Dia menggerakkan tangannya ke arah kursi yang ada di depan mejanya dan meminta Ruby duduk di sana. Mata Ruby mengedari ruangan yang belum pernah dia masuki sebelumnya. Ruangan ini cukup besar dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan lalu lintas Nebrash sepanjang hari di bawah sana dengan langit bersih di pagi hari yang menyejukkan mata. Sementara di kejauhan terlihat gunung-gunung tinggi yang membatasi Nebrash dengan desa kecil yang menjadi tempat tinggal Ruby dan keluarganya. “Mejamu ada di luar dan aku tidak membutuhkan sekretaris, cukup kamu saja… tapi kalau kau ingin berbagi ruangan denganku di sini demi melihat pemandangan di luar sana, demi Tuhan aku sama sekali tidak keberatan,” ujar Juan. “Terima kasih, tapi aku memilih di luar saja.” Juan mengangguk, Oke. Dia menjawabnya dalam kepala Ruby. Seperti hampir terbiasa, Ruby menarik napasnya dalam-dalam. “Mr. Juan….” “Juan.” “J-Juan, apakah aku boleh bertanya satu hal?” Senyum Juan melengkung mendengar nada formalitas dalam suara Ruby. “Tentu.” “Apakah aku bisa membatasi akses Anda masuk ke dalam kepalaku? Dengan kata lain Anda bisa masuk dengan izinku?” “Tidak,” jawab Juan singkat dan cepat. Ruby menelan ludah dengan ekspresi keras dan kecewa. Benar-benar arogan. Juan mengabaikan suara Ruby. Dia memberikan beberapa dokumen kepada Ruby. “Berikan semua ini pada Edward dan setelah itu buat jadwal liburan buat kita berdua,” perintahnya. Huh? Kenapa? “Liburan?” Juan mengangguk. “Aku harus membuktikan padamu mengenai statusku dan juga status kita berdua. Menurutku kita bisa melakukan hal itu sambil liburan. Bukan begitu?” “Sepertinya percuma membantah Anda Mr. Juan,” jawab Ruby lagi-lagi dengan nada kepasrahan yang tinggi. “Juan.” Tidak ada calon istri yang memanggil calon suaminya dengan Mister. Menerimamu sebagai calon suamiku saja belum sepenuhnya bisa kuterima. Aw, itu sangat sangat menyakitkan, Ruby. Pria itu memegang dad@nya seolah sedang benar-benar kesakitan.. “Saya bisa pergi sekarang, Juan?” “Silakan Ruby.” Dan Ruby bergegas meninggalkan kursi menuju pintu keluar dengan derap langkah yang agak keras. Kau cantik sekali hari ini. Pipi Ruby memanas dengan sendirinya. Dan tanpa disadarinya bibirnya melengkung karena karena tersenyum oleh gombalan si CEO arogan yang mengaku sebagai calon suaminya itu. Dasar gombal. Seorang staf wanita yang melewatinya tersenyum aneh melihat gelagat Ruby yang salah tingkah ketika keluar dari kantor CEO. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita tersebut. Mau kuberitahu? Tentu saja pria di dalam sana itu tahu segalanya. Tapi Ruby menjawab, Tidak, terima kasih. Baiklah. Dan ajaibnya senyum Ruby malah semakin lebar karena mulai menikmati percakapan aneh ini. Fixed, aku benar-benar gila sekarang. Ruby berpikir di saat dia melihat orang lain dengan ponselnya dan tersenyum sendirian—hal itu masih bisa dimaklumi—karena ada media di antara percakapan mereka. Tapi apa yang terjadi dengannya dan Juan? Sekarang dia tersenyum sendirian tanpa ada ponsel atau media apa pun di tangannya. Jadi apa namanya kalau bukan gila? Aku tidak menganggap diriku gila, walau aku memang sedang tersenyum bahagia sekarang. Ruby menghela napas panjang, “Hhhh….” Mana bisa dia menyembunyikan pikirannya mulai sekarang. Aku sudah bilang jangan masuk pikiran orang sembarangan! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD