KAMU

1495 Words
  CHAPTER 6 – KAMU Odiv membukakan pintu untuk Ruby dan membantunya turun dari mobil yang cukup tinggi. Kemudian pria itu berjalan mendampingi Ruby sampai dia mencapai Juan dan menyamai langkah pria itu. Lalu Juan melingkarkan tangannya di pinggang Ruby dengan posesisf dan membuat Ruby sempat melonjak kaget. Sekarang pria itu bersikap seolah-olah memang benar dia adalah calon suaminya. Aku memang calon suamimu. Hfft, ya tentu saja dia bisa membaca apa yang kupikirkan sejak tadi, dan aku tidak akan memiliki privasi lagi, untuk berpikir jorok sekalipun. Sekarang mata biru Juan yang tajam menatap Ruby dalam-dalam. “APA!?” cetus Ruby, galak. Wanita itu menggunakan suaranya dengan nada tinggi yang bahkan getarannya sampai ke telinga Odiv—sehingga dia merasa was-was kalau calon rajanya itu tidak akan terima dibentak seperti barusan. Odiv menelan ludahnya melihat ekspresi Juan yang datar ke arah Ruby, tetapi dia bisa menghela napas lega ketika tidak melihat kemarahan di raut wajah pria itu. Aku tidak keberatan mendengarkan pikiran jorokmu. HIISH! Ruby geleng-geleng kepala. Ruby bertemu dengan Laima—sahabatnya, di lobi rumah sakit. Gadis itu mengatakan bahwa Anthony berada di Instalasi Gawat Darurat. Melihat ekspresi Ruby yang cemas Laima menjelaskan bahwa keadaan Anthony tidak seburuk yang dibayangkan. Walau dia sempat bertanya dalam hati mengenai pria yang berada di sebelah Ruby, tapi dia tetap menuntun sahabatnya itu menuju ruangan di mana Anthony tergeletak. Di lain sisi mata Juan membesar melihat Ruby yang tidak mengindahkan kehadirannya sama sekali. Bahkan gadis itu seolah lupa bahwa dia datang bersama dengan dirinya. Pikirannya dipenuhi oleh lelaki bernama Anthony yang terluka karena kecelakaan yang dialami pria itu. Langkah Ruby yang pendek terlihat seperti berlari mengikuti sahabatnya—Laima. Sangat jelas bahwa dia ingin segera bertemu dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria pujaannya tersebut memang dalam keadaan baik-baik saja. Dada Ruby menghangat ketika melihat senyum Anthony yang mengembang saat melihat kedatangannya. Namun, dia juga menyadari kebingungan Anthony yang mengerutkan keningnya ketika melihat seseorang yang berada di belakangnya. Siapa laki-laki itu? Kenapa datang bersama Ruby? Batin Anthony bertanya—dan bergema di kepala Juan. Juan mendecak pelan sambil merapatkan dirinya pada Ruby. Apa yang dimiliki pria ini sehingga membuat Ruby lebih menyukainya dibandingkan aku? Benar-benar selera yang aneh, pikirnya dalam hati. Ruby bergerak mendekati brankar Anthony dan menyentuh pinggirannya. Sebenarnya dia ingin sekali memegang tangan Anthony, tapi dia cemas pria itu akan menolaknya. “Ka—kamu baik-baik saja kan Anthony?” tanyanya hati-hati dengan tatapan prihatin melihat luka-luka pada tangan dan wajah sahabat laki-lakinya itu. Anthony mengangguk lemah, tapi dia tidak melepaskan senyumnya sambil menatap Ruby, “Aku baik-baik saja By. Seperti kamu lihat sendiri, ini hanya lecet-lecet saja…,” jawabnya sembari melirik ke arah Juan yang sejak tadi selalu menatapnya dengan tajam—cenderung sinis. “Ehmm… ngomong-ngomong kamu datang dengan siapa By?” Anthony memberanikan diri bertanya sambil menunjuk ke arah Juan dengan dagunya. Mau tidak mau Ruby menolehkan kepalanya ke belakang sambil cemberut. Baru saja dia akan membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Anthony, tapi Juan malah memegang pundaknya dan berkata, “Saya Juan, tunangannya Ruby,” katanya. Ish! Apaan sih? Ruby membesarkan matanya ke arah Juan. Itu memang benar. Bukan hanya mata Ruby yang melotot ke arah Juan. Sahabatnya—Laima juga memandang Juan dengan mata yang membesar dan mulut yang menganga. Sejak kapan ini anak punya tunangan? Pacaran saja belum pernah setahuku belum pernah, batinnya curiga sambil mengamati profil Juan dari atas sampai bawah. Perfecto! Guanteng banget! Diam-diam pintar juga si Ruby ini. Kemarin masih curhat tentang perasaannya pada Anthony, hari ini sudah bawa tunangan… ck, Ruby… Ruby. Sedangkan Anthony mengerutkan kedua alisnya sambil memandang ke arah Ruby dengan ekspresi penuh pertanyaan. Namun, Juan malah memberikan satu senyuman untuk sahabat calon istrinya itu karena pujian kepada dirinya. “Kamu tunangannya Ruby? Sejak kapan?” tanya Laima penasaran. Lalu dia memandang ke arah Anthony, “kok kita tidak pernah tahu kalau kalian pacaran ya?” Anthony mengangguk dengan senyum kecutnya. Apa ini artinya aku terlambat mengungkapkan perasaanku pada Ruby? Ah kenapa aku terlalu percaya diri kalau Ruby akan selalu memiliki perasaan untukku? Ruby melihat raut kecewa di wajah Anthony, ataukah ini hanya perasaannya saja? Sepertinya itu memang hanya perasaanmu saja. Juan menyahut di kepala Ruby. Ruby berdecak dan membuat kedua temannya menoleh kepadanya. Gadis itu merasa suara Juan benar-benar mengganggu dan merusak suasana. Dia mengabaikan suara berikutnya yang muncul sebagai protes. Bisakah aku punya privasi dengan teman-temanku? Itu tandanya aku harus menjauh lima ratus meter dari sini? Tidak mungkin! Ooh ya ampun! Tapi aku akan berada di luar bersama Odiv dan Dimitri. Kau punya waktu lima menit! Dia pikir aku sedang ke toilet hanya butuh waktu lima menit? Yang benar saja! Lima menit, atau aku akan menyeretmu keluar. Iyaaa… terserah! Lalu pria itu pun menunaikan janjinya dengan melangkah keluar ruangan. Tapi pada akhirnya Ruby merasa percuma saja mengusir pria itu, karena kalau memang benar dia bisa mendengar dengan jarak tertentu itu, maka percakapan Ruby dan teman-temannya tentu saja akan didengar olehnya. Lalu di mana privasinya?? Ruby mendengus pelan dengan ekspresi kesal. Ck, setidaknya sosoknya tidak ada di dalam sini, karena terus terang kehadiran membuat suasana jadi canggung. Dan yang pasti membuat Anthony berpikir yang tidak-tidak. Aku pasti akan memberitahukan soal ini padanya…. Hal itu tidak akan mengubah apa pun, Ruby. Laima berjalan mendekat ke arah sahabatnya dan berbisik, “Kamu kenapa By? Muka kamu kok keras gitu?” Ruby menggeleng pelan, “Tidak ada apa-apa….” Laima kembali berbisik, “Tapi sumpah ya By, tunangan kamu itu ganteng banget,” pujanya lagi. Sahabatnya itu menghela napas, “Percuma saja wajah tampan kalau tidak punya sopan santun Ma,” sahut Ruby pelan. Lagi pula tetap saja Anthony yang paling tampan untukku.   Hh! Yang benar saja! Ruby mendengar protes Juan dalam kepalanya. Asal kau tahu, Anthony merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku sekarang ini. Lagi-lagi Ruby berdecak pelan dan menatap Anthony yang terlihat  jelas seperti apa yang dikatakan Juan. Gadis itu sangat ingin membesarkan hati Anthony dengan mengatakan padanya bahwa dirinya dan Juan tidak benar-benar bertunangan, ini hanyalah sebuah cerita yang tidak masuk akal yang masih belum bisa dicernanya. Apa yang terjadi padanya seperti kisah di dalam cerita dongeng. Cerita dongeng katamu? Ruby mendengkus sekaligus menarik napasnya dalam-dalam. Laima sampai memperhatikannya. Tolong biarkan saya berpikir tanpa harus Anda campuri Mr. Juan yang terhormat! “By… kamu baik-baik saja?” tanya Anthony terasa lembut di telinga Ruby. “Huh? I-iya aku baik-baik saja kok Anthony.” “Tapi aku kaget mendengar kamu tiba-tiba saja bertunangan, By” ujar Anthony dengan tatapan sendunya. Seketika Ruby merasa bersalah seolah sedang mengkhianati pria pujaannya itu. Tidak perlu berlebihan. Suara Juan bergema di kepalanya. “M-maafkan aku Anthony… Laima. Semua ini memang mendadak, jadi aku tidak sempat bercerita… tapi suatu saat nanti aku akan menceritakan semuanya….” Jika aku sendiri sudah bisa menerima dan mencerna apa yang terjadi padaku hari ini. “Kamu tidak hamil kan By?” tanya Laima dengan pandangan penuh selidik. “Huh?” Ruby memukul tangan sahabatnya itu. “Kamu gila ya?! Mana mungkin aku hamil?” Sedangkan belum pernah ada pria manapun yang menyentuhku? Serius?? Suara Juan kembali terdengar dalam kepala Ruby, dan entah kenapa Ruby menangkap nada gembira dalam suara tersebut. “Habis kamu itu aneh, kemarin cerita kalau kamu mas—mmppth!” Ruby menutup mulut sahabatnya itu dengan tangannya sambil melotot. “Pokoknya lain waktu aku akan menceritakan kenapa aku berada dalam situasi sekarang, oke?” janjinya. “Kamu tidak sedang dipaksa menikah oleh orang tua kamu kan By? Tanya Anthony cemas dan pria itu menghela napas lega ketika Ruby menggeleng menjawabnya. “Tapi kalau aku yang dipaksa menikah sama cowok seperti Juan itu, aku tidak akan menolak!” seloroh laima sambil tersenyum. Ck, pasti ada seseorang di luar sana yang sedang besar kepala sekarang. Biasa saja. Ruby memejamkan matanya sambil tertunduk membayangkan Juan yang benar-benar sedang menyimak pembicaran dirinya dan kedua sahabatnya. Bahkan seorang Edward Cullen saja harus berhadapan dengan lawan bicaranya untuk bisa membaca pikiran orang lain. Akan tetapi pria ini bisa membaca isi kepala orang lain atau mendengar suara walau terhalang dinding berlapis atau baja sekalipun? Berasal dari mana pria ini sebenarnya. Ya Tuhan, benarkah aku baru saja membandingkannya dengan tokoh karakter dalam cerita fantasy yang k****a? Aku pasti sudah ikut gila. “Tidak, ini bukan paksaan pernikahan dari orang tuaku. Ini jauh dari kisah perjodohan seperti yang kalian pikirkan, kurasa ini lebih rumit dari itu,” terang Ruby. Kaulah yang membuatnya rumit. “Baiklah, kamu bisa cerita saat kamu siap menceritakannya By” ujar Anthony sangat bijak dan pengertian. Itulah yang dia suka darinya, pengertiannya yang tinggi. Anthony  adalah pria dengan segudang prestasi yang sejak dulu dikaguminya. Sebagai pria, Anthony adalah sempurna di matanya. Pintar, pengertian, lembut, tidak pernah marah—karena siaft pengertian tadi. Yang pasti Ruby merasa sangat nyaman berada di dekat pria itu. Tidak ada yang special. Ruby mengabaikan suara yang muncul dalam kepalanya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD