DAN

1604 Words
  CHAPTER 5 - DAN DAN Juan pun tersenyum puas mendengar teriakan calon istrinya tersebut.. Terus terang dia sendiri geram dengan pemikiran wanita itu. Bisa-bisanya dia berpikir kalau dirinya dan dua pengawalnya adalah orang gila dan wanita itu bahkan berniat memanggil petugas keamanan untuk mengusirnya. Benar-benar keterlaluan, batin Juan. Mata Juan mengarah pada Dimitri ketika dia merasa tidak lagi mendapatkan suara Ruby yang sedang menggerutu dalam kepalanya. “Aku kehilangan suaranya, Dimitri.” Ini pasti karena jarak telepati Yang Mulia masih terbatas. “Ya, kurasa kau benar juga. Kalau begitu cari apartemen kosong di sini dan aku akan menginap di sini malam ini,” kata Juan. Dimitri dan Odiv terkejut mendengar perintah calon rajanya. Namun, mereka tidak mungkin membantah perintah Juan, maka mau tidak mau mereka berdua mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Sambil menunggu, Odiv mencari informasi tentang ruang yang kosong untuknya, Juan kembali lagi masuk lebih jauh ke dalam lobi apartemen Ruby sampai dia kembali bisa mendengar isi kepala Ruby. Dia mengerutkan dahinya merasa aneh dengan wanita ini. Karena seharusnya dia bisa mendengar isi kepala gadis itu dengan jarak kurang lebih dalam radius 500 meter.  Dia juga masih tidak habis pikir dengan reaksi gadis itu—yang menganggapnya hanyalah orang tidak waras yang berkeliaran bebas. Kurasa reaksi wanita lain tidak akan seperti Ruby, jika dia memberitahu bahwa seseorang akan menjadi calon istrinya. Juan memilih kembali ke lantai di ruang apartemen Ruby berada dan dia akan menunggu Dimitri juga Odiv di sana. Odiv pasti tahu di mana dia berada, jadi Juan tidak perlu repot-repot memberitahu dua pengawalnya itu. Lalu bersamaan dengan terbukanya pintu lift, Juan mendengar Ruby menjawab panggilan telepon. Dari isi kepalanya Juan bisa tahu bahwa yang menelepon calon istrinya itu adalah si Anthony. Tapi panggilan tersebut dibiarkan tidak terjawab oleh Ruby. Itu hanya karena dia tidak tahu harus bilang apa pada Anthony. Kemudian ponsel itu berdering lagi. Berisik. Huh? Kenapa suara aneh itu kembali?? Aku bukanlah suara aneh Ruby! Aku calon suamimu. Tidak tahu malu. Juan tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam ruang apartemen Ruby lagi. Tentu saja Ruby syok dan jantungnya hampir saja berhenti karena melihat Juan ada di dalam ruangannya lagi. Aku tidak mengizinkan pria manapun meneleponmu! Ruby malah berdecak sebal dan tidak menghiraukan suara Juan. Kemudian kakinya malah melangkah ke arah ruangan kecil yang bisa diduga adalah kamar tidurnya. Dia menutup pintunya dan berpikir bisa sembunyi dari Juan yang akan membaca pikirannya. Ruby bisa sembunyi kapan saja, di mana saja, bahkan dalam dinding baja sekalipun, tapi Juan akan tetap bisa mendengar suaranya baik yang verbal ataupun dalam hatinya. Namun, sayangnya Ruby belum mengetahui hal itu. "Hallo Anthony?" “Aku Laima, By!” “Huh? Laima? Kenapa kamu menelepon dari ponsel Anthony? Kamu sedang bersama bersamanya?” Juan yang berada di luar kamar berdecak karena mendengar nada cemburu dalam suara Ruby. "Ruby, Anthony yang memintaku untuk memberitahumu, dia mengalami kecelakaan, karena itu dia juga tidak bisa datang menemuimu." “Apa? Ya Tuhan Laima, bagaimana keadaan Anthony sekarang?” “Dia sudah mendapat perawatan, dan untungnya dia baik-baik saja, walau mobilnya rusak parah.” “Oh ya ampun, aku kesana sekarang, kirim lokasimu Laima.” Ruby membuka pintu kamarnya dengan gusar, dia menatap lurus ke arah Juan, “Sekarang aku benar-benar harus pergi,” katanya dengan raut wajah penuh kecemasan. Juan mengangguk sambil mengernyitkan alisnya, “Oke, aku antar.” Wanita itu menggeleng cepat. Ck apalagi ini, “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri.” Giliran Juan yang menggeleng cepat, “Tidak ada pergi sendiri lagi. Aku akan mengantar ke mana pun kamu pergi mulai detik ini, Ruby! Karena kamu adalah calon istriku, mengerti?!" tegas Juan sampai membuat Ruby syok menatapnya. “Aku tahu kamu mau menemui pria itu… Anthony.” Mata Ruby membesar. “Anda menguping percakapan saya?” tudingnya. Terserah. Ruby mendengar suara Juan dalam kepalanya. Dia menelan ludah dan sepertinya mulai ikut tidak waras karena hampir memercayai omong kosong Juan dan pengawalnya. Tidak ada omong kosong seperti pikiranmu. Ini kenyataan. Dimitri mendapati Juan keluar bersama calon istrinya. Dari tatapan mata Juan ke arahnya, Dimitri langsung mengerti yang Juan inginkan. Akhirnya hanya Odiv yang pergi bersama Juan dan Ruby. "Nebrash Hospital Odiv," ujar Juan. "Baik, Yang Mulia." Kepala Ruby di sebelah Juan menoleh dengan cepat, matanya menatap pria itu penuh selidik. Rasanya dia belum memberitahu apa-apa dan ke mana tujuannya. Sudah kubilang aku bisa mendengar semuanya. Aku mendengar isi kepalamu saat membaca pesan dari temanmu itu. Aku tidak mau percaya! Juan menoleh ke samping memandangi calon istrinya itu. Terserah saja. Yang pasti mulai sekarang hidupmu tidak akan sama lagi. Ruby mendengkus kesal dan melemparkan pandangannya keluar jendela. Aku penasaran dengan pria bernama Anthony ini. Yang selalu kau sebut namanya dan membuat pipimu merona. Aku yakin sekali dia tidak akan lebih tampan dariku. Sekarang mata Ruby kembali melihat ke arah Juan. Warna kehijauan pada manik matanya sungguh memikat siapa saja yang memandangnya dan Juan bersumpah dalam hati bahwa dia bisa saja menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk memandang mata Ruby itu. Dia pacarku—Anthony. Juan terkekeh ringan. Dia mengetahui bahwa Anthony itu bukanlah pacar Ruby atau semacamnya. Laki-laki bernama Anthony itu hanyalah pria pujaan calon istrinya— dan saat ini dia menganggap Anthony adalah pria yang cerdas dengan tetap mengabaikan perasaan Ruby. Karena jika sebaliknya sudah pasti dia akan membuat keduanya berpisah secara paksa. Dan saat ini dia mendengar Ruby berharap dalam hatinya bahwa Anthony bisa diajak kerja sama untuk menjadi pacarnya di depan Juan. Juan yakin seratus persen, pria bernama Anthony itu benar-benat tidak pantas untuk dibandingkan dengannya. Sama sekali tidak, pikirnya. “Kenapa?” Ruby bertanya sehubungan dengan tatapan Juan yang tidak percaya dengan perkataannya. “Aku tahu dia bukan pacarmu.” Kamu hanya berharap dia jadi pacarmu. Hiih! Sok tahu! Ruby masih menggerutu dalam hati dan merasa dirinya semakin tidak waras dengan terus membalas telepati Juan. Aku bisa benar-benar masuk rumah sakit jiwa kalau ini berlangsung terlalu lama, ocehnya tanpa suara. Dasar orang gila yang haus kekuasaan, sampai-sampai ingin dirinya dipanggil Yang Mulia. Gila parah…. Hanya kau yang kuizinkan memakiku sesuka hatimu My Lady. Ruby menatapnya dengan mata yang membesar. Aku akan membuktikan kalau kenyataan ini bukan sesuatu yang tidak waras, Ruby. Ini semakin membuatku sakit kepala karena hampir percaya dengan omong kosong ini. Ruby menggelengkan kepalanya, seolah dengan begitu suara Juan akan menghilang dari kepalanya selamanya. Dia benar-benar menolak untuk memercayai semua yang sudah nyata di depan matanya. Dia kembali memalingkan wajahnya ke arah Juan. "Siapa Anda sebenarnya Mr. Juan?" Akhirnya dia bertanya dengan suaranya. Manik hijaunya bergerak bergantian ke arah Juan, lalu kepada Odiv di balik kemudi. “Siapa kalian sebenarnya?” Kepalanya agak miring sedikit dan fokus menatap Juan, “Dan kenapa mereka memanggil Anda dengan sebutan Yang Mulia?” tanyanya diliputi perasaan penasaran campur cemas dengan semua kejadian yang datang kepadanya hari ini. Oh! Aku benar-benar tidak percaya sedang bertanya hal aneh ini pada seeorang yang mengaku-aku sebagai calon pemimpin sebuah kerajaan—yang entah berada di mana dan juga sebagai calon suamiku. Ruby, dengar! Aku bukan orang yang mengaku-aku! Aku adalah calon suamimu, dan kau harus bisa menerima itu, seperti halnya aku menerimanya! Dan perihal panggilan  untukku… aku tidak bisa menolaknya Kembali bola jamrud pada matanya bergerak-gerak seiring kelopaknya yang bergoyang pelan, bulu matanya seolah sedang menari dengan indah, dan sedetik kemudian gadis itu memalingkan pandangannya dari Juan. Aku pasti sedang larut dalam buku fantasy yang k****a belakangan ini. Juan mengembuskan napas berat mendengar penolakan berulang dalam kepala Ruby. Dia meraih bahu wanita itu dan memutar tubuh Ruby sembilan puluh derajat agar menghadapnya.  Ini bukan mimpi! Bukan juga karena kau kebanyakan membaca buku fantasy! Ini nyata, aku bisa mendengar suara dalam hatimu, pikiranmu dan apa pun yang kau katakan tanpa suara! Dan kau bisa mendengar suara telepatiku! Hanya dirimu satu-satunya wanita yang bisa mendengar suaraku itu, dan itulah yang membuatmu menjadi calon istriku! Kepalanya kembali menggeleng. Tidak mungkin. Kau mau bukti lain? Katakan dengan apa aku harus membuatmu percaya bahwa ini semua bukanlah mimpi. Ruby melepaskan tangan Juan di bahunya, "Lepaskan Mr. Juan! A-ku mungkin memang terobsesi dengan cerita fantasy, tapi aku tidak akan percaya omong kosong seperti ini!" Odiv seperti menahan napasnya. Ternyata calon permaisuri Cxarvbunza itu cukup sulit untuk diyakinkan. Juan mendengar komentar Odiv dalam hatinya, jujur dia pun merasa demikian. Tapi Juan tidak berniat untuk menggunakan cara ekstrim demi meyakinkan Ruby, bisa jadi gadis itu malah lari ketakutan dan semakin menolaknya. Tiba-tiba mata Ruby melotot ke arahnya. Jangan-jangan mereka adalah alien! "Ruby, kami bukan alien!" "Ya Tuhan!" Ruby memegangi kepala dengan tangannya sambil memandang ke arah Juan dengan mata hijaunya. "Jangan mengintip isi kepala saya Mr. Juan!" Aku tidak mengintip atau apa pun itu namanya! Apa yang terlintas di pikiranmu terdengar dan terbaca dengan jelas olehku. Demi Tuhan! Apa kau benar-benar bisa membaca pikiran orang lain? Atau hanya pikiranku saja? "Aku bisa membaca semua isi kepala orang yang kuinginkan dalam radius lima ratus meter, Ruby," jawab Juan dengan suaranya rendahnya. Tubuh Ruby menegang, dia memperbaiki posisi duduknya dan kembali pada posisinya semula, dengan pandangan ke luar jendela mobil. Dia memandang kerlap kerlip lampu yang menerangi Nebrash pada malam hari.. Aku tidak mau mendengar suaranya dalam kepalaku. "Sayangnya itu sudah menjadi takdirmu! Terimalah." Ruby menutupi lagi kepala dengan tangannya. Sekarang dia benar-benar merapat pada pintu mobil untuk menjauh dari bosnya itu. Jangan masuk ke kepala orang lain tanpa ijin! Juan tersenyum sembari menggeram, dia mengembuskan napasnya pelan. Hanya wanita di sebelahnya inilah yang bisa melarangnya, dan dia mengizinkannya untuk berbuat seperti itu. Karena tidak ada seorangpun yang pernah melakukan hal ini padanya. Tidak seorang pun. Kecuali gadis cantik bermata hijau di sebelah Juan sekarang ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD