♪ I see your true colors shining through ♪
Suara ponselku berbunyi dengan cukup keras sehingga aku sedikit melompat karena terkejut. Cepat-cepat kuambil dari dalam tas dan mendapati nama Bryan tertera di layar. Namun saat hendak menekan tombol ‘Jawab’, panggilan itu berakhir. Ada apa?
Tak sengaja aku melirik pada Ben yang kemudian berkata, “Jangan kuatir. Silakan ambil waktumu. Aku juga akan memanggil kakakku dan kembali segera.” Ia berjalan pergi menuju ke suatu arah di kafe itu, aku tidak melihatnya karena berfokus pada ponselku.
Penasaran kenapa Bryan memutuskan panggilan sebelum kujawab, aku pun mengirimkannya sebuah pesan. Kutanya padanya ada apa dan menunggu jawabannya.
Pada saat yang hampir bersamaan, Brigida dan Ben serta kakaknya datang.
“Jadi, bagaimana hasilnya?" Ben bertanya kembali pada Brigida yang kini menjadi seperti pembuat keputusan.
“Kurasa tidak ada salahnya kalau kau tidak keberatan, Ben. Bukan begitu, Brig?" aku mengutarakan pendapatku sebelum Brigida sempat berucap. Kupikir aku perlu privasi sesegera mungkin agar dapat mengobrol dengan Bryan, kalau-kalau ia mau bicara. "Lagipula kita tidak tahu kapan Mike akan selesai, kan?"
Bill beranjak dari kursi dan menyahut, "Aku setuju." Adikku ini mengherankan sekali. Pikirannya tertuju pada ponselnya tetapi ternyata ia masih terhubung dengan dunia nyata.
Brigida mengangguk. “Benar. Mike juga menyarankan agar kita lebih dahulu ke rumah kalian,” begitulah hasil keputusan setelah mengobrol dengan suaminya.
“Ah ya. Ini kakakku, Vincent,” Ben memperkenalkan seorang pemuda berambut pirang dan sedikit lebih tinggi darinya.
Masing-masing dari kami pun berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
Setelah Brigida selesai membayar apa yang kami pesan sebelumnya, kami berjalan bersama keluar dari kafe menuju ke parkiran mobil. Di dekat sebuah mobil Audi SUV warna hitam kami berhenti.
Setelah kunci otomatis dibuka, Bill dengan tidak sopannya langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di jok tengah paling pojok dekat pintu sebelah kiri. Aku merasa tidak enak hati atas sikapnya yang tiba-tiba aneh ini.
“Tolong maafkan dia,” ucapku mengenai Bill terhadap Ben dan Vincent.
Vincent menggeleng tanda tidak mempermasalahkan hal itu, lalu masuk ke sisi setir.
Sementara itu, Ben berkata, “Jangan kuatir. Setiap anak laki-laki pernah melakukan hal yang sama,” lalu mempersilakanku dan Brigida masuk.
Di sepanjang perjalanan, Ben lebih banyak bicara daripada kakaknya. Ia bertindak layaknya seorang pemandu wisata yang menginformasikan mengenai berbagai tempat yang kami lewati. Aku dan Brigida sesekali menimpali ucapan Ben. Tanpa terasa, perjalanan pun berakhir dalam waktu singkat.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah dengan pintu gerbang terbuka yang sangat tinggi. Aku, Brigida dan Bill keluar dari mobil, diikuti oleh Ben. Setelah kami mengucapkan terima kasih, Vincent menyetir mobilnya masuk ke rumahnya yang letaknya memang tepat di sebelah rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami.
"Kau tahu, Joana? Rumah ini sudah bertahun-tahun tidak ditinggali oleh siapapun sejak pertama kali dibangun. Aku sempat bertanya-tanya siapakah yang akan menjadi pemiliknya. Rupanya itu kau dan keluargamu," Ben sedikit menceritakan mengenai latar belakang rumah ini.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Dalam hati aku juga bertanya-tanya bagaimana Papa dan Mama mendapatkan rumah yang mengagumkan ini, terlebih karena kondisi keuangan keluarga kami yang tidak terlalu baik. Ini sungguh aneh.
“Pintu gerbangnya sudah jelas terbuka lebar. Apakah kita bisa masuk ke dalam rumah sekarang?" Bill bertanya sarkastik.
Aku melirik pada Brigida seketika, memberi kode bahwa aku betul-betul tidak habis pikir akan kelakuan Bill hari ini.
“Ya, tentu saja. Ayo kita masuk," ucap Brigida.
Tanpa menunggu, Bill langsung berjalan mendahului.
“Mm, apa kau mau ikut masuk ke dalam, Ben?" aku menawarkan dengan ragu-ragu.
Ben menggeleng. "Lain kali aku akan mampir ke rumahmu. Tapi sepertinya aku dibutuhkan di rumah sekarang," sahutnya dengan gerakan kepala ke arah sebuah rumah di sebelah kanan.
“Baiklah. Rumah ini terbuka lebar untukmu, kurasa. Terima kasih banyak atas kebaikanmu untuk orang asing ini ya," kuberikan senyuman terbaikku padanya dan melambai padanya ketika ia hendak berbalik pergi. Aku ngapain tadi ya? Kok bisa jadi ramah banget sama dia?
Brigida dan aku berjalan memasuki area rumah secara berdampingan. Jarak antara gerbang dan rumah adalah sekitar sepuluh meter. Rumah ini memiliki gaya modern sederhana sehingga menimbulkan kesan elegan. Sebagian dinding rumah di bagian depan adalah kaca sehingga yang ada di dalam tampak dari luar. Tepat sebelum sampai di depan pintu depan rumah, ada sebuah taman kecil.
Brigida mengatakan bahwa kamarku dan Bill letaknya ada di lantai dua. Itulah sebabnya aku langsung menaiki tangga untuk mencari kamarku. Dari tangga sebuah kamar terbuka dengan kertas bertuliskan 'Joana' terlihat jelas. Segera kumasuki kamar itu dan menutup pintunya. Karena merasa lelah, aku langsung membaringkan tubuhku di atas ranjang dan memejamkan mata.
♪ I see your true colors shining through ♪
Otakku yang baru saja kuistirahatkan menjadi aktif kembali ketika mendengar nada dering telepon genggamku. Aku bangkit dari posisi berbaring dan segera menjawab panggilan dari Bryan. Tepat seperti dugaanku.
"Hei, Joana. Kita baru banget sampai di sekolah nih," ucapan itu segera memasuki telingaku setelah aku menempelkan ponselku di telinga. Tapi itu suara Lisa diiringi oleh suara-suara berisik lainnya yang aku tahu adalah ketiga sahabatku yang lain.
“Hai Lisa," aku tersenyum-senyum sendiri. Rasanya aku seperti kembali berada di dekat sahabat-sahabatku ketika mendengar suaranya.
“Lima menit lagi masuk kelas nih. Ujian mulai, saudara-saudara. Hari ini Matematika sama PKn." Yang ini suara Maggie. “Tapi kangen kamu.“
“Aku juga,” sahutku cepat. “Eh, betewe kalau telepon biasa gini apa nggak mahal sih?”
“Ah, nggak usah kuatir. Bryan kan selalu oke kalo untuk kamu. So, gimana tempat barumu, Jo?" Suara renyah ini jelas milik Doni.
"Oh, yah gitu sih. Bagus," aku hanya terkekeh.
“Ih, jawabnya gitu doang. Kenapa? Nggak suka?" Maggie.
“Hmm, suka kok. Nanti aku kirimin foto-foto ke kalian lewat f*******: inbox ya ya,” aku berjanji.
“Joana, nanti kita ngobrol lagi ya. Udah pada masuk kelas nih,” suara Bryan kini terdengar. Tapi sayangnya hanya untuk mengakhiri obrolan singkat ini.
“Ah, oke. Semangat ya, kalian berempat! Sukses!” kuhantarkan harapan baik untuk mereka.
Kudengar mereka berterima kasih secara bersama-sama sehingga mengakibatkan suara bising di ponsel. Setelah itu panggilan pun berakhir.
Ah, sebentar banget. Tapi nggak papa lah. Udah bagus bisa tetep ngobrol sama mereka.
Aku bersyukur ada teknologi seperti sekarang. Kalau aku hidup di masa yang lebih lampau, mungkin aku bisa mati karena benar-benar kesulitan berkomunikasi dengan keempat sahabatku itu. Bisa bertahan selama ini disini adalah berkat lancarnya komunikasi kami.
Sebuah ketukan di pintu kamarku samar-samar terdengar. Dengan terpaksa aku membuka kedua kelopak mataku yang masih ingin melekat setia melindungi bola mataku. Dengan langkah gontai dan sambil meraba-raba, aku berjalan menuju ke pintu kamar dan membuka kuncinya.
“Joana," sosok seorang wanita keibuan yang tidak lain adalah Brigida, muncul dengan sebuah nampan berisi segelas jus apel dan sepiring makanan. "Ini makan malammu."
Aku mengusap kedua mataku sambil menggeleng. "Oh tidak. Kenapa kau harus repot membawakannya kemari? Aku tidak enak hati jadinya. Aku terbiasa makan di ruang makan bersama-sama dengan keluarga."
Brigida tersenyum lebar mendengar ucapanku. “Aku terbiasa untuk melayani. Jadi jangan merasa tidak enak hati, oke?” katanya.
“Ya, tapi kau bukan pelayanku, dan aku bukan majikan. Dulu kau pernah menjadi pengasuhku dan itu berarti kau pernah menjadi bagian dalam hidupku.” Aku harap Brigida mengerti karena merepotkan orang lain adalah sesuatu yang paling aku hindari. Begitulah Papa dan Mama mengajariku.
"Baiklah, aku akan membawa makanan ini ke ruang makan," ucapnya.
Dengan cepat kuambil nampan itu dari tangannya. “Tidak. Aku yang akan membawanya. Jangan susahkan dirimu,” pintaku.
Brigida menepuk lengan kananku. “Baiklah. Tapi kau perlu mandi dulu sebelum makan malam. Segarkan dirimu,” ia menyarankan. “Sekarang sudah lebih dari pukul enam.”
Aku baru tersadar telah tertidur lelap dan pasti tampak berantakan sekarang. “Kau benar. Aku akan segera turun setelah mandi,” ucapku padanya.
“Nah, kalau begitu nampan ini biar kubawa ke ruang makan,” Brigida mengambilnya kembali dari tanganku. “Sementara itu, kau bisa mandi.”
Situasi ini cukup menggelikan bagiku. Kami seperti dua orang anak kecil yang sedang berebut. Karena tidak punya alibi lain, aku pun mengalah dan mengikuti instruksinya.
Selepas Brigida pergi, kututup pintu kamar kembali lalu berjalan menuju ke lemari. Sebelum membukanya aku teringat bahwa pakaianku masih ada di dalam koper yang entah kapan diletakkan di dalam kamarku. Mungkin saat aku tertidur tadi Mike atau Brigida membawanya kemari? Entahlah. Saat ini yang kuperlu adalah mandi. Kuambil satu setel pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dalam waktu singkat aku keluar dari kamar dengan tampilan segar dan santai, lalu menuruni tangga menuju ke lantai satu. Aku masih belum mengenal rumah itu sehingga aku menyempatkan sedikit waktu untuk berputar sebelum sampai ke ruang makan. Rumah ini terlampau besar sehingga secara pribadi aku kurang menyukainya.
Ruang makan ada di sebelah barat. Disana makanan dan minuman tersedia di atas meja. Bill sudah duduk di kursi dan melahap makanannya. Ketika mendapatiku ia tampak cukup terkejut jika dilihat dari sorotan matanya, tetapi kemudian ia berpaling dariku dan melanjutkan makannya kembali. Jelas aku harus bertanya padanya ada apa dengan sikapnya hari ini.
Sementara itu, Brigida dan Mike yang sudah selesai dengan urusan mobil duduk di meja juga tetapi belum menyantap makanan. Aku bertanya kenapa dan jawabannya membuatku sedikit merasa bersalah.
“Kami menunggumu, Joana,” Brigida memberitahu. “Kemari. Duduk disini.”
“Terima kasih. Tapi kau dan Mike tidak perlu melakukannya,” ucapku sembari duduk di sebelah Brigida. “Oh ya, kenapa Papa dan Mamaku belum datang?”
Dengan mulut penuh makanan Bill menyahut dalam bahasa Indonesia, “Kerjaannya masih ribet.”
Brigida dan Mike yang tak tahu sama sekali apa yang Bill ucapkan pun berpaling padaku.
“Dia berkata kalau Papa dan Mama masih sibuk dengan pekerjaan,” aku menerjemahkan untuk mereka. “Benar begitu? Apa kalian mendengar dari mereka juga?”
Mike mengangguk. “Tadi Papa kalian menelepon, meminta tolong agar kami menemani kalian berdua disini,” sahutnya.
Lagi-lagi aku tidak enak hati. Mike dan Brigida harus mengorbankan waktu mereka untuk kami. Mungkin nanti aku bisa memberitahu Papa dan Mama agar memberikan sesuatu sebagai tanda ucapan terima kasih.
Brigida menyodorkan piring yang sama yang ia bawa untukku tadi. “Sekarang silakan makan. Aku sudah menghangatkannya. Kau pasti juga sudah lapar,” katanya.
Aku mengangguk lalu menyantap makanan itu setelah memanjatkan doa singkat.
"Joana, apakah kau sudah mendengar tentang sekolahmu?" Brigida membuka pembicaraan.
Tanpa kata terucap, aku menggeleng. Sejauh ini aku belum mendengar apapun dari Papa atau Mama mengenai tempat dimana aku bersekolah.
“Bagaimana denganmu, Bill?” Brigida ganti bertanya pada adikku. “Kau juga belum tahu?”
Bill menoleh dan menggeleng juga. “Aku tidak yakin tetapi seingatku namanya adalah sesuatu CAPA,” katanya. “Oh, dan untuk Joana Mount sesuatu. Entahlah.” Ia mengedikkan bahu lalu meneguk segelas jus tomat kesukaannya.
“Mungkin yang dimaksud adalah Pittsburgh CAPA dan SMA Mt. Lebanon,” sambung Mike. Diletakkannya sendok yang dipakainya dalam posisi selesai dan kemudian menyandarkan kedua pergelangan tangannya di pinggiran meja. “Pittsburgh CAPA adalah sekolah seni pertunjukan. Apa kau memang tertarik dalam seni, Bill?”
Dengan penuh antusias Bill mengangguk. “Papa dan Mama memang yang terbaik! Aku ingin sekolah seni visual dan mereka tahu apa yang kuperlu.” Jelas di wajahnya tampak ekspresi gembira.
“Bagaimana dengan Mt. Lebanon?” Kini aku menjadi penasaran mengenai sekolah itu.
“Hmm,” Mike menghela nafas. Aku tidak tahu apa maksudnya sampai aku mendengar jawabannya. “Ini adalah sekolah umum yang bagus sekali. Terkenal dengan murid-muridnya yang berprestasi. Apa mungkin kau adalah murid berprestasi di sekolah yang sebelumnya?”
Pertanyaan seperti ini adalah sesuatu yang aku tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk menjawabnya. Alhasil aku hanya mempertontonkan deretan gigiku yang rapi. Menjawab pertanyaan ini dengan ‘ya’ terkesan seperti menyombongkan diri.
“Kau tidak perlu meragukan hal itu, Mike. Yang dia kerjakan adalah belajar dan belajar,” sahut Bill. Ia kini terdengar lebih santai daripada sebelumnya. Mungkin ia hanya lelah tadi sehingga sedikit sensitif. Aku menjadi lega sekarang.
Brigida menepuk punggungku. “Kau akan merasa cocok di sekolah itu. Percayalah padaku,” ucapnya yakin.
Sebagus apapun sekolah itu jika aku harus menjalani kehidupan tanpa para sahabatku akan terasa biasa saja. Tapi yah, sudahlah. Aku akan bertahan sebaik mungkin di sini demi keluargaku. Siapa tahu aku mendapatkan keberuntungan dan bisa kembali bersatu dengan Bryan, Doni, Maggie dan Lisa di Bali?
~ ADOMF