FOLDER RAHASIA

1174 Words
Dalam diam, lengan berotot pria itu mengunci tubuh Aveline. Deru napasnya yang hangat menyapu tengkuk, membuat bulu kuduk Aveline meremang. Aveline melirik ke arah nakas, tanpa pikir panjang, dengan sekali sentakan ia berhasil menyambar gas air mata dan melemparnya ke dinding. Asap dari gas air mata menyebar dengan sangat cepat, melenyapkan jarak pandang dalam hitungan detik. Roman terbatuk hebat di belakangnya. Aveline merasakan cengkeraman tangan pria itu terlepas saat hidung dan matanya mulai terbakar oleh iritasi kimia. Aveline jatuh berlutut. Rasa perih di matanya justru memicu adrenalin yang membuatnya tetap terjaga. Ia merangkak menjauh, meraba apapun yang ada di depannya. Aveline menyeka air matanya yang jatuh. Ingatan tentang kecelakaan masa lalu kembali menghantuinya. Tapi bagaimana mungkin? Kerangka yang seharusnya terkubur puluhan tahun lalu, kini bersemayam tepat di bawah rumahnya. Di tengah kabut asap yang menyesakkan, ia meraba mencari letak nampan medis yang tadi diletakkan Roman di atas meja dorong logam. “Diam, Ava. Jangan coba melawan. Ah, rupanya kau lebih jenius sekarang, menarik sekali.” Aveline tidak menjawab. Dengan gemetar, jemarinya menyentuh permukaan logam meja dorong. Ia meraba peralatan yang tersusun rapi di sana dan menemukan sebuah botol semprot kecil berisi Ethyl Chloride—cairan bius lokal yang biasa digunakan Roman untuk membekukan saraf sebelum penyuntikan. Di sampingnya, jemari Aveline menyentuh gagang nampan yang berisi larutan alkohol pekat sembilan puluh persen. Roman mendekat. Sosoknya mulai terlihat sebagai bayangan di tengah kepulan asap. Ia memegang pistolnya dengan tangan yang gemetar. Roman tidak lagi terlihat seperti dokter bedah saraf yang berwibawa, ia tampak seperti pria gila yang kehilangan kendali atas eksperimennya sendiri. “Aku tahu kau di sana, Sayang,” bisik Roman. Ia mengarahkan pistolnya ke arah meja dorong. Aveline mengambil botol semprot itu. Ia menahan napas, membiarkan tubuhnya merapat dinding. Saat Roman hanya berjarak satu meter darinya, Aveline bangkit dengan sentakan cepat, menerjang ke arah Roman dan menyemprotkan cairan kimia itu tepat ke mata suaminya. “Argh!” Roman menjerit, menjatuhkan pistolnya ke lantai. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya terhuyung ke belakang hingga menabrak rak buku medis hingga ambruk mengenainya. Tidak sampai di situ, Aveline menyambar botol alkohol pekat dan menyiramkan isinya ke arah tangan dan wajah Roman yang sedang terluka. Rasa terbakar yang luar biasa membuat Roman tersungkur ke lantai. Ini adalah pertama kalinya Aveline melihat Roman berada dalam posisi yang sangat lemah, merangkak di bawah kakinya sendiri. Aveline melihat pistol Roman yang tergeletak di lantai, tanpa pikir panjang ia mengambil senjata itu, lalu mengarahkan pistol itu ke arah Roman sambil mundur perlahan menuju pintu. “Kau... kau berani menyakitiku, Ava?” Roman merintih. Rasa tidak percaya menghantamnya. “Aku hanya melakukan apa yang kau ajarkan, Roman. Membuang bagian yang merusak sirkuit,” balas Aveline. Aveline keluar dari ruangan itu. Ia menarik pintu baja yang berat dan memutar kunci manualnya dari luar, meninggalkan Roman yang masih meraung di dalam laboratorium. Aveline menaiki anak tangga menuju lantai utama. Ia berjalan ke arah dapur, meletakkan pistol itu di atas meja marmer, lalu mencuci wajah dan tangannya di bawah kucuran air wastafel yang deras. Ia menatap pantulan dirinya yang pucat di jendela dapur yang gelap. Ia berjalan menuju ruang tengah. Laptop milik Roman masih menyala di atas meja kerja, memancarkan cahaya biru yang tajam di ruangan yang sunyi. Aveline mendekat. Ia melihat ada notifikasi pengiriman dokumen masuk dari frekuensi terenkripsi yang tidak ia kenal. Ia duduk di kursi kerja Roman, membuka dokumen tersebut dengan jari yang masih sedikit bergetar. Dokumen itu berisi ribuan baris data, namun fokus Aveline tertuju pada sebuah folder berjudul Laporan Otopsi Kecelakaan 2004. Ia membuka file gambar di dalamnya. Itu adalah foto-foto TKP kecelakaan mobil ibunya dua puluh tahun lalu. Di salah satu sudut foto yang diperbesar, terlihat seorang pria muda mengenakan seragam paramedis sedang berdiri di dekat tebing. Pria itu memegang sebuah liontin—liontin yang sama dengan yang ditemukan di bawah ubin tadi. Aveline memperbesar gambar wajah pria itu. Namun, kualitas fotonya sangat rendah, dan sulit mengenali struktur rahangnya. Namun, mengapa Roman menyimpan foldernya? Roman yang membawa kerangka itu sejak di awal karirnya? Brak! Brak! Brak! Tiba-tiba, suara gedoran pintu terdengar. Aveline membeku di kursinya. Ia menoleh ke arah koridor yang gelap. Bunyi pintu baja yang terbuka secara elektrik menggema hingga ke lantai atas. Disusul derap langkah kaki, menaiki tangga. Pintu menjeblak terbuka. Roman berhenti di ambang pintu dengan wajah memerah akibat siraman air keras dan matanya tampak bengkak, namun pria itu tidak lagi menutupinya. Ia berdiri tegak, merapikan kerah kemejanya yang berantakan. “Kau melakukan kesalahan kecil, Ava. Kau lupa bahwa aku yang merancang pintu itu? Dan aku tidak butuh kunci manual saat aku memiliki kunci biometrik di bawah kulit lenganku.” Roman menatap Aveline yang masih membeku di tempatnya tanpa berkedip, intensitas yang membuat korban merasa ditelanjangi. Lalu, pandangannya bergeser ke arah laptop di belakang Aveline. “Kau sudah melihatnya, bukan? Foto itu cukup jelas. Kurasa aku tak perlu lagi membocorkan rahasia yang kau sendiri sudah pahami. Rahasia itu kini milikmu juga.” Aveline memutar kursi kerja itu, dan perlahan berdiri saat Roman berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu tidak tampak marah, ia justru tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang memancarkan kepuasan intelektual. “Aku tidak membiarkannya mati begitu saja, Ava. Dia sudah mati saat mobil itu berhenti terguling. Aku hanya tidak ingin membiarkan keindahan seperti itu membusuk di bawah tanah pemakaman umum yang lembap. Aku memberinya tempat yang lebih terhormat. Di bawah kaki kita.” Aveline merasakan perutnya bergolak, namun ia menekan rasa jijik itu. Ia meraih pistol yang tadi ia letakkan di atas meja, menggenggamnya dengan kedua tangan yang kini jauh lebih stabil. “Kau membunuh ayahku juga?” Roman terkekeh. “Kau pikir anak kecil sepertiku bisa melakukannya?” “Ya, aku yang menyentuh mobilnya. Tapi kecelakaan itu adalah variabel yang tidak bisa kukontrol. Aku hanya memanfaatkan peluang yang ada,” jawab Roman. Ia melangkah satu tahap lagi, mengabaikan moncong senjata yang mengarah ke dadanya. “Dan sekarang, kau mencoba menyakitiku dengan peralatan medis yang aku berikan padamu? Itu adalah kemajuan yang menarik. Kau mulai menunjukkan sifat aslimu yang selama ini aku tekan.” Sebuah pesan baru masuk ke layar laptop, menutupi foto otopsi. Aveline melirik. Roman menyadari pergerakan mata Aveline. Ia tertawa pelan. “Penguntitmu itu memang sangat berisik, bukan? Dia pikir dia bisa mengirimkan informasi dari jarak jauh dan mengubahmu menjadi pembunuh?” Roman bergerak cepat, menyambar sebuah vas kristal di atas meja dan membantingnya ke lantai hingga pecah berantakan. “Tapi dia lupa satu hal. Bahwa aku lebih tahu setiap inci rumah ini karena aku yang membangunnya.” Roman mengeluarkan sebuah perangkat kendali kecil dari saku celananya. Ia menekan satu tombol. Seketika, dinding lemari kayu di sudut ruangan bergeser, menampakkan sebuah ruang sempit yang berisi monitor-monitor pengawas yang selama ini tidak diketahui Aveline. Di sana, ia melihat rekaman cctv dari setiap sudut rumah, termasuk kamera tersembunyi di dalam kamar mandi dan kamar tidurnya. “Kau pikir privasi itu milikmu? Di rumah ini, kau adalah subjek yang diamati setiap detik,” desis Roman. “Jika aku tidak bisa memilikimu dalam keadaan hidup dan patuh. Maka tidak ada yang boleh memilikimu sama sekali.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD