GEMA MASA LALU

1525 Words
Jari jemari Roman baru saja menyentuh lipatan kain di dalam saku jaket Aveline ketika suara klakson yang kasar memutus konsentrasinya. Seorang petugas keamanan galeri berjalan cepat ke arah mereka, diikuti oleh seorang polisi lalu lintas yang sedang mencatatkan sesuatu di papan jalannya. Roman menarik tangannya seketika. Ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut, dan memasang wajah profesional yang paling tenang. “Tuan, mobil Anda menghalangi jalur evakuasi darurat. Seseorang melaporkan kendaraan ini karena dianggap membahayakan akses keluar masuk,” petugas keamanan itu bicara. Roman menoleh ke arah jalan raya, lalu kembali menatap Aveline. Matanya berkilat, namun ia tidak bisa membantah. “Maaf, aku terburu-buru mencari istriku yang sedang tidak sehat,” dalih Roman. Aveline tidak membuang sedetik pun. Ia melangkah menjauh dari jangkauan tangan Roman saat suaminya itu terpaksa berhadapan dengan petugas polisi. Dengan gerakan yang terhitung, Aveline masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ia meraba saku jaketnya, mengambil cincin platinum dan perangkat audio itu, lalu menyelipkannya ke bawah jok kursi pengemudi—titik buta yang tidak akan terlihat kecuali seseorang merangkak di lantai mobil. Roman menyelesaikan urusannya dengan polisi tersebut dalam tiga menit. Ia berjalan kembali ke arah mobil Aveline, mengetuk kaca jendela dengan kuku jarinya. “Pindahkan mobilmu ke depan, Ava. Aku akan mengantarmu pulang dengan mobilku. Supir rumah sakit akan mengambil mobil ini nanti sore.” Aveline ingin menolak, namun kunci pintu mobilnya sudah berada di tangan Roman melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Ia tidak memiliki pilihan selain keluar dan berpindah ke kursi penumpang milik suaminya. Keheningan di dalam kabin mobil itu menyergap. Roman memacu mobilnya keluar dari area parkir, kedua tangannya mencengkeram roda kemudia erat-erat. Aveline bisa melihat urat-urat di punggung tangan Roman yang menonjol, tanda bahwa pria itu sedang menahan kemarahan yang sangat besar di balik sikap diamnya. Aveline melirik kaca spion samping. Ia tidak melihat motor penguntit itu lagi “Kau berbohong tentang cincin itu, Ava,” Roman memulai pembicaraan tanpa menoleh. “Sabun tidak akan bisa melepaskan logam yang didesain secara mekanis seperti itu.” Aveline mengepalkan tangannya di pangkuan. Ia harus menyerang sebelum Roman melakukan investigasi lebih jauh terhadap sakunya. “Kenapa kau begitu terobsesi dengan apa yang aku pakai, Roman? Kenapa kau begitu takut pada masa laluku, atau siapa pun yang muncul dari sana?” Roman tidak menjawab. Ia justru menambah kecepatan mobilnya hingga jarum speedometer menyentuh angka seratus dua puluh di jalanan pinggiran kota yang mulai sepi. “Kau tidak pernah bercerita tentang ibumu secara detail,” lanjut Aveline. “Kenapa di rumah kita tidak ada satu pun foto orang tuamu? Kenapa kau bereaksi seperti orang kesurupan setiap kali aku bertanya tentang masa kecilmu di panti asuhan itu?” Roman menginjak rem secara mendadak. Ban mobil berdecit keras di atas aspal, meninggalkan jejak hitam yang panjang sebelum mobil itu berhenti miring di bahu jalan yang ditumbuhi ilalang tinggi. Kepala Aveline terhentak ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman yang mencekik dadanya. Roman memutar tubuhnya, menatap Aveline dengan mata yang memerah. Wajahnya yang biasanya tampan kini tampak terdistorsi oleh amarah yang murni. Ia memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga bunyi klakson berdentum sekali. “Masa lalu itu sudah mati, Ava! Aku sudah membakarnya agar kau bisa memiliki kehidupan yang layak!” teriak Roman. “Kau tidak punya hak untuk menggali kuburan yang sudah aku tutup rapat!” Aveline gemetar, namun ia tidak memalingkan wajahnya. “Kau yang menggali kuburan itu, Roman. Kau mengurungku di rumah itu karena kau takut aku melihat siapa dirimu sebenarnya.” Seketika, ekspresi Roman berubah. Kemarahannya yang meledak-ledak luruh begitu saja. Bahunya merosot. Matanya yang tadi tajam kini mulai berkaca-kaca. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu terdengar suara isakan yang halus. “Maafkan aku... aku hanya tidak ingin kau pergi,” bisik Roman di balik tangannya. Ia menangis dengan cara yang sangat menyedihkan, seolah ia adalah korban yang paling menderita di dunia ini. “Hanya kaulah yang aku miliki, Ava. Ayahku adalah monster, dan ibuku... dia meninggalkanku di tempat yang sangat gelap. Aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin kau merasakan kegelapan yang sama.” Roman meraih tangan Aveline, menggenggamnya dengan sangat erat seolah-olah ia sedang tenggelam. Air matanya jatuh di punggung tangan Aveline. “Jangan cari tahu apapun itu. Itu hanya akan menghancurkan satu-satunya hal yang berhasil aku bangun dengan benar. Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri.” Aveline menatap suaminya yang sedang hancur di depan matanya. Ia ingin merasa kasihan, namun ia teringat ujung tang pemotong yang tadi hampir memutuskan jarinya. Tangannya yang bebas meraba saku pintu mobil, mencari benda tajam atau apa pun yang bisa ia gunakan jika Roman mendadak berubah pikiran lagi. Roman menyeka air matanya dengan sapu tangan sutra. Ia kembali menegakkan duduknya, menyalakan mesin mobil, dan mulai melaju kembali menuju rumah mereka. Sikapnya kini kembali tenang, namun ada aura kemenangan yang dingin di sudut bibirnya saat ia melihat Aveline terdiam. Mobil itu memasuki gerbang rumah. Hari sudah mulai gelap. Roman memarkirkan mobilnya di dalam garasi yang remang-remang. Ia mematikan mesin, namun ia tidak menekan tombol pembuka kunci pintu otomatis. Suasana di dalam garasi itu sangat sunyi, hanya terdengar suara detak mesin mobil yang mendingin. Roman menoleh ke arah Aveline. Ia mengulurkan tangannya, memegang dagu Aveline dengan jari yang dingin, memaksa wanita itu menatap matanya. “Oh, aku hampir lupa memberitahumu, Sayang,” bisik Roman. “Saat aku di rumah sakit tadi, asisten rumah tangga kita menelepon. Dia menemukan sesuatu yang menarik di balik ubin ruang bawah tanah saat sedang membersihkan kebocoran pipa.” Aveline membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. “Itu adalah liontin kuno dengan inisial namamu di bagian belakangnya. Liontin yang identik dengan milik ibumu yang hilang dua puluh tahun lalu,” lanjut Roman. “Aneh sekali benda itu bisa berada di bawah lantai rumah yang baru kita tempati tiga tahun, bukan?” Dagu Aveline terasa kaku dalam cengkeraman jemari Roman. Kata-kata suaminya barusan seolah menyedot seluruh udara di dalam kabin mobil yang sempit itu. Liontin ibunya, benda yang seharusnya terkubur di dasar tebing tempat kecelakaan dua puluh tahun lalu, kini berada di bawah lantai rumah mereka? “Kau berbohong,” bisik Aveline. Namun ia tidak bisa memalingkan wajah. Roman tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepaskan dagu Aveline, lalu merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah kantong plastik klip kecil yang biasa digunakan untuk spesimen laboratorium. Di dalamnya, sebuah logam emas kusam berbentuk oval berkilau redup terkena lampu interior mobil yang kuning. Ada noda tanah kering yang masih menempel di ukiran inisial A.V. pada bagian belakangnya. Itu memang milik ibunya. Aveline mengenali goresan kecil di sudut kiri liontin itu—bekas saat ia menjatuhkannya ke lantai batu ketika ia masih berusia lima tahun. “Aku tidak pernah berbohong padamu, Ava. Aku hanya menyimpan kebenaran sampai kau siap menerimanya,” ucap Roman. Ia mematikan lampu interior mobil, menenggelamkan mereka dalam kegelapan garasi yang pengap. “Ayo. Kurasa kau ingin melihat di mana asisten rumah tangga kita menemukannya.” Roman membuka kunci pintu otomatis. Aveline melangkah keluar dan mengikuti punggung Roman yang bergerak menuju pintu dapur, lalu terus melintasi koridor menuju pintu baja ruang bawah tanah. Rumah itu terasa sangat dingin. Aveline bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Ia melirik ke arah jendela dapur yang menghadap ke halaman belakang. Di luar sana, kegelapan malam sudah menyelimuti rimbunnya pohon pinus. Roman membuka pintu ruang bawah tanah. Bau antiseptik dan kelembapan tanah langsung menyeruak. Ia menyalakan lampu neon yang berkedip beberapa kali sebelum memancarkan cahaya putih yang menyakitkan mata. Mereka menuruni anak tangga semen satu per satu. Di sudut ruangan, dekat dengan unit pendingin udara pusat, sebuah ubin keramik telah terangkat. Tanah di bawahnya tampak digali secara kasar. Roman berhenti tepat di depan lubang itu. Ia menunjuk ke arah kedalaman tanah yang gelap dengan ujung sepatunya yang mengilap. “Ubin ini retak karena rembesan air semalam,” jelas Roman. “Saat asisten kita mencoba mengangkatnya untuk memperbaiki pipa, dia menemukan liontin itu terselip di antara fondasi beton. Tapi sepertinya, ada sesuatu yang lebih besar di bawah sana, Ava.” Aveline berdiri di tepi lubang itu. Ia menunduk, menatap ke dalam kegelapan tanah. Ia melihat sesuatu yang berwarna putih keabu-abuan menyembul dari balik gumpalan tanah liat yang basah. Sesuatu yang berbentuk seperti tulang rusuk manusia. “Roman... apa ini?” suara Aveline bergetar hebat. Roman tidak menjawab. Ia justru berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah senter medis berkekuatan tinggi, dan mengarahkannya tepat ke dalam lubang. Cahaya itu memperjelas segalanya. Di bawah fondasi rumah mereka, tertanam sebuah kerangka manusia yang masih mengenakan sisa-sisa kain sutra berwarna biru laut—warna gaun terakhir yang dikenakan ibu Aveline sebelum menghilang. “Sepertinya rumah ini tidak dibangun di atas tanah kosong, Ava,” bisik Roman. Ia berdiri sangat dekat di belakang Aveline, hingga napasnya yang hangat menyentuh tengkuk istrinya. “Seseorang telah memindahkan masa lalumu ke sini jauh sebelum kita membeli tanah ini. Seseorang yang sangat terobsesi padamu.” Aveline mundur dengan ngeri, namun punggungnya menabrak d**a bidang Roman. Pria itu melingkarkan lengannya di bahu Aveline, menguncinya dalam pelukan yang terasa seperti jeratan. “Kau pikir sosok itu hanya menguntitmu selama tiga tahun?” tanya Roman. “Dia telah mengumpulkan setiap kepingan hidupmu, termasuk mayat ibumu, untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa lepas darinya. Dia sedang membangun kuil kematian untukmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD