PELARIAN

1543 Words
Tekanan ujung tang pemotong itu mulai merobek lapisan epidermis di kuku jari manis Aveline. Rasa perih yang tajam menjalar, namun cengkeraman tangan Roman pada pergelangan tangannya jauh lebih menyakitkan. Roman menatap titik luka itu dengan pupil yang melebar, napasnya yang berat menerpa punggung tangan Aveline. Keheningan di dapur itu hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan gerit logam yang bergesek dengan kulit. Tepat saat Roman hendak menambah tekanan pada pegangan tang tersebut, ponsel di saku jas dokternya bergetar hebat. Bunyi nada dering khusus untuk panggilan darurat rumah sakit memecah suasana. Roman membeku. Tangannya berhenti bergerak, namun ia tidak langsung melepaskan tangan Aveline. Ia menatap jari yang mulai berdarah itu selama beberapa detik, seolah sedang menghitung sisa waktu yang ia miliki sebelum reputasi profesionalnya dipertaruhkan. Panggilan itu adalah protokol Code Red untuk bedah saraf. Roman meletakkan tang pemotong itu di atas meja kayu dengan denting logam yang keras. Ia merogoh ponselnya, menatap layar sebentar, lalu beralih menatap Aveline. Kemarahan di matanya belum surut, namun ia berhasil menarik kembali topeng klinisnya. “Pasien kecelakaan beruntun. Aku harus ke rumah sakit sekarang,” ucap Roman datar. Ia mengambil serbet bersih, meraih tangan Aveline, dan menyeka darah di jari manis istrinya dengan kasar. “Anggap ini sebagai perpanjangan waktu, Ava. Saat aku pulang nanti, aku ingin cincin itu sudah lepas. Jika tidak, aku akan melakukannya dengan cara yang lebih cepat! Memotongnya...” Roman tidak menunggu jawaban. Ia menyambar jas dan tas kerjanya, lalu melangkah keluar melalui pintu dapur menuju garasi. Suara mesin Mercedes-nya menderu pendek sebelum mobil itu melesat meninggalkan halaman rumah. Aveline terduduk lemas di kursi meja makan. Ia menatap jarinya yang membiru dan berdarah. Cairan pelumas bedah yang licin masih memenuhi telapak tangannya. Ia segera berdiri, mencuci tangannya di bawah aliran air wastafel yang dingin, mencoba meredam denyut nyeri di jarinya. Cincin platinum itu tetap melingkar di sana, berkilau dingin, seolah sedang menertawakan ketidakberdayaannya. Ia tidak bisa tinggal di rumah ini. Aveline menyambar kunci mobilnya di atas meja konsol. Ia butuh ruang. Ia butuh galeri seninya—satu-satunya tempat di mana ia masih merasa memiliki identitas sebagai manusia. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, Aveline terus melirik kaca spion tengah. Paranoia yang selama ini ia anggap sebagai gangguan jiwa kini terasa seperti insting bertahan hidup yang paling akurat. Jalanan pagi itu masih tampak lengang. Di antara deretan mobil yang melaju, ia menangkap siluet yang sangat familiar. Sebuah motor sport hitam dengan lampu depan ganda yang tipis. Motor itu menjaga jarak yang konstan di belakang mobilnya. Penunggangnya mengenakan jaket kulit hitam tanpa logo dan helm full-face dengan kaca pelindung gelap yang menyembunyikan wajahnya sepenuhnya. Aveline memacu mobilnya lebih cepat, namun motor itu mengikuti setiap lekuk pergerakannya dengan presisi yang mengerikan. Aveline membelokkan mobilnya ke area parkir belakang galeri yang sepi. Ia mematikan mesin, namun tetap duduk di dalam kabin, mengamati area melalui spion samping. Motor hitam itu berhenti tepat di pintu masuk gang belakang. Penunggangnya turun, menurunkan standar motor dengan efisien, lalu berjalan mendekat ke arah mobil Aveline. Aveline membuka pintu mobil, berdiri menghadap pria yang kini sudah berdiri satu meter di depannya. Pria itu tidak melepas helmnya. Ia berdiri tegak, tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam berada di samping tubuhnya. Posturnya memancarkan d******i yang tenang, namun berbahaya. “Kau mengikutiku lagi?” ucap Aveline. Ada rasa lega yang aneh saat menyadari pria ini ada di dekatnya dibandingkan saat ia bersama Roman. Pria itu mengangkat tangannya, perlahan membuka kunci pengaman helmnya. Ia menarik helm itu keluar, menampakkan wajah Killian yang dingin dan tidak tersentuh. Rambut hitamnya sedikit berantakan, namun matanya tetap tajam, mengunci pandangan Aveline. “Aku tidak pernah berhenti mengikutimu, Ava,” ujar Killian. “Hanya saja, kau baru menyadarinya hari ini.” Killian melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia meraih tangan kanan Aveline yang terluka. Ia menatap bekas sayatan tang pemotong Roman di jari manis Aveline. “Dia melakukan ini padamu?” tanya Killian. Tangannya yang besar menyentuh luka itu dengan ujung jari, dan penuh ke hati-hatian. “Karena cincinnya. Benda ini tidak bisa lepas,” balas Aveline. Killian menatap cincin platinum itu. “Memang tidak dirancang untuk lepas oleh tangan sembarang orang. Cincin itu adalah bagian dari sistem keamananku. Dia tidak akan bisa memotongnya dengan peralatan medis biasa.” Killian merogoh saku jaket kulitnya. Ia mengeluarkan sebuah perangkat pemutar audio kecil dan meletakkannya di telapak tangan Aveline. “Kau butuh bukti bahwa aku adalah bayanganmu selama tiga tahun ini, bukan?” Killian menekan tombol putar. Suara rekaman terdengar. Itu adalah suara Aveline yang sedang menangis sendirian di galeri ini dua tahun lalu, saat ia merasa depresi. Aveline menatap Killian dengan pandangan tidak percaya. “Kau... kau masuk ke galeriku malam itu?” “Aku masuk ke mana pun kau berada. Aku tahu setiap napas yang kau ambil saat kau merasa sendirian,” Killian menatap Aveline dengan obsesi yang jujur. “Karena bagiku, kau adalah pusat dari segala kekacauan yang aku miliki. Aku tidak butuh persetujuanmu untuk memilikimu. Aku hanya butuh kau tetap hidup.” Tiba-tiba, suara deru mesin mobil lain terdengar memasuki area parkir belakang. Suara mesin Mercedes yang sangat dikenali Aveline. Aveline menoleh dengan panik. ”Roman. Dia kembali.” Killian tidak menunjukkan rasa takut. Ia menatap ke arah pintu masuk area parkir, lalu kembali ke arah Aveline. “Dia tidak akan menemukanku hari ini. Simpan perangkat itu. Lihatlah apa yang dia lakukan saat dia pikir kau sendirian.” Killian tidak melepaskan pandangannya dari jari manis Aveline yang membiru. Ia tidak bertanya lagi. Tanpa sepatah kata, Killian menarik tangan Aveline lebih dekat ke dadanya. Ia tidak menggunakan tenaga kasar, namun posisinya mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya. “Dia mencoba memotongnya,” ucap Killian datar. Killian meraba bagian bawah cincin platinum itu dengan ujung ibu jarinya yang kasar. Ada sebuah mekanisme mikro yang tersembunyi di balik desain dua lingkaran yang saling mengunci tersebut. Dengan satu tekanan presisi pada titik tertentu, terdengar denting yang sangat halus. Cincin itu terbuka. Killian menarik logam dingin itu dari jari Aveline yang terluka tanpa menyebabkan rasa sakit sedikit pun. Ia menatap jari yang kini bebas namun menyisakan bekas sayatan merah itu sejenak, lalu meletakkan cincin tersebut di telapak tangan Aveline. “Jangan biarkan dia melihatnya lagi!” perintah Killian. Ia menutup jemari Aveline dengan telapak tangannya. Suara deru mesin Mercedes Roman terdengar semakin dekat. Cahaya lampu depan mobil mulai menyapu sudut bangunan galeri. Killian tidak menunjukkan kepanikan. Ia mengenakan kembali helm full-face-nya. Lalu menatap Aveline dari balik kaca gelap helmnya. “Dia akan mencarinya di saku jaketmu. Jangan biarkan dia menemukan apa pun selain ketakutanmu,” bisik Killian. Killian melompat ke atas motor. Dengan satu hentakan gas yang diredam, motor itu melesat keluar dari gang melalui jalur tikus di antara gudang tua tepat saat mobil Roman membelok masuk ke area parkir belakang. Aveline segera memasukkan cincin dan perangkat audio itu ke dalam saku dalam jaketnya. Ia bersandar pada pintu mobilnya, mencoba mengatur napas yang memburu tepat saat mobil hitam Roman berhenti dengan sentakan kasar di hadapannya. Pintu mobil terbuka. Roman keluar dengan gerakan yang tergesa-gesa. Ia tidak mengenakan jas putih dokternya, ia hanya mengenakan kemeja biru yang kusut dengan dua kancing atas yang terbuka. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang berlebihan. “Ava! Kenapa kau meninggalkan rumah tanpa mengatakannya padaku?” tanya Roman. Ia berjalan mendekat, matanya langsung menyisir seluruh area parkir yang sepi itu. Roman berhenti tepat di depan Aveline. Hidungnya yang tajam bergerak sedikit, mengendus udara di sekitar istrinya. Ia memicingkan mata. Di antara aroma parfum bunga milik Aveline, ada jejak bau lain yang tidak seharusnya ada di sana. Bau tembakau yang pekat dan maskulin. “Kau bertemu seseorang?” tanya Roman penuh selidik. “Tidak. Aku hanya butuh udara segar. Aku merasa sesak di rumah,” jawab Aveline. Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar, namun ia menyadari Roman sedang menatap saku jaketnya yang sedikit menonjol. Roman mengulurkan tangan. Bukan ke arah wajah Aveline, melainkan ke arah tangan kanan istrinya. Ia melihat jari manis Aveline yang kini sudah tidak lagi memakai cincin platinum itu. Darah di sana sudah mengering, namun lebamnya semakin menghitam. “Cincinnya hilang,” ucap Roman. Ia mengangkat tangan Aveline, memeriksa jari itu dengan kasar. “Bagaimana kau melepasnya, Ava? Aku bahkan tidak bisa menggesernya tadi pagi.” “Aku... aku menggunakan sabun di toilet galeri. Aku menariknya sampai lepas,” dusta Aveline. Roman tidak menjawab. Ia menarik tangan Aveline lebih dekat ke wajahnya, lalu ia beralih menatap saku jaket Aveline. Senyum tipis yang mengerikan muncul di bibirnya. Roman menyadari ada sesuatu yang disembunyikan di sana. “Kau berbohong padaku lagi, Sayang,” bisik Roman. Roman melepaskan tangan Aveline dan perlahan mengulurkan tangannya menuju saku jaket istrinya. “Apa yang kau simpan di sana? Sesuatu dari pria itu? Berikan padaku, Ava. Biar aku yang membawakannya untukmu sebelum kau melakukan kesalahan yang tidak bisa aku perbaiki.” Aveline mundur selangkah, namun punggungnya tertahan oleh pintu mobilnya sendiri. Tangan Roman sudah menyentuh pinggiran saku jaketnya. “Jangan, Roman... kumohon,” rintih Aveline. Roman tidak berhenti. Jemarinya mulai masuk ke dalam saku jaket Aveline, menyentuh permukaan dingin dari perangkat audio dan cincin platinum yang disembunyikan di sana. Tepat saat Roman hendak menarik benda itu keluar, sebuah suara klakson keras terdengar dari arah jalan raya, disusul oleh suara ban yang berdecit kencang. Roman tersentak, menoleh ke arah sumber suara dengan kemurkaan yang meledak di matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD