PRIA ASING

1163 Words
Aveline tersentak, saking takutnya hingga yakin itu hanya bisikan paronia, wanita itu jatuh pingsan. “Ava? Kamu baik-baik saja?” Di balik helmnya, ia hanya mendengar debuman samar, tangannya hanya meraba udara kosong. “Ava, kau di sana?” suara Roman terdengar mendekat. Membuat sosok di kegelapan itu menggeram kesal. Cahaya senter, menuntun Roman menemukan Aveline yang tergeletak di ambang pintu. Hingga keesokan paginya. Aveline berdiri di balik tirai ruang kamar. Di tengah lamunanya, ia menemukan deretan mobil serupa berhenti halaman rumahnya. Aveline membeku. Ia melihat pintu sedan di tengah iring-iringan itu terbuka. Seorang pria dengan setelan jas hitam turun—aura dominan dan dinginnya begitu terasa. Ia berdiri tegak, membiarkan matanya menyapu fasad rumah Thorne, seolah sedang menghitung setiap inci pertahanan yang ada di sana. Ding-dong. Bunyi bel pintu bergema memecah kesunyian. Tanpa berpikir panjang, Aveline beranjak dari kamarnya menuju ruang tamu. Saat pintu itu terbuka, aroma tembakau mahal yang menyengat dan parfum maskulin yang terasa familiar menyeruak. Aveline mengernyit, merasa ketidakasingan. “Ada yang bisa saya bantu?” Pria itu melangkah maju. Ia tidak menunggu izin untuk memasuki foyer rumah. “Aku datang untuk memastikan kau masih mengenali warna teh yang kau minum saat sedang sedih. Teh Earl Grey dengan dua tetes madu hutan, bukan teh herbal yang sedang disiapkan suamimu di dapur.” Aveline terperangah. Ia menatap pria asing itu dengan rasa tidak percaya. Detail kecil itu adalah rahasia yang bahkan tidak pernah ia ceritakan pada Roman. Ketakutan mulai mendominasinya. “Siapa anda? Ada perlu apa?” “Aku sosok yang mengenalmu lebih dari dirimu sendiri. Aku tahu kau suka berdiri lama di jendela, menatap kosong seakan mencari jawaban. Dan aku tahu, setiap tepat pukul empat sore, langkahmu pasti menuju galeri itu.” Aveline mundur satu langkah, punggungnya menabrak dinding. “Lelucon apa ini? Kau mengaku sebagai penguntitku dengan cara seperti ini?” “Killian Moreti” Sosok yang mengulurkan tangan itu memperkenalkan diri. Namun, tangannya ia tarik kembali karena diabaikan. Killian terkekeh. “Ini bukan pengakuan, Aveline. Ini adalah fakta. Akulah yang mengikutimu ke galeri setiap hari Selasa pukul empat sore. Akulah yang tahu bahwa kau selalu mengganti sandi ponselmu setiap tanggal lima." Killian tiba-tiba meraih tangan kanan Aveline. Ia menggenggam jemari Aveline dengan kekuatan yang membuat wanita itu tidak bisa menarik tangannya kembali. Tanpa persetujuan apa pun, Killian memperlakukan tangan itu seolah itu adalah miliknya sendiri. “Lepaskan! Kau menyakitiku!” Aveline menyentakkan tangannya, mencoba melepaskan diri dari cekalan yang terasa membakar itu. Killian langsung melonggarkan genggamannya, namun ia tidak melepaskannya sepenuhnya. Ia menatap lebam tipis yang mulai muncul di pergelangan tangan Aveline akibat cengkeramannya yang terlalu kuat. “Maaf. Aku tidak terbiasa dengan sesuatu yang serapuh dirimu,” ucap Killian. Killian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah cincin platinum dengan desain yang sangat rumit—dua lingkaran yang saling mengunci. Sebelum Aveline sempat protes, Killian menyematkan cincin itu ke jari manis tangan kanan Aveline. Cincin itu masuk dengan pas, seolah memang dibuat khusus untuk ukuran jari itu. Aveline mencoba menariknya keluar, namun logam dingin itu terasa mencekik jarinya. Ia menarik-narik cincin itu hingga kulitnya memerah, namun benda itu tetap pada tempatnya. “Hanya aku yang bisa melepasnya,” bisik Killian tepat di depan wajah Aveline. “Aw!” rintihan Aveline membuat Roman keluar dari dapur. Roman menatap cincin di jari istrinya dengan rahang yang mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol, menunjukkan kemarahan yang coba ia tekan di balik topeng kesopanannya. “Sampai jumpa lagi, Ava!” Killian berbalik pergi, mengabaikan Roman yang berdiri kaku dengan napas yang mulai tidak beraturan. Dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat, meninggalkan halaman rumah Thorne, keheningan kembali menyergap. Ketakutan menyelimuti benak Aveline yang masih mematung di depan pintu. Ia mencoba menariknya lagi, menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk memutar cincin itu, namun benda itu tetap mengunci di sana. Kulit di sekitar pangkal jarinya mulai memerah dan sedikit membengkak akibat tarikan paksa yang ia lakukan. Ia harus melepaskannya sebelum Roman melihatnya. “Berhenti melakukan itu, Ava!” ujar Roman membuat Aveline tersentak. Roman mendekat dan menutup pintu depan dengan bunyi debum. Ia mengunci gerendelnya, lalu berbalik menatap Aveline, lalu pandangannya terkunci pada cincin di jari istrinya. “Pria itu hanya ingin memprovokasiku. Dia ingin kau merasa terikat padanya lewat benda murahan ini,” ucap Roman. Roman meraih tangan Aveline. Ia menarik tangan istrinya dengan kasar ke bawah cahaya lampu gantung, mengamati cincin itu dengan ketelitian seorang ahli forensik yang sedang memeriksa anomali pada mayat. “Bantu aku melepaskan ini, Roman. Ini terasa sangat sesak,” rintih Aveline. Roman mencoba menarik cincin itu. Ia menggunakan tenaga yang cukup besar hingga Aveline meringis kesakitan. Logam itu tidak bergeser satu milimeter pun. Desain dua lingkaran yang saling mengunci itu seolah-olah memiliki mekanisme internal yang membuatnya semakin menyempit saat ditarik secara paksa. “Dia mendesain ini dengan ukuran yang tidak masuk akal,” geram Roman. Roman melepaskan tangan Aveline, lalu berjalan menuju dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aveline mengikutinya dari belakang dengan langkah gemetar. Ia melihat Roman membuka laci kabinet medis yang ia simpan di dekat meja makan. Roman mengeluarkan sebotol cairan pelumas bedah dan sebuah tang pemotong kawat medis yang ujungnya sangat tajam. “Duduk, Ava!” perintah Roman. Ia menunjuk ke arah kursi meja makan dengan dagunya. Aveline menurut. Roman menuangkan cairan pelumas yang dingin ke atas jari Aveline hingga meluap. Ia mencoba memutar cincin itu kembali, namun hasilnya nihil. Kulit jari Aveline kini sudah mulai membiru karena aliran darah yang terhambat oleh tekanan logam tersebut. Roman meletakkan tang pemotong itu di atas meja. Ia menatap jari istrinya dengan pandangan yang kosong, namun napasnya terdengar semakin tidak beraturan di ruangan yang sunyi itu. Sisi pahlawan yang tadi ia tunjukkan perlahan luntur, menyisakan kemarahan sosiopat yang murni. “Jika aku tidak bisa melepas cincin ini, maka benda ini akan menyebabkan nekrosis pada jaringannmu dalam beberapa jam,” ucap Roman datar. Ia mengambil tang pemotong itu kembali, menguji ketajamannya dengan ujung ibu jarinya sendiri hingga setetes darah muncul di sana. “Apa yang akan kau lakukan?” bisik Aveline, suaranya bergetar hebat. Roman tidak menjawab. Ia mencengkeram tangan Aveline, menekannya kuat-kuat di atas permukaan meja kayu yang keras. Ia mengarahkan ujung tajam tang pemotong itu bukan ke arah cincin platinumnya, melainkan tepat ke arah sendi jari manis Aveline. “Aku seorang bedah saraf, Ava. Aku tahu cara tercepat untuk membuang sesuatu yang sudah tidak bisa diperbaiki.” Aveline membelalak. Ia mencoba menarik tangannya, namun Roman menindih lengannya dengan berat badan yang dominan, mengunci posisi jari manisnya agar tidak bergeser. Ujung logam tajam itu kini sudah menyentuh kulit jari Aveline, memberikan tekanan yang cukup untuk membuat wanita itu menjerit tertahan. “Roman, jangan! Kumohon!” Roman mendongak, menatap mata Aveline dengan binar kegilaan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng medisnya. Bibirnya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang paling mengerikan yang pernah Aveline lihat. “Kau lebih memilih jarimu, atau memilih tetap memakai tanda milik pria gila yang tidak di kenal di dalam rumahku, Ava?” Roman mulai menekan tang pemotong itu lebih dalam ke arah kulit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD