Suara alarm keamanan rumah Thorne melengking tinggi, membelah keheningan malam dengan frekuensi yang menyakitkan telinga. Roman berdiri tegak di tengah ruang makan, pistol di tangan kanannya. Bola matanya tidak lagi menatap Aveline yang meringkuk di lantai dapur, melainkan terpaku pada pintu depan yang bergetar akibat hantaman dari luar.
Aveline mencengkeram pisau makan itu hingga buku jarinya memutih. Bau anggur merah yang tumpah menyengat penciumannya, menciptakan ilusi amis yang menyesakkan. Ia menunggu letusan peluru, namun yang terdengar justru keheningan mendadak.
Alarm itu mati.
Roman menurunkan senjatanya. Ia menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik turun dengan ritme yang perlahan kembali normal. Kemarahan murni yang tadi membakar wajahnya surut dalam hitungan detik, digantikan oleh topeng ketenangan klinis yang jauh lebih mengerikan.
“Dugaanku benar,” bisik Roman. “Dia tidak akan masuk selama kau masih dalam jangkauan pandanganku. Dia hanya butuh distraksi untuk melihat bagaimana reaksimu saat kau merasa... terancam.”
Roman memasukkan pistol itu kembali ke dalam laci meja makan, lalu menguncinya. Ia berbalik, menatap Aveline dengan binar mata yang mendadak melembut—sebuah perubahan drastis yang membuat bulu kuduk Aveline berdiri.
“Maafkan aku, Ava,” ucap Roman sambil melangkah mendekat. Ia tidak lagi kasar. Ia berlutut di depan Aveline, mengabaikan genangan anggur yang mengotori celana mahalnya. “Aku kehilangan kendali. Pria itu... dia membuatku takut kehilanganmu hingga aku bertindak di luar nalar.”
Aveline mundur, punggungnya menabrak pintu lemari bawah. “Jangan sentuh aku!”
Roman tidak memaksa. Ia mengulurkan tangan, hanya untuk mengambil serbet bersih dari atas meja dan menyeka noda anggur di pipi Aveline dengan gerakan yang sangat pelan.
“Lihatlah dirimu, Sayang. Kau gemetar,” gumam Roman penuh simpati yang palsu. “Ini yang dia inginkan. Dia ingin aku terlihat seperti monster di matamu agar kau lari padanya. Tapi aku suamimu, Ava. Aku pelindungmu. Apa yang kulakukan tadi... itu adalah reaksi murni seorang suami yang terdesak.”
Roman berdiri, lalu membantu Aveline bangkit. Ia menuntun Aveline menuju sofa di ruang tengah, menjauhkannya dari pecahan botol di dapur.
“Aku akan membereskan kekacauan di luar. Tetaplah di sini. Jangan dekat-dekat jendela,” pesan Roman. Ia mengecup kening Aveline yang dingin sebelum melangkah menuju pintu depan untuk memeriksa kerusakan gerbang.
Aveline terduduk diam. Pikirannya berputar hebat. Ia tahu Roman sedang mencoba memulihkan citranya, mencoba mencuci otaknya kembali agar ia percaya bahwa kekerasan tadi hanyalah khilaf demi cinta. Namun, pisau makan yang sempat ia sembunyikan di balik bantal sofa menjadi pengingat bahwa perlindungan Roman adalah penjara.
Saat ia yakin Roman sudah berada di halaman depan, Aveline merasakan getaran halus dari bawah bantal sofa. Bukan ponselnya, karena Roman sudah menyitanya.
Ia meraba celah sofa dan menemukan sebuah perangkat tipis—semacam pager modifikasi dengan layar LCD kecil. Benda itu mengeluarkan cahaya biru yang redup.
Aveline menoleh ke arah ventilasi udara di sudut atas ruangan yang menghadap ke arah utara. Di sana, di antara celah besi ventilasi, sebuah titik merah kecil berkedip. Itu bukan lampu CCTV milik Roman. Itu adalah laser inframerah yang dikirimkan dari luar, membentuk pola Morse yang hanya bisa dipahami jika ia memperhatikan ritme kedipannya.
Aveline bangkit perlahan, memastikan bayangannya tidak terlihat dari arah pintu depan. Ia mendekati jendela yang tertutup tirai tipis, mencoba mencari celah untuk melihat ke arah luar, ke arah di mana sinyal itu berasal.
Di balik rimbunnya pohon mapel di seberang jalan, ia melihat kilatan lensa. Seseorang sedang menunggunya di sana.
Aveline berdiri mematung di balik tirai beludru yang berat. Di luar, ia bisa mendengar suara sapu lidi yang menggores aspal—Roman sedang membersihkan serpihan kaca lampu sein motor yang pecah di depan gerbang.
Ia menunduk, menatap perangkat tipis di genggamannya. Cahaya biru dari layar LCD itu menerangi telapak tangannya yang masih ternoda sisa anggur merah.
Aveline menoleh ke arah ventilasi utara. Titik merah itu berkedip. Satu, dua, tiga, empat, lima. Polanya berhenti, lalu mengulang. Itu bukan laser penghancur, tapi laser penunjuk.
Dengan tangan gemetar, Aveline merangkak menuju meja konsol di bawah ventilasi. Ia menemukan sebuah pemantik api perak milik Roman yang tertinggal di sana. Ia tidak menyalakannya. Ia hanya menggunakan permukaannya yang mengilap untuk memantulkan kembali cahaya lampu ruangan ke arah luar melalui celah ventilasi, menciptakan kode balasan yang acak namun disengaja.
Seketika, titik merah itu bergerak. Ia meluncur turun dari dinding, merayap di atas karpet, dan berhenti tepat di ujung kakinya. Cahaya itu kemudian menuntun mata Aveline ke arah bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding samping.
Aveline mendekat. Ia menyentuh bingkai kayu jati yang berat itu. Di sudut bawah bingkai, terselip selembar kertas kecil yang sangat tipis, hampir transparan. Ia menariknya perlahan agar tidak menimbulkan suara sobekan.
Di sana tertulis koordinat frekuensi radio dan sebuah instruksi pendek.
Jantung Aveline berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di seluruh ruangan. Ia melirik ke arah pintu depan. Roman masih di luar. Ia bisa melihat bayangan suaminya melalui jendela samping, sedang berdiri tegak menatap kegelapan jalanan, seolah sedang menantang siapa pun yang bersembunyi di sana.
Aveline menyambar radio antik yang menjadi pajangan di rak buku. Ia memutar tombol analognya dengan sangat hati-hati. Suara statis terdengar lirih, hingga ia mencapai titik 99.7.
Suara derau itu mendadak hilang, digantikan oleh suara napas yang berat. Bukan napas Roman yang klinis dan teratur. Ini adalah napas seseorang yang sedang menahan amarah, seseorang yang baru saja melakukan perjalanan jauh dengan kecepatan tinggi.
Tiba-tiba, suara langkah kaki Roman terdengar menaiki anak tangga teras. Sangat cepat.
Aveline segera mematikan radio dan meletakkannya kembali ke rak tepat saat pintu depan terbuka. Roman masuk dengan napas yang sedikit memburu, wajahnya tampak lebih segar, seolah ia baru saja mendapat asupan adrenalin yang ia butuhkan.
“Semua sudah bersih, Sayang,” ucap Roman sambil mengunci pintu dengan tiga putaran kunci manual. “Pria itu sudah pergi. Dia pengecut. Dia hanya berani menyerang dari kegelapan.”
Roman berjalan mendekati Aveline, matanya menyapu ruangan dengan kecurigaan seorang detektif forensik. Ia berhenti tepat di depan radio antik yang baru saja disentuh Aveline.
“Kenapa pajangan ini sedikit bergeser, Ava?” tanya Roman. Ia menyentuh tombol analognya dengan ujung jari yang bersih.
Aveline membeku. Ia bisa merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya. “Aku... aku hanya ingin mendengarkan musik. Sunyi ini membuatku takut, Roman.”
Roman terdiam, menatap radio itu selama beberapa detik. Ia kemudian berbalik dan tersenyum, sebuah senyuman yang kini terlihat seperti sayatan pisau di mata Aveline.
“Musik adalah ide yang bagus. Aku akan menyiapkannya untukmu. Tapi sebelumnya, kau harus meminum s**u hangat ini. Aku sudah mencampurkannya dengan madu agar kau bisa tidur nyenyak.”
Roman melangkah keluar ke dapur dan kembali beberapa saat dengan membawa nampan perak kecil. Di atasnya, sebuah gelas keramik berisi s**u putih yang mengepulkan uap tipis. Aroma manis madu menyeruak.
“Minumlah, Ava! Kau butuh ini untuk menenangkan sarafmu,” ucap Roman. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kopi, tepat di depan Aveline.
Aveline menatap cairan putih itu. Ia bisa merasakan tatapan Roman yang tidak lepas dari wajahnya, membedah setiap ekspresi mikronya untuk mencari tanda-tanda pembangkangan. Ia harus bertindak alami. Jika ia menolak mentah-mentah, Roman akan tahu bahwa ia telah berkomunikasi dengan dunia luar.
“Terima kasih, Roman,” bisik Aveline. Ia mengulurkan tangan yang masih sedikit gemetar, meraih gagang gelas yang hangat.
Ia mengangkat gelas itu ke bibirnya, membiarkan uap panasnya menyentuh kulit wajahnya, lalu menyesapnya sedikit—hanya membiarkan cairan itu menyentuh ujung lidahnya tanpa menelannya. Rasanya memang manis, namun ada jejak rasa logam yang sangat tipis di pangkalnya. Neurotoksin.
“Enak?” tanya Roman. Ia duduk di kursi seberang, menyilangkan kakinya dengan santai, namun matanya tetap waspada.
“Sangat enak. Madunya terasa pas,” dusta Aveline. Ia meletakkan kembali gelas itu. “Tapi kepalaku mendadak pening. Aku ingin ke kamar mandi sebentar untuk membasuh muka sebelum menghabiskannya.”
Roman memicingkan mata, seolah sedang menghitung durasi antara asupan obat dan reaksi tubuh yang seharusnya. “Tentu. Tapi jangan lama-lama. s**u itu akan tidak enak jika dingin.”
Aveline berdiri, berjalan menuju kamar mandi di dekat ruang tengah. Begitu ia menutup pintu dan menguncinya, ia segera meludah ke wastafel. Ia menyalakan keran air dengan volume maksimal agar Roman tidak mendengar apa pun. Ia tidak membuang sisa s**u itu ke wastafel—karena Roman pasti akan memeriksa sisa volumenya nanti.
Ia meraba vas bunga kecil di sudut kamar mandi. Ia menuangkan separuh isi gelas s**u itu ke dalam tanah tanaman hias tersebut, memastikan cairannya terserap sempurna. Sisanya ia biarkan di dalam gelas agar terlihat seolah ia sudah meminum sebagian besar.
Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang ia basahi air, mencoba terlihat lemas dan mengantuk.
“Kau terlihat sangat mengantuk, Sayang,” ujar Roman yang kini sudah berdiri di dekat jendela, menatap ke arah halaman yang gelap. “Efek madunya cepat sekali bekerja.”
“Iya... aku ingin segera tidur,” gumam Aveline. Ia duduk kembali, kepalanya bersandar pada punggung sofa, berpura-pura kehilangan kesadaran secara perlahan.
Hening menyergap. Hanya terdengar detak jam dinding dan napas teratur Roman. Aveline memejamkan mata, namun seluruh indranya sedang menajam, menunggu lampu rumah ini padam.
Dua menit kemudian.
Tiba-tiba, suara dengungan listrik yang halus terdengar dari arah panel pusat di luar rumah. Disusul oleh suara letupan kecil di sirkuit utama.
Jlep.
Seluruh lampu di rumah padam seketika. Kegelapan total menyergap, sangat pekat hingga Aveline tidak bisa melihat ujung jarinya sendiri. Bahkan sistem cadangan, genset yang biasanya menyala otomatis dalam hitungan detik, kali ini tetap diam. Penguntit itu benar-benar telah memutus urat nadi rumah ini.
“Sialan!” geram Roman di tengah kegelapan. Suara gesekan logam terdengar—Roman sedang mengeluarkan senjatanya lagi. “Ava? Tetap di tempatmu!”
Aveline tidak menjawab. Dengan ingatan yang tajam tentang tata letak ruangan, ia merangkak turun dari sofa tanpa suara. Ia tidak menuju tangga, melainkan bergerak rendah di atas karpet menuju arah dapur, untuk mencapai pintu belakang.
Ia mendengar langkah kaki Roman yang tergesa-gesa menuju arah panel kontrol di lorong samping, menjauh dari posisinya. Ini adalah satu-satunya kesempatan.
Aveline mencapai pintu dapur. Ia meraba gagang pintunya yang dingin. Saat ia hendak memutarnya, sebuah cahaya senter yang sangat kecil dan tipis menyorot dari arah ventilasi bawah pintu—sebuah kode.
Ceklek.
Pintu itu terbuka dari luar tepat saat Aveline menyentuhnya. Sebuah tangan besar dan kasar menariknya keluar ke udara malam yang dingin.
“Ikut aku jika kau ingin hidup,” sebuah suara berbisik di telinganya.