Aveline tidak membuang waktu. Ia mendorong tubuh Roman dengan seluruh sisa tenaganya dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia tidak menuju pintu depan—karena ia tahu Roman sudah mengunci sistemnya secara digital. Ia menuju satu-satunya tempat yang dipesan oleh si Stalker melalui kertas merah tadi.
Ruang bawah tanah.
Ia berlari menuruni anak tangga semen yang dingin menuju lantai paling bawah. Aroma antiseptik di sini sepuluh kali lebih kuat, hampir membuat matanya berair. Ia sampai di depan pintu baja berat yang biasanya selalu terkunci rapat.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Aveline mengeluarkan kunci perak itu. Ia memasukkannya ke dalam lubang kunci.
Klik.
Pintu itu terbuka.
Aveline mendorongnya perlahan. Ruangan di baliknya tidak gelap. Ruangan itu terang benderang dengan lampu neon putih yang bergetar. Dan di sana, di tengah ruangan yang steril seperti ruang operasi, terdapat sebuah tabung kaca raksasa yang dihubungkan dengan berbagai kabel dan selang transparan.
Di dalam tabung itu, mengapung di dalam cairan bening yang ia duga adalah formalin dosis tinggi, terdapat sesuatu yang membuat lutut Aveline lemas.
Bukan mayat.
Melainkan sebuah replika tubuh manusia yang belum selesai dikonstruksi. Organ-organ yang tampak sangat nyata, jaringan otot yang ditenun dengan presisi bedah saraf tingkat tinggi. Dan di bagian kepala yang masih berupa tengkorak logam, terdapat sebuah foto kecil yang tertempel di sana sebagai referensi.
Foto Aveline Vance. Saat ia masih berusia sepuluh tahun.
Aveline mundur selangkah, namun kakinya tersandung sebuah kabel besar. Ia menoleh ke arah pojok ruangan dan melihat monitor medis yang menyala. Monitor itu tidak menampilkan grafik jantungnya, melainkan grafik otak yang sedang diunduh.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar menuruni tangga ruang bawah tanah. Langkahnya cepat, penuh kemurkaan yang tertahan.
“KAU TIDAK SEHARUSNYA MELIHAT PROYEK INI, AVA!” teriak Roman dari balik pintu yang kini terbanting terbuka.
Wajah Roman tidak lagi lembut. Matanya merah, rahangnya mengeras, dan di tangannya ia masih memegang jarum suntik.
Roman melangkah maju, ujung jarumnya mengarah tepat ke arah d**a Aveline.
“Aku akan memulainya sekarang, Sayang.”
Roman menerjang, membuat Aveline memejamkan mata karena ngeri.
Aveline ambruk. Dengan pandangan kabur, ia bisa merasakan tarikan kasar Roman yang menyeret tubuhnya.
Aveline tak lagi mampu membuka mata. Dunia meredup, tenggelam dalam kegelapan yang pekat.
Sampai beberapa waktu kemudian.
Aveline mengerjapkan mata. Rasa pahit yang pekat tertinggal di pangkal lidahnya—rasa kimiawi yang ia kenali sebagai sisa-asap dari obat penenang dosis tinggi. Ia tidak berada di ruang bawah tanah yang mengerikan itu.
Kini, Roman memapahnya menuju ruang makan.
Lampu kristal di atas meja memantulkan cahaya yang menyakitkan mata Aveline. Di depannya, sebuah piring porselen berisi lamb chop dengan saus merah kental tersaji cantik.
“Kau tidur sangat lama, Sayang. Hampir delapan belas jam,” suara Roman memecah keheningan.
Roman sedang memegang pisau makan, mengiris daging dengan presisi yang membuat Aveline mual. Pria itu sudah rapi kembali dengan kemeja kerjanya, seolah konfrontasi berdarah di teras semalam tidak pernah terjadi.
“Apa... apa yang kau lakukan padaku, Roman?” bisik Aveline.
“Aku menyelamatkanmu dari serangan panikmu sendiri,” jawab Roman tanpa mendongak. “Kau berlari ke halaman, berteriak tentang rumput plastik dan botol kimia. Kau hampir mencakar lehermu sendiri. Aku harus membawamu masuk dan memberikan terapi tidur yang intensif.”
Aveline menatap tangannya. Ada bekas lebam di lipatan sikunya.
“Tapi.... lemparan batu itu...”
“Hanya angin dan halusinasimu, Ava. Tidak ada batu, dan apapun itu. Hanya kau yang berlari ketakutan pada bayanganmu sendiri.”
Roman meletakkan pisaunya dengan bunyi denting tajam di pinggir piring. Ia menatap Aveline dengan mata biru yang dingin, tanpa emosi, seolah sedang mendiagnosa pasien yang sudah sekarat.
“Makanlah! Kau butuh tenaga untuk dosis pengobatan selanjutnya.”
Aveline mencoba menggerakkan jemarinya di bawah taplak meja linen yang kaku. Rasanya sangat kaku, seolah saraf-sarafnya terendam dalam cairan kental. Kepalanya berdenyut seirama dengan detak jarum jam dinding di ruang makan. Pandangannya sesekali bergoyang, membuat lilin di tengah meja tampak seperti tiga bayangan yang menari-nari.
“Kau tidak menyentuh makananmu, Ava.”
Aveline mendongak, mencoba memfokuskan matanya pada sosok pria di depannya. Roman sedang menyesap anggur merahnya. Bibirnya yang tipis tampak sedikit lembap oleh cairan berwarna gelap itu.
“Aku... aku tidak lapar,” bisik Aveline. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—lemah dan parau.
“Rasa lapar adalah sinyal biologis bahwa tubuhmu butuh pemulihan. Jika kau mengabaikannya, kau hanya akan memperpanjang halusinasimu semalam,” Roman meletakkan gelasnya. Ia bangkit, tidak terburu-buru, lalu berjalan memutari meja.
Aveline ingin berdiri. Ia ingin lari menuju pintu depan yang hanya berjarak sepuluh meter dari sana. Namun, saat ia mencoba menumpu berat badannya pada kaki, lututnya lemas. Ia terjatuh kembali ke kursinya dengan napas yang memburu.
Roman kini berdiri di sampingnya. Ia mengambil garpu dan pisau dari piring Aveline. Dengan presisi seorang ahli bedah, ia memotong sepotong kecil lamb chop yang masih hangat, memastikannya terlumuri saus merah yang kental.
“Buka mulutmu, Sayang!” perintah Roman lembut. Namun, tatapannya sedingin es kutub.
Aveline mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia memalingkan wajah, menatap ke arah jendela besar yang tertutup tirai beludru berat.
“Jangan keras kepala. Kau tahu aku benci ketidakteraturan,” desis Roman.
“Lepaskan aku, Roman... kumohon,” rintih Aveline. Air mata mulai menggenang, mengaburkan sisa penglihatannya.
Tiba-tiba, tangan kiri Roman yang kuat mencengkeram rahang Aveline. Jari-jarinya menekan titik saraf di bawah telinga Aveline, memaksa mulut wanita itu sedikit terbuka karena rasa sakit yang tajam. Roman tidak berteriak. Ia bahkan tidak menunjukkan kemarahan di wajahnya. Wajahnya tetap datar, klinis, dan kosong.
“Kau pikir kau punya pilihan?” Roman mendekatkan potongan daging itu ke bibir Aveline yang bergetar. “Aku telah membangun hidup ini untukmu. Aku telah membersihkan kotoran di masa lalumu. Dan kau membalasnya dengan mencoba mencari kunci perak sialan itu.”
Roman menekan garpu itu ke gigi Aveline. Bunyi logam yang beradu dengan email gigi terdengar mengerikan di ruangan yang sunyi itu.
“Makan, Ava. Sebelum aku memutuskan bahwa kau lebih baik diberikan nutrisi melalui selang di ruang bawah tanah.”
Ketakutan murni menghantam Aveline. Ancaman itu nyata. Ruang bawah tanah bukan lagi halusinasi—itu adalah janji hukuman. Ia bisa melihat kilatan kegilaan yang murni di balik pupil mata Roman yang melebar. Pria ini bukan lagi dokter yang menyelamatkannya—dia adalah pemilik yang sedang mendisiplinkan peliharaannya.
Aveline meronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Roman yang sekeras catut besi. Tangannya yang lemas mencoba memukul d**a Roman, namun pria itu bahkan tidak bergeming.
“Kau ingin tahu apa yang ada di balik pintu baja itu, bukan?” Roman berbisik, napasnya yang berbau mint dan alkohol menerpa wajah Aveline. “Jika kau tidak menelan ini sekarang, aku sendiri yang akan menyeretmu ke bawah sana. Dan kau tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi.”
Roman menekan potongan daging itu lebih keras ke dalam mulut Aveline, mengabaikan isak tangis yang tertahan di tenggorokan istrinya. Di saat yang sama, sensor keamanan di ponsel Roman yang tergeletak di meja mendadak bergetar hebat. Lampu merah berkedip-kedip, menandakan ada penyusupan di area pagar depan.
Roman tersentak. Cengkeramannya pada rahang Aveline sedikit melonggar saat perhatiannya teralih pada ponsel itu.
Aveline memanfaatkan detik yang singkat itu. Ia meludah ke arah wajah Roman dan menyambar pisau makan yang tergeletak di meja. Dengan tenaga yang lahir dari rasa putus asa, ia menusukkan ujung pisau itu ke arah lengan Roman.
“KAU...!” geram Roman.
Roman berhasil menghindar, namun ujung pisau itu menyobek lengan kemeja putihnya yang mahal, menyisakan garis merah tipis di kulitnya. Roman menatap lukanya sendiri dengan pandangan yang tidak percaya. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangannya pecah.
Ia menatap Aveline dengan kebencian yang murni. Ia meraih botol anggur yang masih terisi penuh di atas meja, mengangkatnya tinggi-hidangan di atas kepala Aveline yang sedang meringkuk ketakutan di lantai.
“Sepertinya kau butuh dosis yang jauh lebih kuat dari sekadar sedatif, Ava.”
Tepat saat botol itu hampir diayunkan, suara ledakan ban mobil di depan rumah terdengar memekakkan telinga, disusul oleh suara alarm sistem keamanan yang menjerit kencang.
Roman membeku. Matanya menatap ke arah pintu depan, lalu kembali ke arah Aveline yang kini sedang merangkak mundur menuju dapur, memegang pisau dengan tangan yang gemetar hebat.
“Dia di sini,” Roman terkekeh.
Roman menjatuhkan botol anggur itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Ia tidak lagi mengejar Ava, melainkan berjalan menuju laci meja makan dan mengeluarkan sebuah pistol hitam kecil.
“Jika dia menginginkanmu, dia harus mengambil mayatmu dariku.”