ILUSI HIJAU

1249 Words
Aveline tetap berlutut, napasnya tersengal, matanya terkunci pada kertas merah yang tergeletak di antara serpihan itu. Roman tidak bergerak. Ia berdiri mematung di depan jendela yang menganga, membiarkan angin malam yang tajam mengacak-acak rambutnya yang biasanya rapi tanpa cela. Raungan mesin motor di luar sana perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menakutkan. Aveline tidak mendengarkan peringatan Roman. Jemarinya yang gemetar menyambar kertas itu sebelum Roman sempat melangkah. Ia meremasnya kuat-kuat di dalam kepalan tangannya. Amarah yang selama ini terpendam di bawah pengaruh sedatif mendadak meledak, memberinya keberanian yang tidak wajar. “Apa yang kau sembunyikan di bawah sana, Roman?” ucapnya hampir tidak terdengar. Roman berbalik perlahan. Ia melepaskan sarung tangan lateksnya dengan sangat tenang. “Hanya sampah medis, Sayang. Prosedur yang tidak perlu kau ketahui,” jawab Roman. Ia melangkah mendekat, satu langkah yang terukur. “Pria itu sedang mencoba menghancurkan pernikahan kita. Dia tahu kau sedang tidak stabil, dan dia memberimu narasi palsu agar kau membenciku.” “Narasi palsu? Dia melempar batu ke jendela rumah kita, Roman! Dia tahu sesuatu yang tidak aku tahu!” “Dia tahu cara memanipulasi ketakutanmu, Ava.” Roman berhenti tepat di depan Aveline. Ia tidak merebut kertas itu. Ia justru mengulurkan tangan, mengusap pipi Aveline yang terluka karena goresan kecil serpihan kaca. Ibu jarinya menekan luka itu, membiarkan sedikit darah menempel di kulit sarung tangannya yang baru. “Aku akan membereskan ini. Pergilah ke kamar tamu di bawah. Aku tidak ingin kau tidur di ruangan dengan kaca pecah seperti ini. Berbahaya,” perintah Roman mengintruksi. Aveline tidak membantah. Ia butuh keluar dari ruangan itu. Ia butuh jarak dari aroma antiseptik yang kini terasa mencekik. Dengan kertas merah yang masih tersembunyi di genggamannya, ia berjalan keluar, menuruni tangga dengan gontai. Pukul tiga lebih lima belas menit, dini hari. Aveline berdiri di balik pintu kamar tamu, ia tidak tertidur—mendengarkan suara gesekan sapu di lantai atas. Roman sedang membersihkan kaca. Pria itu tidak akan berhenti sampai semuanya kembali ke kondisi sempurna. Kesempurnaan adalah obsesinya, dan Aveline baru menyadari bahwa ia adalah bagian dari koleksi sempurna itu. Ia membuka kepalan tangannya. Kertas merah itu sudah lecek. Aveline tidak bisa langsung ke ruang bawah tanah sekarang, Roman akan mendengarnya. Ia menyelinap keluar melalui pintu samping yang menuju ke arah dapur, lalu ke teras belakang. Udara malam menusuk piyamanya yang tipis, namun ia tidak peduli. Ia berjalan menuju titik di mana ia melihat plastik hitam itu menyembul—pada temp hari. Halaman itu tampak sangat rapi di bawah cahaya bulan. Rumputnya hijau sempurna, seragam, tanpa ada satu pun daun yang menguning. Aveline berlutut. Ia menyentuh permukaan rumput itu, anehnya terlalu empuk dan terasa seperti plastik. Ia menusukkan kuku jarinya ke celah di antara helai rumput. Lalu menariknya sedikit, dan jantungnya hampir melompat keluar. Seluruh bagian rumput itu terangkat. Bukan tanah yang ia temukan di bawahnya, melainkan lapisan polimer hitam. Itu adalah rumput sintetis kelas satu yang dipasang dengan presisi untuk menutupi area tanah yang luas. Roman tidak meratakan tanahnya, dia menutupinya dengan karpet hijau yang menipu mata. Aveline menyibak lapisan sintetis itu lebih lebar. Aroma tanah basah yang bercampur dengan bau sesuatu yang manis dan menyengat langsung menyeruak. Bau itu mengingatkannya pada laboratorium biologi di kampus. Ia merangkak lebih jauh ke arah dinding luar rumah, dekat dengan ventilasi ruang bawah tanah. Di sana, ia melihat sebuah kantong plastik hitam besar yang belum sempat dipindahkan ke tempat sampah utama di depan. Plastik itu tersembunyi di balik semak-semak rhododendron. Dengan tangan gemetar, Aveline membuka ikatannya. Di dalamnya terdapat beberapa botol kaca kosong. Ia mengambil salah satunya, mencoba membaca labelnya di bawah cahaya bulan yang redup. Formaldehyde Solution sepuluh persen. Di botol lainnya, ia menemukan label bertuliskan Odor Neutralizer - Industrial Grade. Aveline tertegun. Pikirannya mendadak buntu. Mengapa suaminya, seorang dokter bedah saraf ternama, membutuhkan penghilang bau bangkai dosis industri di rumah mereka? Ia mulai membayangkan kemungkinan yang mengerikan. Apakah gundukan tanah di bawah rumput palsu ini berisi sisa-sisa.... ataukah sesuatu yang selama ini Roman rawat di bawah sana? Ia menggelengkan kepala dengan keras. Tidak mungkin. Roman mencintaiku. Dia hanya protektif, batinnya mencoba melakukan denial yang terakhir. Namun, botol formalin di tangannya adalah bukti fisik yang tidak bisa dibantah oleh argumen medis mana pun. Roman sedang mengawetkan sesuatu. Atau menyembunyikan pembusukan. Aveline menatap ke arah jendela ruang bawah tanah yang berada tepat di bawah kakinya. Ventilasi itu mengeluarkan suara mesin yang sangat halus, seperti desis oksigen yang membuatnya merinding. Aveline berdiri, menjatuhkan botol formalin itu kembali ke dalam plastik. Ia tidak lari, ia harus masuk ke ruang bawah tanah, sekarang. Namun saat ia berbalik untuk kembali ke dalam rumah, sebuah cahaya senter yang kuat menyorot wajahnya dari arah pagar belakang. Aveline memejam, menghalau silau itu menggunakan tangannya. Namun, ia merasakan sesuatu lagi terlempar ke arahnya. Saat Aveline membuka mata, motor itu pergi menjauh. Aveline melihat sebuah kunci perak Aveline menyambar kunci itu. Di belakangnya, terdengar derit pintu terbuka. Roman berdiri di sana, memegang sebuah nampan kecil dengan jarum suntik yang sudah siap. “Aku mencarimu ke mana-mana, Sayang. Sudah waktunya untuk tidur yang sangat panjang.” Aveline mengepalkan tangan di balik punggungnya, menyembunyikan kunci perak yang ia temukam di dalam saku piyamanya sembaro bergerak mundur. “Lantai ini basah karena embun, Ava. Kau bisa terserang hipotermia,” Roman melangkah satu demi satu, mendekati Aveline dengan nampan medis di tangannya. Aveline bergerak mundur hingga tumitnya menabrak tepi rumput sintetis yang baru saja ia singkap. “Aku hanya butuh udara segar, Roman. Kamar itu... kaca pecah itu membuatku sesak.” “Udara malam ini mengandung polutan yang tidak baik untuk paru-parumu,” balas Roman. Ia berhenti tepat dua meter di depan Aveline. Matanya yang tajam melirik ke arah lapisan rumput sintetis yang sedikit terbuka di bawah kaki istrinya. Hening sejenak. Angin malam berhenti berdesir, menyisakan kesunyian yang mencekam. “Kau merusak taman kita, Sayang,” bisik Roman. Senyum tipis tersungging. “Padahal aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk memastikan permukaannya rata. Sempurna. Tanpa cela. Seperti dirimu.” Roman meletakkan nampan itu di atas meja taman kayu yang ada di dekatnya. Ia mengambil jarum suntik itu, mengarahkan ujungnya ke langit malam, dan menekan pistonnya sedikit hingga sebutir cairan bening keluar. “Kemarilah. Aku tidak ingin melakukannya dengan paksa. Itu akan merusak jaringan ototmu.” Aveline menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Aku tidak mau tidur lagi. Aku ingin tahu apa yang ada di bawah rumput ini, Roman! Aku ingin tahu kenapa kau menyimpan cairan pengawet di tempat sampah!” Roman mendesah, suara sarat kekecewaan seorang ayah pada anak yang membangkang. “Pengetahuan tanpa pemahaman adalah racun, Ava. Kau melihat botol-botol itu tapi kau tidak mengerti fungsinya. Aku sedang melakukan riset. Untukmu. Untuk kesembuhanmu.” Roman melangkah maju dengan cepat. Sebelum Aveline sempat berteriak, tangan kiri Roman yang kuat sudah mencengkeram bahunya, menekannya hingga punggung Aveline menabrak dinding bata rumah yang kasar. “Diamlah, Ava! Ini hanya akan terasa seperti gigitan serangga,” desis Roman tepat di depan wajah Aveline. Tepat saat ujung jarum itu hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit leher Aveline, sebuah fenomena aneh terjadi. Cahaya putih yang sangat terang—lebih terang dari lampu sorot mana pun, meledak tepat di wajah Roman. Itu bukan lampu motor, melainkan lampu strobe taktis dengan intensitas ribuan lumen yang ditembakkan dari kejauhan. Roman berteriak kecil, menutup matanya dengan lengan baju jasnya karena silau yang membutakan saraf optiknya. Jarum suntik di tangannya terlepas, jatuh dan pecah di atas lantai teras. Di saat yang sama, suara dentuman kembang api besar yang meledak tepat di udara, menciptakan distraksi suara yang memekakkan telinga. “Argh!” geram Roman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD