Aveline berdiri mematung di ambang pintu balkon. Angin malam masih menerpa punggungnya, namun hawa dingin yang terpancar dari tatapan Roman jauh lebih menusuk. Serbuk biru dari tablet yang hancur itu terserak kecil di sana.
“Masuk, Ava! Tutup jendelanya!” perintah Roman.
Aveline menurut tanpa suara. Ia melangkah masuk, menutup jendela kaca, dan menguncinya. Kamar itu terasa mendadak sempit. Roman tidak bergerak dari posisinya. Ia memperhatikan rambut Aveline yang sedikit acak-acakkan dan noda tanah tipis di lutut piyamanya.
“Kenapa kamu membuangnya?” tanya Roman. Ia berjalan mendekat, membuang tisu itu ke tempat sampah kecil di sudut meja rias.
“Aku merasa sudah cukup baik, Roman. Aku tidak ingin ketergantungan pada obat tidur,” jawab Aveline. Suaranya bergetar, meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar.
Roman menghela napas. Ia menarik kursi kerja Aveline dan duduk di sana, menyilangkan kakinya dengan tenang. “Ketergantungan? Aku seorang dokter, Ava. Aku tahu dosis yang tepat untuk istriku. Yang aku tidak tahu adalah kenapa kamu harus berbohong dan menyelinap ke halaman” belakang seperti pencuri di rumahmu sendiri.
Aveline terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa tanpa memicu kemarahan Roman yang lebih besar.
“Apa yang kamu cari di sana? Harta karun? Atau kamu berharap pria bermotor itu menjemputmu?” Roman terkekeh, namun suaranya kering.
“Aku melihat sesuatu. Aku hanya ingin memastikan...”
“Dan apa yang kamu temukan?” potong Roman cepat.
“Tidak ada. Semuanya rata.”
Roman berdiri, mendekati Aveline hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia merapikan helai rambut pirang Aveline yang menempel di pipinya. “Tentu saja tidak ada. Karena kamu sedang sakit, Ava. Persepsimu tentang realitas mulai terdistorsi. Dan itu berbahaya bagi kita berdua.”
Roman merogoh saku piyamanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil yang tampak kusam. Ia melemparkannya ke atas tempat tidur.
“Ini alasan kenapa aku harus melakukan tindakan tegas,” ucap Roman.
Aveline mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Isinya adalah serangkaian foto polaroid. Semuanya diambil dari jarak jauh, menunjukkan aktivitas Aveline di dalam rumah Thorne. Ada foto Aveline saat sedang menyeduh teh, saat ia berdiri di balkon, bahkan saat ia sedang tertidur di sofa ruang tamu sore tadi.
Di balik salah satu foto, tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam yang tebal: “HE IS NOT SAVING YOU, HE IS FEEDING YOU.”
Aveline menjatuhkan foto-foto itu. “Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Aku menemukannya di kotak surat tadi. Pelaku itu tidak lagi sekadar mengikuti mobilmu, Ava. Dia sudah masuk ke area pribadi kita. Dia mengintai setiap gerak-gerikmu, menunggu celah saat aku tidak ada di sampingmu.”
Roman memegang kedua bahu Aveline, mencengkeramnya dengan kekuatan yang cukup untuk membuat Aveline merasa terperangkap.
“Mulai besok, kamu tidak akan pergi ke galeri. Kamu tidak akan keluar dari rumah ini tanpa pengawalanku. Aku sudah mematikan sistem telepon rumah dan mengganti kode akses gerbang.”
“Roman, kamu tidak bisa mengurungku seperti ini! Aku punya pekerjaan, aku punya kehidupan!” protes Aveline.
“Pekerjaanmu tidak lebih penting dari nyawamu,” balas Roman dingin. “Pria ini berbahaya. Dia mencoba menghancurkan mentalmu agar kamu meragukan aku, satu-satunya orang yang melindungimu. Lihat saja reaksimu tadi di halaman belakang. Kamu lebih percaya pada halusinasimu daripada suamimu sendiri.”
Roman berjalan menuju lemari pakaian. Ia mengeluarkan koper kecil milik Aveline dan meletakkannya di atas tempat tidur.
“Aku akan memindahkan semua keperluanmu ke kamar ini. Untuk sementara, ini adalah tempat teramanmu. Aku akan memasang sensor tambahan di jendela dan balkon. Jangan coba-coba untuk membukanya lagi.”
Aveline menatap Roman yang mulai memindahkan barang-barangnya dengan sangat efisien. Pria itu tidak terlihat seperti sedang marah—ia terlihat seperti sedang mengerjakan prosedur operasi yang sangat penting.
“Apakah ini tentang keamananku, atau tentang kendalimu atas diriku, Roman?” tanya Aveline pelan.
Roman berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan, menatap Aveline dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Bagiku, keduanya adalah hal yang sama, Ava. Aku tidak bisa menjagamu jika aku tidak bisa mengendalikan lingkungan di sekitarmu. Sekarang, tidurlah. Aku akan mengunci pintu dari luar. Ini demi kebaikanmu.”
Roman melangkah keluar, menutup pintu kamar dengan bunyi denting yang final. Suara kunci diputar terdengar jelas di telinga Aveline.
Aveline terduduk di tepi tempat tidur, dikelilingi oleh foto-foto polaroid yang berserakan. Ia mengambil salah satu foto—foto dirinya yang sedang tertidur. Ia memperhatikannya lebih dekat. Ada sesuatu yang aneh. Di sudut foto itu, di pantulan kaca jendela di belakangnya, ia melihat bayangan seseorang.
Bayangan itu tampak seperti seorang pria berdiri, memegang kamera polaroid. Tapi matanya terpaku pada sosok kabur di pantulan kaca—wajahnya tak jelas, aura dingin itu terasa menusuk. Jika benar sosok itu yang mengambil foto saat ia tertidur, maka ancaman itu akan mengisolasinya.
Aveline mencengkeram foto polaroid itu hingga kertasnya sedikit melengkung.
Ia segera merangkak di atas tempat tidur, mengumpulkan semua foto polaroid yang berserakan. Ia membolak-balik setiap lembar dengan teliti. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Aveline menyadari sesuatu. Sudut pengambilan gambar pada foto-foto ini berbeda-beda. Beberapa diambil dari luar jendela, sementara yang lain diambil dari sudut yang hanya bisa dijangkau oleh seseorang yang berada...
Ia mendekat ke depan meja rias, berlutut di sana—mencoba mencocokan sudut pandang pelaku.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan. Cahaya dari lorong yang terang masuk ke dalam kamar yang gelap, membentuk bayangan panjang seorang pria yang berdiri tegak di ambang pintu.
Roman berdiri di sana. Ia tidak lagi memakai piyama. Ia mengenakan kemeja hitam yang rapi, dan tangannya memegang sebuah botol cairan antiseptik serta kapas.
“Belum tidur, Ava?” tanya Roman. suaranya sangat tenang, namun matanya langsung tertuju pada posisi Aveline yang sedang berlutut di dekat meja rias. “Apa yang sedang kamu lakukan di lantai?”
“Hanya.. hanya..?”
Roman melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan mendekati Aveline dengan langkah yang sangat terukur.
“Aku bertanya padamu, Sayang,” ulang Roman. Ia berhenti tepat di depan Aveline, ujung sepatunya yang mengilap hampir menyentuh lutut istrinya. “Kenapa kamu terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”