JEJAK YANG TERHAPUS

933 Words
Aveline membeku di kursinya. Tumpahan teh di meja makan mulai menetes ke lantai, namun ia tidak peduli. Matanya terkunci pada jendela. Gundukan tanah di halaman belakang itu nyata. Plastik hitam yang menyembul dari sana membawa ingatannya kembali ke malam sebelumnya—plastik yang sama di depan pintu kamar, dengan cairan merah yang merembes ke karpet. Itu daging wagyu favoritmu, Sayang. Kalimat Roman bergema di kepalanya. Namun, ukuran plastik di halaman itu terlalu besar untuk sekadar potongan daging. Aveline merasa perutnya mual. Suara langkah kaki Roman terdengar dari arah pintu depan. Aveline segera menyambar serbet, mencoba mengelap tumpahan teh dengan gerakan panik. Ia tidak ingin Roman melihatnya sedang menatap ke luar. “Ava? Apa yang terjadi?” Roman sudah berdiri di pintu dapur. Ia tidak lagi memakai jas. Kemejanya disingsingkan hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh. Roman berjalan mendekat, matanya langsung tertuju pada pecahan cangkir dan tangan Aveline yang gemetar. “Aku... aku hanya terkejut. Ada suara burung yang menabrak kaca,” dusta Aveline. Ia tidak berani menatap mata Roman. Ia terus mengelap meja dengan gerakan berulang yang tidak perlu. Roman diam. Keheningan itu terasa memekakkan telinga. Aveline bisa merasakan tatapan Roman sedang membedah ekspresi wajahnya. Pria itu tidak langsung percaya, dan Aveline tahu itu. “Burung?” Roman mengulang kata itu dengan nada datar. Ia berjalan menuju jendela, berdiri tepat di tempat Aveline tadi melihat gundukan tanah. Roman menyibak tirai lebih lebar, menatap ke arah halaman belakang yang kini sudah gelap. Jantung Aveline berdegup kencang. Ia menunggu Roman mengatakan sesuatu tentang tanah itu. “Tidak ada burung di luar, Ava. Hanya ada angin,” ucap Roman tanpa menoleh. Ia berbalik, lalu berjalan mendekati Aveline. Ia mengambil serbet dari tangan istrinya dan meletakkannya di meja. “Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Roman. Suaranya lirih sekali, namun penuh penekanan yang membuat Aveline merasa terpojok. “Tidak, Roman. Aku hanya lelah. Kepalaku pusing,” Aveline mencoba memberikan alasan medis, berharap itu akan meredam kecurigaan suaminya. Roman hanya memberi seyum tipis. Ia mengusap pipi Aveline dengan punggung tangannya. Tangannya terasa dingin, berbeda dengan udara dapur yang hangat. “Tentu saja kamu pusing. Kamu belum meminum vitamin malammu.” Roman berjalan menuju kabinet obat. Ia mengambil sebuah botol putih kecil, mengeluarkan satu tablet berwarna biru pucat, dan menyiapkannya di atas telapak tangannya. Ia juga mengambil segelas air putih baru. “Minumlah! Ini akan menstabilkan ritme jantungmu agar kamu tidak lagi berhalusinasi tentang suara burung atau apa pun yang kamu lihat di luar sana,” perintah Roman. Aveline menatap tablet itu. Keraguan kini melingkupinya. “Aku bisa meminumnya nanti, Roman. Aku ingin mandi dulu,” tolak Aveline halus. “Sekarang, Ava. Aku ingin memastikan kamu benar-benar meminumnya.” Roman berdiri sangat dekat. Tekanan itu kini terasa nyata. Aveline tidak bisa menolaknya lagi, keraguannya sama saja dosa pada suaminya. Dengan tangan gemetar, Aveline mengambil tablet itu. Ia memasukkannya ke dalam mulut, meletakkannya di bawah lidah dengan cepat, lalu meminum air yang diberikan Roman hingga tandas. Ia melakukan gerakan menelan yang meyakinkan. “Pintar,” bisik Roman. Ia mengecup dahi Aveline. “Sekarang, pergilah ke kamar! Aku akan menyusul setelah membereskan pecahan kaca ini. Aku tidak ingin kamu terluka.” Aveline mengangguk lemah. Ia berjalan perlahan menaiki tangga, membiarkan Roman percaya bahwa obat itu sudah mulai bekerja. Begitu ia sampai di belokan tangga dan yakin Roman tidak lagi melihatnya, Aveline mengeluarkan tablet biru yang sudah setengah basah itu dari bawah lidahnya. Ia membungkusnya dengan tisu yang ada di saku piyamanya, menekannya hingga hancur agar tidak terlihat. Di dalam kamar, Aveline tidak langsung tidur. Ia berdiri di balik pintu, mendengarkan suara dari lantai bawah. Ia mendengar suara pintu belakang dibuka. Aveline menunggu sekitar sepuluh menit sampai dirasa aman. Ia mendengar pintu belakang dikunci kembali, lalu langkah kaki Roman menuju kamar mandi tamu di lantai bawah. Suara air mengalir terdengar cukup lama. Roman sedang membersihkan diri. Ini kesempatannya. Aveline membuka jendela kamarnya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Ia menuruni tangga darurat di samping rumah yang jarang digunakan. Udara malam yang dingin langsung menusuk kulitnya, tapi amarah dan rasa penasaran mengalahkan rasa dingin itu. Ia berlari kecil menuju gundukan tanah di halaman belakang. Sesampainya di sana, Aveline membeku. Halaman belakang itu rata. Tidak ada gundukan tanah. Apalagi plastik hitam menyembul seperti yang ia lihat tadi. Semuanya tampak seperti sedia kala—rumput yang rapi dan terawat. Aveline berlutut, meraba permukaan rumput, tapi tanahnya keras. Tidak terasa seperti tanah yang baru saja digali dan ditutup kembali. “Tidak mungkin,” bisiknya. “Aku melihatnya tadi. Aku melihat plastik itu.” Ia mencari jejak lain. Ia merangkak di atas rumput, mencari sisa-sisa tanah yang mungkin tercecer. Namun, halaman itu bersih secara tidak wajar. Roman sangat rapi dalam bekerja, atau memang Aveline yang sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya? Tiba-tiba, cahaya lampu senter yang sangat kuat menyorot langsung ke wajahnya dari arah pagar belakang. Aveline silau. Ia menutupi matanya dengan tangan. Di balik cahaya itu, ia mendengar suara deru mesin motor yang sangat halus, lalu menghilang dalam hitungan detik. “Siapa di sana?” teriak Aveline dengan suara parau. Tidak ada jawaban. Hanya menyisakan aroma tembakau mahal yang terbawa angin malam. Aveline segera berdiri dan berlari kembali ke arah tangga darurat. Ia harus masuk ke kamar sebelum Roman menyadari keberadaannya. Namun, saat ia baru saja menginjakkan kaki di balkon kamarnya, pintu kamar terjeblak terbuka. Roman berdiri di sana. Ia sudah mengenakan piyama bersih. Wajahnya ditekuk, dan di tangannya, ia memegang selembar tisu yang tadi digunakan Aveline untuk membungkus obatnya. Tisu itu sudah terbuka, tablet biru yang hancur itu terlihat jelas di sana. “Kamu tidak meminumnya, Ava?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD