Kecemasan menguasai Avaline, membuatnya kehilangan kendali. Ia gemetar, keringat dingin tampak jelas di pelipisnya saat suara langkah kaki Roman terdengar menuruni anak tangga.
Aveline meringkuk di celah sempit antara rak buku tua dan dinding. Tangannya yang gemetar hebat, mendekap alat perekam digital yang masih menyala di dadanya.
“Ava? Sayang, aku tahu kamu di sini,” Suara Roman hampir terdengar seperti bisikan pengantar tidur saking lembutnya.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan rak tempat Aveline bersembunyi. Aveline menutup mata rapat-rapat. Jantungnya berdebum keras, ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri di tengah keheningan yang memekakkan.
“Debu di sini tidak baik untuk paru-parumu, Ava.”
Sebuah tangan yang hangat dan kokoh tiba-tiba menyentuh bahu Aveline. Sontak, wanita itu terlonjak dan memekik kecil. Ia mendongak dan menemukan wajah Roman yang tampak khawatir, bukan murka. Roman berlutut di depannya, mengabaikan debu yang mengotori celana kain mahalnya.
“Roman... aku... aku hanya...” Aveline tercekat.
Roman menghela napas panjang. Ia mengambil alat perekam dari tangan Aveline.
“Kamu sedang mencari apa, Sayang? Sampai harus merangkak di tempat kotor ini?” Roman menyeka noda hitam di pipi Aveline dengan ibu jarinya. “Apa kamu sedang mencari bukti bahwa suamimu ini adalah orang jahat?”
Pertanyaan itu menghantam Aveline tepat di ulu hati. Ia merasa sangat kecil. “Tidak, aku hanya... aku....” Aveline menjeda kalimatnya. Namun, tatapannya melirik ke arah meja.
Roman menoleh ke belakang, lalu tersenyum tipis. Ia berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Aveline bangun. Dengan sisa tenaga yang ada, Aveline menerima uluran tangan itu.
Roman menuntunnya ke meja kerja, lalu membuka folder kulit hitam yang tadi hendak disentuh Aveline.
“Ini yang ingin kamu lihat?” tanya Roman.
Aveline mengintip dengan ragu. Di dalamnya bukan berisi foto-foto pembunuhan atau rencana jahat, melainkan riwayat medis lengkap miliknya. Ada hasil pemindaian otak (MRI), tes darah periodik, dan catatan observasi harian tentang pola tidurnya.
“Aku seorang dokter bedah saraf, Ava. Dan kamu adalah istriku yang menderita gangguan kecemasan akut pasca-trauma akibat penguntitan selama bertahun-tahun,” kata Roman.
“Helaian rambut di tabung itu? Aku mengambilnya karena aku khawatir dengan kerontokan rambutmu yang ekstrem belakangan ini. Aku sedang meneliti apakah ada ketidakseimbangan hormon atau efek samping dari obat penenang yang kamu minum.”
Aveline tertegun. “Lalu alat pe..rekam itu?”
“Itu bukan kamera, tapi untuk merekam igauanmu saat tidur. Kamu sering menjeritkan nama-nama yang tidak kukenal. Aku ingin menunjukkannya pada kolegaku di psikiatri untuk mendapatkan diagnosa yang tepat tanpa harus membawamu ke rumah sakit,” jelas Roman.
Roman membelai wajah Aveline, menatap begitu tulus hingga Aveline merasa menjadi manusia paling jahat di dunia karena telah mencurigainya.
“Aku mengunci pintu karena aku takut kamu akan keluar rumah dalam keadaan berhalusinasi seperti semalam. Kamu hampir melukai dirimu sendiri dengan penjepit rambut itu jika aku tidak segera datang.”
Roman menunjukkan layar ponselnya yang terhubung dengan kamera pengawas gerbang depan. “Kamu bersembunyi di sini karena motor yang kamu lihat? Dia adalah kurir yang mengantarkan vitamin tambahan untukmu. Dia membunyikan bel karena aku belum membayar tagihannya secara daring.”
Roman terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Maafkan aku, Roman... aku... aku hanya merasa sangat bingung,” Aveline menyembunyikan wajahnya di d**a bidang suaminya.
Roman memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di rambut pirang Aveline. “Tidak apa-apa, Sayang. Ini bukan salahmu. Kamu aman bersamaku.”
Roman melepaskan pelukannya sebentar, lalu jemarinya menyentuh liontin berlian di leher Aveline. Cahaya lampu ruang bawah tanah membuat berlian itu berkilau indah.
“Ayo keluar dari sini! Aku sudah menyiapkan teh herbal untuk menenangkan sarafmu,” ajak Roman.
Roman merangkul pinggang Aveline, membawanya ke arah dapur.
Roman menarik kursi kayu dan memberi isyarat agar Aveline duduk. Aveline menurut, ia memperhatikan punggung suaminya yang kini sibuk menyalakan kompor dan meletakkan teko keramik di atasnya.
“Aku akan mencampurkan sedikit ekstrak chamomile dan valerian,” kata Roman tanpa menoleh. “Itu akan menurunkan kadar kortisol dalam darahmu secara alami.”
Alih-alih mendengarkan suaminya, Aveline terdiam menatap meja makan. Ia melihat ke arah liontin berlian di lehernya melalui pantulan sendok perak yang tergeletak di atas meja, titik merah itu sudah tidak ada.
Roman meletakkan cangkir teh di depan Aveline. Uap panas mengepul dari cairan berwarna kecokelatan itu.
“Minumlah sampai habis, Ava. Aku harus memeriksa gerbang depan sebentar karena sistem alarm mendeteksi adanya gangguan kecil pada sensor gerak,” ujar Roman. Ia mengusap kepala Aveline sekali sebelum melangkah pergi menuju pintu depan.
Aveline menyesap tehnya. Rasanya pahit di pangkal lidah, amun ia tetap menelannya.
Keheningan, membuat Aveline beralih pandang ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Tirai kain berat itu tidak tertutup sempurna, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter.
Aveline terlonjak, teh digenggamannya tumpah tercecer di meja.
Ia melihat gundukan tanah segar terlihat menonjol di antara hamparan rumput hijau yang rapi. Namun, di gundukan itu ujung plastik hitam tampak menyembul dari tanah.