Ava tersentak bangun. Ia memicingkan mata, menghalau silau matahari yang menembus jendela dengan tajam. Kepalanya berdenyut, menyisakan kebingungan, mendadak sudah pagi?
Rasa perih yang familier menyengat lengan kirinya. Ava menyingkap lengan piyamanya dan menemukan bekas tusukan jarum yang masih baru.
Kekosongan menghantam. Ada bagian dari ingatannya semalam yang hilang, ia mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi pikirannya buntu.
Lebih aneh lagi, ia tidak lagi mengenakan jubah mandi sutra yang ia pakai semalam. Sekarang, tubuhnya dibungkus piyama sutra merah marun yang pas di badan. Ia tidak ingat pernah mengganti pakaiannya. Ia bahkan tidak ingat memiliki piyama ini.
“Sudah bangun, Sayang?”
Suara itu datang dari arah meja rias. Roman berdiri di sana, membelakanginya sembari mengancingkan manset kemeja putihnya yang kaku.
Ava mencoba duduk, tapi gravitasi seolah menarik kepalanya kembali ke bantal. “Roman... lenganku memar. Dan kenapa aku memakai ini? Kapan aku mengganti pakaian?”
Roman berbalik, menyunggingkan senyum lembut yang selama ini menjadi candu bagi Ava. Ia melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur dengan sangat berhati-hati. Ia mengulurkan tangan, mengusap helai rambut yang menutupi wajah Ava.
“Kau tidak ingat?”
“Semalam kau mengigau hebat, Ava. Kau menjerit, mencakar lenganmu sendiri karena berhalusinasi melihat serangga merayap di bawah kulitmu. Aku terpaksa memberikanmu penenang tambahan agar kau tidak melukai dirimu sendiri. Aku juga mengganti pakaianmu karena kau berkeringat dingin sampai menggigil.”
Ava terpaku, pandangan kosong itu menatap langit-langi kamar.
“Berhalusinasi? Mengigau?”
Ingatannya tentang mayat satpam dalam plastik hitam dan mawar hitam yang layu mendadak terasa seperti potongan mimpi buruk yang tidak logis.
“Tapi.... aku melihat kantong plastik berdarah di depan pintu semalam,” bisik Ava. Nadanya bergetar karena ragu pada kewarasannya sendiri.
Roman terkekeh, “Itu daging wagyu favoritmu, Sayang. Aku membelinya dalam jumlah banyak semalam untuk merayakan ulang tahun pernikahan kita yang tertunda karena insiden di restoran,” jelas Roman tenang. “Maafkan aku, Sayang. Plastiknya bocor sedikit. Seharusnya aku lebih berhati-hati saat membawa plastik itu masuk. Aku tidak menyangka kecerobohanku sampai membuatmu ketakutan.”
Roman bangkit, merapikan jasnya. “Aku harus ke rumah sakit sebentar untuk panggilan darurat. Ada pasien yang membutuhkan pembedahan saraf segera. Minumlah vitamin yang kutaruh di atas meja riasmu, jangan dilewatkan. Aku akan kembali dua jam lagi.”
Setelah kepergian Roman, Ava beranjak ke depan cermin. Ia mengambil sisir, mencoba merapikan rambutnya yang berantakan. Saat sisir itu ditarik, ia merasakan tarikan yang sangat ringan. Di sela-sela gigi sisir, segumpal rambut pirangnya tertinggal. Bukan hanya satu atau dua helai, tapi gumpalan kecil yang mengkhawatirkan.
Ia melihat ke arah meja riasnya yang dipenuhi botol kosmetik mahal. Saat ia menggeser botol bedahnya, ia menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik barisan parfum. Sebuah tabung spesimen kaca kecil berlabel label medis profesional. Di dalamnya, ada beberapa helai rambut pirang yang identik dengan miliknya.
Tanpa pikir panjang, Ava menyambar tabung itu. Berniat membuangnya keluar kamar. Namun, saat ia memutar grendel, pintu itu tidak bisa dibuka.
Ava mengentak-entak gagang pintu berkali-kali, menciptakan suara benturan logam yang berisik di koridor yang sepi. Pintunya telah dikunci dari luar.
“Roman tidak mungkin lupa masih ada aku di kamar.”
Ava tidak memiliki kunci cadangan, ia menggunakan penjepit rambut baja yang ia temukan di laci—sebuah trik kecil yang diajarkan ayahnya bertahun-tahun lalu—Ava mengutak-atik lubang kunci pintu kamarnya, dan berhasil terbuka.
Ia segera menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan kulkas besar di sudut ruang. Rasa penasaran mendorongnya untuk menarik pintu logam tersebut.
Di rak tengah, tumpukan daging wagyu segar dalam kemasan plastik transparan berjejer rapi, persis seperti yang dikatakan Roman. Ia menghela napas lega, satu sisi merasa berdosa pada Roman.
Namun, saat Ava menutup pintu kulkas—ia mendadak membeku menatap pantulan dirinya di permukaan kulkas yang mengilat, liontin berlian tetesan air mata di lehernya, kini memantulkan kedipan merah seperti titik laser.
Ava mengedarkan pandang ke sekeliling ruang dengan ngeri, titik merah itu identik dengan teror si penguntit—membuatnya penasaran.
Ia tahu Roman selalu membawa tas kerja cadangan ke ruang bawah tanah jika pergi terburu-buru.
Rasa penasaran membawa langkanya menuju ruang kerja bawah tanah yang dilarang untuk ia masuki.
Ava mengendap-endap, mendekati pintu. Ternyata tidak terkunci. Ia mendorongnya perlahan, agar tidak berderit. aroma antiseptik menyeruak saat ia memasuki ruang terlarang tersebut.
Namun yang membuatnya terkejut, di atas meja metalik yang bersih, ada tabung berisi helaian rambut yang identik miliknya, serta folder kulit hitam tebal tergeletak.
Ava hendak menyentuh folder tersebut.
Ding-dong! Ding-dong!
Namun, bel rumah berbunyi hingga berkali-kali dengan tidak sabar. Ava berlari ke jendela kecil ruang bawah tanah yang sejajar dengan halaman. Di balik pagar besi, sebuah motor hitam besar menderu. Pengendaranya mengarahkan lampu jauh tepat ke jendela, menyilaukan mata Ava.
Ava panik. Ia mengedarkan pandang ke penjuru ruang mencari tempat persembunyian. Ia melihat rak buku yang masih menyisakan celah di sudut ruangan.
Ava merangkak mendekat. Namun, Ava kembali dilanda syok saat ia menemukan alat perekam digital yang masih menyala. Ia ketahuan.
“Ava? Sayang? Kau di mana?”
Tiba-tiba terdengar Roman memanggil.