Bius Sang Malaikat

1799 Words
Jeritan histeris pengunjung membelah keheningan L’Ambroisie sesaat setelah dentuman itu, namun Roman bergerak lebih cepat dari rasa panik mana pun. Tanpa sepatah kata, ia menyentak tangan Aveline dan menyeretnya membelah kerumunan, hingga mereka berhasil masuk ke dalam mobil. Roman menilai situasi ini sangat berbahaya bagi Aveline. Meski sumber ancaman tak jelas, ia tak bisa menyingkirkan kemungkinan bahwa stalker yang sama—yang telah merenggut ketenangan Aveline selama bertahun-tahun masih berkeliaran. Pikiran itu masih berputar di kepalanya, bahkan saat ia menggenggam setir dan membawa SUV Mercedes hitam menembus gerbang otomatis kediaman Thorne. Kediaman Thorne terlihat megah, bangunan bertingkat dengan fasad klasik dan di kelilingi deretan pohon cemara di halaman depanny. Aveline duduk mematung, ia masih terguncang. “Kamu tidak perlu khawatir, Ava. Seperti yang sudah-sudah, semua akan baik-baik saja,” ujar Roman menenangkan. “Aku khawatir, jika ancaman itu bisa melukai orang lain—” Roman menaruh telunjuk di bibir Aveline. “Cukup, Ava. Jangan pikirkan itu. Seperti sebelumnya, aku akan pastikan semuanya baik-baik saja.” Roman turun lebih dulu. Ia berjalan ke sisi lain, membuka pintu untuk Aveline. Saat mereka melangkah masuk ke dalam foyer rumah. Roman tiba-tiba berhenti. Hidungnya mengendus udara. Ada aroma yang tidak seharusnya ada di sana—aroma tembakau mahal yang bercampur dengan bau hujan dan sesuatu yang maskulin, berbeda jauh dengan bau antiseptik yang selalu Roman bawa pulang. Mata jernih Roman menyapu ruangan. Di atas meja konsol mahoni, vas kristal berisi mawar putih favoritnya masih di sana. Namun, ada satu tangkai yang berbeda. Sebuah mawar hitam yang kelopaknya mulai layu terselip di tengah-tengahnya. Di samping vas, sebutir peluru perak mengkilap menonjol di sana. Roman Ia melirik Aveline yang sibuk menunduk melepas sepatu hak tingginya dan tidak menyadari ada benda asing di dekatnya. “Mandilah, Ava! Air hangat akan membantumu tidur,” ujar Roman datar. Ava mengangguk, langkahnya lunglai menaiki tangga. Ia merasa tubuhnya kehilangan daya—rasanya seperti kelelahan yang tidak wajar. Begitu derit pintu kamar mandi terdengar, Roman segera menyambar peluru perak itu, menyelipkannya ke dalam saku jasnya dengan tenang—seperti menyimpan permen di saku celana. Uap panas memenuhi kamar mandi, mengaburkan pandangan Aveline pada cermin di depannya. Ia baru saja hendak melangkah keluar dari bathtub ketika jemarinya menyentuh kain handuk lembut yang diletakkan Roman di bawah celah pintu—mungkin sengaja disiapkan suaminya sesaat setelah dia masuk. Namun, sesuatu yang tajam menusuk ujung ibu jarinya. “Aw!” Ava menarik tangannya dengan refleks. Setitik darah merah segar muncul di permukaan kulitnya. Ia mengerutkan kening, menyibak lipatan handuk itu dan menemukan sebuah jarum suntik kecil yang terjatuh ke lantai keramik. Cairan bening di dalamnya tersisa separuh. Jantung Aveline berdegup liar. “Jarum? Kenapa ada jarum di handukku?” Pikirannya langsung melayang pada retakan kaca di restoran dan titik laser merah tadi. Penguntit itu tidak lagi sekadar menontonnya dari jauh. Selama bertahun-tahun, ia telah hidup dalam bayang-bayang teror yang tak pernah benar-benar menampakkan wajahnya. Namun kini, ancaman itu telah berubah bentuk menjadi bahaya fisik yang nyata. Penguntit itu sudah terlalu jauh hingga berhasil menyusup ke dalam perlindungan Roman? “Ava? Kau baik-baik saja di dalam?” Suara Roman terdengar tepat di balik pintu, menyusul bunyi ketukan pelan namun penuh kecemasan. Roman selalu ada di sana setiap kali Ava membutuhkannya—seorang pelindung yang memiliki insting tajam terhadap setiap bahaya yang mengintai istrinya. Ava mencoba menjawab, tapi lidahnya mendadak terasa tebal. Pandangannya mulai mengabur. Ava meraih gagang pintu, mencoba membuka kuncinya, tapi koordinasi tubuhnya hilang. Ia jatuh berlutut, napasnya memburu. Detik berikutnya, suara gedoran keras menghantam pintu, disusul dentuman yang memekakkan telinga saat Roman mendobrak masuk dengan paksa. “Sudah kukatakan jangan pernah mengunci pintu kamar mandi, Ava! Itu adalah hal terakhir yang Ava dengar sebelum pandangannya menggelap. Hingga beberapa saat kemudian, kesadarannya kembali dalam bentuk rasa sakit yang menusuk di belakang kepalanya. Ava sudah berbaring di tempat tidur, dibalut selimut tebal. Ia melirik jam digital di meja samping tempat tidurnya—yang sudah menunjukkan pukul dua lebih lima belas dini hari. Sementara itu, Roman duduk di kursi goyang di pojok kamar yang remang. Ia sedang membaca sebuah jurnal medis. “Kau pingsan karena tekanan darahmu turun drastis, Ava,” ujar Roman tanpa menoleh ke arah istrinya. “Mungkin karena trauma perasaan diawasi di restoran tadi. Aku terpaksa memberikanmu sedikit suplemen melalui injeksi agar kau tidak syok.” Ava menatap ibu jarinya. Ada bekas tusukan kecil yang mulai membiru di sana. “Jarum itu... ada di handuk, Roman. Kenapa?” Roman menutup bukunya. Ia berdiri, berjalan mendekat, lalu membungkuk dan menyentuh pipi Ava dengan punggung jari yang dingin. “Itu yang ingin kutanyakan padamu, Ava,” dalihnya. “Aku menemukan jarum itu di lantai setelah mendobrak pintu. Seseorang pasti sudah menyusup lewat jendela kamar mandi saat kita masih di restoran. Dia sengaja menaruhnya di sana untuk bahaya yang lebih fatal.” “Maafkan kecerobohanku. Aku gagal menjagamu,” sesal Roman. Melihat wajah suaminya mendadak layu karena rasa bersalah, hati Ava justru terasa mencelos. Alih-alih marah atas insiden itu, ia malah merasa telah menjadi beban. Namun ada kilat kepuasan yang melintas terlalu cepat di mata Roman saat melihat Ava menunjukkan rasa bersalah. “Aku harus keluar sebentar. Ada panggilan darurat di rumah sakit pusat,” kata Roman. Ia mengecup kening Ava. “Istirahatlah. Aku sudah mengaktifkan sistem keamanan maksimal. Tidak ada yang bisa masuk, dan kau tidak perlu keluar!” Pintu kamar dikunci dari luar. Ava mendengar langkah kaki Roman menjauh, disusul suara deru mesin Mercedes meninggalkan halaman. Ava menghela napas yang sempat tertahan, tetapi ia tetap tidak merasa lega. Ava memaksakan dirinya untuk duduk, ia harus memeriksa tas kerjanya. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, ia merangkak menuju meja rias, membuka tas kulit untuk mencari ponselnya. Namun, kosong. Ponsel utamanya hilang. Namun, di dasar tas—di balik lapisan kain yang tersembunyi, jemarinya menyentuh sesuatu yang lain. Sebuah benda kecil berbentuk kotak hitam dengan lampu biru mikroskopik yang berkedip teratur. Itu alat pelacak, dan tentunya bukan milik Roman. Di sudutnya, terdapat logo abjad yang dikelilingi rantai. Logamnya tampak aus dan tergores dalam, membuat garis-garis huruf itu sulit dikenali. Ava teringat pesan singkat dari nomor asing semalam. Ia meraih ponsel cadangan yang selalu ia sembunyikan di dalam lipatan baju dalam di lemari—ponsel lama yang tidak diketahui oleh Roman. Saat ia menyalakannya, layar yang berpendar redup itu seketika menampilkan notifikasi dari nomor tanpa nama. Pesan itu melampirkan titik merah koordinat gudang belakang rumahnya. Dahi Ava mengernyit dalam. Amarah mendadak menyalip rasa takutnya. Ia muak dengan permainan kucing-kucingan ini—si pengintai itu sudah terlalu jauh dengan mengirimkan titik koordinat gudang belakang rumahnya sendiri. Ia yakin si penguntit sedang menunggu di sana, sengaja memancingnya keluar untuk akhirnya menunjukkan wajah aslinya. Dengan amarah yang masih mendidih, Ava merangkak menuju jendela besar yang menghadap ke arah halaman belakang. Namun, ia mendadak terpaku. Di bawah lampu taman yang temaram, ia justru melihat mobil Roman masih terparkir di dalam garasi yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka separuh. “Roman?” Ava tersentak. Secara refleks, ia melempar ponsel cadangan itu hingga terbentur lantai. Ketakutan baru menghantamnya, apakah selama ini Roman tahu tentang ponsel simpanannya? Di saat yang sama, Ava menyipitkan mata, menatap ke arah kegelapan di balik pagar tinggi rumahnya. Di antara rimbunnya pohon pinus yang bergoyang ditiup angin, ia melihat kilatan lensa kaca—seseorang sedang mengawasinya dengan teropong taktis. Sosok itu berdiri tegak di atas dahan besar, tidak bersembunyi, seolah sengaja ingin Ava tahu bahwa dia ada di sana. Itu pria bermotor yang kerap muncul, sosok pengintai yang Roman benci, kehadirannya selalu membuat Ava terus gelisah. Sudah sekian lama hal itu terjadi. Pria bermotor yang sama—sosok pengintai tak berwajah yang kehadirannya selalu menjadi alasan Roman memperketat keamanan rumah mereka. Meski kegelapan menyamarkan wajahnya, Ava mengenali siluet dari posturnya—bahu lebar yang tegak dan tinggi badan yang mencolok, sebuah figur dominan yang selama bertahun-tahun selalu muncul di titik buta penglihatannya. Kehadirannya adalah teror yang telah mendarah daging. Sosok di seberang sana mengarahkan laser merah ke arah Ava, menembus kaca jendela dan berhenti tepat di dadanya, lalu berpindah ke arah liontin berlian di lehernya—titik merah itu bergerak melingkar di sana. Ia tidak mengerti mengapa si penguntit justru mengincar perhiasan pemberian suaminya? Sontak, Ava menarik tirai dengan sentakan kasar. Wajahnya ditekuk murung. Ia menyentuh liontin itu—rasa penasaran membuatnya menarik kalung itu, mencoba membuka pengaitnya, tapi benda itu tidak bergerak, sepertinya pengaitnya telah dimatikan secara permanen. Tiba-tiba, suara langkah kaki kembali terdengar di lorong rumah, langkahnya terdengar tergesa-gesa Ava panik. Ia menyembunyikan ponsel cadangannya di bawah bantal tepat saat pintu kamar menjeblak terbuka. Roman berdiri di sana. Lelaki itu tidak memakai jas dokter, dia memakai kaus hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya yang tegang, dan tangannya terbungkus sarung tangan lateks. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kantong plastik hitam besar yang tampak berisi sesuatu yang berat. “Kenapa kau bangun, Ava?” tanya Roman datar. “Aku sudah memberimu dosis yang cukup untuk tidur sampai matahari terbit.” Ava mundur hingga punggungnya menabrak kepala tempat tidur yang dingin. “Roman... kkau tidak jadi per.. pergi?” Roman terdiam. Ia menatap Ava dengan pandangan kosong selama beberapa detik, lalu perlahan senyum miring tersungging di bibirnya. Ia menjatuhkan kantong plastik hitam itu ke lantai di depan pintu. Bunyi debub yang berat terdengar, disusul cairan merah yang mulai merembes keluar dari celah plastik, mengotori karpet mahal mereka. “Lucu sekali, bukan? Saat aku sibuk memastikan tidak ada satu pun debu yang menyentuh kulitmu, kau justru sibuk menyembunyikan sesuatu yang bisa menghancurkan kepercayaanku dalam sekejap.” Ava merasa tertangkap basah—Roman tahu tentang ponsel cadangannya? Roman berjalan mendekat, mengeluarkan gunting bedah dari saku celananya. Roman naik ke atas tempat tidur, merangkak perlahan ke arah Ava seperti predator yang sedang menyudutkan mangsa di pojok sangkar. “Jangan bergerak. Aku hanya ingin memastikan kau tidak mencoba merusak hadiahku,” kata Roman sambil meraih liontin di leher Ava. Ujung gunting yang dingin menempel tepat di nadi leher Ava. Tepat saat itu, sebuah batu besar menghantam kaca jendela kamar mereka hingga hancur berkeping-keping. PRANG! Roman tersentak, menoleh ke arah jendela yang pecah—Ave apalagi. “Hama sialan itu...” geram Roman. Roman membatalkan niatnya untuk memperbaiki kalung Ava. Ia melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju jendela. Di luar sana, stalker itu mengangkat tangan kanannya, membentuk isyarat pistol ke arah Roman, lalu melesat bersama motornya. Ava gemetar hebat, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia melihat ke arah kantong plastik di lantai. Di sela-sela plastik yang terbuka, ia melihat sepotong kain syal milik satpam komplek mereka yang tadi sore menyapanya. Syal itu kini bersimbah darah. “Apa yang dilakukan Roman?” batinnya histeris. Roman berbalik. Ia mengambil selembar tisu, menyeka setetes darah yang menciprat ke pipinya, lalu menatap Ava dengan senyum paling lembut yang pernah ia berikan. “Ava, sepertinya kita harus pindah rumah besok. Stalker-mu itu mulai merusak kedamaian kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD