Sang Tawanan

614 Words
Malam yang cerah dengan langit bertabur bintang di luar jendela restoran. Saat ini, di meja terbaik dengan pemandangan kota yang berkilau. Aveline Vance menyunggingkan senyum tipis yang membuat sudut matanya berkerut halus. Gaun sutra champagne membalut tubuh rampingnya dengan indah, memantulkan pendar lampu kristal yang menyinari wajah cantiknya. “Tiga tahun, Ava.” “Tiga tahun sejak aku bersumpah untuk menjagamu dalam keamanan yang mutlak.” Di seberang meja, Roman Thorne duduk dengan tegak. Jas navy yang dikenakannya tampak tanpa cela, sejalan dengan reputasinya sebagai dokter bedah saraf terbaik di kota ini. L’Ambroisie malam ini adalah restoran yang sempurna untuk merayakan tiga tahun pernikahan mereka. “Waktu berlalu sangat cepat, Roman,” balas Ava. “Karena kau berada di tangan yang tepat,” balas Roman. Ia memotong sepotong kecil wagyu steak di piringnya, lalu mengulurkan garpu itu ke arah bibir Ava, menunggunya menerima suapan itu. Roman menatap Ava dengan binar yang sanggup membuat wanita mana pun merasa menjadi pusat semesta. “Kamu harus makan lebih banyak, Sayang. Kamu terlihat sedikit pucat belakangan ini.” Roman menyeka sudut bibir istrinya menggunakan serbet kain putih dengan sangat lembut. Roman kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Tanpa banyak kata, ia membukanya di atas meja, memamerkan kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air mata yang berkilau tajam di bawah lampu restoran. “Hadiah ulang tahun pernikahan kita,” ucapnya. Alih-alih memperlihatkan rasa haru, Aveline malah tampak gelisah—wajahnya memantulkan keresahan yang tak mampu ia sembunyikan. Aveline mengusap tengkuknya saat merasakan desiran aneh di sana, perasaan asing tiba-tiba menghantamnya. Ia merasa ada sepasang mata, menatapnya—menembus kaca jendela besar restoran yang gelap di belakangnya. Ada keyakinan kuat bahwa tatapan itu berasal dari sosok yang sama yang terus mengikutinya. Aveline menoleh ke arah jendela, menatap pantulan dirinya. Di luar sana, di area parkir yang remang-remang, ia hanya melihat barisan SUV hitam yang mengular rapi. Ketidaknyamanan itu semakin menguat, hingga membuat Ava merinding, seakan ada napas asing yang berhembus di tengkuknya—menghirup aroma parfumnya. “Ada apa, Sayang?” tanya Roman. Ia memincing, seolah sedang membedah pikiran istrinya. “Hanya... merasa sedikit kedinginan,” dusta Aveline. Roman tidak mempertanyakan lagi, namun ada kilatan cemas yang berusaha ia sembunyikan, takut kendali atas Aveline perlahan tergelincir dari genggamannya. Roman bangkit dari kursinya. Berjalan memutari meja untuk berdiri di belakang Aveline. Ia menyampingkan rambut pirang wanita itu ke satu bahu, membiarkan tengkuknya terekspos udara dingin restoran. Roman melingkarkan kalung itu di leher Aveline, mengunci pengaitnya dengan presisi seorang ahli bedah. Jari-jarinya sengaja berlama-lama di nadi leher Avelince, merasakan detak jantung istrinya yang mendadak melompat cepat. Ia membungkuk, berbisik tepat di telinga Aveline. “Jangan pernah lepaskan ini, Ava!” “Berlian ini adalah janji bahwa di mana pun kau berada, aku akan selalu bisa menemukanmu,” tambahnya. Avelince menyentuh berlian itu, kepalanya sedikit merunduk untuk menatap benda berkilau di dadanya. Di saat yang sama, sensor di dalam berlian mikroskopik itu mulai bekerja, mengirimkan data biometrik Aveline langsung ke ponsel di saku Roman. Sebagai seorang dokter bedah, Roman tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap kesehatan istrinya. Baginya, teknologi ini adalah bentuk cinta tertinggi—sebuah penjagaan tanpa henti yang memastikan jantung Aveline tetap berdetak dalam ritme yang aman di bawah pengawasannya. Tiba-tiba, sebuah kilatan titik laser merah kecil memantul di gelas kristal di depan Ava. Cahaya itu hanya menetap sedetik, berpindah dari beningnya kaca ke permukaan meja, sebelum menghilang ditelan bayangan. “Prak!” Kaca tebal di belakang mereka mendadak retak, menjalar cepat membentuk jaring laba-laba yang membiaskan cahaya lampu kristal menjadi ribuan kepingan tajam. Aveline tersentak, menjatuhkan sendok peraknya hingga berdenting keras. Sebutir peluru perak tertanam di sana, berhenti tepat sejajar dengan pelipis Roman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD