Part 5. Family

1464 Words
Sesuai dengan janji Danesh tempo hari, kini dia mengajak Malini untuk pulang ke Bandung menemui kedua orang tuanya. Sebenarnya Danesh sudah mengabari mereka perihal rencananya menikahi Malini. Danesh pun sudah memberi tahu kedua orang tuanya bahwa dia sudah melamar Malini dan lamarannya diterima. Maka hari itu, Danesh dan Malini berangkat menuju ke Bandung pada pagi hari. Jika terkadang mereka pergi mengunjungi orang tua Danesh bertiga dengan Noah, adik dari Danesh yang saat ini sedang kuliah, maka kali ini mereka hanya pergi berdua saja karena Noah sedang pergi berlibur bersama teman - temannya menuju ke Jawa Timur. Dia berkata akan mendaki gunung di sana. Danesh dan Malini tiba di rumah orang tua Danesh sebelum waktu makan siang. “Apa kabar, Lin?” Sapa Mona seraya memberikan pelukan hangat ketika Malini baru saja tiba. Malini tersenyum manis, “Baik, Mam. Mami sama papi gimana, sehat?” Sapa Malini dengan ramah sambil menyerahkan paper bag yang dibawanya. Paper bag itu berisi kue bolu buatannya sendiri sebagai buah tangan, karena menurut Danesh mami dan papinya suka sekali cemilan kue bolu, terlebih jika itu jenisnya bolu jadul, keduanya pasti akan menikmati dengan begitu lahapnya.. “Mami sama papi sehat kok. Baik, semua baik - baik aja. Cuma sering merasa kesepian aja karena jarang ditengokin Danesh sama Noah. Mereka itu ya, kayak lupa kalau punya orang tua. Sibuk sama dunianya masing-masing.” Keluh Mona sambil berjalan menuju ruang tengah dengan menggandeng tangan Malini. "Ini kamu bikin sendiri?" Tanya Mona sambil mengangkat paper bag yang dibawa Malini tadi. Malini mengangguk sambil tersenyum, "Iya Mam. Lini masih belajar bikin bolu." Danesh yang mendengar keluhan wanita kesayangannya itu mengelak, “Mam, aku kan kerja. Ngumpulin uang buat modal nikah. Buat masa depan. Noah tuh, sudah aku suruh pulang kalo pas libur. Tapi dia malah jalan-jalan sama temennya.” “Ah, kalian berdua sama aja. Kalo salah pasti nunjuk yang lain. Susah akurnya.” Kali ini Erik yang sedang menonton televisi pun turut andil dalam obrolan mereka. “Kemarin Danesh sudah bilang sama mami, kalo dia ngelamar kamu, Lin. Mami senang banget dengernya. Akhirnya Danesh mau nikah juga. Nanti, kalo kalian sudah nikah, tinggal sama mami papi ya?” Bujuk Mona. “Ehm… Itu… Lini belum tahu, Mam. Ngikut gimana kata Danesh aja nanti.” Malini sebenarnya masih sedikit canggung untuk membahas perihal pernikahan mereka. Meskipun dia sudah beberapa kali bertemu dengan kedua orang tua Danesh, tetap saja ada rasa segan yang menyelimuti dirinya ketika berinteraksi dengan kedua orang tua Danesh, alias calon mertuanya. Mona kemudian mengajak suaminya, Malini, dan juga Danesh untuk berpindah menuju ke ruang makan karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Mona sudah sibuk menyiapkan menu kesukaan putra sulungnya itu sejak pagi tadi. Danesh memang bisa dibilang jarang sekali pulang ke Bandung karena kesibukannya. Meskipun bukan seperti pekerja kantoran yang terikat dengan jam kerja dari pagi hingga sore atau malam hari, namun kegiatannya tak kalah padat dengan pegawai yang bekerja di kantor. Selama ini dia masih mengatur segala jadwal dan kontrak kerja samanya seorang diri. Mungkin nanti, jika karirnya kian menanjak dan dia sudah kewalahan mengurus segalanya sendiri, Danesh akan mempertimbangkan untuk mencari seorang asisten untuk membantunya.. “Kalian nginap di sini?” tanya Erik sambil menikmati sepotong empal jagung di piringnya. Danesh dan Malini kompak menggeleng. “Enggak, Pap. Nanti sore atau malam kita udah harus balik. Soalnya Lini besok pagi ada kerjaan.” jawab Danesh. “Lin…” Erik bersuara dengan nada yang serius. Membuat ketiga orang yang berada di meja makan itu seketika menoleh padanya. “Iya, Pap?” Malini menatap kedua orang tua kekasihnya itu dengan gugup. “Jadi gini… Danesh kan sudah melamar kamu dan kamu sudah terima lamaran dia, meskipun belum secara resmi. Menurut papi, kami tetap harus secara resmi melamar kamu. Meminta ijin keluarga kamu.” Malini menarik nafas dalam-dalam, “Aku udah nggak punya orang tua, Pap.” Jawab Malini sambil menunduk. Mona yang melihat perubahan raut wajah Malini kemudian meraih tangan Malini ke dalam genggamannya. “Maaf, Sayang. Maksud papi tadi, mungkin ada keluarga kamu yang lain yang bisa kami temui. Karena nanti kami dianggap nggak sopan, menikahkan Danesh sama kamu tanpa ijin dari keluarga. Gitu maksud papi.” Mona bersuara sambil mengelus punggung tangan Malini. Menjelaskan secara perlahan maksud dari ucapan suaminya tadi. Malini menggeleng, “Aku sendirian, Mam.” Bukan salah Malini jika dia berkata seperti itu. Karena memang dia tidak pernah tahu apakah dia punya keluarga selain ayah dan ibunya yang telah tiada. Malini tidak pernah tahu dia memiliki kerabat dimana. Karena sejak kecil, dia memang hanya tinggal berdua dengan ayahnya di Kota Serang, Banten. Dan ketika sang ayah tiada, Malini pergi mengadu nasib ke Jakarta dan hidup seorang diri hingga saat ini. “Enggak, Lin. Kamu nggak sendiri sekarang. Kan ada papi sama mami. Danesh juga.” Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana, tapi Malini merasa suara Erik yang menyapa indra pendengarannya kali ini terasa hangat merasuk hingga ke hatinya. Mendorong sebentuk rasa bahagia memenuhi rongga dadanya, hingga dia merasa sesak dan membuat kedua bola mata indahnya berkaca-kaca. Maka untuk menahan agar air matanya tak luruh kala itu juga, Malini kembali menarik nafas dalam seraya mengangguk menyetujui kalimat yang diucapkan calon mertuanya tadi. Namun dia gagal, karena setitik air mata bahagia itu jatuh juga membasahi pipinya. --- Danesh dan Malini sampai kembali di Jakarta pukul sebelas malam. Malini sudah tertidur sejak sekitar satu jam yang lalu. Dan kini mobil yang dikendarai oleh Danesh sudah terparkir dengan rapi di basement. Danesh menatap wajah Malini yang sedang tidur dengan takjub. Mengagumi setiap keindahan yang tergambar di wajah kekasihnya itu. Perlahan jemari Danesh mengelus pipi Malini untuk membangunkannya. Namun Malini masih terlelap dalam tidurnya. “Lin… Bangun, Sayang. Kita sudah sampai.” Hening. Danesh lalu mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Malini sambil memanggil namanya. “Kamu mau bangun, atau aku gendong sampai ke unit?” Bisik Danesh tepat di depan bibir Malini. “Ehm… Jangan. Malu dilihat orang.” Jawab Malini dengan suara serak, namun kedua matanya masih tertutup. Rupanya dia masih mengantuk. “Makanya bangun dulu ya. Nanti dilanjut tidurnya.” Danesh berkata sambil mengacak rambut Malini hingga berantakan. Malini berjalan sambil berpegangan di lengan Danesh yang kekar. Sesekali dia menyandarkan kepalanya di lengan kekasihnya itu. Bahkan saat di lift, Malini sempat memejamkan matanya lagi karena tidak tahan dengan rasa kantuk yang membuat kedua kelopak matanya serasa berat. Danesh hanya tersenyum saat melihat Malini yang tertidur sambil berdiri di sampingnya sembari menunggu lift sampai di lantai tujuh belas, dimana unitnya berada. “Ngantuk banget ya?” Tanya Danesh sambil merangkul bahu Malini yang hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan. “Besok pagi aku anter ya? Lokasi photo shoot nya dekat sama tempat aku nge gym kan?” Tanya Danesh lagi, sambil membimbing Malini perlahan untuk berjalan menuju ke unitnya. Begitu tiba di unit, Malini dengan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan tubuhnya yang terasa lengket akibat perjalanan yang cukup melelahkan itu. Dan ketika sudah selesai, rasa kantuk itu tiba-tiba menghilang. Wajahnya kini sudah kembali segar. “Dan, kamu nggak pulang?” Tanya Malini karena melihat Danesh yang kini justru bersantai di depan televisi selepas membersihkan wajahnya dan juga berganti pakaian. Danesh menoleh, “Besok kan aku antar kamu. Jadi malam ini aku tidur di sini aja ya?” Malini mengangguk ringan. Sejak kejadian malam itu, Danesh memang sudah beberapa kali menginap di unitnya. Terutama jika mereka pulang terlalu malam seperti saat ini. Malini tidak ingin mengambil resiko seandainya terjadi sesuatu jika Danesh pulang dalam kondisi lelah. “Ya sudah. Sekarang tidur. Jangan begadang. Kamu udah lelah seharian nyetir.” Ujar Malini sambil memencet remote televisi untuk mematikan benda itu. Lalu berjalan menuju ke kamarnya, diikuti oleh Danesh yang secara tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Dan…” “Hmm…? Kenapa?” Tanya Danesh sambil menghirup aroma segar dari rambut Malini. “Turunin…” Pinta Malini yang kini kedua kakinya melayang tak menapak lantai karena Danesh memeluk sambil mengangkat tubuhnya. Danesh menggeleng. “Dan, nanti kamu capek. Badanku berat.” “Aku nggak capek kok, Lin.” “Kita itu baru balik dari perjalanan jauh, Dan. Kamu nyetir pagi dan malam. Ya pasti capek lah. Aku bisa kok jalan sendiri. Nggak perlu diangkat kayak gini.” Danesh dengan santainya tetap berjalan sambil memeluk Malini, hingga mereka berdua berada di kamar, salah satu kakinya mendorong pintu kamar hingga tertutup sempurna. Lalu tanganya meraba dinding kamar, menuju ke arah saklar lampu. Mematikan lampu utama di kamar Malini dan menggantinya dengan lampu tidur yang cahayanya redup. “Kamu mau bukti kalau aku nggak capek?” Tanya Danesh sambil mengangkat kedua alisnya. Tersenyum jahil sambil menatap wajah Malini yang kini terdiam kehilangan kata-kata ketika Danesh mulai membuktikan ucapannya bahwa dia tidak merasa lelah. Malini tentu saja tidak bisa menolak, karena dia pun menyukainya. Menyukai setiap sentuhan yang diberikan oleh Danesh padanya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD