Part 6. Wajah Baru

1409 Words
Akan ada masa dimana waktu berputar dengan begitu cepatnya sehingga kita tidak menyadari hari demi hari berlalu begitu saja. Biasanya hal ini kita alami saat suasana hati sedang senang atau bahagia. Namun ada pula masa dimana waktu berjalan begitu lambat hingga kita tidak sabar untuk segera mengakhiri hari ini agar segera berlalu dan menyambut hari yang baru. Seperti sore ini, tidak terasa bulan demi bulan telah terlewati oleh Malini. Tidak ada yang menyadari jika ada yang berubah dari dirinya. Kebanyakan orang baru menyadarinya setelah sebuah foto yang diunggah Danesh di sosial media diperbincangkan cukup ramai oleh netizen. Bukan hal yang aneh sebenarnya jika Danesh membagikan beberapa gambar di media sosialnya itu. Hanya saja kali ini, Danesh membagikan fotonya bersama seorang gadis manis yang sebelumnya tidak pernah terlihat dimanapun, baik itu di akun pribadi Danesh, maupun akun lain milik teman-teman dalam pergaulannya.. Gadis manis dengan rambut hitam nan tebal dengan panjang sebahu itu berdiri di samping Danesh yang terlihat menjulang. Mereka terlihat seperti berada di perkebunan, atau mungkin hutan. Dimana banyak pepohonan di sekitar mereka. Terlihat sangat sejuk dan menenangkan sebenarnya. Hanya saja dua orang yang berada di dalam foto itu membuat para pengikut mereka menjadi tidak tenang. “And into the forest I go, to lose my mind and find my soul.” Tulis Danesh di keterangan fotonya. Tidak lupa dia menandai akun sosial media gadis di sampingnya. Lunara Olivia nama gadis itu. Dalam waktu beberapa menit setelah foto itu diunggah, banyak sekali komentar yang masuk. Namun tentu saja apapun komentar yang masuk tidak dihiraukan oleh pemilik akun itu. “Wait… What?” Tulis salah satu akun fanbase Danesh dan Malini. “Cewek baru ya @Daneshjazmi? Bukannya udah tunangan sama @Yash_malini?” “Gue ketinggalan berita apa gimana ini @Daneshjazmi?” “Manis banget cewe barunya Danesh ya?” “Gak jadi nikah sama Malini, @Daneshjazmi?” “Woy, lo sama Lini sudah tunangan. Kok malah gandeng cewek baru? “Dan, lo kok gitu? Masih cantikan Malini kali. Ah gimana sih. Kecewa gua nih.” “Tolong ini ada apa? Kok gak ada Malini di feed nya Danesh?” “Demi apa gw scroll dan cari-cari kapan mereka tunangan, gak ketemu. Enam bulan yang lalu ya, kalo ga salah?” “Ih, kalian serasi banget. Tapi Malini gimana?” “Danesh lebih cocok sama Malini.” Yakinlah, beberapa saat ke depan, foto itu akan masuk di beberapa akun gosip dan membuat berita itu menjadi lebih heboh lagi. Akun sosial media milik Lunara yang tidak terkunci pun menjadi sasaran netizen untuk di serbu. Dan di sana mereka mendapatkan sasaran empuk lagi. Ternyata sebelum Danesh mengunggah foto mereka hari ini, Lunara terlebih dahulu membagikan foto keduanya beberapa hari yang lalu. Hanya saja karena memang Lunara tidak terkenal seperti Danesh atau Malini, maka tidak ada yang menyadarinya. Dan kini, saat Danesh yang membagikan foto itu, maka akun sosial medianya menjadi sasaran para netizen. “Mirip Malini ya, sekilas.” “Wah, udah beberapa waktu yang lalu ternyata.” “Ada apa sih kok cewek ini jadi sama Danesh? Kenapa dia?” “Kamu cantik banget deh, Kak. Salam kenal ya. Selamat jadian.” “Danesh emang nggak bisa lepas dari bayang-bayang Malini ya, cewek barunya aja mirip.” “Jauh lebih cantik Malini keleus…” “Yang sabar ya @Yash_malini” “Hai Lunara Olivia. Kamu siapa?” Dan masih banyak lagi komentar lain dari yang bernada biasa, memuji hingga bernada sinis pada Lunara. Netizen tentu saja dibuat terkejut, karena sebelumnya tidak pernah ada berita apapun menyangkut Danesh maupun Malini. Semuanya seperti baik-baik saja karena mereka tidak pernah mengumbar masalah mereka di sosial media. Tanpa ada yang menyadari, di balik hebohnya foto itu, ada seseorang yang sedang menyendiri di kamarnya. Duduk di sebuah kursi rotan di samping jendela, dengan posisi menunduk seperti memandangi debu-debu di lantai. Kedua tangannya erat memeluk lutut yang tertekuk. Sesekali nafasnya terdengar berhembus dengan berat, seolah ingin membuang segala beban yang ada dalam dirinya. Ponsel yang sejak tadi berdenting dan juga sesekali berdering, kini sudah hening karena kehabisan daya. Sama seperti pemiliknya yang terduduk lemah seperti kehabisan daya untuk sekedar mengangkat wajahnya dan menatap ke depan. Malini. Gadis itu masih enggan untuk beranjak dari posisinya meskipun matahari sudah mulai terbenam dan warna langit telah berubah menjadi keemasan. Kepalanya terasa berat saat menyadari akhirnya hari ini tiba. Hari dimana orang-orang tahu bahwa hubungannya dan Danesh telah berakhir. Lebih dari itu, pernikahan mereka batal. Sebenarnya sudah sejak dua bulan lalu hubungan mereka berakhir. Namun mereka berdua sepakat untuk diam, bergerak perlahan menghapus semua memori saat mereka masih bersama. Meniadakan jejak digital yang terekam di akun masing-masing. Hingga saatnya tiba, jika salah satu atau salah dua dari mereka telah menemukan tambatan hati, mereka bebas membagikan kebahagiaan mereka dengan pasangan barunya. Dan itulah yang dilakukan oleh Danesh saat ini. Semula Malini merasa yakin bahwa dia akan baik-baik saja. Sedih memang, karena segala bayangan tentang hidup bersama dengan Danesh harus dia buang jauh-jauh. Namun Malini yakin waktu akan membantunya untuk kuat dan bertahan. Hanya saja yang tidak Malini perkirakan yaitu, rasanya akan sepedih ini. Bukan. Malini bukan menyesali keputusan yang telah mereka buat untuk berpisah. Pedih ini begitu terasa karena komentar orang-orang yang seolah tahu akan kehidupannya dan Danesh. Dimana banyak sekali yang menyayangkan karena hubungannya dan Danesh harus berakhir. “Aku akan bertahan, seandainya saja…” Malini tidak sanggup meneruskan kalimatnya karena air mata meluncur begitu saja membasahi pipinya. Malini pun beranjak menuju ke tempat tidur. Sejenak dia menyempatkan diri untuk menyambungkan ponselnya dengan kabel pengisi daya. Membiarkan ponselnya dalam keadaan tidak aktif, dia lalu merebahkan dirinya, dan menenggelamkan seluruh tubuhnya di bawah selimut tebal. Mencoba menghalau rasa dingin yang entah berasal darimana, padahal cuaca sedang cerah dan cenderung panas. Sesekali air mata masih tampak mengalir di wajahnya, hingga kemudian entah berapa lama waktu berlalu, gadis itu akhirnya terpejam dan kehilangan kesadarannya. Tubuh dan pikirannya perlu istirahat. Dirinya perlu rehat sejenak sembari mencoba untuk terbiasa dengan keadaan ini. Keadaan baru tanpa seorang Danesh di sisinya. Memang sudah dua bulan berlalu sejak hubungan mereka berakhir, dan selama itu Malini tetap beraktivitas seperti biasa. Bekerja, bertemu dengan Diaz serta Reisa, bernyanyi juga memasak. Semua itu dilakukan untuk mengecoh pikirannya agar tidak terlalu sakit saat kembali teringat bahwa kini hubungannya dan Danesh sudah tidak berlanjut lagi. Namun tetap saja, saat malam tiba, ketika rasa kantuk belum menyerang, segala ingatan tentang kebersamaan mereka seolah menghantamnya tanpa ampun. Hingga terkadang, diakhiri dengan tersenyum jika mengingat betapa manisnya seorang Danesh, tertawa saat mengingat berbagai kejadian lucu yang pernah mereka alami, hingga menangis tersedu-sedu dan jatuh tertidur karena lelah. --- “Lin, are you okay?” Sapa Diaz di ujung telepon pagi itu. Ketika Malini menghidupkan ponselnya, tidak lama berselang sebuah panggilan masuk dari sahabatnya. Malini mengangguk, dia lupa bahwa lawan bicaranya tidak akan dapat melihat responnya berupa anggukan kepala. “Lini…?” Tanya Diaz lagi. “I’m okay, Di.” “Aku ke apartemen kamu ya?” Teman-teman mereka memang sudah mengetahui perihal kandasnya hubungan Danesh dan Malini. Dan sebagai sahabat yang baik, mereka tidak ingin ikut campur karena yakin Danesh dan Malini memiliki alasannya sendiri. Mereka tetap memposisikan diri sebagai teman yang akan selalu ada untuk mendukung dan menghibur tanpa terlalu banyak campur tangan akan keputusan yang telah dibuat oleh Danesh dan Malini. Sedekat apapun hubungan pertemanan mereka, masing-masing dari mereka sadar bahwa ada batas privacy yang tidak bisa mereka lewati. “Aku masih mau sendiri untuk saat ini. Maaf ya. Bukan nggak mau kamu kesini. Cuma… Aku pikir aku masih perlu waktu untuk sendiri.” “It’s okay. Take your time. Yang penting kamu jaga kesehatan. Kalau perlu apa-apa hubungi aku ya.” “Makasih, Di…” “Lin. Dengar aku. Semua akan baik-baik saja. Kamu kuat, kamu hebat dan kamu berharga. Nggak masalah kalau hari ini kamu sedih dan menangis. Tapi besok, kamu harus senyum dan bahagia.” Malini tanpa sadar menitikkan air mata saat mendengar ucapan Diaz. "Thank's, Di… Aku akan hubungi kamu lagi nanti." Setelah sambungan terputus, Malini bersandar di tempat tidurnya. Hari sudah beranjak siang dan cuaca mulai terik. Terlihat dari sela-sela tirai yang menghalau sinar matahari masuk melalui jendela di kamarnya. Rasa sakit di kepalanya sudah jauh berkurang. Malini lalu meraih botol air minum yang selalu tersedia di nakas, meminum beberapa teguk air putih seperti kebiasaannya setiap hari setelah bangun tidur. “Oke. Aku baik-baik saja. Setidaknya hari ini aku masih diberikan kesempatan untuk kembali membuka mata, memandang dunia yang indah dan menjalani hari yang baru.” ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD