Gue percaya kalau ternyata kesabaran itu memang ada batasnya. Nggak tahu kalau itu cuma untuk orang-orang kayak gue atau memang semua manusia memiliki titik batas dan itu rasanya mau meledak. Gue baru pulang kantor, Alisa juga bareng tentunya. Kita makan seperti biasa, balik lagi ke kamar dan seperti biasanya lagi. Yang gue heran, kenapa dia ini sama sekali nggak pernah lupa atau khilaf buat nyapa gue gitu lho. Kayak dia waktu di meja makan yang bertingkah ... I'm oke; Aku dan Bima baik-baik aja. Sayangnya gue nggak baik-baik aja. Gue empet lihat semuanya makin hancur. Pernikahan baru berapa hitungan jam yang harusnya jadi awal terindah, ini malah saling diam dan nggak jelas juntrungannya. Dan, waktunya sudah habis. Gue nggak bisa kasih tolerir dia lagi. Jadi, gue tarik sebelah tangan k

